Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Ay ...!!!


__ADS_3

Keenam orang dimeja itu menoleh kearah suara seseorang yang datang menghampiri mereka. Semua orang menundukan kepala memberi hormat pada sorang pria yang datang bersama dua orang pria lagi dibelakangnya.


"Siang, Pak!" sapa Aldo pada sang boss yang menghampiri.


"Hem, siang semua!" balasnya dengan lengkung senyum dibibirnya.


"Siang, Pak!" balas mereka serempak, dengan mata saling lirik melihat sang boss yang tak melepas tatapan, dari gadis yang tengah mereka interogasi itu.


Vani hanya tersenyum kala sang boss yang sudah menjadi suaminya itu terus menatap intens dirinya.


"Ehemmm!"


Deheman seseorang mengalihkan atensi Aska. Ia berbalik melihat Daffa yang tengah menatap kearahnya dengan telunjuk kanan mengetuk jam dipergelangan tangan kirinya. Pria tampan itu baru teringat, jika mereka harus cepat karena ada meeting lagi. Mereka memang makan siang lebih awal, karena waktu meeting pertama mereka yang lebih cepat.


Aska berbalik lagi menatap karyawannya yag mendadak hening dan menghentikan aktifitas mereka.


"Mmm baiklah! Selamat menikmati makan siang kalian. Saya permisi dulu!" pamit Aska dan dibalas anggukan mereka. Lalu tatapannya mengarah pada Vani disertai senyuman manis.


Tak lama, ia memutus tatapannya dan berlenggang pergi setelah para karyawan itu memberi hormat padanya. Namun baru beberapa langkah, Aska menghentikan laju langkahnya dan kembali berbalik.


"Oh iya," suara Aska membuat para karyawan kembali menoleh kearahnya.


"Ay!" panggilnya.


"I-iya!" balas Vani dengan sedikit ragu.


Semua orang disana membelakakan mata mendengar panggilan itu. Begitupun Vani, jika saja Aska tidak menatap padanya. Ia tidak akan ngeuh dengan panggilan baru itu.


"Setelah selesai makan, Aka tunggu diruangan, ya!" ucap Aska tersenyum dan dibalas senyum ragu dengan tatapan shok Vani yang disertai anggukan.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Aska pun berlenggang meninggalkan tempat itu yang diikuti Daffa dan Putra yang menatap istrinya dengan tatapan datar seperti biasa, lalu memberi isyarat. Pria itu mengangkat jempol dan jari kelingking hingga berbentuk telepon dan membawa tangan itu kedepan telinga seraya menggerakannya.


Sofi menghembuskan napas kasar disertai decakan kesal melihat sang suami yang nampak menjengkelkan itu. Disaat si boss begitu manis pada istrinya, Sofi justru disuguhi wajah mengesalkan oleh suaminya. Semua atensi karyawan beralih pada Sofi, dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ehemm!!! Ay ...." suara Widya, mengalihkan kembali atensi mereka. Vani hanya tersenyum menanggapi.


"Jadi bener La, gosip itu?" tanya Tania antusias. Begitupun yang lainnya yang sudah siap memasang telinga.


Vani mengangguk membenarkan. "Hemm iya." balasnya.


"Wahh! Ini sih trending. Sayang sekali aku lupa merekam si boss tadi." celetuk Arya.


"Ck! Kamu tuh, yang sopan bicaranya. Bu boss ini." protes Tania.


Suasana yang sempat tegang mulai riuh dengan perdebatan dua senior itu. Berbeda dengan kelima orang yang rame itu, Sofi masih menekukkan wajah. Moody wanita pms memanglah tak ada duanya.


"Fi!" panggil Vani pelan, seraya menggedik lengan sahabatnya. Sofi menoleh dengan deheman kecil. "Hem!"


"Jadi, Sofi juga sama pak Putra?" tanya Tania. Kedua jari wanita itu disatukan seolah membuat kode. Sofi hnaya menghembuskan napas panjang dengan anggukan kepala.


Brakkk!!!


"Mantap!"


Gebrakan meja membuat mereka tekesiap. Dengan wajah tanpa dosa Arya beddiri dengan mengacungkan jempol, setelah hampir membuat mereka spot jantung.


"Astaga! Kamu mau bikin orang jantungan?" protes Tania seraya mengelus dada.


Arya tersenyum hingga menampilkan deretan gigi putihnya. "Maaf! Maaf! Reflek itu." kekehnya. Semua orang hanya menggelengkan kepala sebagai tanggapan.

__ADS_1


"Sofi ... Ck! Ck! Ck! Kamu hebat. Luar biasa!" puji Arya bertepuk tangan yang disetai gelengan kepala. Sofi hanya berdecak kesal hingga sukses membuat mereka tergelak.


**


Tok! Tok!


Vani memasuki ruangan bertuliskan 'Ruang Direktur' setelah mendapat izin dari penghuni ruangan itu.


"Ay ...!!"


Pemandangan pertama yang dilihat Vani adalah pria jangkung berbalut kemeja putih tengah berdiri dengan merentangkan tangan menyambut dirinya.


Tanpa ragu Vani mendekat dengan sedikit berlari, lalu berhambur masuk kedalam dekapan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Aka merindukanmu, Ay!" gumam Aska begitu terdengar merdu.


Vani terkekeh, lalu mengendurkan dekapan seraya mendongakan kepala untuk melihat wajah sang suami yang lebih tinggi darinya.


"Aisshh, kek udah pisah tahunan aja. Baru juga beberapa jam." ledek Vani.


Aska tertawa kecil seraya mendekap kembali kepala sang istri. "Buat aka, itu sudah cukup lama. Gak perlu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan rasa rindu ini." jelasnya.


"Kamu tau kenapa?" tanya Aska seraya mengendurkan kembali dekapan itu, hingga Vani mendongak kembali memperlihatkan raut wajah bertanyanya.


"Kenapa?" tanya Vani yang tak ingin berpikir dan lebih meminta jawaban langsung dari suaminya itu.


"Karena yang aka rindu itu. Kamu!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa🤗


__ADS_2