
"Kamu kenal mempelai wanitanya? Kek nya dia masih muda ya? Terus kak Daffa kenal dimana gadis itu? Perasaan baru kemarin dia patah hati, eh tiba-tiba nikah. Apa ini semacam pcari jodoh online, ya?" cecar Sofi dengan berbagai pertanyaan. Cerocosan itu bahkan sudah tak terdengar bisikan lagi.
Dengan cepat Vani membekap mulut rombeng itu, ketika atensi orang-orang mengarah pada mereka. Vani menampilkan senyuman manis pada orang-orang disana. Hingga atensi mereka kembali pada kedua mempelai yang tengah sibuk dengan salam meminta doa restu pada kedua orang tua mereka.
"Suutt!" Vani menyuruh Sofi untuk diam dengan memberi kode pada sahabatnya itu.
Setelah acara meminta restu, para tamu memberi selamat pada kedua mempelai. Vani dan Sofi pun ikut mendekat pada pengantin baru itu.
"Selamat ya, Kak! Smoga rumah tangga Kakak, Sakinah, Mawadah, Warohmah!" ucap Vani tulus dengan senyuman manis seraya mengulurkan tangan.
Daffa tersenyum tipis. Ia hendak meraih tangan itu, namun tanpa diduga tangan Aska menyambar tangan Daffa terlebih dahulu.
"Selamat ya Daf! Segala doa terbaik dari kita untuk kalian." ucap Daffa tulus. Vani terkekeh kala tangan kanan yang seharusnya disambut Daffa, justru disambut tangan kiri suaminya.
"Ya ampun boss, posesif bener!" ledek Sofi dan disambut kekehan Vani.
Semenjak dirinya dekat dengan Putra, Sofi tak segan lagi dengan sang boss jika diluar. Apalagi setelah tau sang boss pacaran dengan sahabatnya, Ia sudah menganggap pria itu temannya juga.
Daffa tersenyum tipis melihat pengantin baru yang tampak posesif itu. Dulu Ia pernah bermimpi yang berada disampingnya sekarang adalah gadis dihadapannya. Namun inilah takdir, ia harus bisa menerima semua itu.
"Iya. Makasih! Doaku juga sama untuk kalian." balas Daffa.
Aksi saling peluk ala pria pun tak dapat dihindari antara tiga sahabat itu, setelah Putra ikut bergabung.
__ADS_1
"Habis ini kita minta klarifikasi!" pinta Putra dengan nada ancaman. Daffa terkekeh mendengar itu. Ia pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaaban.
Sementara para pria sibuk, Vani dan Sofi juga memberi selamat pada mempelai wanita itu.
"Selamat ya, Ris!" ucap Vani mengulurkan tangan dan disambut pengantin itu.
"Iya, Kak. Makasih!" balas Riska dengan senyumnya.
"Kamu kenal?" tanya Sofi berbisik dan hanya dianggukui oleh Vani.
Vani yang mengerti, segera memperkenalkan keduanya.
"Oh iya, Ris. Kenalin ini Sofi." ucap Vani memperkenalkan keduanya. Kedua gadis itu pun bersalaman dengan Sofi memberi selamat pada pengantin baru itu.
Acara pun selsai. Hari kian malam, para tamu pun mulai berpamitan pulang. Begitu pun pasangan Aska dan Vani. Rencana ingin mengobrol dan mencari tau tentang nikah dadakan itu, harus mereka urungkan. Mengingat malam semakin pekat dan juga mereka tak ingin melewatkan olahraga malam mereka.
"Riska 'kan masih sekolah, apa mereka juga bakal ngelakuin itu?" tanya Vani ketika mobil yang mereka tumpangi, sampai dibaseman apartemen.
"Itu apa?" goda Aska seraya membuka sabuk pengamannya.
"Ya itu," balas Vani tak meneruskan ucapannya. Entah kenapa Ia tiba-tiba malu untuk mengucapkan aktifitas yang sering mereka lakukan, seraya membuka sabuk pengamannya.
Aska tersenyum, "Ke gini?" goda Aska menciun pipi Vani. Vani membolakan mata mendapat perlakuan mendadak itu.
__ADS_1
"Atau kek gini?" goda Aska lagi. Kali ini bibir itu mendarat dibibir, bukan pipi lagi.
Bahkan bukan kecupan lagi, namin sebuah ciuman yang kian menuntut. Aska memindahkan tubuh sang istri ke atas pangkuannya.
Tangan Aska sudah bergerak liar didada sang istri. Kedua buah itu menyembul keluar seiring dengan resleting yang Ia buka dari belakang.
"Mau coba mobil bergoyang?" goda Aska menyeringai dan hanya dibalas senyuman oleh sang istri.
Bibir Aska mulai melahap buah besar dihadapannya itu. Vani memejamkan mata mendapati perlakuan itu dengan suara sexy yang lolos begitu saja.
Tangan Aska dengan cepat mengangkat sedikit tubuh sexy itu untuk membuka pembungkus si nona dengan menyingkap sedikit gaun selututnya.
Vani yang mengerti ikut membukakan resleting sang suami, menarik si junior yang sudah berdiri tegak dari dalam sarangnya.
"Siap jadi leader?" kekeh Aska dan diangguki Vani.
Tanpa basa basi, si nona melahap penuh sipisang. Vani mulai bergerak dengan ritme pelan yang memabukan. De sa han menggema didalam kijang besi itu. Mobil yang tadinya diam berubah bergoyang.
Aktifitas panas mereka semakin tak terkendali, hingga erangan panjang terdengar entah dimenit keberapa diiringi pergerakan mobil yang terdiam kembali.
"Lagi?" tawar Vani disertai kekehan.
"Tentu. Kamar kita menunggu."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jejaknya jangan lupa ya, besok giliran Putput sama Sofi yang nikah🤣