Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
SAH!


__ADS_3

"Bissmillahirohmanirohim, saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Aska Giovano Aruman bin Agung Putra Aruman, dengan saudari Vanilla Aurelia Putri binti Ivan Agustian, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Vanilla Aurellia Putri binti Ivan Agustian, dengan mas kawinnya tersebut tunai!"


"Bagaimana saksi sah?"


"Sah!!!"


"Alhamdulillah! Baraqallah..."


Seuntai doa dari pak penghulu mengiringi acara sakral yang begitu sederhana ini. Semua orang mengadahkan tangan untuk mengaminkan setiap doa yang dipanjatkan. Berharap kebahagiaaan menyertai kedua mempelai yang tak wajar itu.


Bagaimana tidak? Mempelai wanita yang masih terbujur lemas, tak mengetahui jika dirinya telah dinikahi.


Setelah selesai memanjatkan doa, Aska memberi kecupan lama didahi gadis yang kini resmi menjadi istrinya. Lalu Ia mengambil kotak merah yang sempat dibelinya tadi bersama sang gadis ditoko perhiasan. Kemudain menyematkan cincin itu dijari manis tangan kirinya. Dan tak lupa mencium punggung tangan yang tersematkan cincin itu.


"Aku mencintaimu Vaniila!"


Flash back off~


**


"I love you too." balas Vani tersenyum. Wajahnya mendongak, menatap kearah suaminya.


Pandangan keduanya pun terkunci. Aska menundukan wajahnya, hidung mancungnya berhasil menyentuh dahi sang istri. Mata Vani terpejam menikmati hembusan hangat dari hidung Aska yang menyapu dahi hingga matanya. Hidung itu bergerak pelan kebawah hingga bertemu dengan hidung mancung milik Vani.


Bibir sexy Aska mulai bergerak meraup bibi gadisnya. Menyesap lembut bibir yang ranum itu, lalu menyecapnya lebih dalam. Satu tangannya bergerak, mengelus paha yang tertutup celana piyama yang dikenakan sang istri.


Perlakuan itu membuat Vani merasakan gelenyar aneh yang baru pertama Ia rasakan. Apalagi tangan besar itu berjalan keatas dan menyelusup kedalam baju atasnya, higga bersemayam diperut rata itu.


Ciuman lembut itu kian menuntun, kedua tangan Vani reflek menggantun dileher sang suami, meremas pelan rambut itu kala tangan Aska semakin liar dan menyentuh dua bongkahan yang masih tertutup cangkangnya.


Aska melepaskan tautan bibirnya. Hidungnya kembali berjalan kebawah, menyusuri kulit mulus itu hingga sampai diceruk sang gadis. Aska tak berhenti memainkan hidungnya disana, dengan sesekali bibirnya ikut mengecup kulit putih itu.


"Mmmhhh!"


Tiba-tiba saja desisan terdengar dari bibir sang gadis. Baru perlakuan seperti itu saja, sudah membuat gadis itu melayang. Meski ini pertama untuk keduanya, namun mereka tak menampik. Jika mata keduanya sudah tak suci lagi.


Mendengar itu, Aska segera menghentikan aksinya. Vani membuka matanya saat tak merasakan pergerakan lagi dari suaminya.


"Kenapa?" tanya Vani yang merasa khawatir. Jujur Ia takut, jika Ia sudah melakukan kesalahan.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Aska bangkit dari brankar yang ditidurinya. Hal itu refkek membuat Vani ikut bangkit, dan duduk diatas brankar itu dengan perasaan takut dan heran.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Vani dengan raut wajah semakin khawatir.


"Iya ini salah." balas Aska seraya memakai sandalnya.


Deg


Hati Vani tiba-tiba berdebar. Salah? Apa yang salah? Apa dirinya berbuat kesalahan? Dan kesalahan apa yang Ia perbuat? Pikirnya.


Mata Vani sudah berkaca-kaca kala melihat Aska yang berjalan kearah sofa dan mengambil jaket miliknya. Pria itu kembali dan mengaitkan jaket yang dibawanya pada pundak sang istri.


Vani dibuat termangu dengan perlakuan suaminya itu. Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Pikirnya bertanya-tanya, semakin heran.


"Kita salah, jika melakukannya disini. Jadi ... Kita ke apartemen sekarang." jelas Aska.


Vani melongo mendengar penuturan itu. Jadi, sang suami menginginkannya. Ditengah lamunnannya itu, Ia dibuat terperanjat saat tiba-tiba saja tubuhnya melayang ke udara. Dengan reflek Ia menutup mulutnya yang hampir saja mejerit kaget. dengan sebelah tangan memeluk erat leher suaminya.


"Aka ihh?!" rengeknya, hingga membuat pria tampan itu tersenyum.


Cup!


"Suutt!! Jangan ribut! Ini masih terlalu pagi. Kita bisa kena omel karena membangunkan pasien lain." balas Aska setelah sekilas mengecup bibir itu.


"Turunin Kak! Aku bisa jalan sendiri." pintanya dengan suara pelan.


"Udah diem aja! Kalo kamunya turun, ntar gak jadi romantis." kekeh Aska dengan berbisik.


"Isshh ... Malu Kak!" protes Vani.


"Malu sama siapa? Jam segini mana ada orang bangun." balas Aska.


"Malu tuh sama reader yang lagi baca." protesnya lagi.


"Gak apa-apa, paling mereka lagi cengar cengir. Udah biarin mereka nonton!" balas Aska hingga keduanya terkekeh.


Jarak yang yang tak terlalu jauh, membuat Aska dengan cepat sampai didepan unitnya. Ia sama sekali tak membiarkan sang istri turun dari gendongannya. Hingga ketika Aska ingin mengambil acces card pintu, barulah Ia kebingungan untuk mengambilnya. Ia tak ingin melepas tubuh sang gadis, namun Ia juga harus mengambil dompetnya.


"Yang ambil dompet Aka!" titahnya.


"Dimana? Udahlah, akunya aja turunin!"

__ADS_1


"Udah ambil aja, disaku celana yang depan!" titahnya lagi.


"Ya ampun! Tinggal akunya aja turunin kak." protes Vani untuk kesekian kalinya.


"Ayo, yang cepetan!" titah Aska lagi yang tak mau dibantah.


Vani pun pasrah dan mencoba meraba saku depan yang dimksud. Namun tanpa disangka tangannya meraba bagian tengah, hingga mendapati gundukan besar dibawah sana.


Tiba-tiba saja tangan itu berhenti disana cukup lama, mata Vani membola besar. Ia sampai menelan salivanya susah payah, kala otaknya sudah berkelana kemana saja. Begitupun Aska, baru saja mendapat sentuhan seperti itu sudah membuat matanya terpejam merasakan sensasi luar biasa.


Vani tersadar dan segera menghilangkan pikiran kotornya itu. Ia kembali mencari saku itu, hingga dompet didapatinya.


"Ini kak!" ucapnya dengan menundukan kepala. Malu sekali rasanya sudah berani meraba benda pusaka yang sebentar lagi akan menjadi mainan barunya.


"Kamu ambil!" titahnya. Dengan cepat Vani mengambil card itu dan menempelkan pada benda didepannya sesuai intsruksi dari suaminya.


Pintu pun terbuka. Ini kedua kalinya Vani berkunjung dikediaman pria yang kini sudah menjadi suaminya. Dan kali ini bukanlah sebuah kunjungan. Namun pastinya ini akan menjadi tempat tinggalnya juga.


Perlahan Aska merebahkan tubuh ramping itu diatas ranjanh king size miliknya. Tanpa diduga Aska segera menaiki tubuh sang istri. Vani dibuat kaget saat kaki Aska mengukung kedua kakinya. Namun didetik berikutnya Ia dibuat terkekeh dengan tingkah suaminya.


"Ya ampun yang! Tubuhmu kelihatan kecil. Tapi kok berat juga." keluh Aska seraya merenggangkan tangan dan otot bahunya.


Vani tertawa kecil mendengar itu. "Siapa suruh gendong sampai sini. Aku kan udah minta diturunin." ledek Vani.


"Ini yang nyuruh!" balas Aska seraya memegang tangan Vani dan membawanya kedepan dada.


"Dia bilang. Gak boleh membiarkan istri kelelahan berjalan kaki." lanjutnya.


Lalu mencondongkan dirinya hingga wajahnya mengikis jarak dengan wajah sang gadis. Satu tangan Ia tautkan pada tangan sang istri dan menekannya di atas kasur.


"Cukup membiarkannya kelelahan diatas sini!" bisiknya.


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss🤗 Part berikutnya siap hareudang🙈



Aisshhh yang sudah jadi suami😍


__ADS_1


yanh udah jadi istri😍


__ADS_2