Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Akhirnya


__ADS_3

"Ay, bangun Ay!" lirih Aska dengan perasaan tak menentu.


Pria itu tetap setia disamping sang istri yang kini terbaring diatas brankar yang didorong beberapa petugas menuju ruang UGD.


"Baik, tuan kita periksa dulu!" izin sang dokter dan hanya diangguki Aska.


Ia tak meninggalkan barang sedikit pun posisinya. Tangannya begitu setia menggenggam sebelah tangan sang istri.


"Bagaimana Dok?" tanya Aska.


"Sepertinya, nyonya shok berat. Hingga," sang dokter menjeda ucapannya.


"Hingga apa, Dok?" tanya Aska khawatir.


"Maaf tuan, sepertinya kita harus segera melakukan operasi SC. Air ketuban nyonya Vani sudah pecah. Saya khawatir, bayinya akan kekeringan."


Deg


Aska terpaku mendengar itu. Ia memang sudah tahu mempelajari artikel tentang persalinan. Namun haruskah sekarang? Bahkan ini masih belum waktunya?


"Bagaimana, tuan? Apa anda setuju?" tanya sang dokter.


"Tapi apakah semuanya akan baik-baik saja Dok? Maksud saya, ini bahkan belum cukup usia?" tanya Aska.


"Tentu tuan. Semua akan baik-baik saja. Anda janga khawatir, banyak yang memiliki kasus yang sama seperti istri anda ini." jelas dokter.


"Baiklah! Saya serahkan semua pada Dokter, lakukanlah yang terbaik!" titah Aska.


"Baik tuan. Kami akan melakukan yang terbaik." balas dokter.


"Kita bersiap!" ajak dokter pada timnya.


"Baik dok!" balas mereka serentak.


"Tuan silahkan ikut saya, kita kebagian administrasi dulu untuk mengurus surat-suratnya!" ajak salah satu suster dan diangguki Aska.


Namun sebelum keluar dari ruangan itu, Aska mendekat terlebih dahulu kearah sang istri. Ia genggam tangan lembut itu, lalu mengecup dahi sang istri yang masih juga memejakan mata.


"Kamu kuat Ay, kamu bisa! Aka mencintaimu." bisik Aska. Sekali lagi Ia mengecup kembali kening sang istri begitu dalam.


Aska pun bergegas mengikuti suster, sementara Vani tengah dipersiapkan tim dokter untuk memasuki ruang operasi.


Meski dengan perasaan tak menentu, namun Ia berusaha tenang dan berpikir positif. Hingga setelah selesai dan Ia hendak kembali, tiba-tiba sapaan seseoramg mengalihkan atensinya.


"Kak?!"


"Timom!" Ia segera mendekap tubuh wanita tangguh yang begitu berlimpah kasih sayang itu. Menyalurkan rasa khawatir yang menyeruak dihatinya.


"Semua akan baik-baik saja, kak! Percayalah!" ucap timom memberi semangat.

__ADS_1


Saat berangkat menuju rumah sakit, Ia hanya menghubungi sang timom untuk menyusulnya menuju rumah sakit.


"Eh ... kamu tuh!" Tiba-tiba saja kerah baju Aska terangkat hingga Ia melepaskan dekapan sang timom.


"Enak aja main peluk-peluk." protes pria yang baru saja datang menghampiri.


"Ya ampun, bang. Apa-apaan sih?" omel timom tak terima, saat putranya diperlakukan seperti itu.


"Ck! Dia keenakan peluk kamu." cetus papih Age.


"Astagfirulloh. Abang nih. Ini anak kita sedang dalam masalah juga. Pikirannya macem-macem aja." omel timom lagi.


Papih Age hendak kembali berkomentar, dengan cepat telunjuk timom mendarat dibibir itu.


"Mau diem jatah aman? Atau nyerocos hilang sepekan? Hem?" tawar timom.


Seketika pria paruh baya yang masih saja tampan diusianya itu bungkam. Kehilangan jatah lebih mengerikan dari melihat sang istri memeluk putranya.


Aska hanya menggelengkan kepala melihat tingkah orang tuanya yang tak bisa melihat situasi. Hingga sepasang baya juga datang menghampiri.


"Kak! Gimana keadaan Vani?" Mama Lia dan papa Ivan yang diberitahu timom, ikut menyusul mereka.


"Ma, Pa!" sapanya.


"Vani akan melakukan operasi SC sekarang. Kata dokter, air ketubannya sudah pecah lebih dulu." jelas Aska. "Aka takut, Ma!" lirihnya menuduk.


Mama Lia memeluk tubuh tegap itu sebentar. "Sabar ya, kak! Mama yakin semuanya akan baik-baik saja!" ucapnya menenangkan.


"Iya, makasih Pa, Ma!" ucap Aska.


Papih age mendekat kemudian mendekap tubuh tegap putranya itu. "Maafin papih!" ia melerai pelukan itu.


"Vani wanita kuat, dia bisa melewati ini." ucapnya dengan air mata yang tiba-tiba mengalir deras.


"Pih?!" tanya Aska merasa heran dengan tingkah sang papih yang tiba-tiba menangis, dengan cepat papih Age mengahapus air matanya kasar.


"Nggak! Ayo kita tunggu didepan ruang operasi!" ucap papih Age dan diangguki mereka.


Papa Ivan dan Mama Lia berjalan terlebih dahulu mengikuti Aska yang berjalan didepannya. Berbeda dengan pasangan paruh baya itu yang masih diam ditempat.


"Bang? Abang gak apa-apa? Kalo abang gak kuat kita jangan kesana, kita tunggu disini aja!" tanya timom khawatir, namun papih Age menggelengkan kepala.


"Nggak apa-apa yang, yuk!" ajaknya merangkul pundak sang istri. Akhirnya sepesang suami istri itu berlenggang mengikuti ketiga orang itu.


**


Tiga puluh menit berlalu, namun belum juga ada kabar baik dari dalam sana. Keempat manusia itu masih duduk menunggu didepan ruangan. Dengan perasaan penuh khawatir mereka masih terduduk dengan berbagai pikiran berkecamuk.


Napas cepat semakin terdengar dari bibir papih Age dan itu membuat timom semakin khawatir. "Bang?!"

__ADS_1


Tak ada jawaban dari pria paruh baya itu. Bagai dejavu, pikirannya melayang pada kejadian puluhan tahun silam. Dimana waktu itu Ia menemani seseoranng didalam sana, seperti yang dilakukan Aska sekarang. Dan waktu itu, Ia yang menunggu pria yang sekarang akan menjadi seorang ayah itu.


"Bang!" panggil timom, dengan cepat papih Age mendekap tubuh sang istri untuk menenangkan pikirannya.


Sementara itu didalam sana, Aska tak henti melapalkan doa dan dzikir ditelinga sang istri. Vani yang sudah tersadar, ikut melapalkan hal yang sama. Hingga tak membutuhkan waktu lama, suara melengking terdengar menggema diruangan itu.


Oakk ... Oakk ... Oakk ....


"Alhamdulillah!" puji syukur dipanjatkan sepasang suami istri itu. Tak ada yang bisa menggambarkan rasa bahagia dan haru keduanya. Ciuman bertubi-tubi dilayangkan Aska diwajah cantik itu.


"Selamat, tuan, nyonya! Bayinya kembar sepasang, sehat dan sempurna!"


"Kembar?" pekik Aska dan Vani serentak kaget. Bahkan mereka baru menyadari, suara bayi itu ternyata tak hanya satu.


"Iya tuan, nyonya. Itulah kenapa kandungan anda terlihat besar." jelas dokter. "Saya ingin memberitahukan ini dari awal. Tapi anda bilang tak ingin mengetahui jenis kelaminnya. Jadi saya membiarkan ini sebagai kejutan." lanjutnya.


Senyum mengembang dari sepasang orang tua baru itu, kala kedua bayi itu berada didekapan mereka.


"Adzani dulu kak!" titah Vani.


Aska pun memulai mengadzani putra putrinya bergantian, hingga selesai. Kemudian mengecup sayang dahi putri dipangkuannya dan didahi sang putra juga yang tengah diberikan IMD oleh sang ibu.


"Apa sudah ada nama, tuan?" tanya Salah satu suster.


"Iya, ada." balas Aska.


"Apa?" tanya Vani heran. Pasalnya mereka belum merencanakan itu.


"ALZEIN dan ALZEA"


*****TAMAT*****


**Ini beneran tamat yaa, udah gak ada lagi konflik.. Udah pada bahagia juga🤭 Nanti insyaAlloh dikasih bonus chapter, buat duo baby AL yaa... Nunggu mak othor khilaf dulu🙈


Makasih buat kalian yang sudah mau support karya-karya othor yang receh ini. Jangan lupa besok stay di cerita Abi-Sensen yaa!!! Up efektif, 2 bab😁


Sehat-sehat buat kalian, buat mak othor juga🙏 salam sayang dari jauh😘😘😘


Nih bonus visual👉**



Duo baby AL.. ALZEIN & ALZEA 😍😍



Bukan Aka lagi yaa, Papi sekarang😘


__ADS_1


Ini Mami nya😘


__ADS_2