Bukan Dia

Bukan Dia
8


__ADS_3

Note: Semua sudut pandang (masih) dari Choi Hyunjin


______________________________________


Aku menginjakkan kaki secara perlahan di dalam rumah. Beruntung rumah tak terkunci. Bisa gawat kalau sampai aku tak bisa masuk, aku tak mau tidur di luar rumah.


Baru saja aku menutup pintu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. “dari mana saja kau baru pulang jam segini?” sontak aku langsung menoleh ke arah suara. Rupanya itu oemma. Dia belum tidur jam segini, apa dia sengaja menungguku pulang? mati aku! Aku memang tidak bilang apa-apa soal bekerja di cafe itu.


“a.. aku.. aku dari rumah Jiyoo. Tadi ada tugas kuliah dan ia membantuku.” Ucapku beralasan. Semoga saja oemma percaya.


“benarkah? Tapi kenapa tidak menghubungi rumah kalau kau akan pulang semalam ini?” sekarang oemma melipat tangan di dadanya.


“aku tadi lupa oemma, baterai ponselku juga habis. Mau telepon bagaimana?” ujarku beralasan.


“kau kan bisa pinjam ponsel Jiyoo.” Oemma memang tak mudah di bohongi. Mau alasan apa lagi? Masa aku harus bilang kalau ponsel Jiyoo hilang di jambret orang saat di bus. Mana dia mau percaya?


“Oemma, tak bisakah kau percaya pada anakmu ini?” aku berusaha memasang wajah sememelas mungkin. Siapa tahu oemmaku akan luluh.


“sebenarnya oemma sulit mempercayaimu. Tapi ya sudahlah.” Ia langsung pergi dan melangkah ke kamarnya. Apa-apaan oemma itu? memangnya aku anak yang tidak bisa di percaya? Eh, tapi kali ini aku memang bohong padanya sih. Tapi kan ini demi kebaikan.


Tiba-tiba oemma berbalik lagi tak jadi masuk ke kamar, “lalu itu mantel siapa? Sepertinya itu mantel pria.” Oemma menunjuk-nunjuk mentel yang Kyuhyun pinjamkan tadi dengan wajah penuh curiga. Sekali lagi, mati aku! Mau alasan apa lagi?


Aku berusaha keras memutar otak untuk mencari alasan yang logis. “ini milik kakak Jiyoo. Jiyoo meminjamkannya karena takut aku kedinginan.”


“oh.. ya sudah. Oemma mau tidur. Jangan lupa kunci pintunya.” Oemma menguap lalu masuk ke kamarnya. Kali ini benar-benar masuk. Ku rasa ia tak akan tiba-tiba keluar dan bertanya yang aneh–aneh lagi. Aku bisa bernafas lega sekarang.


Kurasa oemma memang benar-benar sudah mengantuk. Dia kan tahu sendiri kalau Jiyoo tak punya kakak laki-laki, saudara saja tak punya -Jiyoo itu anak tunggal. Ah, tak usah dipikirkan. Yang penting aku selamat.


_


“kata oemmamu, kemarin kau pulang malam. Benar begitu Hyunjin?” tanya appa saat kami sedang sarapan di meja makan. Aku langsung tersedak susu yang baru saja masuk ke tenggorokanku.


“i.. iya. Tapi aku dari rumah Jiyoo. Sungguh.. appa harus percaya padaku.” ucapku sambil mengangkat dua jariku. Maafkan aku Tuhan, untuk hal ini saja aku harus bohong lagi. Bisa gawat kalau sampai mereka mengetahui aku kerja di cafe karena memecahkan piring.


“iya iya.. appa percaya padamu.” aku langsung menghela nafas lega. Appa memang lebih pengertian di bandingkan oemma.


“kalau dari gelagatnya sepertinya dia bohong. Lihat saja dia langsung panik saat appa bertanya. Appa jangan mudah percaya padanya.” si mulut ember Minho tiba-tiba saja ikut bicara. Dia mencoba memojokkanku? Dongsaeng macam apa dia? Semoga saja appa tidak terpengaruh kata-katanya.


“aku tidak bohong. Sungguh.. aku kan anak baik, appa.” aku menatap appa minta dukungan.


“iya, appa percaya. Tapi lain kali kalau kau pergi hingga malam harus menghubungi kami. Paling tidak supaya kami tidak cemas. Kami takut ada apa-apa denganmu.”

__ADS_1


“sepertinya tak perlu mencemaskan noona. Tak akan ada yang mau menculiknya. Dia dijual juga tidak akan laku.” Ucap Minho sambil menggigiti roti bakarnya. Aku langsung melotot ke arahnya.


“Apa kau belum pernah menelan sendok Choi Minho?” aku mengacungkan sendok di depan wajahnya. Kebetulan ia duduk di hadapanku.


“appa, oemma, aku berangkat. Annyeong!” Minho cepat-cepat meneguk susu dan langsung bangkit dari duduknya, kemudian pergi begitu saja. Ku rasa ia takut pada ancamanku. Mau sok berani melawanku? Biar bagaimanapun dia tetaplah dongsaeng kecil yang selalu takut pada kakaknya.


_


“bereskan meja disana! Kau tidak lihat sudah sangat kotor?” si iblis penjaga neraka itu terus saja memerintahku. Sepertinya dia tidak pernah kehabisan pekerjaan untukku. Ada kotor sedikit saja aku langsung di suruh-suruhnya. “yang disana itu, ada tumpahan saus dimana-mana. Itu lagi! hei, seharusnya kau membawa piring-piring kotor itu ke belakang.”


Dengan malas-malasan aku melakukan apa yang diperintahkannya.


“ya! apa kau tidak makan seharian? Kenapa lemas begitu kerjanya? Semangatlah sedikit.” Dengan santainya ia berkata seperti itu sambil duduk dikursi. Mau tahu apa yang dia lakukan? Dia dengan enaknya duduk-duduk sambil melipat kaki seperti seorang bos. Cafe memang sedang sepi, karena jam makan siang sudah habis.


“nona Choi Hyunjin, apa kau tak bisa bekerja dengan lebih baik? lihat itu mejanya belum bersih.” Untuk pertama kalinya ia memanggil namaku dengan benar.


Gusar dengannya, aku langsung melemparkan serbet yang kugunakan untuk mengelap tadi dengan kasar ke atas meja. “kalau begitu kerjakan saja sendiri!”


“ya! jangan membantah! Cepat kerjakan saja!”


“kalau aku tidak mau?” ucapku masih dengan nada kasar. Enak saja dia bersikap seperti itu padaku. Aku kan bukan pesuruhnya.


Ia berdiri dari duduknya, kemudian mendekat ke arahku. “tidak ada alasan untuk menolak.” Ucapnya sambil menyentil dahiku. Lalu dengan tidak berdosanya ia pergi begitu saja.


Dengan penuh kekesalan aku menghempaskan tubuh di kursi. Untunglah kebetulan cafe ini sedang tak ada pengunjung. “Sabar Choi Hyunjin. Setelah tujuh hari kau tak akan melihatnya lagi.” aku berusaha menyemangati diriku. Anggap saja ini salah satu cobaan hidup yang diberikan Tuhan untukku.


“kau cekcok lagi dengannya ya?” ujar sebuah suara seorang namja yang baru saja duduk di sebelahku. Ku rasa semua pegawai di cafe ini sudah tahu kalau aku dan Kyuhyun tak pernah akur. Padahal baru dua hari aku bekerja disini.


“ya, dia itu menyebalkan sekali. Kenapa semua orang bisa tahan di dekatnya, Jongwoon-ssi?” tanyaku sambil menoleh ke arah namja itu. ia memang cukup dekat dengan Kyuhyun.


Ia tertawa mendengar pertanyaanku, “memang dia sedikit menyebalkan.” Ucapnya terkekeh. Mwo? Sedikit apanya? “tapi kalau kau sudah betul-betul mengenalnya, kau akan tahu dia orang yang sangat baik.” lanjutnya lagi. terima kasih, tapi aku tak ingin terlalu mengenalnya.


“ku rasa dia menyukaimu, makanya dia begitu.” Jongwoon memiringkan kepalanya dan menatapku mencoba meyakinkan. Sampai dunia terbalik pun aku tak akan percaya.


“bagaimana kau bisa berpikiran begitu? Kyuhyun itu senang sekali menjajahku. Tak mungkin ia menyukaiku.”


“hanya menebak. Tapi kita tak pernah tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Bisa saja apa yang ia lakukan berbanding terbalik dengan perasaannya.” Namja ini bukan peramal kan? tak mungkin tebakannya benar. Jongwoon kemudian berdiri. “jangan membencinya. Atau nanti rasa benci itu akan berbalik menjadi cinta.“ ia menepuk bahuku singkat dan langsung pergi. Bicara apa dia? Aneh sekali.


_


Kami berbaris rapi di sepanjang pintu masuk demi menyambut kedatangan Tuan Lee –pemilik cafe ini. Kakiku sudah kram karena berdiri terus. “akan sampai kapan sih kita menunggunya? Kenapa belum datang juga? Aku sudah pegal sejak tadi terus berdiri disini.”

__ADS_1


“jangan cerewet! Hanya disuruh berdiri saja kau masih bisa protes. Apa hidupmu itu hanya kau habiskan untuk mengeluh?” Kyuhyun yang berdiri di sebelahku langsung memarahiku. Orang ini tak bisakah sekali saja tak mengomeliku? Dia sekarang lebih mirip oemmaku yang cerewet itu.


“baiklah, aku akan diam.” Aku menggerakkan jariku di dekat bibir, membuat gerakan seolah sedang mengunci mulutku. Lebih baik aku diam saja agar ia juga diam. Aku lelah mendengarnya terus mengomel.


Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan cafe. Kami semua langsung bersiap-siap untuk memberikan penyambutan. Aku tak sempat melihat orang yang keluar dari dalam mobil itu, karena kami semua langsung membungkukkan badan begitu ia keluar mobil.


“selamat datang Lee sajangnim!” koor kami begitu orang itu masuk ke dalam cafe. Aku sedikit melirik ke arahnya begitu ia melintas. Sepertinya ia tak sendiri, ada seorang lagi di belakangnya. Saat mereka sudah lewat, kami langsung kembali ke posisi semula.


“ah, pegalnya. Padahal hanya membungkuk sebentar saja bahuku sudah sakit begini.” Aku menepuk-nepuk bahuku yang terasa seperti habis mengangkut berkarung-karung beras. Kyuhyun langsung melirikku tajam begitu mendengarku kembali mengeluh. Aku nyengir ke arahnya dan menunjukkan kedua jariku tanda aku tak mau cari ribut dengannya.


“selamat datang kembali. Bagaimana perjalanan anda ke Jepang sajangnim?” sambut Manager Park pada Lee sajangnim itu.


“kabarku baik, perjalanannya lancar. Cabang yang baru kita buka disana lumayan sukses.” Ucap Lee sajangnim sambil menyambut jabatan tangan manager Park. Wow! Ku rasa beliau orang yang sangat sukses, buktinya saja sampai membuka cabang di Jepang.


“Bagaimana keadaan cafe ini Manager Park? sudah lama aku tak berkunjung kesini.”


“sejauh ini. semuanya lancar.” Jawab Manager Park. “ini.. apa dia tuan muda Lee?” ia menunjuk orang yang sedari tadi berdiri di sebelah Lee sajangnim. Aku tak bisa melihat wajahnya karena ia membelakangi kami yang disini.


“annyeonghaseyo, manager. Lama tak berjumpa.” Orang itu membungkuk sopan.


“ah, ternyata memang benar tuan muda Lee. Kau sudah semakin dewasa saja. Terakhir aku melihatmu kau masih pakai seragam SMU. Benar kan?” manager Park tertawa renyah, begitu pun kedua orang lainnya.


Lee sajangnim kemudian berbalik menghadap kami -para pegawai yang tadi membungkuk menyambut kedatangannya. “sepertinya ada beberapa pegawai baru. Ada wajah-wajah baru yang belum pernah ku temui.” Ia tersenyum pada kami semua.


“bisakah kalian memperkenalkan diri? Supaya aku bisa mengingat nama-nama pegawaiku.” Tanyanya ramah. “oh ya, sekalian juga aku ingin memperkenalkan cucuku. Dia yang mungkin akan meneruskan usahaku nantinya.” Lee sajangnim menepuk pelan bahu pemuda yang masih membelakangi kami, ia kemudian berbalik. Dan aku yakin pasti mataku sudah melotot lebar sekarang megetahui siapa cucu Lee sajangnim itu.


“annyeonghaseyo, Lee Donghae imnida. Mohon bantuannya.”


“Ne!” semua balas membungkuk, kecuali aku. Aku masih terlalu kaget mengetahui dia ada disini. Kyuhyun dengan seenaknya menarik kepalaku untuk ikut menunduk. Dasar dia ini.


Donghae sepertinya juga kaget melihatku, tapi kemudian ia pasang ekspresi sewajar mungkin. Aku berusaha untuk tidak memandangnya. Bisa mati kalau dia mengadukan ini pada orangtuaku.


“saya Kim Ryeowook. Koki baru disini. Annyeonghaseyo sajangnim. Mohon bimbingannya” Ryeowook langsung membungkuk singkat. Ia juga baru, tapi ia dua hari lebih dulu bekerja sebelum aku.


Sekarang giliranku. “saya.. Choi.. Hyunjin. Mohon bmbingannya.” Dengan jantung yang masih berdegup-degup aku membungkuk singkat. Donghae, berpura-puralah tidak mengenalku.


“bagaimana pekerjaan kalian disini? apakah menyenangkan?” tanya Lee sajangnim penuh keramahan.


Ryeowook mengangguk sambil tersenyum, “semua rekan-rekan disini baik pada kami.”


“ne, tentu saja.” aku ikut tersenyum. Tentu saja sangat menyenangkan disini jika saja Kyuhyun tak memperlakukanku seperti pesuruhnya.

__ADS_1


“Kalau begitu kalian kembalilah bekerja.” Manager Park memberi perintah pada kami. “Anda ingin berkeliling sajangnim?” tanyanya pada Lee sajangnim dan di balas anggukan dari pria tua itu.


__ADS_2