
"A-apa Dok Ha-hamil?" tanya Aska tak percaya, sang dokter tak henti mengembangkan senyum seraya menganggukan kepala.
"Iya, tuan!"
Sepasang manusia itu masih belum tersadar dengan keterkejutan mereka. Otak pintarnya mendadak blang mendengar penuturan sang dokter.
"Aka? A-aku, aku hamil?" cicit Vani menoleh kearah suaminya.
Aska tersenyum, lengkungan itu semakin lebar bahkan terdengar tawa kecil yang bercampur haru keluar dari bibir pria itu.
"Iya, Ay! Kamu hamil. Kita berhasil."
Tangis haru keluar begitu saja dari bibir ranum Vani. Dengan cepat Ia memeluk tubuh tegap disampingnya. Begitupun Aska, Ia membalas mendekap sang istri dengan erat. Kecupan bertubi-tubi dilayangkan Aska dikepala sang istri. Pria tampan itu ikut meneteskan air mata, mendapat kabar membahagiakan itu.
Penantian mereka beberapa bulan ini, membuahkan hasil yang manis. Pengadonan merkea setiap malam, akhirnya menghasilkan kehidupan baru dirahim Vani.
**
"Aaaa!!! Berhenti kak, turunkan aku!" pekik Vani.
Aska tak memedulikan itu, Ia tak melepaskan tubuh sang istri dari pelukannya dan terus memutar tubuh itu diudara. Rasa bahagianya begitu membuncak hingga Ia tak bisa mengendalikan dirinya untuk tak berperilaku seperti itu.
"Ya ampun, Aka!! Ntar aku jatoh." rengek Vani.
Aska pun menghentikan aksinya, lalu menurunkan tubuh itu dari pelukannya. Namun bukan melepaskan, Aska justru mendekapnya lagi.
"Aka bahagia, Ay! Sungguh. Aka sangat bahagia, aka akan jadi Papi" ucap Aska dengan haru yang kembali menyeruak dihatinya.
"Aku juga kak. Aku bahagia, sangat! Aku akan jadi Mami." balas Vani, memeluk tubuh tegap itu.
Keduanya hanyut dalam pelukan hangat. Tak ada lagi kata-kata yang dapat menggambarkan rasa bahagia dihati mereka.
"Emm ... Kak!"
"Hemm? Apa Ay?" tanya Aska seraya melepaskan dekapan mereka. Tangannya bergerak membelai pipi cantik itu.
"Aku pengen," Vani menghentikan ucapannya sejenak.
Aska menaikan sebelah alisnya, "Apa, hem?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku pengen ... Pisang!" ucap Vani tersenyum, seraya menampilkan deretan giginya.
Aska terkekeh, merasa lucu dengan sikap istrnya itu. Lalu tiba-tiba terbesit ide jahil diotaknya untuk menggoda si bumil itu. Aska mendekatkan wajah seraya berbisik manja ditelinga Vani.
"Kalo pisang aka, mau gak?" tanya Aska seraya memainkan daun telinga Vani dengan hidung mancungnya.
Vani menangkup pipi sang suami. Bukan menjawab, Ia justru menyambar bibir sexy itu. Entahlah bebeapa hari ini, Vani lebih agresif. Ia selalu memulai terlebih dahulu permainan panas mereka. Mungkin karena hormon ibu hamil membuat Ia menjadi seperti itu.
Aska menggiring tubuh sang istri hingga sampai didalam kamar tanpa melepas pagutan tersebut. Membawa tubuh itu hingga merebahkanya diatas tempat tidur mereka.
Kain-kain dari tubuh mereka sudah berhamburan tak tentu arah. Suara sexy mulai terdengar silih bersahutan dari kedua insan yang tengah memadu kasih itu.
"Kaa mmhhh!!"
"Ya, Ay mmhhh!!"
Gerakan yang awalnya pelan nan lembut kian menuntut. Peluh tak berhenti melengketkan tubuh keduanya. Gesekan kulit mereka bagaikan irama yang melantun disore itu beradu dengan suara-suara yang bersahutan dari mereka.
Hingga entah dimenit keberapa keduanya pun tumbang diwaktu bersamaan. Menyiskan napas yang tersenggal dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka.
Kecupan dilayangkan Aska pada dahi sang istri. Seolah menjadi kebiasaan seorang suami berterima kasih pada sang istri setelah mereka melakukan aktifitas mencari pahala, itu pun dilakuan Aska setiap saat.
"Sehat-sehat, ya sayang! Jangan kaget, kalo si jack sering nengokin!" kekeh Aska berbicara pada perut sang istri.
Sontak saja hal itu membuat Vani tergelak. Sungguhpun itu terdengar lucu ditelinganya. "Iya, Papi. Papi juga yang sehat, dilimpahkan rezekinya, buat aku sama Mami." ucap Vani dengan suara dibuat kecil.
Gelak tawa kembali terdengar dari sepasang suami istri itu, Aska merebahkn diri disamping sang istri. Lalu mendekap erat tubuh yang mulai berisi itu. Seraya tak henti mendaratkan kecupan bertubi-tubi dikepalanya.
"Makasih ya, Ay!"
"Untuk?" tanya Vani.
"Untuk segalanya." balas Aska seraya melonggarkan pelukannya, hingga Vani pun mendongak.
Wanita itu tersenyum seraya membelai rahang tegas Aska. "Aku yang seharusnya berterima kasih kak. Bertahun-tahun aka menungguku dan percaya jika kita memanglah jodoh." ucapnya serius.
Aska meraih tangan yng bertengger dirahangnya, kemudian mengecup punggungnya. "Kamu pun melakukan hal yang sama. Aka beruntung dicintai wanita setia yang begitu mempercayai takdir. Makasih Ay!" ucapnya, lalu kembali mendekap tubuh itu.
Keduanya hanyut dalam dekapan hangat, hingga terlelap dan terbuai dalam balutan mimpi.
__ADS_1
**
Enam bulan kemudian....
"Aka!" teriak Vani dari arah dapur. "Aka bisa bantuin aku gak?" teriaknya lagi.
"Ya ampun, perasaan ini baru tujuh bulan, tapi kok ya, udah kek sembilan bulan." gumamnya.
Dengan susah payah si ibu hamil itu ingin menggapapai bahan masakan dari lemari atas.
"Ah, aku coba pakai ini." Vani menaiki sebuah kursi pendek yang Ia ambil dari pojok ruangan itu.
Ia mencoba meraih toples kecil diatas, namun sulit sekali Ia gapai. Namun Ia tak pantang menyerah untuk mendapatkan itu.
Sementara itu, Aska yang tengah mengenakan pakaian sehabis mandi. Segera bergegas keluar kamar setelah mendapat teriakan sang istri.
"Iya Ay!" Ia berlenggang menuju dapur hingga saat dirinya hendak samapi, tiba-tiba saja Ia melihat sang istri yang sudah tak seimbang diatas kursi itu.
"Ay, awas!!" Dengan sigap Aska menangkap tubuh sang istri. Hingga dirinya terjatuh dan menjadi alas untuk istrinya itu.
"Ay, kamu gak apa-apa?" tanya Aska khawatir, bahkan Ia melupakan punggungnya yang terbentur keras pada lantai.
Vani menggelengkan kepala dengan wajah yang nampak memucat karena shok yang luar biasa. Bayangannya sudah tak beraturan, mengingat resiko yang akan terjadi, jika sang suami lengah beberapa detik saja.
"Syukurlah!" ucap Aska dengan bernapas lega.
"Tapi kak," Vani menghentikan ucapannya dengan sajah tegang, hingga membuat Aska kembli khawatir.
"Kok ada yang basah, ya?" tanya Vani dengan wajah khawatir.
"Ma-maksudnya?"
Vani menunduk dan atensinya melihat kearah tubuh bawahnya.
"Kak. I-ini, ini,"
Brukkk!!!!
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss🤗 satu bab lagi yaa🤭