Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Dia Ila bukan Vani


__ADS_3

Vanilla yang dipanggil bu Neti ternyata disuruhnya mengantarkan berkas-berkas keruangan sekertaris. Semua staf yang tau akan galaknya sang sekertaris tak ada yang berani memasuki kandang macan itu. Hingga bu Neti berinisiatif untuk menyuruh salah satu anak magang untuk mengantarkannya, sekaligus untuk menguji nyalinya.


Dan disinilah Vanilla. Ia menjadi orang terpilih yang akan mengantarkan berkas-beraks itu. Dengan perasaan gugup, Ia berusaha setenang mungkin. Ia mulai berjalan meninggalkan ruangan itu dengan tumpukan berkas didadanya.


"La semangat!" Ucap wanita tadi yang memanggilnya dengan mengepalkan tangan didepan untuk menyemangati.


Vanilla hanya mengangguk disertai senyumnya. Terlihat tenang dan berwibawa. Tak terlihat kegugupan sama sekali dimata orang lain. Hingga sang wanita begitu salut melihat ekspresi yang ditunjukan sang gadis.


Ia berjalan menuju pintu lift, menekan tombol agar pintu itu terbuka.


Tring


Pintu terbuka hingga menampakan sang bos seorang diri didalam sana.


Deg


Lagi-lagi jantungnya dibuat kaget, hanya karena melihat pria itu disana. Dengan sedikit ragu Ia memasuki lift tersebut seraya membungkukan tubuhnya. Pintu lift pun mulai tertutup dan benda itu pun mulai bergerak. Dengan gugup Vanilla mencoba menyapa sang bos.


"Siang pak!"


"Siang!" Balasnya tersenyum ramah.


'Mataku kenapa ya?' Batin Vanilla bertanya-tanya.


Tiba-tiba saja matanya berkunang dan sangat sulit terbuka. Hingga Ia tersadar sesuatu.


'Ya ampun! Aku lupa belum makan siang. Ku mohon jangan disini! Jangan sekarang' Batinnya.

__ADS_1


Hingga matanya tak sanggup lagi untuk terbuka dan akhirnya gelap.


**


Vanilla mengerjapkan matanya berulang kali. Matanya sepet dan sangat sulit untuk terbuka. Ia kucek matanya dan menyadari sesuatu.


"Ya ampun!" Ia bangkit dan mendapati dirinya tengah terbaring diatas sofa dengan selimut kecil yang menutupi tubuhnya. Ia sedikit bingung dengan keadaannya, seraya terus mengucek matanya yang masih terasa perih.


"Kamu udah bangun?" Pertanyaan seseorang sukses membuat Ia sedikit terkesiap.


Sepertinya Ia akan mulai menghapal suara itu. Suara berbeda, namun dengan nada yang sama seperti belasan tahun silam.


Ia mendongak menatap sang bos yang duduk ditepi sofa didepannya. "Maaf pak!" Sesalnya.


Vanilla terus merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa ia harus tertidur dikantor? Dan harus tidur diruangan sang bos pula. Sungguh memalukan. Pastilah itu terasa aneh untuk sang bos, dan mungkin juga Ia akan dapat nilai buruk dihari pertamanya.


Vanilla semakin menunduk, merasa malu semalu-malunya. Sungguh kebiasaan buruknya ini tak dapat Ia ubah. Jika terus melewatkan makan siang pastilah kejadian ini terus berlanjut.


"Maaf pak! Merepotkan!" Sesalnya lagi.


"Nggak apa-apa! Oh iya, siapa nama kamu?" Tanya Aska.


Vanilla terdiam sejenak. Menyebutkan namanya, apa tak apa-apa? Pikirnya. Namun mengelakpun percuma karena kantor sudah tau identitasnya.


Aska melambaikan tangan kehadapannya. "Hei, kamu beneran gak apa-apa?" Tanyanya.


"Ahh! Nggak pak!" Balas Vanilla mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Nama saya, Vanilla pak!" Lanjutnya.


Deg


Kali ini jantung Aska yang berdegup kencang mendengar nama itu. Nama sama yang selalu Ia tunggu kehadirannya.


"Vanilla." Cicitnya.


"Iya pak! Vanilla, tapi bapak boleh panggil saya Ila." Lanjut sang gadis.


Aska terdiam menanggapi itu. 'Bukan dia bukan Vanilla nya Aka. Dia bukan Vani, tapi dia Ila.' Batinnya.


Vanilla mencoba tersenyum. Memberikan ekspresi biasa saja pada pria didepannya. Meskipun tsk dipungkiri hatinya begitu berdebar hebat.


'Aku Vani kak! Vanilla kesayangannya Aka!' Batinnya.


\*\*\*\*\*\*


Mau dikit ngeprank si aka lahh🙈 Yuk jejalnya jangn lupa yaa🤗 Ntar sore ditambah up nyaa😍😍



Ter Aka-Aka😘😘



Vani apa Ila?😂

__ADS_1


__ADS_2