
"Mmmmhh"
Suara sexy dari bibir Vani terdengar merdu dari ruangan yang luas itu. Kecupan yang dilayangkan bibir Aska diceruknya sungguh membuatnya melayang.
Bibir Aska berjalan menyusuri kulit leher itu dan sampai dibagian dada yang entah sejak kapan kancingnya sudah terbuka. Ia apit menggunakan bibir, kancing baju itu agar kain itu semakin terbuka lebar. Mengecup tulang selangkanya hingga sampai didua buah gundukan daging kenyal nan sintal yang nampak menantang, yang masih terbungkus kain penutupnya.
Kemudian tangannya bergerak kebelakang hingga mencapai pengait, kunci dari pembungkus bongkahan sikembar didepannya. Terbuka sudah penutup itu hingga sikembar menyembul dari balik kain itu. Daging kenyal yang memang begitu besar membuat Aska menelan salivanya kuat-kuat.
Ia menyeringai menatap tubuh atas sang istri yang sudah polos dan mulai menyusuri dua buah itu dengan bibirnya. Tangannya ikut bergerak meremas pelan dua daging itu hingga terdengar kembali de sa han dari bibir ranum sang istri.
"Mmmhhh ... Ka!!"
Suara itu begitu mendayu merdu ditelinga Aska. Dan hal itu semakin membangkitkan jiwa kelelakiannya. Tangan Aska bergerak dan membuka sweater yang dipakainya, lalu melemparnya kesembarang arah.
Vani menatap sayu tubuh suaminya. Dada bidang dan roti sobek yang selalu diperlihatkan biasnya, kini terpampang jelas didepan matanya. Jari lentiknya berjalan menyusuri permukaan kulit putih dengan lekukan indah itu. Sungguh perlakuan itu semakin membuat Aska tak terkendali.
Tangannya kembali bergerak menarik piyama bawah sang istri. Tak lupa Ia pun juga membuka kain segitiga penutup si nona manis berambut tipis. Vani sudah pasrah akan perlakuan suaminya. Sungguh setiap sentuhan itu membuat dirinya melayang semakin tinggi
Aska membuka kain bagian bawah tubuhnya hingga tubuh mereka sama-sama polos. Mata Vani membola menatap benda panjang nan besar didepannya. Jantungnya berdegup kencang melihat pemandangan itu. Ia menelan salivanya susah payah, membayangkan kemungkinan juga si nona yang akan memakan pisang ambon itu dengan susah juga. 'Ya ampun, apa itu bisa masuk?' batinnya.
Aska terkekeh melihat ekspresi sang istri yang tiba-tiba memucat. Tau ini yang pertama pastilah istrinya itu ketakutan. Ia mendekatkan wajahnya, agar sang istri berhenti menatap pisang ambon yang perkasa itu.
"Kenapa?" tanya Aska dengan senyumnya.
"Emmm itu, emm nggak!" balas Vani sedikit gugup.
"Apa kamu belum siap?" tanya Aska memastikan.
"Nggak kok. Aku siap!" sergahnya dengan cepat, Ia terlalu takut sang suami akan kecewa.
"Kalo emang belum siap, gak apa-apa kita tunda dulu." tutur Aska meyakinkan.
Aska hendak menjauhakn tubuhnya, namun Vani segera memeluk leher suaminya itu.
"Lakukan!" titahnya.
__ADS_1
Aska melepaskan sejenak tangan sang istri dan menatap wajahnya. Vani menangkup kedua pipi sang suami dan memabalas menatapnya dalam.
"Lakukan kak! Aku ingin jadi istri sempurna untukmu." titahnya sekali lagi dengan senyum yang meyakinkan.
Aska tersenyum dan mengannggukan kepalanya. Ia menyambar kembali bibir ranum itu. Tangannya bergerak dibuah yang semakin menantangnya itu. Meremasnya pelan penuh perasaan hingga memainkan pucuknya juga. Ia melepas tautan bibirnya dan beralih melahap pucuk yang menanatang itu. Hingga de sa han begitu menggema diruangan itu.
Tangannya bergerak menyapa si nona yang sudah membasah. Jemarinya bergerak liar diarea itu, membiarkan sang istri mencapai puncak pertamanya.
"Mmmhhh ... aka! Mmmhh ..."
Mendengar suara sang istri yang semakin mendayu, Ia pun segera mengarahkan si pisang pada area si nona yang sudah banjir itu. Dengan perlahan namun pasti, Ia mencoba mendorongnya. Pekikan terdengar dari gadis cantik itu.
Sekuat tenaga Vani menahan pekikan saat benda keramat itu menghujam nonanya. Ia gigit bibir bawahnya untuk menahan pekikan yang akan membuyarkan konsentrasi suaminya. Tangannya mencengkram kuat punggung sang suami, hingga kukunya menembus kulit itu.
"Tahan yang!" titah Aska seraya terpejam dan hanya diangguki Vani. Hingga benda keramat itu melesak dan tenggelam sempurna memasuki si nona.
Terdengar helaan napas panjang dari keduanya yang diringi napas terengah, dengan keringat bercucuran. Bahkan cengkaraman dari kuku Vani sedikit terlepas.
"Gimana? Apa sakit?" tanya Aska dan diangguki lagi istrunya.
"Emang iya?" tanya Vani seraya berdesis, penyelaman si pisang mencapai titik nikmatnya.
"Kalo terus-terusan sakit, mana mungkin mereka mau terus ngulang lagi." balas Aska.
"Gerakin kak! Mmmhh" desis Vani lagi.
Aska tersenyum. "Oke sayang!"
Ia mulai bergerak, menikmati tempo yang Ia nikamti. Rasa sakit yang dirasa Vani, hilang seiring dengan gerakan yang semakin cepat dilakukan suaminya.
"Ouhhh ... Van! Uhh ..."
"Ka ... mmmhh!"
De sa han silih bersahutan dari mereka yang tengah memadu kasih diatas kasur yang sudah berantakan itu.
__ADS_1
Hingga erangan panjang terdengar menggema dari diruangan terang benderang itu. Aska menenggelamkan benda keramatnya, agar cebong calon penerusnya masuk kedalam rahin terdalam sang istri.
Terdengar helaan napas tak beraturan dari sepasng suami istri yang baru melakukan pagi pertamanya. Waktu yang menunjukan pukul tiga, membuat aktifitas mereka tak lagi disebut malam.
Keringat membanjiri tubuh mereka. Aska membelai wajah cantik itu, setelah beberapa saat wajahnya tenggelam diceruk lengket sang istri. Kemudian Menghapus bulir keringat yang membuat wajah itu kian cantik. Lalu mengecup dahi itu lama seraya menggumamkan kata terima kasih.
"Makasih sayang! Makasih!" ungkapnya dan diangguki gadis itu dengan senyumnya.
Aska melepaskan si pisang dari nonanya. Ia teersenyum lebar melihat sedikit bercak merah diatas sprei mereka. Ia membersihkan si pisang dan nonanya sebelum akhirnya menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Ia merebahkan diri disamping sang istri, lalu berbalik mengahadap kearahnya. "Sini!" titahnya menepuk sebelah lengannya, agar sang istri merebahkan kepala disana. Vani tersenyum dan beralih ke lengan kekar itu.
Aska merapihkan anak rambut yang menjuntai diwajah cantik itu dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Vani yang melihat itu ikut tersenyum heran.
"Kenapa?" tanyanya.
"Nggak! Aka masih belum percaya aja, kita sekarang benar-benar suami istri." balasnya.
Vani terkekeh mendengar itu. Jika ditanya siapa yang tidak percaya, tentu Ia lah yang tidak percaya. Bagaimana tidak? Tiba-tiba bangun tidur sudah jadi istri orang.
Untung saja, yang jadi suaminya adalah orang yang Ia cintai. Jika sebaliknya, bukan malam pertama cari pahala. Justru yang ada malam pertama mencari dosa. Bayangkan saja, jangankan disentuh. Ia pastinya akan kabur meninggalkan suaminya itu.
"Masih sakit?" tanya Aska khawatir. Jujur Ia kasihan melihat sang istri yang sempat merintih kesakitan. Namun Ia juga tak dapat mengontrol dirinya dengan berbagai rasa penasaran akan aktifitas yang katanya membuat candu itu.
"Emm .. Udah nggak, cuma sedikit kebas." balas Vani dengan jujur.
"Mau tau gimana caranya biar gak kebas?" tanya Aska.
Mata Vani berbinar mendengar itu. "Gimana?" tanyanya begitu penasaran.
"Kita ngulang!"
\*\*\*\*\*\*
Maaf kalo kurang hareudang🙈 ya seperti itulah🤣🤣🤣 jangan lupa jejaknyaa yaa🤗
__ADS_1