
"Gimana udah lebih baik?" tanya Aska menatap gadisnya yang tengah meminum secangkir teh ditangannya.
Vani menganggukan kepalanya. Benar rasa teh hangat, begitu menenangkan hati dan kepalanya.
"Makasih kak!" ucapnya seraya memyimpan kembali cangkir itu ke atas meja dihadapannya.
"Mau cerita?" tanya Aska seraya membelai lembut surai hitam sang gadis.
Vani tersenyum tipis seraya menundukan kepala, sejujurnya Ia ingin bercerita. Namun Ia bingung harus memulai dari mana. Hal yang paling Ia takutkan adalah pria disampingnya akan menyerah dan tak mau berjuang lagi bersamanya.
"Apa kamu masih belum percaya sama aka?" tanya Aska, hingga wajah sang gadis yang penuh dengan guratan kekhawatiran itu mendongak.
"Apa pun yang terjadi, itu gak akan merubah apapun. Aka mencintaimu dan gak akan pernah melepaskanmu." lanjutnya.
Vani pun berhambur memeluk tubuh Aska, tangisnya pecah. Bukan sekedar isak dalam diam seperti tadi, namun sekarang Ia benar-benar meluapkan seluruh emosi dijiwanya. Mungkin sudah cukup dirinya berpura-pura tangguh dan memilih menunjukan dirinya yang benar-benar rapuh.
Aska ikut mengeluarkan air matanya. Melihat kekasih hatinya menangis terluka, sungguh pun membuatnya sakit. Ia tau apa yang sebenarnya terjadi, dan mengingat kembali pertemuannya dengan Daffa dua hari yang lalu.
Flash back on~
Ceklek!
Aska membukakan pintu kediamannya kala seseorang memencet tombol unitnya. Hingga nampak wajah sang sahabat yang selama beberapa hari ini sulit sekali Ia hubungi. Bahkan Ia pergi tanpa mengucapkan apa pun setelah memberinya bogeman mentah malam itu.
Bugh! Bugh!
Dua hantaman keras dari kepalan tangan didapatkan Aska dari sagabatnya itu. Aska tak melawan, dan membiarkan Daffa berbuat sesuka hati padanya.
"Cih! Rasanya itu gak sebanding dengan apa yang kurasakan." ucap Daffa.
Ia meraih kerah baju Aska yang hanya terdiam dan mencengkramnya erat. Lalu tangannya hendak menghajar wajah tampan yang hanya pasrah itu.
"Kenapa diem? Lawan!" bentak Daffa yang hanya melihat sahabatnya itu diam.
Daffa tertawa sumbang melihat sahabatnya yang masih dengan posisi yang sama. Ia mengharapkan Aska akan melawannya dan membalas tonjokan pada wajahnya juga.
"Kenapa Ka?" tanyanya. "Harusnya kamu lawan aku, kamu tonjok aku balik." tantangnya dengan nada biicara yang tetap sama.
"Kenapa?" tanyanya pelan. Karena Aska masih tak menjawab, Daffa kembali menaikan nada suaranya.
__ADS_1
"Kenapa?" bentaknya keras.
Aska menatap wajah Daffa yang dipenuhi emosi meluap. Terlihat dari tatapannya yang tajam, rahang yang mengeras dengn gertakan gigi menahan api yang membakar jiwanya.
"Karena kamu sahabtku!" balas Aska dengan santai.
"Cih! Sahabat?"
Daffa melepaskan kerah baju Ask seraya berdecih dengan tawa sumbang, menertawakan diirnya sendiri.
Matanya memicing menatap Aska. "Sahabat seperti apa?" tanyanya.
"Apa menurutmu sahabat yang tega mengambil kekasih sahabatnya, masih pantas disebut sahabat?" tanysnya lagi dengan nada suara yang lebih rendah namun penuh penekanan.
"Aku gak pernah mengambil apa pun darimu. Apalagi kekasih." balas Aska masih dengan nada suara yang santai.
Daffa tersenyum sinis mendengar itu. "Gak ngambil? Jelas-jelas kau mengambil Vanilla dariku. Dan kau bilang gak ngambil?" tanyanya.
"Aku gak ngambil Vanilla darimu. Karena Vanilla memang milikku!" balas Aska.
Bugh!!
"Berengsek!" Daffa menindih tubuh Aska diatas Sofa dan meraih lagi kerah baju itu.
"Mungkin dulu dia memang milikmu dan sekarang kau akan mengambilnya lagi. Oke, silahkan!"
"Tapi bisakah kau menjelaskan ini pada mamaku?" tanya Daffa.
"Dia sangat menyayangi Ila, bahkan sudah menganggapnya menantu. Dengan keadaan jantungnya sekarang, apa kau bisa menjelaskannya?" tanya Daffa, hingga air matanya lolos begitu saja seraya melepaskan kerah baju Aska.
Ia menyugar rambutnya kebelakang dengn menarik dan menghembuskan napasnya teratur, menetralkan perasaannya.
"Dia satu-satunya orang yang kupunya." lirihnya seraya pandangannya melihat kearah lain.
Daffa pun menjelaskan keinginan mamanya, agar Ia segera menikahi Vani. Seperti yang sudah direncanakan dulu oleh papanya dan papa Ivan. Sang mama ingin menjalankan wasiat yang sudah suaminya berikan untuk menyatukan keluaragnya dan keluarga papa Ivan. Daffa juga menjelaskan keadaan jantung sang mama yang semakin hari, semakin memburuk.
"Aku udah mengikhlaskan kalian untuk bersama. Hanya saja bagimana menjelaskan semua ini pada mama." ucapnya dengan mengusap kasar wajahnya.
"Sedangkan mama sudah merencanakan pernikahan kita minggu depan." lanjutnya dan sukses membuat Aska membolakan mata.
__ADS_1
"Apa? Minggu depan?" tanyanya seraya bangkit dari posisinya dan diangguki pasrah oleh Daffa.
"Kenapa gak kamu coba jelasin?" tanya Aska.
"Sekarang gini, kita tuker posisi. Apa kau bisa bicara sama timommu, dalam keadaan yang gak memungkinkan?" tanya Daffa.
Ia menggelengkan kepala. "Ini sulit Ka. Aku lebih takut dia kenapa-kenapa. Meski akhirnya harus nyakitin kalian berdua." ucapnya.
Aska menghembuskan napasnya kasar mendengar penjelasan itu. Mengenai orang tua, jangan ditanya lagi. Aska adalah anak yang paling berbakti pada kedua orang tua. Pantang untuknya nyakitin hari mereka, terutama sang timom. Meski Ia tak lahir dari rahim wanita tangguh itu, tapi baginya timom adalah prioritas utama didalam hidupnya.
"Apa sulit untukmu melepaskan Vanilla untukku?" tanya Daffa.
Aska terdiam, Ia tak bisa membalas ucapan sahabatnya. Ia tak ingin egois, namun Ia juga tak bisa melepaskan apa yang sudah Ia genggam.
"Bantu aku, sekali ini saja! Biarkan aku menikahi Vanilla." pinta Daffa seraya memohon.
"Jika menurutmu, Vaniku bisa bahagia denganmu. Akan kulepaskan! Tapi, jika sebaliknya. Maafkan aku, akan aku genggam dia semakin erat." balas Aska, lalu berlenggang meninggalkan Daffa diruang tamunya.
Terdengar helaan napas frustasi dari pria yang kini terduduk lemas disofa dengan merbehakan kepala dipunggung soffa seraya menatap langit-langit.
"Itu yang membuatku sulit, Ka." lirihnya.
Flash back off~
'Dan sekarang aku tau jawabannya. Pantang untukku melepaskanmu.' ucap Aska yakin dalam hati.
Ia mendekap tubuh ringkih itu erat, seraya bibirnya tak henti mengecup pucuk kepala sang gadis bertubi-tubi. Ia memutuskan akan berbicara pelan dengan tante Rita. Ia yakin, jalan yang Ia ambil adalah jalan yang benar. Mengenai sebuah wasiat, itu hanya sebuah rencana awal yang tak mengharuskan mereka untuk mengikuti rencana itu. Ia yakin Tuhan mentakdirkan rencana lain, untuk sang gadis dan juga dirinya.
'Maafin aku Daf, aku gak bisa membantumu.' batin Aska mengingat sahabatnya itu.
Dirasa isak tangis itu sudah mereda, barulah Aska melepaskan dekapannya itu. Ia menghapus jejak kebasahan dipipi mulus itu. "Jangan menangis lagi. Aka gak suka lihat kamu nangis, hem!" pintanya.
Vani menganggukan kepalanya. Mencoba mempercayakan semuanya akan baik-baik saja. Seperti kata sang kekasih, Ia akan mempercayai sang kekasih yang gak akan melepaskan dirinya.
"Aku mencintaimu Aka! Aku ingin hidup bersamamu."
\*\*\*\*\*\*
Nangiss yok😭
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss🤗