
"Isshhh ... Mulai!" rengek Vani mengusap wajah sang suami didepannya.
Keduanya tertawa, dan mulai memakan makanan yang tersaji. Diselingi canda tawa dan suap-suapan pengantin baru itu pun menghabiskan makanannya hingga tandas.
"Sini, aka bantu!" Aska menghampiri sang istri yang tengah mencuci piring.
"Gak apa-apa kak, aku aja!" balasnya tersenyum.
Namun Aska justru memeluknya dari belakang, Ia meraih kedua tangan sang istri yang penuh dengan busa, dan ikut menggerakan tangannya menggosok piring disana.
Vani tersenyum lebar mendapati itu. "Kalo kek gini, kek nya lama selesai kak. Aka tunggu aja disofa ya!" titahnya.
Sama dengan sang istri, Aska pun ikut tersenyum. "Gak apa-apa, aka suka lama-lama denganmu." balasnya.
Keduanya terkekeh bersama. Hingga kegiatan cuci pring pun selesai. Vani membalikan tubuhnya, hendak bergerak untuk menyelesaikan lagi satu tugasnya, yaitu mencuci pakaian. Namun pergerakannnya terhenti kala sang suami mengukung tubuhnya pada meja dapur disana.
"Kenapa?" goda Vani, ketika melihat tatapan sayu yang dilontarkan sang suami.
Tanpa menjawab, Aska menundukan wajahnya memiring, menjangkau bibir manis yang selalu membuatnya candu itu. Menyecapnya dalam dengan lembut dan penuh perasaan.
Satu tangannya menekan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciumannya, dengan satu tangannya lagi memeluk pinggang ramping itu.
Decapan begitu merdu terdengar diruang dapur itu. Aska mengangkat tubuh ramping itu dan mendudukannya diatas meja dapur. Vani memeluk leher suaminya hingga wajah mereka berada diposisi sejajar.
Satu tangan Aska mulai nakal menyusuri kaki putih yang terekspos itu. Satu tangannya lagi mulai bergeliyara kebagian punggung yang hanya tertutupkan kemeja.
Suara sexy Vani mulai terdengar kala benda kenayal Aska berjalan menyusuri ceruknya. Tangan Vani berpindah kebagian rambut Aska, lalu menariknya pelan. Tak cukup sampai disitu, benda kenyal Aska kembali bergerak semakin kebawah. Dua kancing kemejanya yang sudah terbuka, membuat benda itu lebih leluasa bermain disana.
Ia kembali menyambar bibir ranum istrinya. Lalu tangannya dengan sigap mengangkat tubuh ramping itu hingga digendongannya. Vani mengaitkan kakinya ditubuh tegap itu, dengan tangan memeluk kepala sang suami. Hingga Ia terlihat seperti koala yang menempel ditubuh tegap itu.
Aska membawa tubuh ramping itu hingga berpindah dari dapur. Lalu berhenti disofa panjang yang berhadapan dengan layar lebar diruangan itu.
Ia membaringkan tubuh sang istri secara perlahan dan mengukungnya, dengan satu tangan Ia buat penyangga agar menahan bobot tubuhnya.
Satu tangannya mulai bergerak membuka kancing kemeja itu perlahan, lalu melepaskan pagutan bibir mereka. Aska menegakan tubuhnya sejenak, kemudian membuka kaos ketat yang dikenakannya dan melemparnya begitu saja.
__ADS_1
Terlihat seringai dari wajah tampan itu, kala tubuh atas sang gadis sudah terekspos jelas. Bahkan dua buah gundukan favoritnya menyembul seolah menantang untuk dijamah.
Aska mendekatkan wajahnya kembali, "Apa boleh?" tanyanya dengan hembusan napas hangat dengan mata sayu berkabut gairah.
"Tentu. Sangat boleh." balas Vani membelai rahang tegas itu.
Aska memejamkan matanya meraskan sentuhan sang istri yang kini semakin turun kebagian tubuh atasnya, hingga perutnya. Sentuhan lembut yang sukses membangkitkan jiwa liarnya.
Ia membuka sisa kancing yang menutupi nona dibawah sana. Vani yang hanya berbalutkan kemeja putih tanpa benda segitiga dan benda berbentuk kacamata itu, tentu memudahkan Aska untuk menjamah bagian-bagian favoritnya. Benda kenyal itu semakin liar mengabsen setiap jengkal pahatan indah itu.
"Mmmhhh ... Ka!"
Lagi-lagi Vani tak bisa mengendalikan suaranya. Tubuhnya sudah berleok kesana kemari tak mau diam. Perlakuan suaminya benar-benar membuat Ia melayang.
"Ka ...."
"Yeahh sayang?"
"Mmmhh ...."
"Mau berpacu?" tanya Aska dengan seringai tipis dibibirnya.
"Biar kucoba." balas Vani yang ikut menyeringai.
Ia siap menari diatas tubuh tegap itu. Tak membutuhkan waktu lama, sinona sudah melahap penuh sang pisang ambon.
"Uhhhh ..."
Vani mulai bergerak pelan, sangat pelan. Meresapi setiap tempo yang mereka ciptakan. Aska melahap pucuk buah didepannya bergantian.
Suara sexy begitu merdu terdengar diruangan nan luas itu. Keringat mulai membanjiri tubuh keduanya. Vani semakin berpacu cepat kala Ia hendak mencapai puncak itu.
Sebelum Vani mencapainya. Aska berdiri tanpa melepaskan tubuh sang istri. Merebahkan tubuh molek yang menempel ditubuhnya itu. Ia beralih menjadi leader permainan panas mereka dan mulai berpacu, menggali rasa yang sama dari setiap ritme yang mereka ciptakan.
Suara sexy itu terdengar silih bersahutan dari keduanya. Hingga entah dimenit keberapa, erangan panjang menghentikan aktifitas mereka. Aska ambruk diatas tubuh sang istri dengan keringat yang membanjiri tubuh mereka. Ia tak ingin melewatkan semburan cebong penerusnya, hingga Ia membiarkan benda keramatnya tenggelam. Agar sang penerus segera tumbuh dirahim istrinya.
__ADS_1
Aska menegakan diri dengan menyangga tangannya. Ia menatap dalam mata sang istri dan tersenyum. Ia kecup dahi basah itu, lalu turun kemata dan semua bagian wajah itu tak luput dari incaran bibirnya. Hingga Vani terkekeh medapatkan ciuman bertubi-tubi diseluruh wajahnya.
"Makasih!" ucap Aska dan diangguki istrinya.
"Apa sekarang masih sakit?" tanya Aska dan dijawab senyum yang disertai gelengan dari istrinya itu. Melihat tatapan sang istri sungguh membuat si pisang tegak kembali.
"Oke! Once again." bisik Aska menyeringai dan dibalas senyuman Vani.
Tanpa aba-aba Aska mulai kembali menggerakan tubunya yang masih menyatu dan mereka pun kembali mengulangnya. Hingga senja diupuk barat mulai muncul, belum juga ada tanda-tanda mereka untuk menyelesaikan aktifitas itu.
**
Malam pun tiba, seorang gadis tengah memoles wajahnya didepan cermin. Ia tak menghiraukan teriakan sang mamih yang terus memanggilnya dari luar kamar.
"Berisik banget si mamih. Gak tau apa aku tuh harus tampil cetar." gerutunya seraya menyapukan blush on dipipinya.
"Oh iya, mamih mana tau. Mamih 'kan tomboy!" kekehnya bermonolog sendiri.
Setelah memoleskan lipstik dibagian akhir karyanya, Riska berdiri didepan cermin besar yang menampakan penampilan dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Ia mengagumi penampilannya sendiri yang terlihat anggun malam ini. Dengan dress berwarna hitam selutut yang mengekspos bagian dada dan lengannya membuat penampilannya begitu girly. Rambut yang Ia cepol keatas, memperlihatkan leher jenjang nan putihnya. Tak lupa Ia juga mengenakan heels lima senti yang membuat gadis remaja ini begitu terlihat menawan.
"Dah lah ... Perfect!" pujinya pada diri sendiri, setelah beberapa saar lenggak lenghok didepan cermin itu.
Ia meraih tas nya dan mengaitkannya dipundak. Lalu meraih parfum yang hampir saja terlupakan dan memakainya.
Semenatra itu diruang tamu, berulang kali Daffa melirk jam yang bertengger dipergelangan tangannya. Kata 'On time' yang diperintahkan sang gadis, membuat Ia benar-benar harus datang terlebih dahulu. Dan lihatlah! Justru gadis itu sendiri yang melanggar kesepakatan itu.
Ditengah kekesalannya, Ia terperanjat mendengar panggilan sang gadis dari arah belakang.
"Haii Om!!!"
******
Jejaknya jangan lupa yaa🤗 ditunggu yaa masih next..
__ADS_1