
"Haii disini...!" pekik seorang wanita cantik dengan melambaikan tangan.
Seorang wanita dari arah pintu masuk sebuah pusat perbelanjaan tersenyum, lalu menghampiri wanita itu bersama seorang gadis belia disampingnya dan dua pria dibelakang mereka.
"Wihh, kek nya bakal ada acara trakrir gede-gedean nih!" celetuk sang gadis yang sudah tak sungkan lagi pada wanita itu.
"Untuk Riska cerewet, apa pun itu!" timpal wanita itu tergelak.
"Aishh, gak nyadar. Kak Kia lebih cerewet dariku." protes Riska.
"Iya, kalian yang cerewet. Cuma istriku yang kalem." celetuk seorang pria yang berada dibelakang mereka, seraya merangkul wanita yang Ia akui istrinya itu.
"Idihh, mentang-mentang istrinya. Puji terus!" protes Kia pada sang kakak, hingga mereka tergelak.
"Vani emang paling kalem dari kalian. Jadi akui aja!" celetuk seorang pria yang baru datang menghampiri.
"Ihhh kok om malah belain Vani sih. Istri om 'kan aku." protes Kia dengan manja.
Rei tersenyum menanggapi itu, tangannya bergerak mengusek pucuk kepala sang istri. "Iya, kamu istri om yang paling cerewet, paling manja, paling-" pria itu menghentikan ucapannya, kala melihat sang istri yang sudah cemberut.
"Om cintai!"
Cup!
Satu kecupan hangat mendarat dari pria tampan itu didahi sang istri. Senyum manis pun akhirnya terbit dari bibir Kia.
"Aisshhh bucin!" ledek Riska, hingga mereka tergelak melihat tingkah pasangan itu.
"Nah! Kode itu Daf!" sindir Aska.
"Paan sih!" balas Daffa tak terima.
"Oh iya, aku denger Riska sama kak Daffa udah nikah ya? Wah selamat ya!" ucap Kia tersenyum.
"Gak usah diselamatin kak. Nikahnya juga, nikah-nikahan." celetuk Riska.
"Apa? Nikah-nikahan?" tanya Daffa dengan wajah serius menatap kearah istri kecilnya itu, setelah dirinya maju dan tepat disamping sang istri. Riska membalas tatapan itu dengan serius juga.
Keempat orang disana terdiam. Bahkan dengan cepat Kia menarik kembali tangannya yang sempat Ia ulurkan. Mendadak kedaan menjadi kurang kondusif. Hingga dapat diprediksi perang dunia akan segera dimulai.
"Kamu pikir nikah itu main-main?" tanya Daffa. Riska tak menjawab dan hanya menatap diam sang suami.
"Meskipun pernikahan ini tak didasari cinta, tapi kamu tak seharusnya menyepelekan sebuah pernikahan. Ijab kabul yang kuucapakan didepan pak penghulu dan papihmu, bukanlah kalimat main-main. Itu adalah sebuah janjiku didepan Tuhan." ucap Daffa.
__ADS_1
Riska tak menimpali, Ia hanya menundukan pandangannya merasa takut akan tatapan sang suami.
"Aku tau kamu masih belum siap menjadi seorang istri. Tapi setidaknya, kamu bisa menghargai pernikahan ini." lanjut Daffa, tanpa pamitan Ia berlenggang meninggalkan posisinya.
"Daf! Kamu mau kemana?" teriak Aska. Namun tak dhiraukan pria itu.
Aska memberi kode pada sang istri untuk izin menyusulnya dan diangguki Vani. Bahkan Rei juga ikut menyusul mereka.
Kia dan Vani menghembuskan napas panjang seraya menggelengkan kepala. Lalu, Kia menepuk pundak Riska untuk menyemangati.
"Kalo aku boleh kasih saran, sebaiknya kamu coba pikirkan apa yang diucapkan kak Daffa." ucap Vani.
"Iya, Ris. Ucapan kak Daffa itu benar. Kamu bisa dosa loh karena gak mematuhi suami." celetuk Kia.
"Isshhh kak Kia, kok bawa-bawa dosa sih?" protes Kia yang tiba-tiba terlihat ketakutan.
"Emang bener kok. Dosa sang istri itu bukan cuma itu saja. Memenuhi kewajiban sebagai seorang istri itu, pahalanya gede loh. Dan sebaliknya, jika nggak. Ya, numpuk dosa lagi." jelas Kia.
Sontak saja perkataan Kia membuat gadis itu memucat. Ia bukan tak tau akan kewajiban seorang istri, namun Ia mencoba menutup mata dan masa bodoh dengan pernikahannya itu. Namun sekarang, setelah mendengar penuturan Kia. Riska tiba-tiba merasa takut akan dosa yang beberapa hari ini mungkin saja sudah menumpuk, karena tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
"Kita tau kok, kamu belum siap. Apalagi untuk memenuhi kewajiban untuk melayani batin. Tapi coba deh, kamu penuhi kewajiban kamu dari hal-hal kecil. Misalnya menyiapkan makan atau menyiapkan baju. Itu pahalanya luar biasa, ya gak Kiy?" saran Vani dan diangguki Kia.
Riska menghembuskan napas panjang. Apa yang dikatakan kedua wanita itu benar juga. Mungkin ini saatnya Ia menerima pernikahan itu. Mungkin tidak ada salahnya jika Ia membuka hati untuk sang suami, atau juga mungkin harus membuka pakaian didepannya? Eh!
Gadis itu berdehem keras, saat tiba-tiba saja pikiran kotor memenuhi otaknya. Hingga membuat pipinya tiba-tiba bersemu merah.
Kedua wanita itu saling melirik melihat tingkah aneh sang gadis. Apalagi melihat semburat merah itu, yang kemudian membuat dua wanita itu sama-sama menarik satu sudut bibirnya.
"Oh iya Ris, hari ini aku akan traktir kamu sesuatu." ucap Kia.
"Apa?" tanya Riska yang tiba-tiba merasa aneh melihat senyum misterius dari bibir wanita itu.
"Pokoknya ada, dan kamu harus terima, juga harus pake. Gimana hem?" tawar Kia yang tak memberitahu apa yang akan diberikannya.
"Emm ...." Gadis itu tampak berpikir sejenak, kemudian Ia pun menganggukan kepala sebagai jawaban.
Kia tersenyum lebar menanggapi itu seraya merangkul bahu gadis itu. Begitupun Vani, Ia hanya terkekeh seraya menggelengkan kepala. Tau pasti apa yang ada diotak adik iparnya itu.
"Ya udah yuk! Gaskan!" ajak Kia.
"Bentar dulu." selak Vani. Hingga membuat Kia dan Riska yang hampir saja melangkahkan kaki, menghentikannya.
"Kenapa?" tanya Kia.
__ADS_1
"Bentar, kita tunggu dulu seseorang!" balas Vani seraya melihat layar pipihnya.
Kia dan Riska mengerenyitkan dahinya heran. Belum sempat mereka bertanya lagi, pekikan seorang wanita mengalihkan atensi mereka.
"La!!!"
Seorang wanita bersama pria yang membuntutinya datang menghampiri. Vani tersenyum menyambut wanita itu.
"Kiy, kenalin ini Sofi. Sahabat aku juga." ucap Vabi memperkenalkan wanita itu.
Kia menaikan alisnya, kala wanita itu diperkenalkan sebagai sahabat. Tentu ada rasa tak terima, saat tau bukan hanya dirinyalah sahabat sang kakak ipar. Vani yang mengerti tersenyum, tentu Ia tau sifat Kia yang selalu ingib dinomor satukan.
"Hai ... Aku Sofi." ucap wanita berambut sebahu itu memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan.
"Hai, kak Sofi. Aku Riska. Kemarin kita gak sempat kenalan ya, kak." balas Riska seraya menyambut tangannya.
"Iya, waktu itu kamu lagi jadi pengantin. Jadi sibuk." jelas Sofi. Hingga kedunya tertawa.
Lalu Sofi beralih mengulurkan tangan pada Kia. "Sofi!"
Kia mencoba tersenyum, "Kia!" balasnya menyambut tangan itu.
"Wah, jadi kamu Kia. Cantik banget!" puji Sofi, yang sukses membuat si ibu hamil itu tersenyum manis. Dipuji cantik tentu membuat Kia mengahapus rasa cemburu itu.
"Makasih!" balas Kia tersipu.
Vani tersenyum seraya menggelengkan kepala, merasa lucu dengan moody si ibu hamil itu yang tak tentu.
"Ini lakik pada kemana?" tanya Putra yang merasa heran akan keberadaan sahabat-sahabatnya itu.
"Oh iya, kak Putra kok bersama Sofi?" tanya Kia heran.
Kia memang tau semua sahabat sang kakak. Meski jarang bertemu, namun ketika Aska kuliah dulu Kia hampir setiap hari menghubungi sang kakak. Hingga Ia pun dekat juga dengan Putra dan Daffa.
"Ya bersamalah. Sekarang ini dia istriku." ucap Putra merangkul pundak Sofi.
"What??" Kia shok bukan main. Sungguhlah hebat tiga pria tampan yang selalu Ia idolakan bisa menikah secara bersamaan dengan cara dadakan pula.
"Dadakan lagi?" tanya Kia dan diangguki pasangan itu.
"Ck! Ck! Ck! Ini nih definisi, sultan low budget." celetuk Kia, yang sukses membuat mereka tergelak.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Yuk gaiss, ramaikan lagi... Janga lupa jejaknya yaa🤗