
"Akaa berhenti!!" pekik Vani dengan tawa yang tak mampu Ia hentikan, kala tangan sang suami bergerak liar diarea perutnya. Bahkan air matanya ikut keluar karenanya.
"Ampun gak, hem?"
"Ampun kak, ampun!" Vani memohon pada sang suami untuk melepaskanya.
Aska pun menjauhkan tangannya, lalu beralih mengahapus jejak basah dipipi sang istri. Terdengar napas senin kemis dari bibir ranum itu.
Ia kecup seluruh wajah cantik itu bergantian, lalu berakhir dibibir sexy itu sedikit lama.
"Tadi ngomongin apa aja sama dede?" tanya Aska seraya terus memainkan rambut yang menjuntai dipipi cantik itu.
"Isshh aka kepo!" ledek Vani terkekeh.
Aska ikut terkekeh, lalu menyambar ceruk sang istri untuk menyelaminya dengan gemas. Vani tergelak kembali mendapati hal itu.
"Iya, iya, kak. Ampun!" pekik Vani hingga Aska menghentikannya.
"Gak bahas yang aneh-aneh kok. Kita cuma saling berbagi cerita aja selama kita pisah." jelas Vani.
"Ternyata kisah Kia sangat menarik kak. Apalagi pas tau cara mereka bersatu. Ih gemes banget." lanjutnya.
Aska terkekeh dengan penjelasan sang istri. "Terus kamu sendiri gimana?" godanya.
"Aku paling aneh. Nikah gak tau calon suaminya." celetuk Vani, hingga keduanya tergelak.
"Maafin aka ya! Udah nikahin kamu tanpa izin." sesalnya tertunduk.
Ada sedikit rasa bersalah dari hati pria tampan itu. Seharusnya Ia menggelar acara sakral yang hanya Ia ucapkan sekali seumur hidup itu, dengan semestinya. Bukan justru acara sakral yang berubah dadakan diruang urgent dengan keadaan sang gadis yang tak sadarkan diri, seperti yang Ia alami kemarin.
Vani menangkup pipi sang suami lalu mengecup bibir itu sekilas. "Tidak perlu meminta maaf! Aku mengizinkan aka atas diri dan hatiku, dari semenjak gadis kecil meminta anak laki-laki untuk menikahinya. Aka tau? Hal itu menjadi cita-citaku dari saat itu. Dan sekarang cita-citaku ini sudah terwujud." terangnya panjang kali lebar.
"Justru aku berterima kasih sama aka, sudah mewujudkan cita-citaku ini." lanjutnya seraya menjewel gemas pipi sang suami.
"Ck! Bisa gak sih jangan bikin aka makin cinta." kekeh Aska, hingga keduanya kembali tergelak.
__ADS_1
"Aku akan bikin aka makin cinta, cinta, cinta ..." ucapan Vani terputus dengan serangan dari sang suami.
Dengan lembut Aska menyesap lembut, bibir ranum itu. Vani dengan antusias membalas perlakuan lembut suminya, hingga decapan begitu terdengar merdu dari sepasang pengantin baru yang selalu tak pernah absen untuk merajut kasih. Menyalurkan rasa yang kian hari kian membuncah. Label halal yang dimiliki, membuat mereka dengan bebas melakukan aktifitas yang membuat tubuh keduanya panas.
"Euurggghhh!!!"
Erangan panjang menghentikan deritan ranjang dengan kasur yang sudah tak beraturan. Peluh membanjiri tubuh polos sepasang manusia itu, Aska masih belum menarik si jack dari sarangnya. Membiarkan bibit-bibit supernya menyelami rahim sang istri dan berharap segera tumbuh disana.
Dengan napas yang masih tak beraturan dari keduanya, Aska mengecup dalam kening sang istri. Menunjukan kasih sayangnya yang tak mampu lagi Ia ungkapkan dengan kata-kata.
Kemudian Ia menarik si jack, dengan sedikit menjuhkan diri. Lalu beralih mengusap perut rata sang istri yang lengket dengan keringat itu dan mengecupnya.
"Tumbuhlah! Kami menunggumu." ucap Aska.
Hal itu membuat Vani tertawa, merasa lucu akan tingkah sang suami, sekaligus geli kala Aska terus mengusek perut itu dengan hidung mancungnya.
Aska merebahkan diri disamping sang istri seraya menarik selimut yang akan membungkus tubuh polos keduanya. Lalu menarik tubuh ramping itu kedalam dekapannya. Sekali lagi Aska mengecup kening itu dalam, hingga senyum manis terus terukir dari bibir Aska.
"Besok, aka akan ajak kamu kesuatu tempat." terang Aska.
Vani mendongak menatap heran kearah sang suami. "Kemana?" tanyanya.
"Isshh main rahasia-rahasiaan ya?" protes Vani seraya mencubit dada bidang itu, hingga Aska tertawa.
"Pokoknya, kejutan!" final Aska seraya mendekap erat tubuh itu. "Dan kamu harus siap!"
"Ya ampun! Terus akunya siap ngapain?" pekik Vani kala wajahnya tenggelam diantara ketiak Aska. Tangan Vani bergerak mengeplak berulang kali tangan kekar itu.
"Akaa ihh!!!"
Aska tergelak, dengan pekikan sang istri. Keduanya terus bercanda, hingga akhirnya terlelap bersama setelah mengadakan sesi pengulangan.
**
Mentari bersinar semakin menyengat. Sepasang pengantin baru itu sudah berada didalam kijang besi yang keduanya tumpangi. Vani masih belum tau kemana dirinya akan dibawa pergi. Aska masih saja merahasiakan kemana arah tujuan mereka.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil pun sampai ditempat tujuan. Dahi Vani berkerut tanda tak mengerti akan tempat yang kini Ia pijaki. Ia hanya berjalan mengikuti sang suami yang sudah berjalan didepannya dengan tk lepas menggandeng tangan kirinya.
"Assalamaualiakum!" sapa Aska tersenyum.
Ia berjongkok seraya menyimpan bunga yang sempat Ia beli diatas batu nisan yang bertuliskan "Icha Aulia Binti Gunawan (alm.)".
Aska mengusap batu nisan itu seraya bertanya, "apa kabar?"
Vani semakin kebingungan. Sungguh Ia tak tau makam siapa yang kini berada dihadapannya. 'Makam siapa ini?' batinnya. Bolehkah Ia curiga?
"Sini, Ay!" Aska mengajak sang istri yang masih berdiri mematung, untuk ikut berjongkok bersamanya.
Vani meraih tangan Aska dan ikut berjongkok bersama sang suami dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya.
"Mih! Kenalin ini Vani, istriku." ucap Aska memperkenalkan sang istri.
Vani membolakan matanya, kala kata 'Mih' terucap dari bibir sang suami. Ia menoleh menatap Aska yang ternyata juga menatapnya dengan senyuman. Berbagai pertanyaan ingin Ia lontarkan, namun segera diselak Aska.
"Ini makam Mamih." ucapnya memperjelas. Lalu Ia menoleh menatap batu nisan itu.
"Wanita hebat yang sudah mengandung dan melahirkanku dengan mempertaruhkan segalanya untukku." lanjutnya. Satu tetes air dari pelupuk mata Aska pun terjatuh.
Vani semakin membelakakan mata seraya sebelah tangan menutup mulut yang menganga lebar. Sungguh Vani shok bukan main. Ia tak pernah tau jika sang suami memiliki ibu lain selain timomnya.
Vani mengusap pundak Aska dengan air mata yang ikut jatuh. "Maafin aku kak. Aku gak tau." sesal Vani.
Aska menolehkan wajah dan meraih pundak sang istri, membawa tubuh ramping yang bergetar itu kedalam dekapannya.
"Gak apa-apa! Sekarang aka sudah memperkenalkanmu. Kenalan gih!" titahnya.
Vani menghapus jejak kebasahan dipipinya, lalu beralih mendekat pada pada batu yang bertuliskan nama sang ibu mertua.
"Assalamualaikum, Mamih. Aku Vani, istrinya aka. Menantu Mamih." ucap Vani dengan air mata yang kembali jatuh.
"Maafin aku Mih, aku baru tau." sesalnya. "Kami memohon restu pada Mamih. Mohon restui pernikahan kami." lanjutnya.
__ADS_1
Aska merangkul lagi bahu sang istri, dengan menyunggingkan senyuman manisnya. Vani menoleh kearah sang suami dan ikut menyunggingkan senyum seraya menyenderkan kepala dibahu sang suami sebelum mereka melantunkan doa dan juga ayat suci.
\*\*\*\*\*\*