
“Nona Hwang, keluarlah! Ada yang ingin menemuimu.” Seorang jaksa wanita menghampirinya dan membimbing wanita itu menuju tempat berkunjung. Seseorang yang katanya ingin menemuinya itu sedang duduk menunggunya. Hwang Miyoung masih dijadikan tahanan kejaksaan saat ini, demi proses penyelidikan lebih lanjut.
“Tuan Choi!” Miyoung sedikit terkejut melihat pria itu. Ia merasa malu, tak berani menunjukkan wajahnya di depan pria yang pernah menjadi atasannya selama satu tahun belakangan.
“Bagaimana kabarmu, Nona Hwang?”
Suara Miyoung tercekat, tak mampu menjawabnya. Pria di depannya ini bertanya bagaimana kabarnya? Setelah apa yang telah Miyoung lakukan, mantan atasannya itu masih bisa tersenyum ramah seperti itu? Ia jadi benar-benar merasa seperti orang jahat.
“Sebenarnya tidak. Aku merasa sangat buruk sekarang, Tuan Kim.” Dengan susah payah gadis itu akhirnya bisa mengeluarkan suara.
“Aku tahu alasanmu melakukan hal ini.” ucap Choi Minhwa, Miyoung semakin tertunduk malu. “Mengapa kau tak pernah bilang soal adikmu? Mungkin aku bisa membantu.”
Miyoung mengangkat wajahnya dan menatap pria yang mungkin seumuran dengan ayahnya―jika beliau masih hidup―dengan pandangan tak percaya. Gadis itu pikir Choi Minhwa akan memakinya, mengeluarkan sumpah serapah untuk meluapkan semua emosinya. Demi Tuhan! Miyoung telah membuatnya terjerat di balik jeruji besi. Dan ternyata, pria itu malah bersikap seperti ini. Berbicara dengan penuh ketulusan. Miyoung bisa merasakan kasih sayang yang terpancar dari mata pria itu, sesuatu yang sudah lama tidak didapatkannya dari orang tua yang telah lama meninggal.
“Aku atasanmu―itu jika di kantor―dan bukankah sudah pernah ku bilang untuk menganggapku ayah sendiri di luar jam kerja? Mendiang ayahmu dan aku sudah berteman sejak lama, kau sudah ku anggap putriku sendiri. Kau bisa meminta bantuanku saat sedang kesulitan, daripada harus menuruti kemauan orang-orang yang hanya memanfaatkanmu demi kepentingan mereka sendiri.”
__ADS_1
“Tidak, saya tidak ingin merepotkan anda lagi. Saya sudah sangat berterima kasih anda mau memberikan pekerjaan kepada saya, dan itu sudah lebih dari cukup. Lagipula saya bukan sekretaris anda lagi sekarang. Saya akan segera memberikan surat pengunduran diri―walau saya tahu, tanpa itu pun saya akan dipecat.”
“Aku tidak menganggap ini sebagai hal yang merepotkan. Dan kata siapa kau dipecat? Aku yang berhak menentukan kau masih bekerja atau tidak, aku atasanmu. Kau akan kembali bekerja, segera.”
“Apa maksud anda? Tapi saya sedang di tahan disini, dan―”
“Kau akan segera dibebaskan, nona Hwang.” Gadis itu baru saja membuka mulutnya, akan menyela saat Choi Minhwa kembali berkata, “Aku tidak akan menuntutmu. Kau akan bebas.”
Miyoung menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar. Ia benar-benar terharu. Dari sekian banyak yang tidak menginginkannya, masih ada orang sebaik pria ini. Memang orang tuanya dan Tuan Choi pernah saling mengenal, tapi apa yang dilakukan tuan Choi ini sangat besar. Lebih dari sekedar berbaik hati kepada teman… seperti benar-benar keluarganya.
....
*
z
__ADS_1
z
*
*
*
*
****Hidup tak mungkin benar-benar sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Tuhan selalu memberikan manusia pilihan, tinggal kau sendiri lah yang harus menentukan jalan mana yang akan kau ambil.
Pilihanmu mungkin akan membawamu kepada sesuatu yang tidak kau inginkan.
__ADS_1
Tapi percayalah, tidak sepenuhnya itu buruk. Pasti ada sesuatu yang baik di setiap pilihanmu.****