Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Rasanya ... TerAka-Aka


__ADS_3

"Jadi ... Gimana rasanya dipertemukan kembali dengan cinta pertama?"


"Hmmm rasanya ... Ter Aka-aka!"


Suara gelak tawa terdengar menggema disebuah kamar nan luas. Dua wanita tengah mengadakan reuni didalam sana. Setelah bertahun-tahun kedua sahabat itu terpisah, kini mereka dipertemukan kembali. Bahkan mereka mempunyai status baru sebagai kakak ipar dan adik ipar.


"Terus kamu sendiri gimnaa Kiy? Gimana rasanya menikah dengan cinta pertamamu?" tanya Vani.


Kini kedua wanita itu tengah terbaring diatas kasur king size dengan posisi telentang menatap langit-langit.


"Seperti yang kamu rasa. Rasanya, tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata." balas si ibu hamil itu, hingga tawa kembali terdengar dari mereka.


"Sayang!!"


Kedua wanita itu menghentikan tawa mereka dan mengalihkan atensi pada wanita paruh baya yang baru memasuki ruangan itu. Wanita yang masih cantik diusianya yang sudah tak muda lagi itu menghampiri dan duduk ditepi ranjang tersebut. Kedua wanita itu bangkit dan duduk bersama.


"Wihh Timom, bawa apa?" tanya Kia antusias, ketika melihat sang timom membawa nampan berisikan salad dan juga jus buat mereka.


"Ngerumpi juga butuh energi," kekeh timom. "Apalagi cucu Timom disini pasti pengen ngemil, iya 'kan de?" tanyanya seraya mengelus perut rata putri tercintanya itu.


Kedua wanita sebaya itu tertawa melihat tingkah sang timom yang masih saja lucu di usianya itu.


"Aisshh, bukan timom lagi dong. Jadi nenek." ledek Kia, yang langsung dapat cubitan gemas dipipi dari wanita tercintanya itu.


"Mau dipanggil nenek kek, oma kek, Timom gak peduli. Bahkan dipanggil emak juga oke. Yang penting cucu Timom sehat-sehat semua." balas si calon nenek itu.


Vani mengerenyit heran, saat kata 'semua' terlontar dari ibu mertuanya itu. "Baby Kia kembar ya mom?" tanyanya.


Timom tesenyum mendengar pertanyaan menantunya itu, berbeda dengan Kia yang ikut heran mendengr pertanyaan itu. Otaknya yang pas-pasan tak dapat mencerna ucapan sang kakak ipar.


"Gak tau juga, mudah-mudahan sih iya." balas sang timom dan diangguki Vani. "Tapi, maksud timom bukan gitu," lanjutnya.


Perkataan timom membuat kedua wanita itu semakin mengerenyit heran. "Terus?" tanya keduanya serentak.

__ADS_1


Timom tersenyum seraya meraba perut Vani juga. "Smoga disini juga cepat terisi. Jadi timom dapat double sekaligus." kekehnya.


Vani tertawa mendengar doa yang menurutnya mana mungkin terjadi itu. Pernikahan yang baru beberapa hari, mana mungkin bisa langsung terisi. Namun dalam hati kecilnya, Ia mengaminkan tulus doa ibu mertuanya itu. Tak ada hal yang tak mungkin, jika Tuhan sudah berkehendak.


"Amin! Smoga ya, mom!" balas Vani ikut mengelus punggung tangan yang bertengger diperutnya itu. Hingga keduanya tersenyum bersama.


Berbeda dengan Kia, sepertinya Ia baru bisa memahami ucapan sang timom. Ia ikut tersenyum dan memeluk kakak iparnya itu dari samping.


"Smoga nular, smoga nular!" ucap Kia, hingga ketiga wanita itu tergelak.


"Coba lihat, timom bawaain apa?" Timom mengambil wadah dari atas nampan.


"Ini salad pisang, khusus buat putri timom tercinta." ucap wanita yamg masih saja imut itu, seraya menyodorkan wadah itu pada sang menantu.


"Lah kok cuma Vani, aku mana?" protes Kia dengan manja.


"Isshh kamu tuh, panggilnya jangan Vani dong, panggil kakak atau mbak gitu. Sekarang 'kan dia kakak ipar kamu." selak sang timom.


Kia menghembuskan napas panjang, sungguh Ia melupakan hal itu. "Iya, iya maaf! Aku lupa." sesalnya.


"Ihh bisa aja deh. Kakak siapa sih ini?" tanya Kia memeluk kembali tubuh disampingnya hingga Vani tergelak.


"Ini, Timom juga bawain buat kamu kok. Salad campuran, kesukaan putri manja timom." ucap timom seraya memberikan satu wadah lagi pada si bumil itu.


"Tapi mom, aku gak mau itu." tolak Kia menutup hidungnya.


"Lah, terus mau apa?" tanya timom heran.


"Aku pengen kedongdong mom!" celetuk Kia yang tentu saja membuat dua wanita beda generasi itu menganga lebar.


"Hah?!"


"Ya ampun! Kemana jam segini nyari kedongdong?" sang timom berkomentar, kala putri tercintanya meminta sesuatu yang tak pernah Ia sediakan dirumah.

__ADS_1


"Ck! Padahal aku pengen itu." Kia bedecak dengan wajah sendu.


"Ya udah, ya udah, ntar timom suruh Rei buat nyari yang kamu inginkan, ya!" bujuk timom.


"Ihh gak mau. Aku maunya timom sama papih yang cariin." protes Kia.


"Hah?! Kok timom sih?" protes balik timom yang kini berwajah pucat.


"Iya. Timom! Dedenya pengen dicariin kedongdong sama timom." rengek Kia dengan manja seraya mengelus perutnya, diakhiri senyuman yang menampilkan deretan giginya.


Timom menghembuskan napasnya berat, demi sang putri tercinta dan calon cucunya, wanita paruh baya itu pun pasrah dan siap menuruti keinginnya. Timom pun berpamitan, lalu berlenggng keluar dari kamar itu.


"Kamu tuh, kasihan tau timom!" ucap Vani yang mulai berkomentar.


"Gak papa lah, sekali-kali. Tiap hari kasihan si om mulu yang harus pergi cari yang diinginkan dede utun." kekeh Kia dan ditimpali Vani dengan senyuman lebar.


"Oh iya, aku ke kamar dulu ya. Besok kita lanjut lagi. Aku pengen kasih salad ini buat om. Kek nya lucu kalo lihat dia makan ini." ucap Kia cekikikan. Vani kembali mengerenyit heran mendengar itu.


"Dah ntar besok aku jelasin. Bye!" si bumil itu berlenggang keluar dari kamar sang kakak menuju kamarnya.


Vani hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adik iparnya itu. Hingga pintu yang baru saja tertutup itu, kembali terbuka diirngi suara bariton yang selalu menggetarkan hatinya.


"Apa ghibahnya udah selesai?" tanyanya seraya menghampiri Vani setelah mengunci pintu itu.


Vani tersenyum menanggapi pertanyaan sang suami, "Emang kenapa?" goda Vani.


Aska mendekat dan langsung menyergap sang istri hingga Vani telentang dan menjerit kaget. Kemudian keduanya pun tergelak.


"Sudah siap?" tanya Aska.


"Siap apa?" tanya Vani pura-pura polos.


"Membuat cucu buat emak timom."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Maaf ya, mak othor baru up lagi🙏🙏 Dunia nyata mak othor benar-benar sibuk.. Besok insyaAlloh normal lagi yaa, doain mak othornya biar selalu sehat🤗


__ADS_2