Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Pura-pura


__ADS_3

Daffa terpaku melihat siapa yang mengalihkan atensinya. Hanya satu gadis yang berani memanggilnya om. Dan itu adalah gadis yang mengajak Ia berpura-pura untuk menjadi kekasihnya.


Riska menghampiri pria tampan yang kini tengah menatap dirinya dan tengah duduk disofa ruang tamunya. Pria berpostur tegap dengan kemeja hitam yang melekat ditubuhnya dan rambut yang ditata begitu rapih, sungguh membuat hati gadis itu ketar-ketir tak karuan.


"Ehenmm!!! Yuk Om!" Riska berdehem keras untuk menetralkan dirinya yang tiba-tuba saja gugup.


Daffa terkesiap mendengar deheman itu, Ia ikut berdehem untuk menetralkan dirinya. Sungguh penampilan sang gadis membuat Ia hampir tak mengenali sosok yang kini berada dihadapannya.


'Kenapa dia harus berpenampilan kek gitu?' batin Daffa bertanya-tanya.


Ia pun berdiri dan segera berlenggang meninggalkan tempat itu. Tanpa mendengarkn pekikan sang gadis yang memanggilnya.


"Om!!"


"Ya ampun tuh orang, gak ada manis-manisnya banget." gerutu Riska seraya ikut menyusul langkah panjang Daffa dengan terseok-seok.


"Mih! Aku berangkat!" teriak Riska dan diiyakan sang mamih dari arah dapur.


Daffa yang datang lebih awal, tentu sudah meminta izin pada kedua orang tua Riska lebih dulu. Bahkan Ia lama mengobrol dengan ayah dari gadis itu, seraya menunggu sang gadis yang dandannya lama.


Daffa menghela dan menghembuskan napasnya panjang. Tangannyan bergerak memegang dada, kala jantungnya tiba-tiba berdegup begitu kencang. Ia pun menghentikan langkahnya didepan pintu mobil.


"Ada apa denganku?" gumamnya.


"Om!!!"


Lagi-lagi pekikan itu sukses membuat Ia terkesiap.


"Ayo masuk!" ajak Daffa seraya membuka pintu mobil untuk gadis cerewet itu.


"Ishhh ... Om tuh, yang romantis dikit napa? Aku sekarang lagi jadi pacar Om." omel sang gadis disertai cebikan bibirnya.


Daffa menghembuskan napasnya pelan. Ia benar-benar harus sabar menghadapi gadis kecil itu. "Ya udah kalo kamu nganggep saya pacar, panggilannnya juga jangan om!" tegasnya.


"Lah! Terus apa dong?" tanya Riska seraya terlihat berpikir keras.


"Ya apa aja, kalo panggil om kamu bakal di anggap gandeng hot dady. Lagian saya ini belum tua." selak Daffa disertai hembusan napas kasar, kala melihat sang gadis yang tampak saja berpikir keras.

__ADS_1


"Emm ..." Riska masih tampak berpikir, hingga Ia pun tersenyum. "Baiklah, aku akan panggil om, ayang!" ucap gadis itu dengan manja.


"Gimana keren gak tuh?" tanyanya meminta pendapat.


"Ck! Lebay. Udah panggil kakak aja atau abang, itu lebih natural." balas Daffa.


"Isshhh Om tuh kudet. Sekarang tuh ayang lagi trend, Om." protes Riska.


"Mungkin iya, dikalangan bocah kek kamu. Orang dewasa kek saya itu terdengar menggelikan." balas Daffa dan dibalas cebikan bibir gadis manja itu.


"Udah ayo cepet, keburu malam!" ajaknya seraya menarik pergelangan tangan Riska dan menyuruhnya masuk mobil.


Setelah gadis cantik itu masuk, Ia pun mengitari mobil itu dan memasuki pintu kemudinya.


Baru saja bokongnya mendarat dibagku kemudi, suara cerewet sang gadis sudah kembali mengoceh.


"Wiihh Om. Keren banget ini mobil. Ini mobil Om, apa rental Om?" cerocosnya.


Daffa menghembuskan napasnya kasar. "Sudah saya bilang jangan Om!" tegasnya.


"Isshh ... Iya, iya. Galak banget sih, Om." gerutunya.


"Eh, maksud aku. Kak! Kakak aja ya? Kalo abang kek tukang baso. Abang tukang baso." kekehnya.


Belum juga Daffa ingin menjawab, sang gadis sudah kembali mengoceh. Bahkan sekarang bukan ocehan lagi, namun sebuah nyanyian dengan suara sumbang yang begitu membisingkan ditelinganya.


"Abang tukang baso, mari-mari sini aku mau be-" belum selesai nyanyian itu, Daffa segera membungkam bibir itu dengan telunjuknya.


"Suut!!! Kamu tuh berisik banget ya. Kalo gini terus, kita kapan berangkatnya?" protes Daffa.


"Iya, iya. Ihhh Om- eh kakak ini gak bisa diajak bercanda deh." gerutunya.


Daffa tak menggubris lagi ucapan sang gadis, Ia segera memasang sabuk pengamannya dan mulai menyalakan mesin mobilnya dan melesat meninggalkan tempat itu. Tak sampai disitu, disepanjang perjalaann bibir Riska seolah gatal. Masih aja ada ocehan yang terdengar dari gadis cerewet itu.


"Kamu gak capek ya, ngoceh mulu dari tadi?" tanya Daffa yang merasa heran dengan tingkah gadis itu.


"Kakak ini gimana sih? Kalo kita diem aja, nih mobil kasihan." balas Riska membuat Daffa mengerutkan dahinya tak mengerti.

__ADS_1


"Kasihan? Kasihan kenapa?" tanya Daffa heran.


"Ya, kasihan. Bayangin aja, mobil sekeren ini kalo sepi 'kan udah kek kuburan. Kek keranda dong!" celetuk Riska diringi tawa dari bibir cerewetnya itu.


Daffa melongo mendengar itu. Ia sudah salah menanggapi sang gadis dengan serius. Ia hanya menghembuskan napasnya panjang. Entah kenapa meski itu membisingkan ditelinganya, namun sudut bibirnya tertarik mendengar suara yang sepertinya akan selalu terngiang diindera pendengarannya itu.


"Oh iya, Kakak juga jangan terlalu kaku biar terlihat natural gitu. Jangan saya, aku aja!" saran Riska dan diiyakan Daffa dengan nada malas.


"Ihh ... Serius Kak!" protes Riska.


"Iya, iya. Ini juga serius ya, ampun!" balas Daffa.


"Beneran, serius nih?" tanya Riska.


Untuk kesekiam kalinya Daffa menghembuskan napasnya panjang. Kesabarannya benar-benar diuji sekarang. "Iya, ini serius." balas Daffa dengan lembut.


"Ya udah kalo serius, langsung lamar ya!" kekeh Riska dan langsung dapat usekan dikepala dari Daffa.


Alih-alih semua gadis bakal baper dapat perlakuan manis seperti itu, Riska justru memprotes perlakuan Daffa padanya.


"Ihh jangan diberantakin, ya ampun! Ini tuh susah rapihinnya." protes gadis cerewet itu.


"Iya, maaf!" kekeh Daffa.


Riska mencebikan bibirnya seraya merapihkan kembali rambutnya. Ia meraih spion atas dan mengarahkan padanya. Selain rambut Ia juga merapihkan bibirnya yang sedikit mengering.


Ternyata hal itu menjadi perhatian Daffa. Ia melirik berulang kali, melihat aktifitas gadis itu. Matanya begitu tertarik menatap bibir yang tengah dimainkan siempunya. Bibir berwarna baby pink yang lembab, sukses membuat Ia menelan salivanya susah payah.


Bayangan pagi tadi, ketika bibir keduanya bertemu. Tiba-tiba saja terlintas dibenaknya. Ia segera menepis itu dengan mata fokus kedepan. Ia tak ingin membahayakan keselamatannya dan sang gadis. Akal sehatnya segera menghapus hal negatif itu dan fokus pada tujuan awalnya.


Tak berselang lama mobilpun sampai disebuah hotel yang cukup megah. Sepertinya teman Riska ini adalah salah satu sultan dikota itu. Terlihat dari acara sweet seventeen yang digelar tak tanggung-tanggung. Banyak deretan mobil mewah juga yang berjejer menghadiri acara itu.


Bahkan penyambutan tamu begitu mewah, para tamu disambut dengan red karpet yang tergelar didepan ballroom hotel tersebut.


Daffa keluar mobilnya dengan begitu gagahnya. Ia berjalan mengitari mobil dengan santainya. Lalu, membukakan pintu untuk sang gadis. Tangannya menyambut tangan gadis itu hingga Ia keluar dari sana dan menggenggam tangannya. Senyum terukir dari keduanya. Tak ada yang tau mereka bukanlah pasangan sungguhan. Karena yang terlihat mereka sungguhlah pasangan serasi.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jejaknya jangan lupa yaa🤗


__ADS_2