Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Ilmu dari suhu


__ADS_3

"Paan ini?"


Seorang gadis menatap pucat pada benda yang kini dipegangnya. Ketiga wanita yang lebih tua darinya tersenyum jahil pada gadis polos yang ternyata masih belum mengerti tentang ibadah menjadi seorang istri.


"Itu namanya lingery." jelas Vani.


"Iya, gamis malam, si gaun haram." celetuk Kia.


Ketiga wanita itu tergelak tanpa dosa. Riska menatap kesal pada ketiganya, sungguhpun Ia merasa dikerjai oleh mereka. Bagaimana tidak? Gadis cantik itu sudah menyetujui untuk menerima dan memakai apapun yang akan Kia belikan untuknya.


Alih-alih Ia sudah senang akan dibelikan benda branded, semacam tas yang biasa dikoleksi wanita itu. Justru harus menghembuskan napas pasrah, kala hanya kain tipis kekuarangan bahan yang dibelikan si ibu hamil itu.


"Aisshh ... Benda kek gini, buat apa coba? Kek gak ada baju lain aja." protes Riska yang masih tak ingin menerima pemberian itu.


"Kamu tuh," Sofi mengangkat salah satu kain yang sama dari stand deretan tersebut. "Ini salah satu pahala seorang istri. Membuat suami berubah jadi meow itu, pahalanya berlipat-lipat ganda loh!" jelas si pengantin baru yang masih perawan itu.


"Ck! Aku tuh masih sekolah. Mana bisa ngelakuin kek gitu. Lagian nanti kalo aku hamil gimana coba?" cetus Riska yang tak habis pikir dengan ide gila ketiga wanita itu.


"Astaga ya pake si kokom dong!" celetuk Kia.


"Hah?!"


Bukan hanya Riska Kedua wanita itu ikut melongo, kurang memahami apa yang dimaksud si ibu hamil itu.


"Siapa si kokom?" tanya Sofi dengan polosnya.

__ADS_1


"Ini nih kalian belum tau. Oke kita belajar dengan suhunya!" balas Kia dengan bangganya.


Bagaimana tidak? Disini hanya dia yang memiliki pengalaman yang sudah lebih jauh. Bisa dibilang, Kia suhu untuk ketiga manusia itu.


"Aisshh ... Iya deh, suhu!" ledek Vani terkekeh, yang diikuti kedua pengantin baru yang sama sekali belum memiliki pengalaman itu. Kia hanya tersenyum bangga dengan tanggapan mereka.


"Jadi, gini ya!" Kia mulai serius, hingga ketiga pengantin baru itu pun mulai ikut serius. Sofi yang sempat sibuk memilih gaun tipis itu, menghentikan terlebih dahulu aktifitasnya.


"Jika kalian gak ingin cepat dikasih momongan atau belum siap hamil, kalian bisa menggunaan dulu metode kb. Semacam pengaman gitu." jelas Kia.


"Lha terus urusannya sama si kokom apa?" selak Sofi dengan raut wajah yang semakin bingung.


"Emang siapa si kokom, trending bener?" tanya Riska dengan wajah yang sama.


Sontak saja, semua pertanyaan kedua orang itu membuat si bumil itu tergelak. Vani hanya terkekeh bingung dengan keadaan orang-orang disana. Ia sedikit bisa menebak apa yang dimaksud adik iparnya. Namun, takut tebakannya itu salah. Wanita itu hanya menyimak dan menjadi pendengar yang bijak.


Kedua manusia yang sedari tadi kebingunagn itu, hanya menghembuskan napas panjang dengan wajah kesal karena tak segera mendapat jawaban.


"Udah dong jangan ketawa mulu! Lanjutin ilmunya, apa tadi?" protes Riska yang semakin penasaran akan si kokom yang dimaksud.


"Iya, iya, iya!" balas Kia, berusaha menghentikan tawanya.


"Jadi sikokom itu yang digunakan buat helm si jack." jelas Kia.


Krik! Krik! Krik! Krik!

__ADS_1


Senyap! Kedua wanita itu melongo kembali dengan penuturan si bumil yang semkin membuat mereka kebingungan. Riska menggaruk kepala yang mendadak gatal mendengar itu. Entah otaknya yang pas-pas an, atau penjelasan si bumil yang terkesan ajaib.


Begitupun Sofi, wanita itu menghembuskan napas kasar kala kalimat aneh kembali terucap dari bibir si bumil. Ia pun memikirkan hal yang sama yang dipikirkan Riska. Berbeda dengan Vani yang sudah tersenyum. Mendengr kata 'Si jack' tentu Ia tau. Sang suami sering sekali menyebut nama itu untuk panggilan senjata perkasa yang selalu membuat Ia terbang ke nirwana itu.


Apa yang Vani tebak, ternyata benar. Hingga otak liarnya tiba-tiba mengingat aktifitas panas mereka tadi malam. 'Ya ampun! Otakku harus direfresh kek nya.' kekehnya dalam hati.


"Ada cctv gak sih?" tanya Riska.


"Tuh!" tunjuk Sofi pada salah satu sudut langit-langit. "Kenapa?" tanyanya heran.


Riska melambaikan tangan kearah benda dipojok itu, "aku nyerah mbah!" celetuknya dramatis. "Aku gak bisa nerjemahin kalimat kak Kia!"


Kia dan Vani tergelak. Sungguhpun penuturan Riska terlihat terdengar. Namun hal itu tidak dengan Sofi yang sudah berdecak kesal. Sudahlah Ia kesal karena kalimat ajaib Kia, ditambah lagi dengan candaan Riska yang garing menurutnya.


"Udah Kiy, jelasin aja! Kasihan mereka." titah Vani setelah Ia menghentikan tawanya.


"Oke, oke! Emang ya, otak kalian gak nyampe sama kalimat sakralku." kekeh Kia.


"Nih, aku jelasin. Si kokom adalah sebuah alat kontrasepsi yang digunain dialat kelamin suami." jelas Kia. "******." lanjutnya sedikit berbisik.


"Oh ... ******!" ucap kedua wanita itu serentak dengan suara begitu keras, hingga membuat atensi orang-orang yang lumayan ramai tertuju pada mereka.


"Astaga!" Kia menepuk jidat dengan kelakuan dua wanita itu. Vani pun memijit pelipis seraya melengos menahan malu.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jejaknya jangan lupa yaa🤗🤗 besok jangan cari mak othor yaa, mak othor mau ikut dulu lomba agustusan🙈 doain smoga mak othor menang😂😂 ada yang mau ikutan???


__ADS_2