Bukan Dia

Bukan Dia
1


__ADS_3

Note: Semua sudut pandang dari Choi Hyunjin


Tak sedetik pun pandanganku lepas dari namja itu. Dia begitu.. tampan! Ah tidak! Bukan hanya itu. Ia juga sangat ramah dan baik. Aku memang tidak terlalu mengenalnya, tapi itu semua bisa ku lihat dari caranya berinteraksi dengan orang lain.


Namja itu, Lee Donghae. Ia adalah seniorku di kampus ini. Usianya sekitar dua tahun di atasku. Yang membuatku suka padanya, dia sangat baik. Dan juga tampan tentunya.


Seorang gadis tiba-tiba menumpahkan minuman ke bajunya, ” maaf sunbae. Aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf.” Ia terlihat panik dan mencoba mengelap baju Donghae yang kotor dengan saputangannya.


“Gwenchana.. ini tidak terlalu kotor. Nanti juga akan kering sendiri kok.” Ucapnya sambil tersenyum. Dia sama sekali tidak marah. Aigo.. benar-benar seorang pangeran yang baik hati.


“Hyunjin! Ya! Choi Hyunjin!” Jiyoo mengibas-ngibaskan tangannya di hadapanku. Aku langsung menepisnya. “apa-apaan sih kau? Mengganggu saja!” aku tak mempedulikannya dan tetap fokus memperhatikan Donghae.


“Aigo! Sahabatku ini sedang jatuh cinta rupanya.”


“ah, apa sih? Aku kan hanya mengaguminya. Aku sadar dia tak akan mungkin menyukaiku. Dia itu kan sangat populer.” Ya, begitu banyak gadis di kampus ini yang tergila-gila padanya. Bukan tidak mungkin jika ia sudah memiliki kekasih. Tapi sampai sekarang aku belum pernah melihatnya menggandeng wanita manapun di sampingnya. Ah, apa dia belum punya kekasih ya?


“kalau begitu berhentilah berharap dan cari pacar. Kau tak akan mungkin menantinya sampai ia jadi pacarmu kan?” gadis ini, apa tidak bisa dia menutup mulutnya? Selalu saja menasehatiku, lama-lama ia bisa seperti oemmaku.


“daripada mengurusiku, lebih baik kau urus saja pacarmu. Tuh, dia datang.” Aku menunjuk dengan daguku ke arah seorang namja yang tengah melambaikan tangan pada kami –ah tidak, bukan kami tapi hanya Jiyoo sepertinya. Jiyoo balas melambai pada namja itu dengan senyum ceria.


“Ya! asyik sekali kalian mengobrol sampai tidak menyahutku. Aku capek tahu teriak-teriak terus.” Namjachingu Jiyoo itu langsung duduk di sebelah Jiyoo dan seenaknya dia langsung menenggak habis jus yang bahkan belum ku sentuh sama sekali. Seenaknya saja dia.


“ya! Kim Heechul! Kau ini benar-benar-“


“apa?” belum selesai aku bicara ia sudah menatapku galak. Aku jadi ciut. Kenapa jadi dia yang memarahiku?


“aniyo.. lupakan.”


“memangnya kalian sedang ngobrol apa? Membicarakanku kah?” tanya Heechul dengan percaya diri tinggi.


“mwo? Maaf saja ya, lebih baik kami menggosipkan ddangkoma yang sebentar lagi akan kawin dengan kura-kura blasteran Afrika-Amsterdam (?) daripada membicarakanmu.”


PLETAK!


“Ya! Kim Heechul! Jangan memukul kepalaku seperti ini. nanti aku jadi bodoh..” aku mengelus kepalaku yang seenaknya dijitak olehnya.

__ADS_1


“kau memang sudah bodoh kan? siapa tahu dengan begitu bisa mengembalikan posisi otakmu yang bergeser ke tempatnya semula.”


Aku bersiap akan mengeluarkan balasan adu mulut padanya, tapi Jiyoo keburu menengahi kami. “sudahlah oppa. Jangan bertengkar dengannya. Kasihan Hyunjin, bagaimana kalau nanti otaknya tambah bermasalah?” Mwo? Aku kira dia akan membelaku. Ternyata mereka sama saja.


“ok, baiklah. Aku juga sedang tidak mood berkelahi dengannya.” Ia berkata seakan-akan aku yang duluan mengajaknya berkelahi.


“siapa juga yang senang berkelahi denganmu?” ucapku ketus.


“ya! panggil aku oppa! Aku ini lebih tua darimu. Dasar tidak tahu diri.”


Aku hanya diam tak ingin menggubrisnya lagi. Pura-pura tak dengar saja sepertinya lebih baik, daripada mulutku capek meladeninya.


“kau pura-pura tak mendengarku?” mulai lagi dia. Padahal aku sudah tak ingin ribut dengannya.


“memangnya kenapa kalau aku tak mau memaggilmu dengan sebutan oppa? Kau itu tak pantas ku panggil oppa.” Pasti setelah ini dia akan memarahiku, atau paling tidak kepalaku yang jadi sasaran.


Oh, tapi ternyata tidak. Ia malah tersenyum bangga. “ya, itu memang benar. Aku tak cocok kau panggil oppa, aku kan terlihat lima tahun lebih muda darimu.”


“MWO?” Aigo.. Dimana sih Jiyoo menemukan namjachingu sepertinya? Pasti dia asal pungut di jalan (?)


“permisi.. permisi.. maaf, aku tidak sengaja.” Beberapa kali aku menabrak orang yang sedang berjalan di sepanjang koridor, dan beberapa kali juga aku minta maaf pada mereka.


Ini gawat! Benar-benar gawat! Aku sudah terlambat 30 menit. Kyaa! Bagaimana ini? ini semua gara-gara semalam Minho mengajakku tanding Playstation sampai larut malam. Awas saja kau Choi Minho! Dia itu benar-benar dongsaeng yang menyebalkan. Sudah membuatku harus mentraktirnya karena kalah bermain, dan tadi pagi dia tak membangunkanku. Waktu aku bangun ternyata dia sudah berangkat sekolah. grr.. padahal sudah ku katakan untuk membangunkanku kalau aku kesiangan. Aku juga tak bisa mengharapkan appa, karena ia juga sama saja kesiangan sepertiku.


Hah, sekarang aku baru tahu rasanya menderita hidup tanpa oemma. Biasanya kan oemma yang akan membangunkanku jika bangun kesiangan –walaupun dengan guyuran air yang mungkin akan membuatku langsung mandi di tempat tidur, atau pun dengan suara melengkingnya yang bahkan lebih dahsyat dari alarm milik spongebob sekalipun. Sejak dua hari lalu oemma pergi ke rumah nenek di Daegu. Katanya nenek sedang sakit, dan ia menginap di sana. Jadi aku di tinggalkan bersama appa dan Minho di rumah, dan sudah bisa di pastikan selama itu pula rumah akan menjadi kacau.


Coba saja kalau aku punya jet pribadi, pasti aku tak perlu capek-capek mengejar bus dan ngos-ngosan sampai ke kampus seperti ini.


“Ya! awas!” seorang cleaning service berteriak histeris melihatku yang berlari kencang ke arahnya. Ternyata dia sedang mengepel lantai.


DUAKK!


Terlambat, aku sudah meluncur dengan suksesnya dan kini hanya bisa merintih kesakitan. aigo.. apa tulangku ada yang patah ya? sumpah deh, ini sakit sekali.


Beberapa orang yang ada di sekitar sini malah menertawakanku. Sepertinya mereka senang sekali melihat pertunjukkan sirkus gratis. Bukannya menolong, malah tertawa di atas penderitaan orang lain. Teganya mereka.

__ADS_1


“kau tak apa-apa?” sebuah suara lembut yang tidak begitu familiar tertangkap oleh radar pendengaranku, dan sebuah tangan terulur siap membantuku untuk berdiri. Aku mendongak untuk melihat siapa orang baik hati itu, dan detik itu juga jantungku serasa ingin melompat keluar –jika saja jantungku punya kaki.


Aku sedang mimpi kan? mimpi. Katakan ini mimpi!


“agashi.. kau baik-baik saja?” suara yang sangat merdu –menurut pendengaranku- itu bertanya lagi, membuatku sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Aku segera menyambut tangannya agar aku bisa bangun dari posisi yang sangat memalukan ini.


“kamsahamnida.” Ucapku berterimakasih sambil sedikit membungkukkan badan.


“cheonmaneyo.” Balasnya sambil tersenyum. kya! Aku bisa pingsan kalau dia terus tersenyum seperti itu.


“kau tak apa-apa kan?” ia bertanya lagi, dengan nada khawatir.


“nde, tidak apa-apa. Tadi itu sama sekali tidak sakit.” Aku mengangguk bohong. Bagaimana bisa aku tidak apa-apa setelah meluncur bak superman yang gagal mendarat seperti tadi?


“syukurlah. Kalau begitu.. bersihkan lukamu dengan ini. setelah itu kau harus mengobatinya.” ia mengulurkan sebuah benda dari sakunya. Dia memberiku saputangan. Dan lagi, ia peduli padaku? Sepertinya aku mimpi kejatuhan durian tadi malam.


“kam..sa..ham..ni..da..” entah mengapa suaraku jadi terbata-bata, itu saja sudah ku paksakan suaraku untuk keluar.


“cheonmaneyo. Tak usah berterima kasih sampai berulang-ulang begitu.”


“ya.. terima kasih.” Aku hanya bisa tersenyum bodoh padanya. Dia pasti berpikir aku orang yang aneh.


“ya sudah kalau begitu. Aku duluan ya, sampai jumpa!” ia tersenyum lalu melangkah pergi berlawanan dengan arah tujuanku tadi. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin menjauh sampai tidak terlihat lagi.


Aku menepuk-nepuk pipiku dengan keras, untuk memastikan sekali lagi. Sakit! Berarti ini bukan mimpi. Mungkin aku harus berterimakasih pada Minho, karena berkat dia aku jadi terlambat dan jatuh -meluncur- sehingga di tolong oleh seorang LEE DONGHAE.


Sepertinya aku harus mencatat hari ini sebagai hari besejarah di kalenderku. Kekeke..


Drrt..ponselku berbunyi, dan setelah ku lihat ternyata pesan dari Jiyoo.


*‘Heh, kau ada dimana sih? Tidak tahu ya kelas sudah di mulai sejak tadi? Matilah kau!’*


Begitulah isi pesannya. Dan itu membuatku tersadar akan satu hal. Aku benar-benar sudah terlambat.


Benar saja, saat sampai di ruangan semua sedang sibuk memperhatikan dosen yang mengajar di depan. Aku hanya cengengesan dan membungkuk minta maaf, syukurlah aku masih diizinkan masuk.

__ADS_1


Entah aku sudah gila atau apa, tapi wajah Lee Donghae terus saja memenuhi pikiranku. Aku jadi tidak bisa konsentrasi. Sial! Ada apa sih denganku? Sejak tadi hanya namja itu yang ada di kepalaku.


__ADS_2