
Sejoli itu melepas dekapan setelah mendengar sahutan dari seorang pria yang Vani yakini itu suara sang papa. Ia menolehkan wajahnya melihat sang papa yang duduk diatas kursi roda yang didorong sang mama, mendekat kearahnya.
Tatapan datarnya dapat Ia yakini sang papa pastilah hendak menasehatinya. Ia hanya pasrah dan siap mendengar apapun kalimat yang diucap papanya.
Dengan pasrah Vani menjatuhkan diri, bertekuk lutut dihadapan sang papa. "Maafin aku Pa! Aku gak bisa menepati janji yang papa sepakati dengan om Wisnu. Aku memilih menepati janji yang aku ucapkan pada pria yang aku cintai." ucapnya dengan air mata yang tak mau berhenti keluar.
Semua orang terperangah melihat itu. Begitupun Daffa dan sang mama. Sungguh mereka baru kali ini melihat gadis itu begitu terlihat rapuh. Vanilla yang mereka kenal selalu penuh senyuman dan tawa. Dan hari ini mereka benar-benar melihat sisi rapuhnya. Tante Rita lemas dipelukan putranya.
Sofi yang sering melihat itu ikut merasa sakit. tanpa disasari Ia mendekap tubuh Putra disampingnya dengan ikut menangis. Timom juga tak kalah terharu, Ia mendekap tubuh suaminya dan menangis didada bidang itu.
"Aku mohon Pa, untuk sekali dalam seumur hidupku aku meminta restu Papa untuk menikahkan aku sama Aka." lirihnya.
"Aku mencintainya, Pa!" lanjutnya dengan wajah semakin tertunduk dengan isak tangis memilukan.
Aska meraih tubuh itu untuk membawanya bangun dan mencoba membantunya berdiri kembali. Mama Lia menutup mulutnya untuk menahan isak tangis itu. Berbeda dengan sang papa, yang tak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Aku mohon, Pa!" ucap Vani lagi.
Vani yang sudah berdiri dengan lemah, tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri. Dengan sigap Aska memeluk tubuhnya dan menepuk pipinya. Semua kembali dibuat shok dengan pemandangan itu.
"Hei ... Sayang bangun!" Aska mencoba membangunkan sang gadis, namun tak juga ada jawaban.
Karena terlalu khawatir, Aska segera membopong tubuh ramping itu memasuki bangunan tadi. Semua orang kembali menyusul sejoli itu hingga mereka sampai di depan ruang IGD.
**
Gadis cantik itu bangun dan mengerjapkan matanya, setelah beberapa saat lalu tak sadarkn diri. Ia melirik ke kiri dan kanan, ternyata semua orang telah menatapnya. Ia memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut.
"Ma?!" sapanya begitu lemah.
"Iya sayang." balas sang mama mendekat.
"Minum!" pintanya. Sang mama pun segera membantunya bangun dan memberikan minum pula.
Dari deretan orang disana, Ia tak menemukan sosok pria yang dicintainya. Namun Ia justru melihat tatapan aneh orang-orang disana yang tengah tersenyum padanya.
"Ini ada apa Ma?" tanyanya mulai waswas.
"Kita semua ikut bahagia La. Selamat ya!" ucap Sofi yang membuat Vani mengerutkan dahinya.
"Selamat?" tanya Vani heran.
__ADS_1
"Iya sayang, selamat! Sekarang kamu sudah jadi seorang istri." balas mama Lia.
"Apa? Istri?" tanya Vani membelakakan mata dan diangguki semua yang ada disana.
Bruk!!!
Kepala Vani terjatuh kerangkulan sang mama. Gadis itu kembali tak sadarkan diri mendengar itu.
"Vani!"
"Ila!"
Lagi-lagi kekhawatiran mereka rasakan kala gadis itu tiba-tiba kembali pingsan.
"Ya ampun, Van! Vani sayang. Bangun sayang!" ucap mama Lia khawatir seraya menidurkan kembali kepala putrinya, seraya menepuk-nepuk pipinya.
"Kenapa jadi ambyar kek gini sih, Van? Ya Alloh." ucap mama Lia frustasi.
Aska memasuki ruangan bersama sang papih, lalu mendekati kerumunan.
"Ada apa?" tanyanya.
"Vani udah bangun, tapi dia pingsan lagi." balas timom.
"Udah-udah sekarang kita keluar dulu! Biar dokter yang periksa." Daffa mengajak semua orang yang begitu cemas untuk keluar.
Mereka pun keluar dan menyisakan Aska dan dokter yang akan memeriksa didalam sana.
"Duh kenapa jadi kek gini sih?" tanya mama Lia mondar mandir didepan pintu itu.
"Udah Li, kamu percaya, semua akan baik-baik aja." balas timom.
"Tapi aku khawatir banget Sis, ini kedua kalinya loh dia pingsan. Aku takut dia kenapa-napa." balas ibu satu anak itu yang terlihat begitu khawatir.
"Kalian sih ada-ada aja. Kenapa juga harus nikah dirumah sakit?" protes papa Ivan.
"Entah lah pusing juga sama tuh anak. Punya ide gak nanggung-nanggung emang." balas papih Age.
"Ck! Anak lu tuh!" ledek papa Ivan.
"Mantu lu!" balas papih Age, hingga keduanya terkekeh.
__ADS_1
Tak berselang lama dokter pun keluar dari ruangan. Semua orang menanayakan kabar sang gadis. Dokter memberitahu bahwa Vani baik-baik saja. Ia hanya butuh istirahat karena terlalu lelah setelah menangis. Semua orang pun bisa bernapas lega mendengarnya.
"Baiklah, ini sudah larut saya sama Daffa pamit pulang dulu." pamit tante Rita.
"Iya Bu. Makasih atas pengertiannnya." balas mama Lia seraya memeluk tubuh wanita itu.
"Iya Bu, sama-sama." balas tante Rita.
"Saya seneng lihat Ila bahagia dengan pilihannya. Meskipun Ila gak jadi nikah dengan Daffa, tapi bagi saya Ila tetaplah putri saya." balas tante Rita, setelah melerai pelukannya.
"Iya. Maksih banyak, Bu!" ucap mama Lia dengan tulus.
"Nak, Daffa!" sapa mama Lia pada pria yang masih setia dengan senyumnya itu.
"Iya Onty." balasnya.
Mama Lia mendekap tubuh tegap itu, hingga Daffa sedikit menundukan tubuhnya agar wanita yang sudah seperti ibunya itu bisa menyeimbanginya.
"Makasih ya, Nak! Maafin Ila ya." sesalnya.
"Gak apa-apa Onty. Bagiku melihat Ila bahagia itu lebih penting. Justru aku nyesel, selama ini sudah nahan Ila. Aku yang mengira Ila bahagia bersamaku, ternyata sebaliknya." balas Daffa.
"Nggak, Nak! Kamu sudah memberikan yang terbaik. Makasih!" ucap mama Lia lagi.
Keduanya melerai pelukan. "Onty doain, smoga kamu segera diberikan jodoh yang jauh lebih baik dari Ila." ucap mama Lia lagi mendoakan dan diangguki pria tampan itu.
Akhirnya keduanya pun berlalu setelah kembali berpamitan. Begitupun Putra dan Sofi yang ikut berpamitan. Putra ditugaskan timom untuk mengantar Sofi pulang terlebih dahulu. Kini meninggalkan empat orang tua saja disana.
"Kita juga pamit. Besok kita bicarakan lagi masalah resepsinya." ucap papih Age dan diangguki ketiganya.
"Terus masalah surat-surat itu bagaimana?" tanya mama Lia.
"Udah beres. Tadi Aka udah tanda tangan semuanya. Surat-surat semua sudah ditangan pak penghulu, biar dia yang urus. Mungkin tinggal butuh tanda tangan Vani aja." balas papih Age.
"Huh~ rasanya hari ini melelahkan. Baru kali ini aku mendapat permintaan nyeleneh dari aka." keluh sang timom.
"Iya. Aku hampir gila menghadapi bu Rita. Takut dia gak mau ngerti." balas mama Lia.
"Sebenarnya gimana cara kalian membujuk bu Rita?" tanya papa Ivan yang masih belum tau mengenai itu.
Mama Lia dan timom tersenyum dengan mata saling melirik, bibirnya menyeringai dan kemudian tergelak. Kedua pria itu menatap heran pada kedua wanita mereka. Tau pastilah terjadi hal diluar nalar mereka. Kedua pria itu pun hanya pasrah menanggapi kedua istri mereka yang memang ajaib.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Giman ini udah sah? Mau unboxing gak? lempar bunga atau kopi dong.. Kita siap begadang nemenin yang mau malam pertama🤣🤣