
"Ay, bangun!"
Suara bass nan lembut itu berhasil membangunkan Vani dari tidurnya. Ia mengerjap pelan seraya merenggangkan otot bahunya yang terasa kaku. Lengkung dibibirnya terukir mendapati senyum manis dari suaminya.
"Apa udah sampai?" tanya Vani.
Dari semenjak berangkat wanita itu memang sudah terlelap. Bahkan tak terusik sama sekali, saat Aska turun membeli es potong tadi.
"Sudah dapat lagi." kekeh Aska seraya mengangkat kantong kresek ditangannya. "Nih!"
"Wah, apa itu kerang ijo?" tanya Vani berbinar.
"Bukan, ini es potong. Kerangnya gak ada." sesal Aska.
"Yaahh!!" Seketika wajah cantik itu berubah murung.
Melihat ekspresi itu, tentu membuat Aska tersenyum. Ia teringat kembali akan ucapan kang es tadi. Mungkinkah istrinya ini benar-benar tengah ngidam? Pikirnya.
"Kata kang es, si mamangnya sudah pensiun. Sekarang ganti sama anaknya, tapi bukan disini. Katanya dia mangkal di SMA, itupun harus pagi-pagi. Jam istirahat katanya sudah ludeus." jelas Aska, persis apa yang dijelaskan kang es tadi.
Vani pun mengangguk mengerti. "Ya udah. Besok lagi kita cari di SMA." ucap Vani pasrah.
Aska tersenyum seraya mengusek pucuk kepalanya. "Jadi kita mau makan apa aja?" tanyanya.
"Mmm aku pengen pecel sayur yang pake bumbu kacang sama karedok buatan timom itu kak." balas Vani.
"Itu kan pedes, emang kamu kuat?" tanya Aska heran.
"Ck! Aka jangan remehin aku. Semenjak sering nyeblak bareng timom, aku udah belajar makan pedas. Jadi gak akan kepedesan lagi." balas Vani.
"Iya deh, yang udah suka pedas. Geng cabe satu." kekeh Aska.
"Isshh aka nih, suka bener deh!" Vani memukul bahu suaminya itu kemudian tergelak.
"Ya udah, kamu telepon dulu timomnya takutnya gak ada dirumah!" titah Aska dan diangguki Vani.
Dengan cepat perempuan itu segera mengotak atik ponselnya, lalu menempelkan benda itu ditelinganya. Satu detik, dua detik, tak jua ada balasan dari sebrang telepon.
"Gak diangkat, kak." keluh Vani.
"Udah chat aja! Palingan si papih lagi dirumah." titah Aska.
Vani mengangguk, sesuai perintah sang suami. Ia pun hanya mengirim chat pada ibu mertuanya itu. "Dah beres! Yuk berangkat!" ajak Vani.
Aska tersenyum seraya memasang sabuk pengamannya. Kemudian mulai menghidupkan mesin hingga mobil pun melesat meninggalkan tempat tersebut.
"Yah, es nya cair!" sesal Vani seraya memperlihatkan plastik yang mana bentuk batangan itu sudah meleleh sebagian.
"Kamu sih! Gimana puter balik lagi, kita beli lagi?" tanya Aska.
__ADS_1
"Udah gak usah kak. Ini masih bisa dimakan kok!" tolak Vani.
Aska hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat Vani yang benar saja memakan es yang sudah sedikit mencair itu. Bahkan menyeruput cairan es diplastik tersebut.
**
Sementara itu, disebuah kamar ...
"Lebih cepat bang!" desis seorang wanita dengan peluh yang sudah membanjiri wajah yang masih imut diusianya itu.
"Yeah sayangh!" Sesuai intruksi, pria yang tengah berpacu diatas tubuh wanita itu mempercepat laju tempo gerakannya.
Hingga ketika mereka ingin mencapai puncaknya, tiba-tiba saja sang wanita menghentikan aktifitas mereka.
"Ber-henti dulu bang!" titah timom dengan napas tersenggal.
Ya, pasangan yang tengah beradu disiang bolong itu adalah pasangan papih Age dan timom. Kedua paruh baya itu tengah mencari pahala disela makan siang mereka.
"Ya ampun! Siapa sih? Ganggu aja, lagi tanggung juga." gerutu papih Age yang sama kelelahannya, seraya menghentikan aktifitas mereka.
"Coba ambilin bang, takut penting!" titah timom.
Pria paruh baya itu pun meraih benda tersebut diatas nakas tanpa melepas si jack yang masih menyangkut disarangnya. Bahkan Ia terlihat bersusah payah meraih benda yang tak henti berdering itu.
"Ya ampun bang, kenapa gak dilepasin dulu aja! Ntar encok lagi." peringat timom yang tak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu.
"Gak ah! Ntar dia kabur lagi." celetuknya.
"Konsentrasinya sayang. Ntar kabur, ambyar deh!" balas papih Age.
Krekek!!
"A...a..ahhh!"
"Tuh 'kan apa aku bilang. Kumat 'kan?" omel timom.
"Pinggang abang yang, aww aww!!" pekik papih Age seraya memegang pinggangnya yang tiba-tiba kram.
"Ini aku nolongnya gimana? Lepasin dulu lah si jack nya, bang!" titah timom.
"Gak mau, ntar ambyar!"
"Ya ampun bang, ini udah ambyar."
Perdebatan keduanya pun terhenti, setelah timom memaksa untuk melepaskan si jack yang tak mau keluar dari sarangnya itu. Dengan wajah murung, papih Age hanya pasrah seraya merebahkan diri disamping istrinya itu. Kemudian wanita itu mengambil salep dari dalam laci untuk mengolesi pinggang sang suami yang sudah sering kram itu.
"Udah bang! Makanya dikasih tau itu nurut napa bang. Ngeyel." omel timom seraya menutup kembali salep tersebut.
Papih Age hanya berdecak kesal seraya melesakan wajah dibantal itu. Sementara timom meraih ponsel yang sempat berdering tadi, bahkan terlihat ada chat dari menantunya itu.
__ADS_1
"Ya ampun bang!" pekik timom mengagetkan sang suami, hingga pria itu mendongakan kepala kesamping.
"Ada apa sii yang? Ngagetin aja deh!" gerutu papih Age.
"Ini bang. Aka sama Vani mau kesini." timom memperlihatkan pesan itu pada sang suami.
"Lha, ngapain?" tanya papih Age yang langsung dapat timpukan dibahu dari istrinya itu.
"Isshh abang ini. Anak mau berkunjung juga, kok nanya ngapain?" omel timom lagi.
"Ya, maksud abang. Ini jam istirahat kantor, tumben mereka kesini. Biasanya 'kan malam." jelas papih Age.
"Katanya mereka mau makan disini." balas timom. "Yau udah aku mandi dulu, bang!" lanjutnya seraya berlenggang ingin memasuki kamar mandi, namun tangannya dicegat papih Age.
"Bentar dulu, ini gimana?" tanya papih Age.
"Apanya?" tanya timom heran.
"Ini si jack masih hidup."
"Si jack masih hidup, tapi 'kan pinggang abang udah pingsan." celetuk timom disertai kekehan.
"Udah lah, tumbangin si jacknya dilanjut lagi ntar malam. Itu anak-anak keburu datang." timom pun ngibrit begitu saja menuju kamar mandi meninggalkan sang suami dengan erangan frustasinya.
"Padahal mereka udah pada punya pawang. Tetap aja masih suka rebutin pawangku."
**
"Timom!"
"Salam dulu kak!" peringat timom, ketika pasangan itu memasuki dapur.
"Udah mom, dari tadi." balas Aska seraya menyalimi takzim wanita paruh baya itu, diikuti Vani pula.
"Iya kah? Maaf gak kedengeran." kekeh timom. "Oh ya sayang, mau timom masakin apa?" tanyanya pada sang mantu.
"Aku mau pecel sayur yang pake bumbu kacang itu mom sama karedoknya." ucap Vani antusias.
Kali ini giliran wanita paruh baya itu yang dibuat heran. Vani yang biasa hanya bilang "Terserah timom aja, apapun aku makan." Tiba-tiba saja meminta keinginan, sungguh membuat wanita itu keheranan dengan berbagai pertanyaan diotaknya.
"Pecel? Karedok?" tanya timom.
"Iya mom! Gak apa-apa 'kan?" tanya Vani, "terus cabenya satu aja ya, mom." sambungnya.
Timom mengangguk mengiyakan dengan wajah bingung. "Iya sayang, timom buatin dulu ya!" ucapnya dan disambut senyum manis oleh Vani.
Timom pun mulai berkutat didapur, ia masih bingung dengan keinginan tib-tiba menantunya itu. Hingga berbagai pertanyaan muncul dibenaknya.
"Mungkinkah?"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Ada yang kangen sama papih Age dan timom?🙈 Jangan lupa jejaknya yaa😘