Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Gembel


__ADS_3

Terlihat guratan gugup dari wajah cantik itu, bibirnya tak berhenti meniup udara yang tiba-tiba terasa memanas. Bulu kuduknya meremang kala hembusan napas hangat dari hidung Aska mengenai ceruknya. Kondisi rambut yang Ia ikat keatas membuat hembusan itu menyapu seluruh area lehernya. Bahkan ujung hidung mancung pria tampan itu berhasil menyentuh area itu.


"K-kak!" suara Vani pun ikut gemetar dengan situasi itu.


"Hem ... Apa?" tanya Aska dengan posisi yang sama dan mata yang ikut terpejam menikmati aroma yang membangkitkan sesuatu dalam dirinya.


Kepala Vani bergerak gelisah, kala sentuhan hidung itu semakin aktif dilehernya. Rasa geli dan gelenyar aneh, membuat Ia ikut memejamkan mata. Namun didetik berikutnya, Ia pun tersadar dan segera melepaskan diri dari pelukan sang kekasih seraya berdehem keras.


"Ehemmm!"


"Emm ... Katanya, aka mau nunjukin sesuatu apa?" tanya Vani seraya berjalan pura-pura melihat-lihat sekeliling ruangan itu untuk menenetralkan degup jantungnya.


Hembusan napas panjang terdengar dari bibir sexy itu. Ada rasa tak rela dalam hati pria tampan itu, kala sang gadis terelepas dari pelukannya. Namun Ia pun menyadari kelakuannya yang mungkin saja membuat sang gadis ketakutan.


Aska tersenyum dan berlenggang menghampiri rak minimalis yang tersusun berbagai benda disana. Termasuk benda yang ingin Ia tunjukan pada gadis cantik itu. Vani melangkahkan kaki membuntuti pergerakan sang kekasih. Ia longokan wajahnya dari samping tubuh pria dihadapannya, hingga mata indah itu membulat melihat benda yang tengah pria itu pegang.


Dengan cepat Vani menyambar benda itu dari Aska. "Ini?" tanyanya merasa tak percaya.


Aska terkekeh melihat ekspresi sang gadis yang tampak shok disampingnya. Potret sepasang pengantin kecil dalam figura yang kini tengah dipegang gadis cantik itu membuat mata gadis itu berkaca-kaca. Rasa haru tiba-tiba menyelimuti hatinya.


Hasil karya dirinya ternyata masih terawat apik dalam genggaman Aska. Bahkan pria tampan itu mencetak beberapa foto yang Ia tinggalkan didalam tab yang sengaja Ia berikan pada Aska untuk menjadi sebuah kenangan untuk mengingat dirinya.


Ia menutup mulut dengan sebelah tangannya, menahan isak tangis yang menggambarkan dirinya yang begitu terharu. Tak menyangka, ternyata sang kekasih benar-benar menunggunya.


Aska yang mengerti segera mendekapnya. Menyalurkan rasa yang selalu meyakinkan dirinya untuk tetap menunggu gadis pujaannya itu.


"Kamu tau? Setiap hari aka selalu bertanya. Dimana Tuhan menyembunyikanmu? Apa rencana-Nya? Mungkinkah kita akan bertemu lagi?" ungkap Aska.


"Dan Tuhan benar-benar mempersiapkan takdir ini untuk kita."


Bukan hanya dirinya saja, ternyata sang kekasih benar-benar mempunyai perasaan yang sama padanya.

__ADS_1


Aska melerai dekapannya dan mengecup kening sang gadis dengan penuh kasih sayang.


"Dah jangan nangis lagi. Mulai sekarang hal apapun itu berbagilah dengan aka, dan jangan menghilang lagi dari pandangan aka!" titah Aska dan diangguki Vani.


Setelah melihat album berisi kenangan mereka yang dipenuhi gelak tawa sejoli itu, kini Aska mengajak sang gadis untuk beristirahat. Mengingat waktu semakin larut, Aska meminta Vani untuk menginap disana.


"Istirahat disini aja ya, udah malam!" ajak Aska.


"Gak usah kak, aku tidur di rumah sakit aja. Kasihan juga mama sendiri." tolak Vani dengan halus. Ia tak ingin membiarkan sang mama sendiri menjaga papanya yang masih belum stabil.


"Baiklah!" Aska berdiri dari sofa yang didudukinua bersama sang kekasih. Membuat gadis itu menautkan alis keheranan.


"Yuk!" ajak Aska lagi mengulurkan tangannya.


Vani terkekeh melihat uluran tangan itu. "Ya ampun kak! Dari sini ke rumah sakit tu tinggal nyebrang aja. Jadi gak usah diantar!" jelasnya.


"Siapa yang mau ngantar kamu, hem?" tanya Aska sedikit menundukan tubuh dan mendekatkan wajahnya dengan nada menggoda.


Kerutan didahi agdis itu kian kentara, belum mengerti dengan apa yang dimaksud Aska. Jika bukan untuk mengantar dirinya, lalu untuk apa? Pikirnya.


Vanilla menghembuskan napas kesal, mendapat ledekan itu membuat gadis cantik itu memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Alih-alih mendapatkan perhatian lebih, justru ledekan lah yang Ia terima dari pria mengesalkan yang sayangnya begitu tampan itu. Tanpa menerima uluran tangan dari sang kekasih, Vani berdiri dan hendak berlalu. Namun tangan Aska segera mencegatnya.


"Ehh, mau kemana?" tanya Aska merasa heran seraya tangannya dengan sigap meraih pergelangan tangan sang gadis.


"Ke rumah sakit." balas Vani singkat. Aska tersenyum melihat ekspresi baru yang ditunjukan Vani kali ini.


"Ya udah, yuk!" Aska hendak berjalan dengan menyeret tangan Vani. Namun gadis itu masih terdiam ditempat, membuat Aska kembali menoleh dengan kerutan didahinya.


"Aku sendiri aja. Bukannya aka gak mau antar?" tanya Vani dengan wajah datar.


Aska kembali tersenyum. Senyum yang selalu membuat hati Vani berdebar, kini berubah menjadi terlihat mengesalkan dimata gadis itu. Vani hanya menatap tanpa ekspresi pada pria dihadapannya.

__ADS_1


"Aka memang gak mau anterin kamu. Tapi aka mau temenin kamu." jelas Aska.


Satu sudut bibir Vani tertarik, seberapa pun Ia kesal sepertinya ucapan manis sang kekasih mampu meredamkan perasaan itu. Tanpa berkata lagi, Aska menarik sang gadis keluar dari tempat tinggalnya.


Keduanya kembali berjalan menuju bangunan megah untuk menemani sang papa diruangannya. Bahkan Vani melupakan niat pertamanya yang ingin membeli eskrim. Rasa sedihnya terobati dengan kehadiran sang kekasih yang kini terus melontarkan kata manis padanya.


Sepertinya eskrim pun akan kalah manis dengan setiap kalimat yang keluar dari bibir sexy itu. Hingga senyum pun tak luntur dari wajah Vani.


"Jangan keseringan makan eskrim!" peringat Aska, ketika keduanya masih berjalan dilorong rumah sakit.


"Kenapa? Aka takut aku gendut?" tanya Vani.


"Nggak! Justru aka seneng kalo kamu gendut." balas Aska.


"Kok, gitu?" tanya Vani heran.


"Itu artinya, kamu bahagia disamping Aka. Kenapa semua perempuan takut gendut? Karena mereka takut pasangannya pergi meninggalkannya dan memilih menahan apa yang ingin Ia makan. Dan aka gak mau kamu seperti itu. Jadilah diri kamu sendiri, yang tak pernah merasa terkekang oleh pasangan." balas Aska seraya menghentikan langkahnya tepat didepan ruangan papa Ivan dan diikuti Vani pula.


"Aka mencintai kamu, karena itu kamu." ungkapnya.


Vani tersenyum, seraya menunduk menyembunyikan rona pipi yang lagi-lagi muncul. Bolehkah Ia berjingkrak kesenangan? Ungkapan cinta itu sungguh menghangatkan hatinya.


"Liahtlah!" Aska menangkup kedua pipi sang gadis dan mendongakannya. Lalu ibu jarinya mengusap lembut benda ranum tanpa gincu itu.


"Bibirmu gak perlu eskrim, ini sudah terlalu manis. Jadi jangan makan eskrim lagi, takutnya diabetes!" kekeh Aska, dan sukses dapat tampolan dari sang kekasih. Hingga tangan Aska terlepas dari wajah cantik itu.


"Gembel!" ledek Vani ikut terkekeh.


Aska tertawa kecil seraya merangkul bahu sang gadis untuk memasuki ruangan sang papa. Hingga saat masuk, keduanya dibuat terkejut dengan keadaan didalam sana.


"Ini???"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jempol jangan lupa yaa, mau lanjut lagi🤗


__ADS_2