Bukan Dia

Bukan Dia
32


__ADS_3

Sampai di luar, air mata Hyunjin jatuh begitu saja. Ia tak peduli biarpun orang-orang melihatnya dengan tatapan heran. Ia tak peduli. Yang ia inginkan saat ini hanyalah menghilang sejauh-jauhnya. Ia benci pada Kyuhyun, benar-benar membenci namja itu.


“kau bodoh, Choi Hyunji. Kenapa kau masih saja mengharapkannya? Dia itu hanya mempermainkanmu. Mana mungkin Kyuhyun menyukaimu? Mimpi saja kau.” Hyunjin berjalan sambil terus menghapus air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Ia kembali menyesali kebodohannya. Mencintai seseorang yang sama sekali tak punya perasaan padanya, benar-benar terasa menyakitkan.


“maafkan aku.” Hyunjin terkejut bukan main, tiba-tiba saja seseorang menariknya dari belakang, membalikkan tubuhnya, dan langsung mendekapnya erat.


Hyunjin mendongak, dan ia sama sekali tak menduga akan kehadiran orang itu.


“D.. Donghae?” ucapnya dengan suara bergetar. Donghae tak melepaskan pelukannya, tetap mendekap gadis itu seolah takut ia akan menghilang jika melepaskannya. Ia tak ingin kehilangan gadis itu lagi untuk kali ini.


“maafkan aku, ini semua karena diriku.”


Hyunjin tak berkata apa-apa lagi, ia menangis di bahu Donghae hingga baju namja itu kini basah oleh air matanya. Mengapa ia begitu bodoh? ada Donghae yang menantinya, mengapa ia masih saja mengharapkan Kyuhyun yang sama sekali tak menghiraukan kehadirannya?


“menangislah kalau itu bisa membuatmu lebih tenang. Aku akan meminjamkan bahuku kapanpun kau butuhkan.” Donghae menenangkannya, perlahan ia melepas dekapannya dari gadis itu.


“Kau mau pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri?” tanya Donghae lagi. Hyunjin hanya mengangguk, mungkin ia memang harus menenangkan dirinya dulu untuk saat ini.


“baiklah, bagaimana kalau kita ke sungai Han?” tanya Donghae memberi usulan, tapi sebelum Hyunjin menjawabnya, ia sudah menarik tangan gadis itu menuju mobilnya.


Kyuhyun menggertakkan rahangnya kuat-kuat, hatinya sakit melihat di kejauhan Donghae sedang memeluk Hyunjin. Seharusnya ia sudah tahu hal ini akan terjadi. Untuk apa tadi ia berlari mengejar Hyunjin kalau pada akhirnya malah akan menyaksikan pemandangan seperti itu?


Kyuhyun berlalu dari tempatnya berdiri, bersamaan dengan mobil Donghae yang melesat pergi. Perasaan apa ini? mengapa hatinya terasa begitu menyesakkan? Seperti ada sesuatu yang menancap dalam disana.


Ia sadar, ucapannya tadi benar-benar sangat keterlaluan. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri, sama sekali tidak memikirkan perasaan gadis itu. Menganggap hal itu seperti permainan yang tak penting. Tapi hal itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia ingin melakukan apa saja untuk menghindarkan Hyunjin dari namja lain. Tapi tentu saja, ia tak punya hak untuk itu atas Donghae. Ia bukan siapa-siapa bagi Hyunjin, berbeda dengan Donghae.


___


“jadi, bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun?” tanya Donghae saat sedang berdua dengan Hyunjin melihat pemandangan sungai Han yang indah di malam hari. Hyunjin duduk di kursi di tepi sungai, sedangkan Donghae berdiri menghadap ke arah sungai.


Hyunjin menoleh, merasa kaget dengan pertanyaan gamblang Donghae barusan. “hubungan bagaimana?”


“apa kalian bertengkar?”


Hyunjin hanya menggeleng. Mereka memang tidak bertengkar, mungkin dirinya saja yag terlalu berlebihan menanggapi gurauan Kyuhyun –yang menurutnya adalah hal serius- itu.

__ADS_1


“kau menjalin hubungan dengannya kan?” tanya Donghae lagi. Gadis itu tak mejawab. Sadar wajah Hyunjin semakin bingung, Donghae akhirnya mengeluarkan kalimat yang sebenarnya sama sekali tak ingin ia ucapkan. “apa kau pacaran dengannya?”


Hyunjin tersentak, namun sedetik kemudian ia langsung menggeleng lemah. Seulas senyum merekah di bibir Donghae. Rupanya begitu, Hyunjin dan Kyuhyun tak pernah menjalin hubungan seperti apa yang ia kira. Jadi, bukankah itu berarti kesempatan untuknya masih terbuka lebar? Ia bisa merebut hati gadis itu sekali lagi.


“Hyunjin-ah..” Donghae mendekat dan kini ia sudah duduk di samping gadis itu. “sekali lagi ku katakan, aku mencintaimu. Maukah kau jadi yeojachinguku?”


Deg..


Hyunjin kaget, merasa sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Donghae barusan. namja itu memang sebelumnya pernah bilang ia menyukainya, tapi sama sekali belum memintanya secara langsung seperti ini.


“Tapi-“


“Tak perlu di jawab sekarang, aku bersedia menunggu hingga hatimu terbuka sepenuhnya untukku.” Donghae menggenggam tangan Hyunjin dan meletakkannya ke dadanya. “aku tulus, kau tak perlu meragukanku.”


“maafkan aku, Donghae-sshi.. aku terlalu jahat padamu.” Hyunjin benar-benar merasa bersalah pada Donghae. Rasanya ia sangat kejam mengabaikan Donghae begitu saja.


“tidak, kau tidak jahat. Aku mengerti perasanmu. Dan satu lagi, bukankah sudah ku bilang untuk memanggilku ‘oppa’? apa kau lupa.” Donghae terkekeh sambil mengacak pelan rambut Hyunjin. Hyunjin mengangguk, perlahan bibirnya membentuk senyuman. Setiap berada di dekat Donghae, ia selalu merasa tenang. Bahkan jauh sebelumnya pun, hanya dengan menatap wajahnya saja Hyunjin bisa merasakan kedamaian di hatinya. Apakah ia bisa mulai mencintai namja itu lagi? Entahlah.


“baiklah, sepertinya kita harus pulang sekarang.” ujar Donghae sambil menunggu persetujuan Hyunjin. Setelah melihat anggukkan kepala dari gadis itu, ia berdiri dan mengulurkan jemarinya sambil tersenyum. “Ayo..”


___


Hyunjin yang sedang makan lantas menoleh, menautkan kedua alisnya bingung. Memang ada yang salah? ia merasa sangat lapar hari ini karena kemarin ia tak makan sesuatu yang bisa mengenyangkan. Ia terlalu sibuk berfikir tentang masalah cintanya sampai-sampai tak punya waktu hanya untuk sekedar makan.


Mengapa Jiyoo melihatnya sampai seperti itu? padahal ia hanya makan tiga mangkuk mie -dan sebenarnya itu masih kurang, ia masih sangat lapar. Namun sedetik kemudian Hyunjin tertegun menyadari sesuatu, “aku sudah makan sebanyak ini ya?”


“memangnya siapa lagi yang makan? kau pikir mangkuk-mangkuk ini milikku?” sindir Jiyoo sengit. Tapi ia cukup senang dengan hal ini. Beberapa hari belakangan ia selalu melihat Hyunjin seperti tidak punya semangat hidup, tapi melihat nafsu makannya yang seperti sudah berhari-hari tidak makan seperti ini setidaknya gadis itu sudah tidak frustasi lagi memikirkan kisah cinta konyolnya.


“Kau sudah meminta kepastian darinya?” Jiyoo menatap Hyunjin penasaran. Hyunjin terdiam sejenak, lalu berusaha menelan makanan yang entah kenapa tiba-tiba seperti tersangkut di tenggorokannya. Kenapa Jiyoo harus mempertanyakan hal itu? ini membuatnya teringat lagi dengan Kyuhyun. Sudah susah payah ia mencoba mengenyahkan namja itu dari pikirannya, kini bayangan wajah Kyuhyun kembali lagi.


“siapa?” tanya Hyunjin berpura-pura tak tahu. Padahal ia tahu jelas siapa yang dimaksud Jiyoo tadi.


“namja itu. err.. Kyuhyun?” Ujar Jiyoo sambil mencoba mengingat-ingat namanya. Ia ingin menyebutnya ‘namja malaikat’ tapi takut Hyunjin akan menelannya saat itu juga.


“ia yang bilang sendiri padaku untuk melupakan hal itu. Mungkin saat itu ia tak serius mengatakannya. Jadi untuk apa ku pikirkan?” Hyunjin mengedikkan bahunya ringan. Ekspresi wajahnya ia buat setenang mungkin, menyembunyikan rasa sakit yang tiba-tiba datang lagi menghantam dadanya.

__ADS_1


“benarkah?” tanya Jiyoo terkejut. Bukankah hal itu yang membuat Hyunjin frustasi belakangan ini? kenapa sekarang ia bisa bersikap setenang itu?


“dan sekarang, mungkin aku akan mencoba memikirkan hubungan yang serius dengan Donghae oppa.”


Jiyoo kembali terkejut, “bagaimana bisa? Katanya kau sudah menolaknya. Dan.. sejak kapan kau memanggilnya ‘oppa’?”


“hei, ekspresimu tak perlu sekaget itu juga kan? memangnya ada yang salah? ia mencintaiku, dan begitupun sebaliknya. Ku kira kami sudah saling cocok sekarang.” Hyunjin menyeruput jus di gelasnya. Rasanya ia ingin tertawa saja melihat wajah Jiyoo yang seperti orang bodoh.


“kau mencintainya? Bukankah kau sudah tak menyukainya lagi?” tanya Jiyoo tak percaya.


Hyunjin kembali tertegun, pertanyaan Jiyo barusan benar-benar menusuk. “aku bisa mencoba untuk mencintainya sekali lagi.”


Jiyoo mendengus, tak puas dengan jawaban Hyunjin tadi. “aku bingung dengan hubungan kalian. Orang-orang aneh!”


“ya! bukankah kau dan namjachingumu itu yang aneh? Lalu dimana dia sekarang? sudah lama aku tak melihatnya.” Hyunjin berusaha mengalihkan pembicaraan. Terlalu sakit rasanya -bahkan hanya untuk menyebut nama Kyuhyun- membicarakan hal itu.


“ngg? Heechul oppa sedang sibuk-sibuknya saat ini. Sebentar lagi dia kan sudah akan lulus.”


“oh ya?” Hyunjin terlihat antusias mendengarnya, memang sudah beberapa minggu ini ia tak melihat Heechul.


“benar. Dia akan segera jadi dokter hewan, dan melamarku, lalu kami menikah dan punya anak, hidup bahagia selamanya.”


“kenapa pikiranmu bisa sejauh itu? memangnya kalian mau langsung menikah?”


“kalau dia melamarku, tentu saja akan langsung ku terima.” Ucap Jiyoo sambil berbinar-binar.


Hyunjin mendelik jijik, duo pecinta kucing itu menikah? Ah, mungkin mereka akan segera mengadopsi kucing untuk dijadikan anak-anak mereka. “cih, terus saja mengkhayal. Di bahkan belum benar-benar akan lulus kan?”


“ya! aku yakin kok dia pasti berhasil.”


Hyunjin meletakan mangkuknya, ia sudah merasa kenyang sekarang. “baiklah, ku rasa sudah waktunya pergi ke cafe.” Ia meraih tasnya dan bersiap akan berdiri.


“kau masih bekerja disana?” tanya Jiyoo tak percaya. Apakah Hyunjin masih punya nyali untuk bertemu dengan namja itu? benar-benar gadis yang tak bisa di tebak isi pikirannya.


“hanya tinggal dua hari. Setelah itu mungkin aku tak akan melihatnya lagi selamanya.” Hyunjin tersenyum dan langsung keluar dari cafetaria campusnya itu.

__ADS_1


Benar, hanya tinggal dua hari, dan ucapkan selamat tinggal pada Cho Kyuhyun.


___


__ADS_2