
Sementara itu para pria tengah mengadakan rapat urgent disebuah kafe yang bersebrangan dengan mall tersebut.
Hening!
Tak ada yang ingin memulai pembicaraan dari ketiga pria tampan itu. Mata Aska dan Rei hanya saling lirik, masih ragu untuk memecah keheningan itu.
Braakkk!!!
Gebrakan dimeja sukses membuat ketiga pria itu terkesiap. Seorang pria dengan tak tahu malu mendaratkan bokongnya disalah satu kursi disana.
"Aataga! Kau mengagetkanku." ucap Aska seraya mengusap dadanya. Hanya cengiran kuda yang diberikan Putra pada ketiga pria disana.
"Ada apa? Tegang bener." tanya Putra.
Aska dan Rei hanya menghembuskan napas pelan, bingung harus menjawab apa. Sedari tadi mereka hanya diam, melihat Daffa yang juga hanya terdiam dengan pemikirannya.
"Daf! Boleh aku kasih saran?" Aska memulai obrolan setelah dirasa cukup mereka terdiam.
Daffa mengalihkan perhatian pada Aska. Ia menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Pasti akan sangat sulit menghadapi Riska yang masih labil. Tapi kamu harus bersabar menghadapinya, aku yakin lambat laun dia bisa mengerti akan posisinya." papar Aska.
"Kamu tau? Bukan cuma kamu aja yang ada diposisi sekarang. Aku juga diposisi sama sepertimu." selak Rei.
"Kamu tau sendiri gimana manjanya Kia. Aku terkadang ingin tidur menghadapi dia." kekeh Rei.
"Tapi karena seorang imam, kewajibanku membimbing dan mengarahkan dia menjadi lebih baik lagi. Sebagai seorang suami, jika istri salah kita sepatutnya untuk menegur dan mengingatkan dia. Begitupun sebaliknya, jika ada keluhan atau apapun dari istri, kita patut mendengarkan dan memahaminya." terang Rei.
"Apalagi istri manja kek kita Daf, itu sebuah tantangan yang akan membawa banyak berkah untuk kehidupan rumah tangga kita. Mungkin perbedaannya, cuma satu. Aku menikah karena dasar suka sama suka. Dan kamu sebaliknya. Tapi percayalah, benih cinta sedang tumbuh diantara kalian. Cuma belum ada yang nyadar." lanjut Rei panjang kali lebar.
"Wihh keren pak Ustadz!" ledek Putra yang langsung dapat toyoran dari pria tertua disana.
"Aminin lah kak. Bukan ditoyor!" protes Putra.
"Aminin apanya? Kamu mana ngerti belum nikah juga." selak Rei.
"Aishh, siapa bilang? Kak Rei belum tau ya, aku juga udah nikah." balas Putra tak terima.
"Iya kah? Kapan?" tanya Rei bingung.
"Beberapa jam setelah Daffa." balasnya enteng.
"Hah?!" Rei melongo mendengar penuturan itu.
__ADS_1
"Wah parah kalian. Masa nikah grasak-grusuk gitu. Curiga aku." celetuk Rei dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa? Nikah digerebek maksudnya?" tanya Putra yang tau arah pembicaraan Rei.
"Bukan!"
"Terus?"
"Aku curiga, gelar sultan kalian hilang ditelan bumi. Mana ada sultan nikah dadakan kek gini. Gak modal banget." ledek Rei.
"Heleh, itu tu cuma akad. Ntar resepsinya dijamin gede-gedean." sangkal Putra.
"Ck! Iya deh sultan. Sultan low badget." ledek Rei lagi, hingga dapat toyoran dibahu dari pria yang sudah siap meledak itu.
Daffa tersenyum tipis mendengar candaan mereka. Meski Ia belum mengenal Rei, namun sepertinya pria itu memiliki persamaan dengan Aska. Begitupun Aska, Ia ikut tersenyum melihat Daffa yang sudah dapat menarik satu sudut bibirnya. Ia menepuk pundak sahabatnya itu.
"Lebih berusaha lagi. Malam ini pasti dapat." kekeh Aska.
"Ck! Apaan sih?" elak Daffa. Disinggung akan hal itu membuat wajah pria itu tiba-tiba memerah.
"Wah, jadi belum lolos malam pertama nih?" tanya Rei.
Bukan hanya Daffa, Putra juga terlihat sama. Hingga tawa dari Rei dan Aska pun pecah. Tentu mereka dapat menebak apa yang terjadi dari raut wajah mereka.
"Astaga! Menyakitkan sekali itu, bro." ledek Rei disela tawanya.
"Kenapa? Kesusahan nyari sarang si nona nya ya?" Aska ikut meledek disela tawanya.
"Atau si jack nya gak bisa bangun?" tambah Rei.
"Kampret!" umpat Putra menoyor Rei yang lebih dekat dengannya. "Enak aja! Aku punya tegak lah. Lebih tegak dari menara sutet." protes Putra.
Kedua pria itu semakin tergelak mendengar jawaban Putra. Hingga Aska dengn jahilnya, ingin menggoda satu sahabatnya lagi.
"Punyamu gimana Daf?" goda Aska.
"Gimana, gimana?" tanya balik Daffa yang terlihat kikuk.
"Ya, tegak apa nggak?" goda Aska lagi.
"Ya, tegaklah!" jawab Daffa asal.
"Tegaknya lagi apa?" tanya Rei yang ikut menggoda membuat Daffa menaikan sebelah alisnya tak mengerti.
__ADS_1
"Maksudnya kek gini, si jack ku suka tiba-tiba bangun pas lihat Kiy keluar dari kamar mandi. Jangankan lihat orangnya, baru nyium aromanya aja. Ini si jack udah bangun gitu aja." jelas Rei. "Kamu gitu gak?" tanyanya.
"Emm ... Entahlah aku belum pernah lihat dia keluar dari kamar mandi." Daffa beralibi, padahal pertama kali si jacknya bangun saat sang istri keluar dari kamar mandi.
Bahkan sekarang membahas hal itu, sesuatu dibawah sana tiba-tiba saja mengeras. 'Sial! Kenapa harus bangun sekarang?' umpatnya dalam hati.
"Jangankan keluar dari kamar mandi. Membayangkannya saja, punyaku sudah tegak!" celetuk Putra.
"Wah benarkah?" tanya Rei yang sedikit tak percaya. Hingga Putra menunjuk gundukan dibawah sana dengan bangganya.
"Wih keren! Lakik emang." puji Rei menepuk pundak Putra bangga.
"Tapi kok ya gak lolos, aku curiga punyamu kebesaran, ampe istrimu itu kabur." celetuk Rei.
"Ck! Punyaku emang besar. Justru itu membuat dia makin lengket. Tapi disini aku yang kabur." balas Putra.
"Lha kenapa?" bukan hanya Rei, namun Aska dan Daffa ikut bertanya dengan antusias.
Terdengar hembusan napas kasar dari pria itu. "Si jack gak mau nyelam dikubangan merah." celetuk Putra.
Ketiga pria itu terdiam sejenak, hingga tiba-tiba saja tawa pun pecah dari mereka. Mengerti akan yang dimaksud Putra ketiga pria itu menertawakannya dengan puas. Sudah dapat ditebak bagaimana wajah Putra sekarang, ia hanya bisa melayangkan pukulan pada Rei disampingnya.
"Oke Daf! Malam ini kamu harus berhasil, biar besok bisa berbagi pengalaman pada Putput, ya gak?" ledek Aska seraya merangkul pundak sahabat disampingnya itu.
"Oke!" balas Daffa menganggukan kepala.
"Sialan kalian!" umpat Putra seraya melempar sedotan pada kedua sahabatnya itu.
"Aku sumpahin, istri kalian berkubang juga malam ini. Biar tau rasa kalian semua."
Gelak tawa kembali terdengar dari ketiga pria itu. Umpatan yang disertai candaan terdengar riuh dari meja berpenghuni empat makhluk tampan itu. Bahkan mereka melupakn para kaum istri yang entah tengah melakukan apa.
"Oh iya, para istri lagi pada ngapain ya?" tanya Aska, yang baru saja teringat akan istrinya.
"Astaga! Mampus!" pekik Rei seraya menepuk jidatnya.
"Kenapa?" tanya Aska heran.
"Saldoku." lirih Rei dengan wajah frustasi.
Kini giliran Putra yang tertawa puas. Tau akan kebiasaan Kia yang gila belanja, tentu membuat pria itu bisa membalas perlakuan Rei padanya.
"Sabar ya, kak Rei! Sayang istri, jangan pelit-pelit!" ledek Putra tergelak. Bukan hanya Putra, Aska dan Daffa pun tak kalah puasnya tertawa.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Ada yang kangen aka gak?🙈 maaf ya, mak othor tepar abis agustusan🤧 cuma bisa up si paijo.. Yuk jejaknya jangan lupa yaa!