
"Kita mau kemana?" tanya Vani yang merasa heran.
Setelah keluar dari kafe di dekat rumah sakit itu. Kini keduanya sudah berada didalam kijang besi. Bukan kantor yang akan mereka datangi, tapi sebuah tempat yang sudah Aska siapkan.
"Kamu akan tau." balas Aska tersenyum, seraya melirik sekilas sang gadis di samping kursi kemudinya.
Vani hanya tersenyum menanggapi. Ia tak peduli sang kekasih akan membawanya kemana, yang jelas Ia akan mengikuti kemana pun pria tampan itu pergi.
Tak berselang lama mobil pun sampai disebuah pusat perbelanjaan. Vani menatap heran pada sang kekasih, ketika keduanya keluar dari kijang besi itu.
"Bukannya kita harus masuk kerja kak?" tanya Vani.
Aska tersenyum menanggapi. "Nggak papa. Aka udah minta izin buat kita berdua." balasnya.
"Tapi-"
Belum selesai ucapan Vani, Aska sudah menggandeng tangan sang gadis seraya menyeretnya.
"Ayo!" ajaknya.
Vani pun hanya pasrah mengikuti langkah kekasihnya menuju gedung tinggi dihadapannya.
Keduanya berjalan tanpa melepaslan tautan tangannya. Terlihat guratan sedih dari wajah cantik itu berubah menjadi raut bahagia. Hingga langkah keduanya terhenti disebuah toko yang menjajahkan berbagai perhiasan untuk kaum wanita.
Vani membolakan mata melihat berbagai perhiasan indah yang tergelar dibeberapa etalase. Aska membawanya kedepan etalase yang menunjukan berbagai benda melingkar. Tanpa berkomentar Vani hanya mengikuti sang kekasih dan berdiri disampingnya, lalu ikut melihat-lihat benda didalam sana.
"Silahkan Pak, Bu. Mau pilih cincin untuk siapa?" tanya salah satu pelayan toko tersebut.
Aska belum menjawab, Ia masih melihat berbagai deretan benda itu. Hingga senyumnya terbit kala Ia melihat sesuatu yang pas menurutnya.
"Saya lihat yang itu." tunjuk Aska pada sepasang cincin didalam sana. Sontak saja hal itu membuat Vani menolehkan wajahnya dengan mata berkedip cepat.
"Baik Pak!" balas pelayan itu. Kemudin mengambil apa yang diinginkan pelanggannya.
"Kak?" tanya Vani memastikan.
Aska menoleh dan tersenyum seraya mengusek pucuk kepalanya.
"Silahkan Pak!" Sang pelayan memberikan kotak merah berisikan sepasang cincin itu pada sejoli dihadapannya.
Aska meraih kotak itu dan mengambil salah satu lingkaran kecil yang tersemat didalam sana. Cincin emas putih yang terukir berlian kecil diatasnya. Lalu tangan kirinya meraih tangan kiri sang gadis dan mencoba menyematkan cincin itu dijari manis kekasihnya.
__ADS_1
Aska tersenyum lebar kala cincin itu begitu pas dijari manis nan lentik milik kekasihnya. "Cantik!" pujinya seraya mencium punggung tangan sang gadis.
Vani menatap tak percaya kearah sang kekasih yang tampak bahagia, matanya bergulir kebawah melihat jari manisnya yang tersemat benda manis itu dengan tangan kanan menutup mulutnya.
"Apa kamu suka?" tanya Aska menatap kekasihnya itu.
Mata Vani berkaca-kaca. Bukan sedih lagi yang Ia rasa sekarang, tapi rasa haru yang menyeruak dihatinya. Ia hanya menganggukan kepalanya sebagai tanggapan. Karena dipastikan satu kata yang keluar dari bibirnya akan menjatuhkan cairan bening itu lagi yang sudah siap meluncur.
Aska tersenyum dan mendekapnya lagi. "Besok aka akan bawa papih sama timom untuk menemui papa dan mamamu. Aka akan melamarmu!" ucapnya.
Jatuh juga cairan yang sudah susah payah Vani bendung. Rasa bahagia yang Ia rasa sekarang membuat ia sulit sekali mengucapkan satu kata pun. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya ditubuh tegap itu.
"Udah, jangan nangis lagi!" titahnya seraya menghapus lagi jejak kebasahan dipipi cantik itu.
Jika saja Vani memakai makeup tebal, sudah dipastikan semua itu akan luntur dari wajahnya, mungkin juga akan belepotan karena air mata yang sudah beberapa kali membanjiri wajah cantik itu.
"Harusnya bahagia dong! Atau ... Kamu emang gak bahagia, aka lamar?" goda Aska.
"Siapa bilang? Aku bahagia kok, bahagia banget." balas Vani dengan cepat. Taku-takut sang kekasih salah paham padanya.
Aska tertawa melihat ekspresi sang kekasih. Niat hati hanya menggoda, tapi sang kekasih justru menganggapinya serius. Ia mengusek pucuk kepala sang gadis gemas.
"Iya. Aka percaya."
Setelah memilih cincin lamaran untuk sang gadis. Kini sejoli itu berjalan mengitari mall itu, sesekali mereka memasuki toko pakaian dan aksesoris lainnya untuk melihat-lihat sesuatu yang mungkin mereka butuhkan.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas. Sejoli itu memutusan untuk makan siang setelah dirasa perut mereka keroncongan, karena hampir setengah hari memutari mall itu.
"Mau pesan apa?" tanya Aska ketika mereka sudah mendudukan diri dikursi disebuah foodcourt.
"Samain aja sama aka." balas Vani.
"Yakin?" tanya Aska memastikan.
"Kenapa?" tanya Vani balik, keheran dengan sikap sang kekasih.
Aska tersenyum. "Aka gak makan pedes. Emang gak apa-apa?" tanyanya.
Vani tertawa. Jika dipikir-pikir kenapa begitu banyak kesamaan diantara mereka?
"Aku juga gak makan pedes, kak." balas Vani setelah menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Oh ya? Kenapa?" tanya Aska.
"Asam lambung?"
"Asam lambung."
Ucap mereka serentak, hingga mereka pun tergelak bersama. Sejoli itu pun menceritakan alasan mereka yang tak bisa makan pedas. Bagai pasangan yang sudah Tuhan tentukan, banyak kemiripan diantara mereka yang baru mereka sadari.
Ditengah obrolan mereka yang tengah menunggu makanan. Dua orang wanita menghampiri mereka.
"Aka?!" sapa salah satu wanita itu.
Keduanya menoleh melihat wanita cantik dengan berbagai paperbag ditangannnya sudah berdiri disisi mereka.
"De?!" sapa balik Aska.
"Aka ngapain disini? Kenapa gak masuk kerja? Terus ini?" ceroconya merasa heran dan menatap Vani dengan tatapan heran.
Aska tersenyum menanggapi. "Kalian pasti lupa ya?" tanyanya.
Wanita cantik itu melirk kearah wanita disampingnya untuk meminta jawaban dan hanya dijawab gedikan bahu olehnya.
"Siapa sih kak?" tanyanya dengan raut wajah yang begitu penasaran. Pasalnya baru kali ini Ia melihat pria itu bersama seorang gadis.
"Ini Vanilla de. Vaninya Aka." jelas Aska memperkenalakan gadis didepannya.
Sang wanita membolakan mata, seraya menutup mulutnya. "Vani!!" pekiknya.
Vani tersenyum, meski Ia tak mengenali wanita dihadapannya ini. Namun Ia yakin, wanita itu pastilah wanita yang dekat dengan sang kekasih.
"Ya ampun! Ini beneran Vani?" tanyanya dengan heboh seraya memberikan paperbag ditangannya pada Aska. Dan dibalas anggukan kepala dari Vani.
"Aaaa Vani ...!!!" pekiknya seraya memeluk tubuh gadis itu yang masih terduduk. "Kangen banget ..."
Ia melerai pelukannya, dan melihat wajah Vani seraya membolak balikan pipi gadis cantik itu. "Ya ampun kamu beneran Vani. Jahat bangeet sih. Kenapa gak pulang-pulang? Kamu tau gak aka uring-uringan terus menunggu kabar dari kamu?" omelnya dengan cerocosan yang tak berhenti dari bibir ranumnya itu.
Vani tersenyum, akhirnya Ia tau siapa wanita didepannya. Mendengar cerocosan yang sama seperti sahabatnya Kia, Ia pun langsung mengenali wanita itu.
"Kak Sensen!" sapa Vani dengan mata berkaca-kaca.
Ia berdiri dan memeluk tubuh wanita didepannya. Begitupun Sena, Ia ikut memeluk tubuh sang gadis yang menjadi teman kecilnya itu. Tangis haru pun pecah dari dua wanita yang dipertemukan kembali setelah sekian lama berpisah.
__ADS_1
******
Jangan lupa jejaknya, tungguin yaa crazy up ini😁 kasih kembang dong, biar semangat ini mak othor nya😍