
Tak tak tak!
Suara pisau beradu dengan talenan atau tatakan terdengar menggema disebuah dapur yang terhubung dengan ruang tengah.
Seorang gadis yang sudah tak perawan lagi, tengah sibuk memotong sayuran hijau dan kawan-kawannya. Senyumnya mengembang mengalahkan sinar mentari yang bersinar terang pagi ini.
Bagaimana tidak? Ini pagi pertamanya menyiapkan sarapan untuk sang suami. Dengan tangkas Ia menyiapkan segala bahan untuk dieksekusi menjadi menu sarapan kali ini. Nasi goreng ala-ala menjadi pilihannya. Pertempuran semalam membuat tenaga mereka benar-benar terkuras. Dengan roti saja, takan mengganti banyak karbo yang sudah hilang, seiring dengan tumpahnya peluh dari sekujur tubuh mereka.
Ditengah kesibukannya, tangan menghangatkan itu sudah kembali bertengger diperut langsingnya. Satu kecupan selamat pagi dibagian pipi, didapati dari pria yang berstatuskan suaminya itu.
"Good morning, my wife!" sapa Aska.
"Morning, hubby!" balas Vani dengan mata berfokus pada pisau dan sosis ditangannya.
Aska tersenyum mendengar panggilan baru itu, hubby? Rasanya itu lebih baik. Namun panggilan aka lebih terasa nyaman diindera pendengarannya. Siapapun yang memanggil dengan nama itu, sudah dipastikan orang itu dekat dengannya.
Sekali lagi Aska mengecup pipi itu dan menenggerkan dagu dibahu sang gadis. "Buat apa?" tanyanya.
"Mau buat nasi goreng. Apa aka suka?"
"Apapun." balas Aska.
"Meski terpaksa?" goda Vani.
"Untukmu, tak ada kata 'terpaksa' dikamus aka. Kalaupun ada, itu hanya satu hal," jelas Aska menjeda ucapannya.
"Apa?" tanya Vani penasaran. Ia sampai menghentikan pergerakan tangannya untuk sejenak menengok kearah sang suami.
"Membuat adonan saat kamu masak." kekeh Aska dan sukses dapat tampolan manja dari sang istri.
Aska tergelak seraya menyerang bertubi-tubi wajah cantik itu, hingga Vani ikut tergelak karenanya.
"Udah kak. Aku mau masak dulu bentar, ya!" bujuk Vani.
"Apa perlu aka bantuin?" tanyanya.
"Gak usah. Aka tunggu aja dikursi. Gak lama kok." tolak Vani dengan halus.
"Ya udah, aka mau nunggu tapi disini." pungkasnya seraya menenggerkan kembali dagu dibahu sang istri.
"Iya deh, terserah suamiku." balas Vani menengokan kepala, hingga hidungnya mencium pipi suami disisinya itu.
Senyum pun tak luntur dari pasangan pengantin baru itu. Vani melanjutkan aktifitasnya dengan Aska yang menempel dipunggungnya. Sungguh kelakuan Aska membuat Vani geleng-geleng kepala. Gadis itu teringat akan ucapan sang mama yang membahas tentang kebucinan seorang suami.
Mama Lia pernah membahas pengalamannya, kala sang suami yang begitu bucin padanya. Papa Ivan begitu bucin, kala mama Lia selalu memanjakannya diatas ranjang. Karena kepuasannya sang suami bisa menjadi seekor kucing dibawah perintah sang istri.
__ADS_1
Dan kini itu terjadi padanya. Mungkinkah Ia sudah begitu pandai memanjakan suami? Hingga sang suami tak bisa lepas sejengkal pun darinya. Vani terkekeh sendiri melihat kelakuan suaminya ini.
Hingga makanana pun selesai dan siap disajikan, Aska belum juga mau melepas tubuh sang istri. Vani menyendok nasi itu untuk dicicipi. Baru saja nasi itu menyentuh lidah, Aska menyambar bibirnya dan merampas nasi dari dalam mulutnya itu.
"Ihh .. Aka jorok!" protes Vani, namun hanya ditanggapi tawa oleh suaminya itu.
"Udah lepas dulu. Aku siapain nasinya!" titah Vani mencoba melepaskan pelukan itu.
"Baiklah, aka ambilin piringnya." ucap Aska yang akhirnya mau melerai pelukan itu dan diangguki Vani.
Vani menyiapkan nasi gorenga ala-ala tanpa pedas tentunya, keatas piring yang sudah disiapkan Aska. Dua piring nasi goreng plus telor mata sapi diatasnya, dibawa Vani menuju meja makan. Sedangkan Aska menyiapkn air putih dan jus jeruk yang Ia ambil dari dalam lemari pendingin.
Sepasang pengantin baru itu mulai mengadakan acara sarapan mereka. Canda tawa mengiringi sarapan sederhana yang pertama mereka lakukan. Mengingat kemarin, mereka melewatkan sarapan karena terlalu asyik mengarungi dermaga mimpi.
Setelah sarapan Vani yang mencuci piring dan membersihkan dapur. Sedangkan Aska membersihkan meja makan. Mereka sudah membahas tentang pembagian tugas untuk membersihkan tempat tinggal mereka. Sejoli itu sepakat tidak akan menggunakan jasa art, selagi mereka bisa melakukannya.
Setelah selesai, mereka memilih untuk jalan-jalan menghabiskan waktu mereka bersama. Mengingat masih tersisa satu hari cuti untuk mereka menikmati hari pengantinnya.
"Gimana udah siap?" tanya Aska ketika sang istri keluar dari dalam kamar.
"Udah, ayo!" ajak Vani menggandeng tangan suaminya itu.
Keduanya keluar dari kediaman mereka, baru saja pintu tertutup suara dering ponsel menghentikan langkah mereka.
"Siapa?" tanya Aska kala melihat sang istri mengambil ponsel berdering yang ternyata miliknya itu.
Vani menggeser icon hijau dilayar itu untuk mengangkat panggilan. Lalu menempelkan benda itu didepan telinganya.
"Iya. Ma?!"
"Hah?! Apa?"
"Hari ini?"
"Iya, ya udah aku sama aka ntar kesana"
"Iya, Ma."
Vani mengembalikan layar pipih itu kedalam tasnya. Aska mengerenyit heran karena tak dapat menangkap jelas suara sang mama mertua disebrang telepon.
"Kenapa yang?" tanya Aska.
"Aku juga gak ngerti kak. Tiba-tiba aja, kak Daffa mau nikah hari ini." balas Vani.
"Hah?!" Bukan Vani saja, Aska ikut tercengang mendengr sahabatnya akan nikah dadakan hari ini. Padahal Ia percaya sahabatnya itu, belum mungkin move on dari sang istri.
__ADS_1
"Atau aku salah denger, ya?" tanya Vani ragu.
"Emang gimana kata mama?" tanya Aska.
"Mama bilang kak Daffa akan nikah sore ini, sama ..." Vani terdiam sebentar, Ia menginagt lagi ucapan mamanya.
"Ris, Riska. Kalo gak salah, atau siapa ya tadi?" ucap Vani bertanya-tanya. Sepertinya Ia gagal fokus saat mendengar obrolannya dengan sang mama.
"Acanya sore 'kan?" tanya Aska dan diiyakan sang istri disertai anggukan kepala.
"Ya udah kita jalan dulu aja, aka mau ajak kamu kesuatu tempat." lanjut Aska.
Vani pun tersenyum, mendengar sang suami yang akan mengajaknya kesuatu tempat membuat ia melupakan tentang pernikahan Daffa tadi.
"Kemana?" tanyanya.
"Emm ..." Aska tak menjawab dan hanya menggandeng tangan sang istri menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai dasar.
**
Vani menatap tak percaya pada sang suami, kala mereka sampai di tempat tujuan yang dijanjikan Aska. Bukan senyum bahagia yang Ia tunjukan, namun senyum terpaksa yang melengkung dari bibir manis itu.
Jika setiap wanita begitu senang diajak ketempat seperti ini, berbeda dengan Vani yang kurang menyukai tempat keramaian ini.
"Kenapa? Kamu gak suka aka ajak kesini?" tanya Aska yang mengerti akan ekspresi sang istri.
Vani tersenyum lagi dan menggelengkan kepala, "bukan gitu. Apa ada yang ingin aka beli disini?" tanyanya.
"Ada, aka pengen beli sesuatu buat kamu." balas Aska seraya menuntun sang istri untuk menuju deretan pakaian disalah satu toko perlengkapan wanita.
"Kenapa harus kesini? Kenapa gak online aja?" tanya Vani.
"Online bisa lama, aka pengen kamu segera pake." balas Aska seraya memilih sesuatu dideretan kain-kain itu.
"Emang aka mau beliin aku apa?" tanya Vani keheranan.
Aska tersenyum, sepertinya Ia menemukan apa yang Ia pelajari dari si mbak you.
"Tada ... Ini dia." Aska memamerkan sehelai kain didepan Vani yang membuat gadis itu melongo.
"Ini?" tanyanya shok.
"Kata mbak you, ini tu pakaian wajib seorang istri. Dan kamu harus pake."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupakan jejaknya yaa gaisss🤗