
Wanita itu berdiri dengan tegang, sambil meremas-remas tangannya yang sudah mulai berkeringat dingin. Ketakutan sedang menguasainya saat ini, seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat mengerikan. Keragu-raguannya kembali datang, entah kemana lenyapnya keberanian yang sudah dia kumpulkan sebelumnya.
“Tuan Kim.” Sahutnya pendek. Pria di balik meja itu menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menatap lurus pada wanita di depannya.
“Akan menimbulkan kecurigaan jika sampai ada yang melihatmu masuk ke ruanganku, nona Hwang.”
“Aku mau bicara, soal―“
“―uang?” pria itu, Kim Jongmin menebak singkat.
“Anda bilang akan membantuku. Aku butuh uang lagi untuk pengobatan adikku.”
“Apa tidak cukup yang sudah kuberikan padamu waktu itu? Kau ingin memerasku, eh?”
Sekali lagi Hwang Miyoung meremas tangannya kuat-kuat, namun kali ini bukan karena tegang seperti sesaat tadi, namun karena ia sedang marah. Seenaknya saja pria tua itu bicara. Apa yang sudah dilakukannya terlalu besar untuk ditukarkan dengan sejumlah won yang mungkin tidak ada artinya sama sekali bagi pria itu.
“Aku tak akan memberikan apa-apa lagi, nona Hwang. Janjiku hanyalah melunasi hutangmu untuk menebus rumahmu yang disita oleh bank. Hanya itu kesepakatan kita bukan? Aku tak punya urusan apa-apa lagi denganmu.”
“Tuan Kim Jongmin!” Hwang Miyoung menyebut kasar nama itu, sejenak melupakan rasa hormat yang selama ini ditunjukkannya pada seseorang yang mempunyai jabatan lebih tinggi darinya. Ia melanjutkan, “Aku sudah mengorbankan diriku sendiri untuk melakukan keinginanmu. Aku bahkan mengkhianati atasanku dengan kesaksian palsu yang membuatnya terpenjara. Apa kau pikir uang yang kau berikan itu sebanding dengan yang sudah kulakukan? Adikku sedang sakit parah, dan aku sangat membutuhkan uang itu.”
“Kesepakatan tetaplah kesepakatan. Aku tak akan memberikan apa-apa lagi padamu.”
“Aku bisa saja meralat kesaksianku, dan itu akan merugikanmu.” Miyoung mencoba mengancam.
Kim Jongmin sedikit tersentak mendengarnya, namun sesaat kemudian ia masih bisa menujukkan senyum sinisnya, “Oh ya? Aku sedikit ragu. Jika kau melakukannya, bukankah kau juga akan ikut terseret? Ingat, nona Hwang, kita memegang kartu mati satu sama lain. Sebaiknya kita saling menjaga rahasia.”
Hwang Miyoung diam, ucapan pria itu benar. Jika ia melaporkan kebusukan pria itu, dirinya sendiri juga akan terseret karena telah memberikan kesaksian palsu yang menyebabkan seseorang tak bersalah merasa dirugikan.
“Sebaiknya kau segera keluar, sebelum ada yang melihatmu disini.”
Wanita itu tak bisa berbuat apa-apa. Ia berbalik, melangkah kasar menuju pintu keluar. Napasnya naik turun, terasa sangat sesak karena menahan tangis. Semua hal yang menimpanya kali ini benar-benar terlalu berat baginya. Ia tak sanggup menghadapi ini sendirian.
.....****
“Aku selalu berharap yang berdiri di altar bersamaku adalah dirimu, bukan orang lain.”
__ADS_1
*
Hwang Miyoung berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit, melangkah menuju ke sebuah ruangan. Langkahnya berat, seolah ada rantai besi yang sedang melilit kakinya saat ini. Napasnya sesak―mungkin baginya kini sudah tak ada lagi udara disekitarnya yang bisa memberikan kehidupan. Hanya kesialan dan penderitaan yang serta merta hadir mengisi hidupnya, bukankah itu sama saja hidup ini tak ada artinya lagi? Mungkin melarikan diri dari dunia ini adalah jalan keluar yang terbaik.
Bunuh diri. Ia pasti sudah melakukannya sejak dulu, jika tak ada malaikatnya yang masih berada disana dan membutuhkan dirinya. Ia pasti sudah lari dari semua ini, jika gadis itu tak ada bersamanya.
Miyoung sadar, satu-satunya yang membuat ia masih bertahan adalah karena adik perempuannya itu. Penyemangat hidupnya, sumber kebahagiaannya. Ia tak punya siapa-siapa lagi selain adiknya―setelah kepergian kedua orang tua mereka dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu―dan ia harus tetap kuat demi gadis kecil itu.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan. Ia menghela napas berkali-kali demi menenangkan diri, kemudian menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. Ia tahu riasannya sudah luntur akibat menangis tadi.
Miyoung membuka pintu itu, lalu masuk ke dalam. Masih menahan tangis, wanita itu berjalan mendekat ke arah ranjang. Disana terbaring seseorang, seseorang yang berarti besar dalam hidupnya.
“Seoyoung-ah.” Lirihnya pelan, sambil membelai wajah gadis yang sedang tertidur itu. Suara Miyoung tercekat saat memanggil namanya, rasanya sesak saat mendapati adik kesayangannya kini sedang tertidur dalam batas antara hidup dan kematian.
“Eonnie takut. Eonnie tak bisa melalui ini sendirian..” ia mulai terisak. Suaranya parau, begitu menggambarkan kesedihannya.
“Mengapa kau tak bangun dan menghibur Eonnie? Apa kau sudah tak sayang lagi padaku?”
Miyoung berharap Seoyoung akan langsung bangun dan mencium pipinya, sambil mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja, asal aku selalu bersama Eonnie”, seperti yang biasanya dilakukan gadis empat belas tahun itu saat melihat Miyoung bersedih. Tapi hal itu kini hanya bisa jadi ilusinya saja. Adiknya tak mungkin bangun―tidak sekarang.
Miyoung kembali menghapus aliran air mata di wajahnya. Wanita itu kemudian keluar dari ruangan tersebut.
“Aku baik-baik saja.”
“Kau sudah akan pergi?” tanyanya lagi, Miyoung hanya mengangguk menanggapi ucapannya.
Pria itu, Jung Yunho―yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit itu―tersenyum sekilas, “Kalau begitu sampai jumpa lain kali.”
Pria itu baru akan membuka pintu, ketika di dengarnya suara Miyoung memanggil namanya, “Dokter Jung!”
“Ya?” pria itu menoleh kembali, menatap Miyoung penasaran. Tapi Miyoung malah diam saja dan menatapnya penuh keraguan.
“Ada yang harus aku bicarakan. Bisa kita bicara sekarang?” ucap wanita itu akhirnya, setelah jeda beberapa detik. Dokter Jung melepaskan genggamannya dari handle pintu, kemudian mengangguk menyetujui. “Silakan ke ruanganku.”
Miyoung kemudian mengikuti dokter Jung dari belakang. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan dokter muda itu, dan ini menyangkut adiknya.
__ADS_1
“Silakan duduk.” Dokter Jung mempersilakan, setelah ia duduk di kursinya. “Apa yang ingin anda bicarakan?”
Miyoung diam, ia sedang berusaha untuk menyampaikan apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. Tapi akhirnya wanita itu pun memberanikan dirinya untuk bicara, “Bisakah.. bisakah pengobatan Seoyoung di hentikan saja?”
“Apa?” Dokter Jung memekik terkejut, matanya membulat sempurna setelah mendengar penuturan wanita itu. “Maksudmu, melepas alat-alat medisnya dan membiarkan Seoyoung meninggal? Apa kau sudah gila, nona Hwang?”
Tangan Miyoung bergetar hebat. Ia tak percaya hal seperti ini bisa ada dipikirannya.
Aku sudah gila. Ya, memang benar katamu, dokter. Aku memang sudah gila.
“Dia sudah koma selama dua tahun. Aku kasihan padanya, lebih baik dia pergi dengan tenang daripada harus menderita seperti itu.” Miyoung mulai menangis. Hatinya sakit mengatakan ini, tapi ia tak tahan lagi. Ia tak sanggup melihat adiknya menjadi mayat hidup seperti itu. Ia sudah tak sanggup lagi.
Jung Yunho benar-benar tak percaya pemikiran seperti itu bisa terlintas di benak wanita itu. “Kau menyayanginya, bukan?”
“Sangat. Justru karena aku menyayanginya, maka―”
“Banyak pasien yang masih bisa bangun setelah koma bertahun-tahun. Kau hanya perlu bersabar dan berdoa.”
“Tapi aku tak bisa bersabar lagi, aku tak mampu. Lagipula..” Miyoung menghentikan kalimatnya, tenggorokannya seolah tercekat, tak bisa bersuara.
“Ada apa? Katakanlah.” Dokter Jung menunggu Miyoung melanjutkan ucapannya.
“Aku sudah tak punya biaya untuk pengobatannya. Ini akan percuma.”
Dokter Jung menatap prihatin, ia menarik napas tenang kemudian tangannya terulur memberikan sapu tangan pada wanita itu. “Kalau soal biaya, mungkin aku bisa membantu. Kau tak boleh putus asa seperti ini.”
Miyoung menerima sapu tangan itu dengan ragu-ragu, “Aku tak ingin merepotkan siapapun. Kau tak perlu membantuku.”
Dokter Jung menatapnya marah, “Berhentilah berpikiran seperti itu! Aku melakukan ini juga demi Seoyoung. Dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri.”
“Aku tak mau berhutang budi padamu.”
“Nona Hwang, jangan berpikiran sempit. Kau pikir aku akan menuntut balas budimu? Sudah ku bilang, ini demi Seoyoung.”
“Mengapa kau emosional sekali, dokter? Kau tak ada hubungan apa-apa dengan kami. Kau tak perlu melibatkan diri dalam masalah ini.”
__ADS_1
“Aku dokternya!” dokter Jung membentak Miyoung, membuat wanita itu diam seketika. “Maaf, aku terbawa emosi.” Kata dokter Jung melembut, setelah menyadari raut wajah wanita didepannya terlihat terkejut. Tentu saja ia emosi, bagaimana bisa wanita itu tak mau menganggap kebaikannya? Ia ikhlas menolong, tapi Miyoung terlalu menutup diri.
“Aku permisi.” Miyoung berdiri, lalu menunduk singkat sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.