
"Hah?!" Daffa melongo mendengar itu. Bagaimana mungkin Ia hanya mencium sang gadis, dan itu pun tak sengaja Ia lakukan. Dan sekarang Ia harus menikahi gadis itu? Yang benar saja.
Belum juga Daffa ingin protes, Riska segera menyelaknya. "Ihh.. Mamih, aku kan masih sekolah masa langsung nikah?" protesnya.
Mamih Feby terkekeh mendengar rengekan putrinya yang manja itu. Hingga lanjutan ucapannya membuat Ia tergelak.
"Pacaran dulu lah, 'kan bisa." celetuk Riska seraya membenarkan plester.
Berbeda dengan mamih Feby yang tergelak. Daffa justru dibuat terperangah dengan sikap gadis itu. Bagaimana tidak? Tadi saja sang gadis menangis karena first kissnya diambil, sampai minta tolong segala. Eh sekarang malah minta pacaran. Sungguh keluarga yang aneh menurutnya.
Daffa menghembuskan napasnya panjang. Dan hal itu tentu menjadi perhatian sang mamih. Ia pun menghentikan tawanya dan kembali fokus pada pria tampan didepamnya.
"Maaf ya! Oh ya, nama kamu siapa tadi?" tanya mamih Feby.
"Daffa, Bu! Nama saya Daffa." balasnya.
Mamih Feby tersenyum menaymbut itu. "Iya, Nak Daffa. Maaf ya! Saya hanya bercanda, kok." ucapnya.
"Lagian Riska masih sekolah, mana mungkin bisa nikah." kekeh mamih Feby dan disambut senyuman membingungkan dari Daffa.
"Iya, Bu. Itu juga yang ingin saya sampaikan tadi." balas Daffa.
"Dan aku juga bercanda. Mana mau aku pacaran sama om, om!" celetuk Riska.
"Hussshh .. Kamu tuh!" peringat sang mamih pada gadisnya yang sungguh tak memiliki filter dalam bicara, bisa dikatakan Riska tipe orang yang terlalu jujur.
Daffa menghembuskan napasnya kasar mendengar jawaban sang gadis yang begitu menohok. Kata 'om-om' sungguh membuat Ia kesal. Apa dia terlalu tua untuk seorang gadis didepannya?
"Sebentar lagi jam makan siang." ucap mamih Feby seraya melihat jam dipergelangan tangannya.
"Kita makan siang bersama ya!" ajaknya.
"Gak usah, Bu. Saya harus kembali, mungkin lain waktu saya bisa gabung." tolak Daffa dengan halus.
Mamih Feby berdiri seraya menggelengkan kepala dan telunjuknya. "Suutt!! Gak boleh nolak. Bentar Mamih masaknya gak lama." ucapnya.
Daffa hanya pasrah menanggapi. Ia melihat sang gadis yang tengah sibuk membenarkan plester yang tak juga berhasil sejak tadi, dibagian sikutnya yang terlepas. Saat kepulangannya tadi, mamih feby mengurus putrinya terlebih dahulu. Sebelum mendengar kesaksian Daffa dan kedua pria tadi.
__ADS_1
Daffa mendekat dan berpindah duduk sisamping sang gadis. "Mana sini, saya bantuin!" tawarnya.
"Nggak usah! Ntar ujung-ujungnya, om cium aku lagi." balas Riska dengan pandangan kembali ke sikut itu.
"Ck! Napa dibahas terus sih? Tadi tuh gak sengaja." Daffa berdecak kesal. Kata cium itu menjadikan dia seolah terdakwa yang begitu dihindari.
Riska hanya memcebikan bibirnya. Lalu terbesit sebuah ide berlian diotaknya. Ia menyeringai menatap pria itu.
"Oke, aku gak akan bahas lagi. Tapi ... Ada syaratnya?" tawar Riska.
Daffa menaikan satu alisnya. "Apa?" tanyanya heran.
"Om harus temenin aku kepesta ulang tahunnya Shifa, teman aku. Gimana, hem?" tawar Riska lagi seraya menaik turunkan alisnya.
"Ya ... Itung-itung om bertanggung jawab lah, karena udah buat aku kek gini. Hem?" tawarnya lagi.
"Nggak!" balas Daffa singkat.
"Ayo dong om, gak kasihan apa sama aku. Lagian nih ya, kalo bukan karena kejadian ini. Aku sekarang udah disekolah. Udah nyari yang bening buat diajak ke pesta nanti malam." bujuk Riska, namun Daffa masih terdiam tak menimpali.
"Oke! Kapan?" tanyanya.
"Yey, gitu dong!" pekik Riska girang.
"Ntar malam. Om jemput aku ya, sekalian izinin sama papih. Soalnya papih suka ribet." pintanya seraya menepuk pundak pria itu.
Daffa menautkan alisnya. Mendengar kata ribet, tentu membuat Ia sedikit khawatir.
"Ck! Udah om, gak usah bingung. Yang penting, om dandan yang ganteng. Terus harus ontime!" peringatnya. Daffa tak banyak protes, Ia hanya menganggukan kepalanya pasrah.
"Oh iya jangan lupa bawa mobilnya yang kece om. Kalo ada yang sport gitu." cerocos gadis cantik itu. Daffa menghembuskan napasnya pelan yang disertai anggukan kepala.
"Oh iya Om, satu lagi."
"Apalagi?" kali ini kesabaran Daffa sepertinya sudah diambang batas. Ia melihat tajam ke arah sang gadis dihadapannya.
Riska cengengesan melihat itu, "santai dong Om! Cuma mau minta nomor Om aja, kok." ucapnya seraya mengadahkan tangan.
__ADS_1
Lagi-lagi hembusan napas kasar terdengar dari bibir pria tampan itu. Ia meraih layar pipih dari saku celananya dan memberikan benda itu pada tangn sang gadis.
Riska pun mulai mengotak-atik benda itu, hingga terdengar suara dering dari tas gendongnya.
"Dah Om, nih! Udah disave tuh nomor aku." Riska menyerahkan benda itu pada pemiliknya dan disambut Daffa.
Ia melihat layar yang masih menyala itu, hingga sebuh foto gadis cantik dengan namanya tertera disana. Ia terseyum kala melihat nama lucu yang tertera dilayar itu, "Riris manis"
Daffa melihat kembali sang gadis yang tengah menempelkan plaster itu. Ia merampas benda lengket itu dari tangan sang gadis. Riska sedikit terlonjak, namun didetik berikutnya Ia tersenyum melihat wajah tampan itu begitu dekat dengannya.
'Ya Tuhan! Aku ikhlas jadi istrinya.'
**
Sementara itu disebuah kamar yang berantakan bak kapal pecah, seorang gadis yang sudah hilang keperawanannya masih anteng dibalik selimut.
"Yang?!" suara ngebas sang suami sukses membukakan matanya.
Aska tersenyum seraya memebelai lembht, wajah bantal yang masih saja terlihat cantik itu. "Selamat pagi, sayang!" sapanya seraya mencium seluruh wajahnya.
Vani terkekeh mendapat perlakuan baru dari pria yang kini sudah menjadi suaminya. "Selamat pagi juga Aka!" balasnya.
Aska menyangga kepalanya, dengan sebelah tangan, menyelipkan anak rambut sang istri yang menutupi sebelah pipinya. "Mau mandi?" tanya Aska dengan nada menggoda.
"Masih ngantuk." balas Vani seraya menenggelamkan wajah didada suaminya.
"Tapi kamu harus makan. Yuk mandi!" ajaknya.
Aska bangkit dari tidurnya, seraya membangkitkan sang istri juga. Vani yang masih enggan bergerak, terlihat menekukan wajahnya. Apalagi Ia merasakan nonanya yang terasa perih, hingga Ia enggan untuk berjalan kekamar mandi.
"Sini, Aka gendong!" ajak Aska merentangkan tangannya dan tanpa menjawab, Ia segera mengangkat tubuh ramping itu dan membawanya berlenggang menuju kamar mandi.
Aska yang terlalu peka akan segala situasi, mengerti akan keadaan sang gadis sekarang. Mereka benar-benar hanya melakukan ritual mandi tanpa iming-iming iklan dua satu plus-plus.
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yee..🤗
__ADS_1