Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Sudah cukup Tuhan menyembunyikanmu


__ADS_3

Kedua sahabatnya mengerenyit heran, tak mengerti akan maksud sahabatnya itu. Daffa kembali menegak minuman itu.


"Aku bahkan tak lebih baik darimu. Cintaku tak dapat membuat dia bertahan disisiku." racaunya yang sudah terpengaruh minuman itu.


Aska pun mengerti arah pembicaraan itu. Sepertinya sesuatu telah terjadi pada sahabat dan gadisnya.


"Tapi kenapa harus dirimu? Kenapa Ka?" tanyanya.


Daffa berdiri dan melayangkan kepalan tangan pada wajah Aska hingga tepat mengenai sudut bibirnya, dua kali berturut-turut.


"Berhenti Daf! Apa yang kamu lakukan?" Putra segera menyeret tubuh Daffa untuk menjauh dari Aska.


"Lepasin!" Daffa memepis kasar tangan Putra yang memegang kedua lengannya dari samping, namun Putra mencoba menahannya.


"Akan kuberi pelajaran dia. Berani sekali dia menguasai hati kekasihku?" ucapnya dengan tubuh yang sudah kelimpungan.


Aska hanya terdiam. Itu mungkin lebih baik untuk sahabatnya. Membiarkan sahabatnya itu meluapakan seluruh bara api yang Ia yakini tengah membakar jiwanya. Mungkin rasa sakit disudut bibirnya tak seberapa dengan apa yang dirasa pria didepannya.


"Bertahun-tahun aku melindunginya, menyayanginya, berharap dia bisa membuka hatinya untukku. Tapi apa? Kau justru dengan mudahnya mengisi hatinya. Sedangkan aku? Baginya aku hanya lekaki pecundang yang memaksakan kehendakku untuk menjadikannya kekasihku. Tanpa ku tau, aku hanya jadi objek balas budi yang menyedihkan." ucapnya dengan teriakan diakhir kalimatnya. Sepertinya Ia begitu meluapakan rasa sakit hatinya saat ini.


"Kamu tau gak? Sakit! Sakit!" lanjutnya seraya memegang dadanya.


Aska bangkit dari duduknya. "Jika memukulku akan membuatmu tenang dan dapat memaafkan Vani. Lakukanlah!" titahnya.


Daffa tertawa, sungguh pun dirinya sudah terlihat seperti orang tak waras. Pengaruh dari alkohol benar-benar membuat Ia bisa mengeluarkan seluruh uneg-unegnya.


"Hei! Dia bukan Vani dia itu Ila." ucapnya, lalu kembali tertawa.


"Baiklah! Jangan menghindar! Aku ingin sekali menghajarmu. Kita lihat, apa Ila masih suka sama wajah babak belurmu itu?" racaunya lagi yang siap melayangkan tonjokan pada wajah tampan Aska.


Aska hanya mengangguk dan terdiam, membiarkan Daffa melakukan apapun padanya.


"Jangan Ka!" cegat Putra menggelengkan kepala seraya mendekat. "Aku gak mau kena omel timom. Bisa-bisa kupingku dower kena ceramah nyonya Age." lanjutnya yang hanya dapat toyoran dari Aska.


"Minggir Put! Akan kuhajar bocah tengil ini." ucapnya memberikan kode agar Putra menjauh.


Tanpa aba-aba Daffa hendak menonjok wajah Aska, namun sepertinya Ia sudah tak mampu menahn bobot tubuhnya dan terhuyung menubruk tubuh Aska. Hingga tonjokannya lolos kebelakang dan keduanya jatuh bersamaan ke atas sofa.


"Ini gak adil, kenapa sesakit ini?" lirihnya dengan suara yang sudah diapastikan pria tampan itu menangis.

__ADS_1


Aska menghembuskan napasnya panjang seraya menepuk punggung yang terlihat bergetar itu, dan mencoba menenangkannya.


"Ck! Ck! Ck! Ini anak bener-bener. Patah hati emang ya, membuat orang gila." ucap Putra seraya ikut terduduk. Ia menegak satu gelas lagi minuman diatas meja didepannya, lalu menyandarkan diri dikepala sofa tersebut.


"Berhenti minum! Aku gak bisa bawa kalian bersamaan." ucap Aska pada Putra yamg terlihat mulai oleng. Ia pun memindahkan tubuh tegap Daffa kesampingnya.


"Tenang aja, aku gak mabuk. Cuma ... Pusing aja!" kekeh Putra yang mulai ngelantur.


Aska hanya menggelengakn kepala melihat itu. Dengan terpaksa Ia harus mengurus kedua sahabatnya yang sudah terkapar disofa. Banyak wanita malam yang mendekat untuk membawa kedua pria yang sudah tak berdaya itu, namun Aska menghentikannya.


Tak ingin lama-lama ditempat lucknut itu, Ia segera memanggil pegawai pria untuk membantu memapah tubuh keduanya menuju mobil miliknya dan menitipkan mobil Daffa di club itu.


Aska membawa keduanya menuju apartemen miliknya. Ia yang beniat pulang kerumah sang timom untuk makan malam bersama adik dan adik iparnya pun harus diurungkan karena insiden kedua sahabatnya itu.


**


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Setelah membawa kedua sahabatnya ke kamar sebelah, Ia pun segera membersihkan diri. Bau pekat dari minuman itu membuat kepalanya ikut berdenyut, hingga mengguyur tubuh menjadi jalan keluarnya.


Ia berjalan menuju tempat tidur dan mendudukan diri ditepi ranjang seraya menggosok rambutnya yang masih basah. Membuka laci nakas dan mengambil layar pipih dari dalam sana. Sebuah tablet keluaran belasan tahun lalu masih terawat apik didalam sana.


"Sudah cukup Tuhan menyembunyikanmu. Mulai sekarang, aku gak akan membiarakn Tuhan menyembunyikanmu lagi." ucapnya bermonolog sendiri.


Ia raih layar pipihnya dari atas nakas. Mencari kontak yang sempat Ia curi dari ponsel sahabatnya. Menekan nomor baru yang bertuliskan 'Vani❤' dan menekan panggilannya. Terdengar nada sambung dari sebrang sana, dan hal itu sukses membuat Ia gugup.


"Hallo! Siapa ini?" terdengar suara lembut dari sebrang telpon ynag sukses membuat senyum Aska terukir.


"Hai!" balas Aska singkat.


"Aka?!" pekiknya.


Aska tersenyum, entah dari mana sang gadis bisa menebaknya. Padahal Ia tak mencantumkan fotonya disana.


"Apa kamu merindukan aka?" godanya.


Terdengar kekehan dari sebrang sana. "Aku pikir sebaliknya."


Aska tertawa mendengar penuturan sang gadis. "Iya, aka merindukanmu! Sangat." balasnya dengan serius.

__ADS_1


Terdengar sang gadis ikut tertawa dari sebrang sana. Tawa renyah yang mampu menggetarkan hatinya. Ia alihkan sambungan telpon itu pada video call. "Angkatlah! Aka ingin lihat wajah kamu."


Tak berselang lama wajah cantik dengan rambut acakdul namun terlihat begitu manis itu membuat Aska tersenyum lebar.


Vani yang tengah tengkurap, menutup wajahnya dengan bantal, merasa malu ditatap seperti itu oleh sang pujaan. Apalagi melihat rambut sang pria yang masih basah menambah kesan cool pada wajah tampan itu. Ia menggigit bibir bawahnya dengan menyembunyikan semburat merah dipipi putih itu.


"Kenapa ditutupi?" tanya Aska yang semakin greget melihat tingkah sang gadis yang begitu menggemaskan. Vani hanya menggelengkan kepala sebagai tanggapan.


"Ayo buka! Aka pengen lihat." titahnya.


"Ini udah kelihatan." balas Vani yang masih mempertahankan posisinya.


"Tapi pengen lihat yang kamu gigit itu." kekeh Aska. Entah tau dari mana Vani tengah menggigigit bibir bawahnya.


Vani semakin menutup seluruh wajahnya. Mendengar penuturan sang pujaan sungguh mengingatkan Ia pada kejadian tadi pagi. First kiss nya berhasil diambil oleh pria yang mendapat julukan cinta pertama dihatinya itu.


"Kok makin ditutup semua? Buka dong! Aka pengen lihat wajah cantik kamu." goda Aska.


"Berhenti menggodaku, kak!" titah Vani hingga Aska tertawa.


"Beneran gak mau dibuka nih?" tanya Aska, setelah menghentikan tawanya.


"Nggak!" balas Vani yang masih diposisi yang sama.


"Kenapa?" tanya Aska heran.


Vani memperlihatkan matanya. "Biar aka selalu rindu." ucapnya seraya tersenyum dibalik bantal itu.


Aska tersenyum kembali menanggapi itu. "Baiklah! Aka akan simpan rindu ini sampai besok." balasnya.


"Selamat malam, kesayangan Aka!"


"Malam, Aka!"


Senyum pun tak luntur dari bibir keduanya. Menandakan rasa bahagia yang tak dapat kedua insan itu sembunyikan.


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya ya gaiss🤗 besok siap-siap ngebucin bareng aka yaa😙

__ADS_1


__ADS_2