
-Cho Kyuhyun’s POV-
Ia masuk ke dalam bus sambil tertawa-tawa. Dasar gadis aneh. Lihat saja besok aku akan menyiksamu. Tunggu saja!
Baru pertama kalinya aku menemukan orang seperti gadis ini. Dia ini pura-pura polos atau memang bodoh sih? astaga, aku bisa gila menghadapinya. Bicara dengannya selalu membuatku kesal. Choi Hyunjin, manusia macam apa sebenarnya kau ini?
Busnya sudah tak terlihat lagi. Aku tersenyum sendiri mengingat sejak kemarin aku menemaninya menunggu bus disini. Aku jadi seperti seorang ayah yang menemani putrinya menunggu bus untuk berangkat sekolah.
Dengan menahan dingin aku berjalan hendak pulang. Aku sudah tak mengambil kuliah malam lagi, itu sungguh merepotkan. Jadi aku memutuskan untuk kuliah pagi hingga siang, dan setelah itu baru aku bekerja di cafe.
Suasananya sungguh sepi, tempat ini memang tidak ramai. Tak banyak kendaraan yang melintas. Paling-paling hanya beberapa kendaraan umum saja.
Perasaanku sedikit tidak enak, aku merasa sedang diikuti. Apa jangan-jangan itu hantu? Oh, ayolah Kyuhyun, kau orang berpendidikan. Jangan percaya pada hal-hal seperti itu. Tapi suara langkah itu semakin mendekat. Aku bisa mendengarnya dengan jelas, karena dukungan keadaan sekitar yang sangat sepi ini.
Aku terus melangkah, namun aku penasaran dengan suara derap langkah seseorang dibelakangku. Tapi aku sendiri urung untuk berbalik melihat siapa pemilik langkah yang semakin mendekat itu. Aku sebenarnya tak begitu peduli, yang kuinginkan hanyalah segera tiba di rumah dan bergelung di balik selimut hangatku. Udaranya benar-benar dingin.
Sebisa mungkin berusaha ku acuhkan suara langkah itu. Mungkin saja ada pejalan kaki lain. Jalan ini kan bukan milik pribadiku, jadi bukan tak mungkin ada orang lain yang juga sedang berjalan disini. Tapi.. ini membuatku penasaran. Orang itu sepertinya berusaha menyamakan langkahnya denganku agar suara kakinya tak terdengar.
Aku mengeluarkan cermin kecil –maaf, tapi ini bukan untuk berdandan. Aku sering membawanya untuk berjaga-jaga mengantisipasi terjadinya kemungkinan seperti ini- dan melihat sedikit bayang manusia yang terpantul di cermin kecil ini.
Sedikit tak percaya, tapi aku hampir saja terpekik kaget mengetahui siapa orang di belakangku itu.
_
-Author’s POV-
Akhirnya Kyuhyun benar-benar yakin, pria misterius di belakangnya itu memang sedang mengikutinya.
“Cih. untuk apa dia menguntitku seperti ini?” Kyuhyun berdecak pelan tapi bersikap seolah ia tak mengetahuinya sama sekali. Sebisa mungkin ia berjalan tanpa mempedulikan orang itu. Hingga tiba di depan apartemen kecilnya, orang itu masih juga mengikuti Kyuhyun.
“akhirnya aku menemukanmu juga.” Pria misterius itu bergumam kecil di balik persembunyiannya. Tak tahu bahwa sang target sebenarnya sudah mengetahui keberadaanya.
_
Hyunjin duduk di kantin dengan lesu. Makanan yang ada di depannya hanya ia mainkan saja. Biasanya kalau sudah merasa bosan seperti ini satu-satunya “vitamin” baginya adalah melihat Donghae -meskipun hanya dari jauh. Tapi sekarang ia bahkan tak ingin mendekati namja itu barang sedetik saja. Ia terlalu lelah untuk jadi bulan-bulanan kekesalan Donghae.
Ia ingin mencurahkan semua masalah yang belakang ini menerpanya, tapi tak punya teman ngobrol. Sebenarnya ada Jiyoo di sebelahnya, tapi kalau sedang sibuk dengan namjachingunya ia pasti tak akan menganggap Hyunjin ada. Hyunjin seperti bicara dengan tembok saja jika Jiyoo sedang asik dengan Heechul, entah itu sms-an, telepon atau saling chatting.
“kenapa kau tidak makan makananmu?” Jiyoo meliriknya heran. Biasanya gadis itu nafsu makannya besar sekali, kenapa sekarang ia jadi seperti orang yang sedang berpuasa?
__ADS_1
“aku tidak lapar.” Jawab Hyunjin singkat. Jiyoo tak peduli dan tetap sibuk dengan ponselnya. Kedua pasangan kekasih –Jiyoo dan Heechul- itu pasti sedang menggosipkan tentang kucing tetangga, begitulah tebakan Hyunjin.
Jiyoo tertawa cekikikan sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas, Hyunjin menatapnya jijik, “kau seperti orang gila.”
“ya! apa katamu?” Jiyoo menatapnya garang, sementara Hyunjin tak peduli.
“aishh, dunia ini memang tak adil. Kenapa semua orang tak ada yang peduli dengan keluh kesahku?“ ucap Hyunjin mendramatisir sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
“sekarang apa lagi masalahmu?” tanya Jiyoo yang sudah menebak pasti ada apa-apa lagi dengan sahabatnya ini. “apa kau bermasalah lagi dengan pemuda cafe yang tampan itu? ah, siapa namanya?”
“ish, berhentilah menyebutnya “tampan” perutku langsung mual mendengarnya.”
“kau itu rabun atau apa? wajah namja itu seperti malaikat. Dia sungguh keren.”
“memangnya kau sudah pernah melihat malaikat?”
“tentu saja belum. Tapi aku bahkan tak perlu melihat malaikat yang sesungguhnya, dia mungkin lebih tampan dari malaikat.” Ungkap Jiyoo berbinar-binar. Hyunjin berharap temannya ini segera sadar dan tak tersesat lebih jauh lagi. Kasihan Heechul kalau sampai dia dengar ini, masa pacarnya sendiri memuji namja lain sampai seperti itu.
“aku jadi kasihan pada Heechul.” Hyunjin bergumam pelan. Untunglah Jiyoo tak mendengarnya, bisa-bisa ada sumpit yang terbang ke kepalanya.
“Hyunjin-ah, ceritakan padaku bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Donghae sunbae!” Jiyoo menatapnya antusias. Sepertinya ia bertanya bukan karena ingin tahu kondisi sahabatnya, tapi untuk mencari kabar sebagai bahan obrolan gosip bersama Heechul nantinya.
“waeyo? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja?” Jiyoo menatapnya penasaran. Ia tahu waktu itu Donghae masih bicara dengan tersenyum manis pada Hyunjin.
“aku malas membicarakannya. Ganti topik lain saja.” Ada apa dengan Hyunjin sampai seperti ini? bukankah Donghae itu belahan jiwanya? Biasanya Hyunjin akan sangat antusias kalau sudah di ajak bicara tentang Lee Donghae. Jiyoo benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Hyunjin sekarang.
“Kalau begitu ceritakan bagaimana pekerjaanmu di cafe. Apakah kau dapat banyak waktu untuk berdekatan dengan namja malaikat itu?” Hyunjin langsung memutar bola matanya saat Jiyoo menyebutkan dua kata itu lagi. ‘namja malaikat? Sudah kubilang dia itu iblis penjaga neraka.’ Hyunjin berteriak kesal dalam hatinya.
“bukan hanya banyak waktu untuk berdekatan lagi, aku bahkan selalu bersama-sama dengannya saat di cafe. Ia mengawasiku penuh saat jam kerja.”
“beruntungnya dirimu!” Jiyoo menatapnya iri.
“Mwo? Dia itu menyebalkan. Tak pernah tersenyum, sangat kejam dan tidak punya belas kasih. Kerjaannya hanya menindas orang yang lebih lemah. Mulutnya pun pedas dan senang menghina orang. Dari segi mana kau melihatku merasa beruntung?” Hyunjin mencurahkan segala unek-uneknya.
“ya! kenapa semua yang kau sebutkan hanya yang jelek-jeleknya saja?”
“memang seperti itu kenyataannya.” Ucap Hyunjin tak mau kalah.
“paling tidak kan dia punya sisi baik juga. Kau ini selalu berprasangka buruk pada orang lain.”
__ADS_1
Hyunjin berpikir sejenak. Sisi baik? apa sisi baik dari seorang Cho Kyuhyun? Mungkin sisi baiknya, Kyuhyun itu seorang pekerja keras dan terkadang menyenangkan. Garis bawahi, hanya terkadang.
_
-Choi Hyunjin’s POV-
Ponselku berbunyi tanda ada telepon masuk. Aku sedang malas mengangkat telepon dari siapapun. Pasti juga bukan telepon penting.
“hei, ponselmu tuh!” Jiyoo mengguncang-guncangkan bahuku. Aku terlalu malas bahkan hanya untuk mengangkat kepalaku dari meja ini.
Karena tidak tahan Jiyoo mengoceh terus, akhirnya ku raih ponsel yang ku letakkan di atas meja tadi, dan dengan malas aku mengangkatnya.
“kau tak tahu jam berapa ini? kenapa belum datang juga? Apa kau mau hukumanmu di tambah lagi?” baru saja ponsel ini tertempel di telingaku, suara dari seberang telepon langsung membuat telingaku terkena radiasi tingkat tinggi.
Cho Kyuhyun, tak bisakah sehari saja dia bicara dengan lembut padaku? Oh, aku rasa itu mustahil. Mungkin ia akan melakukan itu jika otaknya tertukar dengan malaikat.
“ne, aku akan datang. Tak perlu teriak-teriak seperti itu. kau pikir aku tuli?” aku balas membentaknya. Dia pikir cuma dia yang bisa marah?
“kalau begitu cepat datang! Disini sangat sibuk. Kami butuh bantuanmu.” Ia langsung mematikan teleponnya begitu saja. Dasar tidak sopan.
“darinya?” Jiyoo bertanya. Aku hanya mengangguk.
“aku akan pergi. Kurasa nanti malam aku tak bisa ke rumahmu untuk nonton film. Aku mau tidur nyeyak nanti malam, pasti hari ini aku akan sangat sibuk.” Dengan terpaksa aku harus membatalkan janji nonton dengan Jiyoo. Semua ini karena Kyuhyun.
Aku segera pergi ke cafe. Awalnya Jiyoo mau ikut denganku, tapi langsung ku tolak mentah-mentah. Aku tak mau melihat sahabatku ini kena guna-guna oleh Kyuhyun nanti.
_
Seperti biasa, baru saja menginjakkan kaki ke dalam cafe Kyuhyun sudah menyambutku dengan omelannya yang super pedas itu. Aku tak peduli dan segera pergi mengganti pakaianku. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan omelannya itu, malah akan terasa aneh kalau ia tak memarahiku.
Aku hendak berjalan ke dapur untuk mencuci piring. Pasti nanti juga ia akan menyuruhku mengerjakan itu, jadi dari pada aku mendengarnya mengomel lebih baik ku kerjakan saja sebelum ia suruh.
“mau kemana kau?” tanyanya yang langsung menghentikan langkahku menuju dapur. Aku berbalik padanya, “tentu saja ke dapur. Aku harus mencuci piring kan?”
“baguslah kalau kau sudah tahu tugasmu. Jangan lupa setelah ini ikut aku belanja. Hari ini Jongwoon hyung tidak masuk jadi kau dan aku harus menggantikannya sementara.”
“kenapa tidak kau saja yang pergi? kau bisa sendiri kan?” aku berusaha menolak. Aku paling malas kalau harus pergi belanja, pasti akan lama. Kalau dia tidak ada di cafe kan aku bisa besantai untuk sementara.
“aku tidak tanya kau mau ikut atau tidak. Aku kan bilang padamu supaya ikut denganku.” Kyuhyun langsung pergi begitu saja untuk mengantar pesanan. Apa-apaan dia? Seenaknya sendiri.
__ADS_1