Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Mood booster


__ADS_3

Seorang pria yang baru saja melepas masa lajangnya tengah merebahkan diri diatas kasur king size yang bertaburkan kelopak mawar khas pengantin baru.


Daffa mentap langit-langit kamar dengan melipat lengan dibelakang yang dijadikan bantal olehnya. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin. Dimana awal mula pertemuannya bersama gadis yang sekarang harus Ia aku istrinya itu.


"Apa ini takdir-Mu?" Daffa bertanya seolah sang maha memberi takdir tengah berada dihadapannya.


Ia masih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Apa jalan yang Ia pilih sudah benar? Dan apa sekarang Ia benar-benar sudah siap memiliki tanggung jawab lebih besar lagi?


Ditengah pikiran yang kalut, tiba-tiba indera penciumannya menangkap suatu bau yang mampu membuyarkan lamunannya. Aroma sweet rose dari sabun begitu memekat, membuat jantungnya berdegup dengan cepat.


Seketika mata Daffa terbuka lebar. Ia menoleh mencari sumber aroma itu, hingga netranya menangkap sosok mungil dengan berbalutkan handuk dari dada hingga lutut dan satu handuk membalut rambutnya. Daffa menatap sosok yang tengah berjalan santai itu tak berkedip. Hingga Ia menelan salivanya susah payah, kala hawa panas tiba-tiba menjalari tubuhnya.


Riska yang keluar dari kamar mandi selepas membersihkan diri, berlenggang dengan santai menuju lemari pakaian. Alunan sebuah lagu terdengar dari gadis cerewet dengan nada sumabngnya itu. Dengan percaya diri Ia melantunkan lagu tarling populer yang liriknyaa acak-acakan.


"Keceluk kang kaji gaul. Esuk-esuk manggul pacul muter ngidul. Rupane mah wis janjian. Karo rangda ning tanggul kali bengawan."


Seketika tawa Daffa pecah mendengar suara cempreng sang gadis yang tengah sibuk didepan lemari. Pesona Riska ambyar, kalah oleh nada sumbang.


Riska terkejut mendengar tawa renyah dari seorang pria. Ia melupakan keberadaan pria yang harus Ia akui suaminya itu. Ia menghentikan nyanyiannya dan berbalik menatap pria itu.


"Kakak!" pekiknya.


Daffa masih belum menghentikan tawanya. Bukan suara sumbang sebenarnya yang Ia tertawakan, namun lagu berbahasa Jawa itu yang membuat Ia gemas. Jika gadis lain lebih suka menyanyikan lagu boy band, k-pop korea dan semacamnya. Riska justru bernyanyi tarling dangdut plus dengan goyangannya.


"Ihhh ... Kakak ngapain disini?" Dengan wajah kesal beserta malu yang datang bersamaan, Riska bertanya dengan raut wajah menekuk.


Gadis cantik itu berkacak pinggang dan berjalan mendekat kearah pria yang tak henti tertawa itu. Dan hal itu semakin membuat gadis itu kesal.


Daffa benar-benar terpingkal-pingkal melihat sang gadis tadi. Sungguh adegan itu begitu menghibur. Ditengah pikiran kacau yang terus menari diotaknya. Justru gadis itulah yang kembali membangkitkan mood boosternya.


Riska yang kesal mengambil bantal dan memukul tubuh lelaki yang berani menertawakannya itu.


"Ihh ... Kakak ngeselin! Berhenti gak? Ihh ...." omel Riska dengan rengekan yang membuat Daffa semakin gemas.


Riska tak henti memukulkan benda empuk tersebut pada tubuh tegap itu. Daffa mencoba menangkal dengan mengahadangkan tangannya.

__ADS_1


Satu handuk dari rambut Riska melorot, hingga rambut gadis itu tergerai dan berantakan. Dengan rambut yang masih sedikit basah itu, wajah Riska nampak lebih cantik. Sekejap Daffa terpana menatap wajah cantik itu, hingga Ia menghentikan tawanya.


Riska tak menyadari Daffa yang tak lekang menatapnya. Bahkan Ia melupakan handuk kecil yang sudah jatuh dari rambutnya itu.


"Ngeselin emang, ihh, ihh," Riska tak henti memukulkan bantal itu, hingga tangan Daffa menghentikan pergerakan gadis itu.


Grepp!!!


Daffa mencekal lengan sang gadis, hingga tubuh mungil itu jatuh diatas tubuh kekar yang telentang itu dengan bibir mereka yang bertemu.


Deg


Kedua manusia itu terpaku. Mereka hanya diam dengan mata saling mengunci. Hening! Hanya detak jantung yang bersahutan saja yang terdengar diantara mereka. Hawa panas tiba-tiba menjalari tubuh mereka.


Daffa menggerakan bibirnya, mencoba menyecap rasa manis yang sempat Ia rasa malam itu. Bibir lembut yang masih terpaku itu semakin membuat Daffa tertantang. Satu tangan kekar itu bergerak menggapai tengkuk sang gadis, seiring mata yang terpejam menikmati manis bibir itu.


Mendapati pergerakan bibir itu, membuat Riska sedikit terkesiap. Namun dirasa gerakan itu begitu lembut, membuat jiwanya ingin merasakan lebih dari itu. Ia ikut memejamkan mata dengan mencoba menggerakan bibir itu untuk menyeimbanginya.


Decapan terdengar merdu diruangan terang itu. Daffa membalikan tubuh mereka hingga sang gadis berada dibawah kungkungannya, tanpa melepas pagutan itu.


Ciuman lembut kian menuntut. Lama keduanya berpagut semakin dalam. Hingga mereka terlihat tak ingin untuk menyudahi aktifitas itu. Tangan Daffa yang memeluk tubuh Riska mulai tak mau diam. Tangan nakal itu sudah mulai berjalan mengelus kulit yang masih terbungus kain tebal itu, namun hal itu sukses membuat gelenyar aneh ditubuh gadis itu.


Hal baru yang pernah Ia lakukan diseumur hidupnya. Mendapati ciuman tentu pernah Ia rasakan dari mantan pacarnya, namun mendapat sentuhan dibagian tubuh yang lain baru pertama Ia rasakan.


Bermodalkan naluri, Daffa melakukan apa yang jiwanya perintahkan. Tak ada pengalaman yang menuntun Ia melakukan keliaran itu.


Tangan Daffa mulai membuka kain putih itu perlahan. Otak Riska hendak menolak, namun tubuhnya tak menginginkan penolakan. Justru tubuh itu pasrah dengan perlakuan pria yang kini resmi menjadi suaminya. Bahkan jiwa Riska juga mengingkan sentuhan lebih dari itu.


'Oh no! Kenapa aku gak bisa hentikan ini? Kenapa aku justru menginginkan lebih.' batin Riska bertanya-tanya.


'Maafin Kakak Ris! Kakak menginginkannya.' batin Daffa.


Bibir Daffa melepas pagutan itu dan mulai berjalan kearea ceruk gadis itu, tangan Daffa mulai nakal menggenggam buah mungil yang begitu pas digenggamannya itu.


Tiba-tiba saja suara Riska me lenguh terdengar merdu ditelinga Daffa dan semakin membangkitkan jiwa kelelakiannya.

__ADS_1


Ditengah aktifitas menegangkan itu, suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka.


Tok! Tok! Tok!


Kedua manusia itu terdiam mendengar ketukan itu. Daffa menatap wajah Riska dan turun ketubuh polos itu. Ternyata pergerakan mata Daffa diikuti oleh Riska. Hingga didetik berikutnya, mata Riska membola dan memekik kaget.


"Aaaaa!!!!"


Dugghh


"Awww shhtt!!!"


Daffa terjengakng kebelakang mendapat sikutan dari lutut Riska yang tepat mengenai adik kecilnya. Hingga Daffa terjatuh ke atas lantai.


Daffa meringis seraya memegang senjata berharga yang mendapat salam lutut dari gadis itu.


Dengan cepat Riska menutup tubuh bagian depannya. Melilit kembali kain tebal itu dari dadanya. Lalu Ia pun segera bangkit dari posisinya seraya mendekap dada. Takut-takut handuk itu melorot. Padahal tanpa melorot pun, Daffa sudah melihat seluruh tubuh gadis itu.


"Sshhtt ... Kamu apa-apaan sih? Sakit tau ... Sshhtt"


"Kakak yang apa-apaan? Kakak ngapain coba sentuh-sentuh aku?" cecar Riska. "Pake lihat-lihat tubuh aku lagi." gerutunya merasa malu.


"Apa salahnya? Kita suami istri." balas Daffa.


"Iya, tapi kan-"


"Apa?"


Riska mengerucutkan bibir, lalu berlenggang menuju kamar mandi dengan berteriak.


"Mamih, aku malu!"


\*\*\*\*\*\*


Jejaknya jangan lupa yaa gaiss🤗 Joged dulu kita🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2