Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Menginap


__ADS_3

"Kok kosong? Papa kemana?" tanya Vani memastikan.


Vani menatap heran pada brankar kosong didalam sana. Kemana papa dan mamanya? Jika dibilang pindah kamar, barang-barang mereka masih terlihat berada disana.


"Apa om Ivan udah bangun?" tanya Aska yang ikut heran.


"Sepertinya iya. Mungkin mama membawa papa keluar." balas Vani.


Keduanya pun keluar mencoba mencari pasangan baya itu. Hingga mereka berhenti di dekat deretan kursi tunggu kala melihat kedua orang tua Vani didepan kaca besar yang menampilkan pemandangan luar.


Vani mendekat diikuti Aska dari belakang. "Pa! Ma!" sapanya.


Mama Lia menoleh dan tersenyum melihat kearah sang gadis. Begitupun papa Ivan, dengan gerakan pelan Ia menolehkan wajahnya.


Vani berhambur memeluk tubuh ringkih diatas kursi roda itu. Memeluk tubuh kurus yang masih lemah sang papa. Tangisnya pecah merasakan kebahagiaan yang tak mampu Ia ucapkan dengan kata. Momen yang selama ini Ia nantikan, akhirnya Ia rasakan.


"Alhamdulillah! Alhamdulillah!" gumam Vani disela isak tangisnya.


Bibir pucat itu sedikit tertarik. Sang papa masih belum bisa menggerakan anggota tubuhnya bahkan hanya untuk sekedar menggerakan bibirnya. Hanya beberapa bulir air dari pelupuk matanya saja yang keluar. Menandakan bahwa pria paruh baya itu merasakan hal yang sama.


Vani melepaskan dekapan dan menangkup wajah tirus sang papa. Lalu mengecup keningnya lama seraya hatinya tak henti mengucap syukur yang tak terkira.


"Terima kasih, papa udah kembali buat kita. Aku sayang papa!" ucap Vani dan kembali memeluk tubuh itu.


Sejak tadi dinyatakan sadar, Vani belum melihat sang papa membuka mata. Dan baru sekarang Ia melihat sang papa menatap dirinya.


Aska menyunggingkan senyumnya. Kebahagiaan sang gadis, tentu menjadi kebahagiaan juga untuknya. Begitupun mama Lia, yang sudah berderai air mata bahagia.


"Selamat malam om!" sapa Aska seraya menyalimi takzim pria itu, sesaat setelah sang gadis melepas dekapannya.


"Om masih ingat aku?" tanya Aska. Ia menekukan sebelah lututnya berjongkok dihadapan pria yang Ia sudah anggap calon mertuanya itu.


Masih tak ada respon, hanya kedipan mata yang membalas sapaan itu.


"Aku Aska om!" lanjut Aska memperkenalkan diri. Terlihat sudut bibir itu kembali sedikit terangkat.


"Lekas sembuh, lekas aktifitas kembali!" ucap Aska menyemangati.

__ADS_1


Mama Lia tersenyum. "Makasih ya, aka!" ucapnya tulus dan diyakan Aska disertai anggukan kepalanya.


Setelah dirasa cukup dan waktu hampir memasuki tengah malam, mereka pun kembali kedalam kamar. Membiarkan papa Ivan untuk kembali beristirahat.


"Kamu pulang aja kak, gak apa-apa! Besok pasti harus masuk kerja." titah mama Lia setelah selesai menyelimuti sang suami.


"Gak apa-apa, Ti. Aku akan nginep juga disini." balas Aska.


Mama Lia tersenyum menanggapi. "Baiklah terserah kamu." balasnya.


Ada dua sofa panjang diruangan itu. Mama Lia sudah merebahkan dirinya disana. Sedangkan Vani dan Aska masih terjaga dan duduk disofa yang sama.


"Yakin aka mau tidur disini? Gak ada tempat lagi." tanya Aska memastikan.


"Udah jangan banyak nanya, cepat tidur! Aka bisa tidur diposisi kek gini." balas Aska.


"Tapi-" Vani hendak protes. Namun pergerakan Aska yang meraih kepalanya, menghentikan ucapannya.


Aska membawa kepala sang gadis keatas pangkuannya, lalu meraih selimut dibahu kursi dan menyelimuti tubuh ramping itu. Ia belai lembut kepala sang gadis dan menciumi pucuk kepalanya. "Tidulah!" titahnya tersenyum menatap mata indah itu.


Tentu perlakuan itu membuat Vani meleleh. Ia menganggukan kepala dengan senyuman begitu manis dibibirnya dan mata yang ikut membalas tatapan itu.


"Selamat malam, sayang!" ucap Aska.


Vani yang lagi-lagi tersipu tak menjawab, Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu melesakanya diperut sang kekasih. Aska terkekeh pelan dengan kelakuan sang gadis. Bukan karena malu saja, Ia juga merasa geli dibagian perut karena ulah gadisnya itu. Hingga tak membutuhkan waktu lama mereka pun memejamkan mata dan terlelap.


**


Berulang kali Aska menggerakan lehernya yang terasa kaku. Tidur dengan posisi duduk, sungguhlah tak nyaman untuknya. Namun demi sang kekasih Ia rela mengorbankan tubuhnya yang kini terasa remuk.


"Selamat pagi pak!" sapa Sofi dari samping Aska, membuat sang boss sedikit kaget.


Ia yang tengah menungu lift terbuka seorang diri, tak menyadari kedatangan dua gadis yang kini sudah berdiri disampingnya.


"Pagi!" balas Aska tersenyum. Atensinya berpindah pada gadis yang berada tepat diantara dirinya dan Sofi.


Senyum Aska semakin lebar kala melihat senyum manis sang gadis. Ia mencondongkan wajahnya tepat didepan telinga sang kekasih. "Selamat pagi, sayang?!" bisiknya.

__ADS_1


Vani melebarkan senyumnya kala mendengar sapaan itu. "Pagi aka!" ucapnya pelan.


"Hadeh ... Gak usah bisik-bisikan lah! Kedenger juga." protes Sofi.


Keduanya terkekeh melihat ekspresi dari gadis itu. Tak berselang lama lift pun terbuka. Mereka pun memasuki benda itu, dengan beberapa orang juga yang ikut memasuki benda tersebut.


Aska berdiri dibelakang Vanilla. Tanpa mereka sadari, berulang kali mereka melakukan hal yang sama. Menggerakan kepala seraya memijit lehernya serentak. Tentu hal itu menjadi perhatian para karyawan lain. Mereka menatap aneh pada sejoli itu, bahkan Sofi juga merasakan hal yang sama. Ia yang tak mengetahui Aska menginap dirumah sakit, menatap curiga pada keduanya.


"Eheemm!!" Sofi berdehem keras untuk mengaligkan oerhatina karyawan lain.


Tiga orang perempuan dan satu lelaki sedikit terlonjak gelagapan saat sejoli igu menatap kearah mereka. Tepatnya bukan kearah mereka, namun kearah sipelaku yang membuat sejoli itu reflek menoleh.


Vani menautkan alisnya dengan menatap sahabatnya, seolah bertanya apa? Namun suara lift terbuka membuat Ia mengalihkan atensinya.


"Kalian berdua ikut saya ke atas untuk mengambil beberapa dokumen!" titah Aska dan diangguki kedua sahabat itu.


Setelah hampir saja keluar kedua gadis itu kembali memasuki benda itu, hingga pintu kembali tertutup dan benda itu kembali bergerak naik keatas.


"Bentar!" ucap Sofi menghadangkan telapak tangan seraya mata memicing menatap keduanya bergantian.


"Maaf ya Pak boss, saya mau tanya." ucap Sofi dan diangguki Aska dengan senyumnya.


"Apa yang terjadi antara kalian?" tanya Sofi menyelidik seraya matanya bergulir kekanan dan kiri secara bergantian.


"Apa sih Fi? Gak jelas deh." sangkal Vani yang merasa aneh pada sikap sahabatnya itu.


"Gak jelas apanya? Jelas-jelas ada yang kaliam sembunyiin. Ayo ngaku!" titahnya.


Vani dan Aska saling lirik tak mengerti maksud dari gadis itu. Merasa bingung, ternyata mereka melakukan pergerakan sama lagi. Memijit leher mereka masing-masing. Hingga fidetik berikutnya mereka saling tatap dan mengerti akan maksud gadis itu.


"Ya ampun Fi. Ini tu salah urat. Tadi malam kita tidur-" belum sempat ucapannya selesai, pintu ligy terbuka menghentikan ucapan Vani.


Tring!


"What? Kalian tidur bareng?" pekik Sofi dengan keras hingga mengagetkan dua pria yang menunggu diambang pintu.


"Kalian?"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Seperti biasa jejaknya jangan lupa yaa🤗


__ADS_2