
"Ya ampun lelahnya ...." Sofi membantingkan diri ke atas sofa dikamarnya.
Tak berselang lama, Putra menyusul setelah sejenak memasuki ruangan kerjanya. Ia mendekat dan ikut merebahkan diri disamping sang istri.
"Kenapa yang?" tanya Putra yang melihat wajah sang istri begitu kusut, "kamu lelah?" sambungnya.
"He'em!" balas Sofi seraya menyandarkan kepala dengan mata terpejam.
"Sini, aku pijitin!" Putra membalikan tubuh Sofi untuk membelakanginya. Sofi pun tak banyak protes, Ia hanya mengikuti arahan suaminya.
Putra mulai menggerakan kedua tangannya dibahu sang istri. Seketika wajah Sofi berubah sedikit berseri, rasa rilek yang diberikan suaminya itu mampu membuat bibir manis itu tersenyum lebar.
"Nah, sebelah situ yang. Nah, nah yang itu bener. Hemm nyamannya ..." Sofi begitu menikmati gerakan lembut yang membuat otot tegangnya, normal kembali.
"Mulai besok, kamu bisa berhenti kerja. Biar aku aja yang kerja!" Putra mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Gak yang. Aku pengen kerja. Masa baru aja magang, aku udah nyerah." tolak Sofi mentah-mentah.
"Ya lagian lihat kamu kek gini, mana tega aku. Apalagi harus setiap hari," Putra menjeda ucapannya sebentar. "Kapan jatahku?." gumamnya pelan.
Sofi menoleh seraya menaikan alisnya, karena tak mendengar jelas ucapan suaminya itu. "Apa yang?" tanyanya.
"Nggak!" elak Putra.
Sofi mengerutkan dahinya kala melihat ekspersi Putra yang tiba-tiba berubah. Hingga Ia mengerti satu hal, mungkinkah suaminya itu menginginkan pijitannya juga?
Ia berbalik menghadap kearah suaminya. "Kenapa? Mau gantian ya? Sini gantian, aku pijitin kamu." tawarnya.
Putra menarik satu sudut bibirnya. "Boleh!"
"Ya udah kamunya balik badan!" titah Sofi.
"Gak mau balik badan." tolak Putra yang justru melipat tangan didada.
Sofi menautkan alisnya bingung, "akunya yang pindah kesana?" tanyanya seraya menunjuk kearah belakang Putra. Namun pria tampan itu justru menggelengkan kepala, tanda penolakan.
"Lha terus gimana?" tanya Sofi heran.
"Kamu gak mau nanya, yang mana yang pengen dipijit?" tanya balik Putra dan di balas gelengan polos oleh wanita yang masih juga perawan itu.
__ADS_1
"Ck!" decakan kesal terlontar dari pria dengan wajah memberenggut itu.
Entah benar-benar lupa atau apa. Sudah seminggu setelah waktu yang ditentukan Sofi, kala kubangan merah itu datang. Mungkinkah tamu meresahkan itu masih tak kunjung juga pulang? Ia begitu frustasi kala Aska terus saja membahas nonanya yang katanya selalu empuk dan legit itu. Belum lagi ketika bertemu dengan Daffa yang selalu pamer, jika dirinya tak pernah absen setiap malam setelah tau rasa nona manisnya itu.
Sungguh ingin sekali Putra menyumpal dua mulut sahabat lucknutnya itu. Ia yang belum juga merasakan lubang nirwana, tentu belum tau bagaimana rasanya.
Sofi menyeringai melihat wajah kusut itu, tau apa yang diinginkan suaminya. Namun ia sepertinya akan sangat senang jika mengerjai terlebih dahulu suami kang ngambekannya itu.
"Ya udah kalo gak mau dipijit, aku mandi dulu ya!" pamitnya seraya berdiri, lalu berlenggang meninggalkan sang suami seraya cekikikan.
Putra kembali berdecak kesal, ia berbalik dan memyenderkan kepala di sofa itu. Satu lengannya dibiarkan untuk menutup mata dan satu tangannya lagi berusaha membuka dasi yang terasa mencekiknya.
Hampir saja kesadarannya hilang ditelan mimpi, tiba-tiba saja sesuatu memberatkan kakinya. Bukan itu saja, aroma rose berry dari sabun juga memekan indera penciumannya. Segera Ia menyingkirkan lengan yang menutupi matanya.
Alangkah terkejutnya Ia kala melihat sang istri sudah terduduk manis dipangkuannya. Bukan itu yang menjadi perhatiannya, namun penampilan sang istri yang begitu menantang. Kain tipis berwarna hitam yang melekat ditubuh Sofi, begitu kontras dengan kulit putih gadis itu. Bahkan lekukan tubuh nampak jelas terhalang kain tembus pandang itu.
Disaat Putra masih mematung, Sofi mendekat seraya berbisik nakal. "Mau?"
Putra pun sedikit terlonjak, hingga didetik berikutnya seringi nampak jelas diwajah tampan itu. "Bersiaplah! Malam ini kamu takan kulepaskan."
Setelah mengucapkan itu, Putra segera menyambar bibir ranum nan merah yang siap didepan matanya. Menyecapnya dengan rakus. Tangannya bergerak membuka tali kecil lingery yang bertengger didepan hingga kain itu terlepas. Bahkan karena terlalu bersemangat, Putra sampai merobek kain yang sedikit susah dibuka itu. Begitupun tangan Sofi yang sudah bertengger membuka satu persatu kancing kemeja Putra, hingga kain itu terbuka lebar.
Kini menyisakan Sofi dengan kain segitiga yang menutupi benda berharganya. Begitupun Putra yang hanya menyisakan kain bagian bawah saja.
Putra semakin liar kala mendengar suara merdu sang istri. Ia berdiri seraya menggendong tubuh Sofi seperti koala. Lalu membawa tubuh sedikit berisi itu keatas kasur mereka.
Dengan cepat, pria tampan itu membuka kain yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Kemudian tak lupa membuka kain segitiga yang menutupi si nona manis, yang digadang-gadang membuat candu itu.
"Sudah siap?" tanya Putra yang kini sudah diatas tubuh Sofi dan mengukungnya. Sofi tersenyum seraya menganggukan kepala.
Tanpa basa basi lagi, Putra mengarahkan senjata andalannya yang sudah berdiri tegak untuk menyelami si nona manis yang ternyata masih susah untuk ditembus.
"A..a.. Yang, yang stop yang! Sakit!" pekik Sofi.
"Gak apa-apa yang, ini bentar lagi tenggelam." balas Putra yang terus memaksa si jack yang berukuran jumbo itu menerbos keperawanan sang istri.
"Aww, aww tapi sakit!" jerit Sofi. Bahkan tangannya reflek mencengkram rambut suaminya itu.
Karena rasa penasarannya terlalu besar, sekuat tenaga Putra menahan rasa sakit yang menjalari kulit kepalanya. Ia pun berinisiatif segera men cum bu kembali wajah sang istri, dengan tangan yang memainkan dua buah semangka itu untuk mengalihkan rasa sakit yang istrinya rasakan.
__ADS_1
Dan benar saja, jeritan Sofi berubah menjadi sebuah de sahan ketika si jack berhasil tenggelam lebih dalam dan mulai bergerak pelan. Hingga menggelitik si nona yang terasa sakit, menjadi ingin terus dihentak kuat.
"Yang mmmhhh!!" desis Sofi pasrah dibawah kukungan sang suami.
"Yeah sayanghhh! Gimana masih sakit?" tanya Putra yang masih bergerak pelan.
"Nggak. Pengen, pengen, lebih cepat yanghh!!" balas Sofi yang sudah tak karuan.
"Beneran, aku percepat ya? Hmmm." tanya Putra memastikan.
"He'em!"
Sesuai intruksi, Putra pun mempercepat laju tempo gerakannya. Hawa panas kian menjalari tubuh mereka dengan peluh bercucuran yang membanjirinya. Suara-suara sexy dari bibir keduanya menggema memenuhi ruangan luas itu.
Cengkaraman tangan Sofi semakin kuat pada pundak Putra kala sesuatu dari dalam dirinya hendak keluar.
"Euuurgghh!!!"
Erangan panjang pun menggema mengakhiri aktifitas panas pasangan pengantin yang sudah seminggu, namun baru sukses melakukan malam pertama itu. Dengan napas yang masih senen kemis, Sofi mencoba untuk menjauhkan tubuh sang suami.
"Turun yang, kamu berat!" titah Sofi.
"Gak bisa yang."
"Gak bisa kenapa?" tanya Sofi heran.
"Ini nempel yang, gak bisa dilepas." balas Putra.
"Hah?! Serius yang, jangan bercanda deh gak lucu!" Sofi mulai panik, seraya mencoba mendorong sang suami.
"Beneran ini susah dilepas!" balas Putra.
"Ya ampun! Gimana dong?" tanya Sofi panik.
"Ada satu cara biar lepas." usul Putra.
"Apa?"
"Kita ngulang!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Akhirnya, Putra hilang keperjakaan yaa🤣 Pokoknya ngulang, entah berapa ronde. Mak othor gak ngitungin, mau ikut praktek aja🙈😜 Jangan lupa jejaknya yaa gaiss🤗