
Seorang wanita tengah duduk bersandar di sofa disebuah ruangan seraya mengotak atik layar pipih ditangannya. Sudah tiga puluh menit sejak Ia mendudukan diri, namun yang ditunggu belum juga nampak menyelesaikan tugasnya.
Ia melirik sekilas pada pria tampan yang masih berkutat dengan layar persegi dihadapannya. Hembusan napas panjang mulai tersengar dari bibir ranum itu. Bahkan Ia sudah menghabiskan satu judul novel online yang dibacanya.
"Apa masih lama kak?" tanya Vani dengan wajah lusuh. Perutnya sudah mulai berdemo meminta diisi, namun sang suami masih belum menghentikan aktifitasnya.
"Tinggal dikit lagi." balas Aska seraya mata masih fokus pada layar itu.
Crk ... Crk ... Crk ...
Terdengar bunyi keyboard dari layar yang dipandangai lekat oleh Aska itu, hingga 'klik' bunyi dari mouse mengakhiri kerja jemarinya.
"Dah selesai." final Aska seraya menyandarkan tubuh. Lalu reflek merenggangkan jari kedua tangannya agar tidak kaku.
Kemudian atensinya beralih pada sang istri yang tampak tak bersemangat. Tahu pasti istrinya merajuk karena terlalu lama menunggu. Ia pun segera berdiri seraya meregangkan otot punggungnya, lalu mendelat kearah sofa itu.
Sudah beberapa hari ini, sang istri menunjukan sikap manjanya. Entah apa yang merasuki wanita cantik itu, Vani yang selalu terlihat santai mendadak berubah menjadi moody an.
"Mau makan apa, hem?" tanya Aska seraya mendudukan diri disamping istrinya itu dengan tangan membelai rambut panjangnya.
"Aku lagi mikir nih, kek nya makan kerang ijo enak ya, kak?" celetuk Vani antusias.
Tiba-tiba saja wajah suram yang Aska lihat tadi berubah berbinar. Inilah hal yang membuat Aska tak mengerti beberapa hari ini. Kadang Ia takut jika harus memulai obrolan. Mood Vani benar-benar susah ditebak dan sulit diprediksi. Ia harus bisa membaca isi pikiran wanita itu sebelum membuka suara.
"Emm ... Kamu mau makan seafood, boleh. Kita ke resto depan, disana masakannya enak-enak!" Aska memberi saran untuk tempat mereka makan.
"Gak mau!" tolak Vani. Aska mengerenyit heran, mendengar penolakan itu.
"Terus mau makan dimana? Kamu punya rekomendasi resto seafood?" tanya Aska.
"Nggak!" balas Vani santai.
"Lha terus?" tanya Aska heran. "Oh, apa mau diresto onty Feby?" tawarnya.
Lagi-lagi Vani menolak seraya menggelengkan kepala. Aska semakin dibuat bingung, ini pertama kali Vani tak mau diajak makan diresto legendaris itu.
"Terus kamu maunya makan dimana?" tanya Aska dengan sabarnya.
"Aku pengen kerang ijo yang didepan SD itu, kak." celetuk Vani dengan wajah berbinarnya.
Sepertinya Ia tengah membayangkan makanan yang tengah Ia inginkan itu. Terlihat dari air liurnya yang seperti ingin ikut keluar.
__ADS_1
"Hah?"
"Iya, kak. Yang waktu kita kecil suka beli itu, kek nya enak deh." sambung Vani.
Aska membelakak merasa tak percaya dengan keinginan nyeleneh istrinya itu. Bukan apa-apa, hanya saja akankah kang dagang itu masih ada?
"Ya ampun Ay, itu udah lama banget. Lagian kang dagangnya masih jualan atau nggak, kita gak tahu." balas Aska.
"Makanya kita cari tahu dulu. Aku pengen banget makan kerang itu, berasa udah diujung lidah nih." jelas Vani.
Kini bergilir wajah Aska yang tampak lesu. Ia tak yakin kang dagang itu masih mangkring disana. Karena seingatnya, pas kelulusan SD itu. Si emang kang dagangnya itu sudah jarang nampak, terdengar kabar jika dia sudah sakit-sakitan.
"Terus ya kak, aku pengen es yang dipotong-potong, terus ditusuk bambu kek sate gitu. Yang sering kita beli itu, aku pengen rasa pisang pokoknya." lanjut Vani dengan hebohnya.
Aska melongo, dengan mata mengerejap cepat. Sungguh permintaan itu terdengar aneh diindera pendengarannya. Ini pertama kalinya sang istri meminta sesuatu padanya. Jangankan meminta, disuruh memilih pun Vani selalu mengikuti atau memilih apa yang Aska sarankan.
"Ayo kita cari!" Aska terlonjak, ketika tiba-tiba saja Vani sudah berdiri menyeret tangannya.
"Tapi, Ay. Kamu yakin ada?" tanya Aska, namun tak urung Ia pun berdiri sesuai instruksi dari sang istri.
"Kita gak akan tahu, kalo gak pergi." balas Vani yang sudah bersemangat pergi. Ia bahkan begitu antusias menggandeng lengan Aska dengan posesif.
Itu adalah hal yang tak pernah Vani lakukan. Dikantor, Vani akan sedikit menjaga jarak dengan Aska layaknya atasan dan bawahan. Mereka tidak pernah menunjukan kebucinan dihadapan para staf, meski mereka sudah mengetahui status pasangan itu. Karena bagi kedua orang pintar itu, menjaga kedisiplinan menjadi prioritas utama saat bekerja. Dan itu akan menjadi contoh untuk para karyawan lainnya.
Namun entahlah, kali ini si ibu boss benar-benar tengah menunjukan jati dirinya. Ia menunjukan kebucinannya didepan semua orang. Tingkah manja wanita itu sungguh membuat gemas penghuni kantor yang baru melihat itu.
"Ya ampun! Tumben itu ibu boss!" bisik salah satu cleaning servis yang hendak membersihkan ruangan, yang sejoli itu tinggalkan.
"Iya, aku baru lihat sikap manjanya. Ternyata lucu ya." kekeh satu temannya yang memasuki ruangan itu. Hingga keduanya cekikikan bersama.
Ternyata bukan kedua cleaning servis itu saja, para karyawan lain pun menilai hal yang sama. Kedatangan keduanya diloby, membuat seisi kantor geger. Bisik-bisik terdengar setelah sejoli itu keluar dari sana.
"Wah, sekarang bu boss sudah mulai nunjukin taringnya ini." celetuk salah satu karyawan.
"Iya bener. Tapi mening gitu sih, soalnya masih banyak aja yang so caper sama si boss." balas salah satu temannya.
"Kalo itu sih, gak tau diri namanya."
"Tapi ya, yang kudenger si boss ini setia loh sama istrinya. Konon, bu boss ini sudah mendapat lamaran dari sejak kecil."
"Hah serius?"
__ADS_1
"Iya. Itu makanya, beliau gak pernah terdengar gosip pacaran sama wanita lain. Dia setia nunggu cinta pertamanya itu."
"Wah kalo gitu sih namanya jodoh dari orok itu."
"Iya. Tapi mereka cocok ya, sama-sama kalem dan memiliki attitude yang baik."
"Iya, sama-sama pintar dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik."
"Iya, betul itu!"
Gelak tawa terdengar renyah dari beberapa karyawan yang hendak memasuki kantin. Tak ada nilai minus untuk sang boss dimata mereka. Kepimimpinan Aska membuat Ia selalu dipuji para karyawannya.
**
"Oh yang dulu jualan kerang disini itu mang Diman. Beliau sudah gak jualan lagi mas." terang si penjual es potong yang diinginkan Vani. Ternyata es itu begitu melegenda dan masih tetap ada sampai sekarang.
"Yah padahal istri saya lagi pengen banget, mang." balas Aska.
"Istrinya lagi ngidam ya, mas?" celetuk si penjual es itu.
Aska terdiam sejenak, ngidam? Mungkinkah? Pikir Aska.
"Saya dengar sekarang yang jualan kerang ijo ganti sama anaknya. Tapi bukan disini." Suara kang es potong sukses membuat Aska terlonjak.
"Benar begitu mang?" tanya Aska.
"Iya, sekarang dia mangkalnya di SMA, tapi harus pagi. Soalnya jam isirahat langsung ludes." balas si kang es itu dan diangguki Aska yang masih memikirkan ucapan si kang es tadi.
"Ini mas es nya. Saya doain, semoga dede utunnya suka. Emang dah, ngadepin ibu hamil itu harus ekstra sabar. Aneh-aneh lagi permintaannya. Jadi nikmati aja ya mas." kekeh si kang eskrim dan hanya dibalas senyuman Aska.
"Terima kasih, mang!"
Setelah mendapat es potong itu, Aska kembali menuju mobilnya. Menghampiri Vani yang ternyata tertidur didalam kijang besi itu. Aska tersenyum menatap sang istri yang tampak lucu. Lalu perhatiannya teralihkan pada perut ratanya.
Kemudian ia usap lembut perut itu dengan senyum yang kian mengembang.
"Apa benar, hasil adonanku setiap malam, sudah tumbuh disini?"
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya gaiss... Jangan lewatkan detik-detik end nya yaađź¤
__ADS_1