Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Orang terpenting dihidupku


__ADS_3

Blush!


Semburat merah kembali muncul dikedua pipi gadis itu, dengan reflek Ia menundukan wajahnya untuk menyembunyikan itu. Aska tersenyum melihatnya, sungguh ekspresi itu membuat Ia gereget. Ia menundukan wajahnya, bibirnya menjangkau pipi yang memerah itu.


Cup!


Deg!


Vani terpaku sejenak mendapat perlakuan itu, hingga Ia mendongakan kepalanya dan melihat senyuman manis yang begitu tampan itu. Ia sampai menggigit bibir bawahnya menahan jeritan dihatinya. Sunggupun senyum itu membuat jiwanya melayang entah kemana.


Aska meraih tangan sang gadis yang megang paperbag itu. "Apa kamu suka?" tanyanya.


Seketika kesadaran Vani kembali mendapati pertanyaan itu. "Emm ..." Ia sempat sedikit gugup, namun didetik berikutnya Ia pun segera menyodorkan benda ditangannya pada Aska.


"Ini ...!!"


Aska menautkan alisnya tak mengerti. "Kenapa?" tanyanya.


"Aku kembalikan pada aka." balas Vani dengan senyumnya.


"Kenapa? Apa kamu kurang suka? Apa perlu aka ganti?" cecar Aska dengan berbagai pertanyaan.


"Nggak kak, bukan gitu." selak Vani yang tak ingin pria tampn itu salah paham.


"Aku ingin mendapatkan apapun kebutuhanku dari hasil kerja kerasku sendiri. Aku ingin belajar untuk gak nyusahin orang lain." jelas Vani membuat wajah tampan didepannya sedikit kusut.


"Jadi menurut kamu, aka ini orang lain?" tanya Aska yang tak terima, jika dirinya disamakan dengan orang lain.


"Ng-nggak kak! Bukan gitu maksudku." balas Vani sedikit panik ketika melihat Aska menundukan kepalanya.


Ia simpan paperbag itu disofa sebelahnya berdiri. Lalu menggenggam kedua tangan sang pujaan. "Jangan salah paham! Buatku aka orang terpenting dihidupku." jelasnya.


Tanpa Vani ketahui satu sudut bibir Aska terangkat sedikit hingga tak terlihat oleh gadis cantik itu.


"Seperti aka, aku pun melakukan hal yang sama. Setiap hari aku berdoa agar segera bertemu kembali dengan aka." lanjutnya.


"Aku, aku, aku sayang sama aka!" lanjutnya lagi dengan sedikit ragu seraya menundukan tatapannya.

__ADS_1


Aska mendongak dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya. Ia raih dagu sang gadis, membiarkan wajah cantik itu mendongak menatapnya.


"Aka juga sayang sama kamu. Sangat!" tuturnya.


Tatapan keduanya terkunci, senyum pun ikut terukir dibibir manis Vani. Sangat manis. Hingga Aska tak mampu mengendalikan dirinya. Ia memiringkan wajahnya, lalu menjangkau bibir ranum itu. Me lumatmya lembut, hingga mata keduanya terpejam.


Perlahan namun pasti, Aska menggerakan bibirnya penuh perasaan. Mengikuti nalurinya untuk memperdalam ciuman mereka. Ia menggigit pelan bibir itu agar sang gadis memberikan ruang untuk lidahnya bisa menerobos lebih dalam.


Vani mencengkram erat kedua sisi kemeja lelaki itu, kala lidahnya melesak lebih dalam mengabsen setiap inci rongga mulut sang gadis. Tak ada pengalaman apapun, hingga membuat mereka masih kaku dan sama-sama belajar untuk hal itu. Bahkan kemarin hanya sekedar kedua benda kenyal itu saja yang saling menempel, dan hal itu sudah membuat mereka merasakan getaran aneh dihatinya.


Dan sekarang, ini lebih dari itu. Decapan begitu riuh memenuhi ruangan itu. Aska melangkahkan kakinya maju membuat Vani reflek mundur, hingga terjengkang keatas sofa dengan reflek sebelah tangan Aska memeluk tubuh ramping itu. Satu tangannya dibiarkan untuk menumpu bobot tubuhnya agar tak menindih tubuh sang gadis.


Tautan pun terlepas, terdengar napas memburu dari keduanya yang hanya berjarak beberapa senti saja. Satu kali lagi Aska mengecup bibir ranum itu dan tersenyum.


"Apa malam ini kamu ada waktu?" tanya Aska membuat Vani tersenyum.


"Kenapa?" Bukan menjawab, Vani justru balik bertanya.


"Mmm .. Kita kencan." balas Aska, seketika Vani pun tersenyum, bahkan terkekeh.


"Kenapa?" tanya Aska terheran.


"Apa kita buat hubungan ini lebih jelas?" tanya Aska dan hanya ditangagpi senyum oleh Vani.


"Vanilla aurelia putri, maukah kau menjadi kekasihku?" tanyanya lagi dengan senyum yang tak luntur dari bibir keduanya.


"Bukan!" ucap Aska hingga Vani menaikan satu alisnya. "Bukan. kekasih!" sang gadis semakin dibuat keheranan.


"Vanilla aurelia putri, maukah kau jadi calon istriku? Menjadi pendamping hidupku?" tanyanya lagi, hingga satu alis yang terangkat tadi berubah menjadi guratan terharu.


Matanya memanas dan berkaca-kaca. Benarkah apa yang Ia dengar? Bukan hanya kekasih, tapi pria tampan itu memintanya jadi calon istri. Jangan ditanya lagi bagaimana jantungnya yang tak mau diajak kompromi, hatinya menghangat mendengar itu. Senyum Aska yang seolah tengah meminta kepastian membuat Vani ikut tersenyum dan tanpa aba-aba mendekap tubuh itu. Hingga Aska hilang keseimbangan dan menindih tubuh ramping itu.


"Tanpa aka minta, aku sudah mengakui itu." ucap Vani menyembunyikan wajah didada bidang itu.


Aska yang sempat terlonjak akhirnya tersenyum dan mengusap rambut sang gadis. Hingga tiba-tiba pintu dibuka dengan keras.


Braakkk!!!

__ADS_1


"Aka?!!" panggil seorang wanita, hingga matanya membulat melihat pemandangan didepannya.


"Omegat-omegat!! Aka ngapain?" pekiknya terkaget.


Hal itu tentu membuat sejoli itu terlonjak, dengan tergesa Aska bangkit dari tubuh sang gadis. Lalu berdehem keras seraya membenahi kemejanya yang kusut dan mendudukan diri disofa itu. Begitupun Vani, Ia segera bangkit dan ikut nenundukan diri seraya menundukan kepala.


"Ini?" sang wanita mendekat seraya menunjuk gadis yang masih menundukan tatapannya. "Bukannya ini karyawan aka?" tanyanya heran, hingga satu sudut bibirnya tertarik.


"Ya ampun! Gini ternyata kelakuan direktur yang selalu papih bangga-banggain?" sindirnya seraya menggelengkan kepala dengan tangan dilipat didada.


"Ck! Ck! Ck! Aku kasih tau sama timom kek nya seru nih." lanjutnya dengan menyeringai.


"Maafin saya bu! Ini salah paham. Ini tak seperti yang ibu kira." Vani mencoba membela diri seraya mendongakan kepalanya menatap wanita itu.


'Ini?' batin Vani mengingat wanita itu.


"Oh! Gak sengaja ya? Sayangnya disini ada cctv, kita buktiin gimana? Hem? Hem?" tanya sang wanita dengan nada menggoda melirik keduanya bergantian.


Vani kembali menundukan pandangannya. Bingung harus membalas apa dan masih mengingat siapa wanita itu.


"De!" panggilan Aska membuat Vani menoleh dengan alis bertautan.


"Jangan gitu lah!" ucap Aska dengan wajah memelas.


"Kenapa?" tanya wanita itu tanpa dosa.


"Oh ... Aku tau, kalian emang abis ngapa-ngapain kan? Iya kan? Atau ... Aka memaksa gadis ini ya buat berbuat yang iya-iya? Ayo ngaku aja!" tudingnya.


Senyum Vani terukir kala memperhatikan wanita cantik yang tak hentinya mengoceh itu. Matanya kembali berkaca-kaca seraya berdiri. Tanpa aba-aba Ia berhambur memeluk tubuh sang wanita.


"Kiy! Aku merindukanmu." ucap Vani dengan isak tangis dibahu sang wanita.


Kia yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi dibuat kebingungan. Ia tak segera membalas pelukan itu dan memilih melerai pelukannya.


"Bentar dulu!" tahan Kia menatap sang gadis. "Kamu?" tanya Kia masih dengan wajah yang sama.


"Kia! Askia. Sahabatku!"

__ADS_1


******


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss🤗


__ADS_2