Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Kenapa-kenapa


__ADS_3

Sinar mentari menembus memasuki jendela kaca yang tak tertutup apapun. Namun hal itu tak membuat sepasang pengntin baru terbangun dari tidurnya. Dilihat dari cara tidur mereka, sepertinya mereka begitu kelelahan. Hingga tak teusik dengan apapun sama sekali.


Dibalik tampang kalem keduanya, cara tidur mereka sungguh tak ada anggun-anggunnya. Kepala Aska sudah hampir menggantung disisi ranjang, dengan posisis telentang. Vani sendiri tidur dengan posisi tengkurap dengan kepala di atas perut suamianya.


Drrttt ... Drrttt ...


Dering ponsel dari atas nakas mampu membuat Aska terbangun. Ia mengerjapakn matanya untuk menyeimbangi cahaya mentari yang memasuki indera penglihatannya. Ia hendak bangkit, namun pergerakannya terhenti kala Ia tak dapat menggerakn setengah tubuhn bawahnya.


Aska tersenyum kala melihat sang istri yang terlelap diperutnya. Ia mencoba bangkit pelan, hingga tubuh sang gadis bergeliyat dan berubah posisi ketengah kasur. Aska terkekeh melihat itu, Ia yang mengira sang istri terbangun ternyata tertidur kembali.


Ia bangkit dan meraih layar pipih itu dari atas nakas. Ia tersenyum melihat beberapa panggilan dan chat WA beruntun dari nomor yang sama, dengan tertera nama 'Mama' disana.


Hari ini adalah kepulangan papa Ivan kerumah. Sepertinya kedua orang tuanya itu tengah mencari mereka. Aska pun membalas chat terakhirnya. Lalu Ia pun kembali menyimpan benda pipih itu ke atas nakas. Kemudian Ia menarik selimut yang berserakan dilantai untuk menutupi tubuhnya dan sang istri yang kini masih terlelap, lalu memeluk tubuh ramping itu dari belakang dan kembali ikut memejamkan matanya.


**


[Maaf sedang sibuk bikin dede bayi.]


Mama Lia tergelak mendapat pesan dari menantunya itu. Ia yang sudah ketar ketir mencari sang putri yang tiba-tiba saja menghilang dari ruangannya tentu membuat ibu satu anak itu khawatir. Begitupun kedua orang yang ada diruangan itu yang ikut tergelak kala mama Lia membaca isi chat tersebut.


"Ck! Gak percayaan sih. Mereka pasti pulang ke apartemen. Lihat! jarak lima langkah gini juga. Lagian mana mungkin mereka melewatkan malam pertama mereka. Aneh lu, kek gak pernah ngalamin aja!" cerococos ibu dua anak, yang sudah nangkring disana untuk menjemput besannya itu.


"Bukan gitu, ya kan gue khawatir. Takutnya mereka kenapa-napa." selak mama Lia.


"Mereka udah pasti kenapa-napa." celetuk papih Age yang baru nimrung, setelah menyelesaikan administrasi besannya itu.


Kedua wanita itu menghentikan tawanya dengan alis saling bertautan.


"Hah?! Kenapa? Gimana?" tanya mama Lia khawatir.


"Ck! Kamu tuh. Iya, pasti mereka kenapa-napa lah. Semalaman bertempur udah pasti mereka tepar." balas papa Ivan menyelak ucapan sang istri.


Ekspersi dua wanita itu menyeringai dan didetik berikutnya mereka pun tergelak kembali. Hingga kedatangan seseorang dengan salamnya mengalihkan atensi mereka.

__ADS_1


"Pagi Tan, Om, semua." sapa gadis cantik memasuki ruangan itu. Tak lupa Ia juga menyalimi tangan keempatnya bergantian.


"Pagi!!!"


"Kamu mau berangkat kerja, Fi?" tanya Mama Lia.


"Iya, Tan. Aku sengaja kesini dulu, buat anterin kunci. Sekalian mau lihat keadaan Ila." balas Sofi seraya memberikan kunci rumah pada ibu sahabatnya yang sudah seperti ibunya sendiri itu.


"Ya ampun, padahal simpan aja dibalik pot atau apa. Terus kamu tinggal chat tante." tutur mama Lia yang merasa tak tega pada gadis yang sudah Ia anggap anak sendiri itu.


"Gak apa-apa tante lagian masih pagi." balasnya. "Oh iya gimnaa keadaan Ila? Apa aku boleh lihat?" tanyanya.


"Vani mungkin belum bangun. Dia tepar keknya." kekeh mama Lia.


Gadis itu terkejut. Guratan khawatir nampak jelas diwajah cantik itu. "Ya ampun! Apa dia belum sadar? Separah itukah?" tanyanya.


Keempat orang tua itu tertawa. Ekspresi Sofi sungguh menggemaskan dimata empat paruh baya itu.


"Nggak gitu, Fi. Vani udah sadar, dia udah sehat. Malah udah kuat buat malam pertama." celetuk mama Lia, yang membuat suasana semakin riuh.


Ditengah keriuhan itu, suara ketukan pintu berhasil menghentikan tawa mereka. Mereka tersenyum menyambut seorang pria yang memasuki ruangan itu. Namun tidak dengan Sofi, Ia masih merasa kesal pada pria berwajah garang namun sayang begitu tampan itu.


Bagaimana tidak? Pria tampan itu sudah dua kali menikmati bibirnya yang tak berdosa. Dan bodohnya Ia sama sekali tak berkutik mendapati perlakuan itu.


"Kamu mau jemput aka, Put?" tanya timom pada sahabat sekaligus sekretaris putranya itu.


"Iya, mom! Saya disuruh mengambil sesuatu diruang inapnya Vani." balas Putra.


"Jadi kamu tau dia gak disini?" tanya timom dan diangguki Putra.


"Tuh anak emang ya, giliran sama kamu aja dia bilang. Kita disini ketar ketir nyari dia." omel sang timon dan dibalas tawa mereka.


"Maklum yang, Putput kan teman terdekat aka. Udah kek pasangan sejati." celetuk papih Age yang sukses membuat keempat orang tua itu kembali tergelak.

__ADS_1


Sofi menutup mulutnya menahan tawa yang hampir meledak mendengar panggilan unyu itu. Sungguh, hal itu begitu menggelikan ditelinganya. Namun itu sebuah tombak baru untuk bisa mematahkan ucapan pedas yang sering terlontar dari bibir pria tampan itu.


Putra menghembuskan napasnya kasar. Ia mengumpat kesal pria yang tak memiliki filter dalam bicara itu. Namun umpatan itu hanya bisa Ia keluarkan dalam hatinya. Ia melirik gadis disampingnya dengan tatapan tajam. Ia begitu kesal pada gadis cantik yang terlihat tengah meledeknya.


"Ya udah om, tante semua. Saya pamit dulu." pamit Putra menghentikan tawa mereka.


"Eh! Eh tunggu! Kalian sekantor kan? Kalian bareng aja!" titah timom mencegat pria tampan itu.


"Gak usah tante. Saya berangakat sendiri aja." tolak Sofi dengan halus.


"Kamu mau naik taxi? Bis jam segini, biasanya udah lewat loh, Fi." tanya mama Lia memastikan.


"Euu, Itu ..." Sofi bingung harus menjawab apa, hingga tangan besar menggandeng tangan dirinya.


"Kita akan berangkat bareng!" balas putra. Sofi membolakan matanya mendapati itu. "Permisi om, tante!" pamit Putra seraya menyeret tangan itu keluar dari ruangan itu.


"E-ehh! Tapi-" belum juga protesan Sofi selesai, tubuhnya sudah terseret mengikuti langkah pria tampan itu.


Keempat orang tua disana tergelak seraya menggelengkan kepalanya. Ternyata proses pendekatan anak muda sekarang sama saja dengan apa yang mereka alami dulu. Mereka hanya berharap ada kabar baik dari hubungan kedua manusia yang memiliki sifat bertolak belakang itu.


Sementara itu, Putra membawa Sofi menuju mobilnya setelah mengambil sesutu dari kamar inap yang pernah ditempati istri dari bossnya itu. Ia sama sekali tak melepas tangan Sofi, meski sepanjang jalan gadis itu nyerocos memprotesnya.


"Ya ampun! Tuh orang ngeselin banget sih." gerutunya ketika Ia masuk dikursi samping kemudi dengan mata menatap pria yang tengah mengitari mobilnya, untuk menuju kursi kemudi.


Brukk!!!


Putra menutup pintu dengan keras, hingga membuat Sofi terlonjak dengan mengusap dadanya.


"Astaga! Bapak mau bikin saya jantungan ya?" protesnya.


Putra menatap tajam kearah sang gadis, lalu mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak dengan gadis itu.


"Iya. Saya akan buat jantung kamu berdebar, didekat saya!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa, biarin pengantin istirahat. Pindah dulu pada pasangan ber ego tinggi ini🤣🤣


__ADS_2