
Note: Semua sudut pandang (masih) dari Choi Hyunjin
“Tentu saja. Kau memang harus mengganti kerugiannya, tapi tidak dengan uang.” Aku langsung menatapnya penuh tanya. Tidak dengan uang? Lalu apa?
“kau-” ia menunjuk-nunjuk hidungku. “-harus menjadi pelayan disini. Membantu mengerjakan pekerjaanku selama seminggu, baru ku anggap hutang-hutangmu lunas.” Aku langsung membelalakkan mata tak percaya. Apa dia sudah gila? Aku kan tidak sengaja menabraknya. Lagipula piring yang pecah tidak banyak. Kenapa harus seperti ini?
“kau gila?”
“kalau tidak mau aku akan melaporkanmu pada bosku. Kau tahu? Dia itu sangat galak. Minggu lalu ada pengunjung yang tidak sengaja memecahkan sebuah gelas, dan ia langsung di tendang keluar.” kejam sekali bosnya.
“bohong. Mana mungkin seperti itu?”
“ya sudah kalau tidak percaya. Mau aku laporkan pada bosku?” ia bersiap akan pergi, langsung saja aku menahan tangannya. “kau tidak serius kan?”
“mau bukti?”
“baiklah.. baiklah. Aku akan menuruti perintahmu. Tapi hanya satu minggu kan?” ia mengangguk dan tersenyum mengerikan. Sumpah, senyumannya terlihat seperti iblis.
_
Aku kembali ke tempat dudukku tadi. Jiyoo sedang senyum-senyum sambil memainkan ponselnya. Pasti dia sedang sms-an dengan Heechul.
“hei, kau kenapa? Apa di toilet tadi kau bertemu hantu? Mukamu seperti orang ketakutan.” tanyanya sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas. Aku mengangguk, “hantunya sangat seram.”
“Mwo? Benarkah?” wajahnya langsung terkejut. Jiyoo paling takut dengan hal berbau gaib seperti hantu.
“aku hanya bercanda. Kau ini mudah sekali percaya.” Aku sedikit menertawainya. Jiyoo mendengus kesal dan memukul lenganku. “Ya! itu sama sekali tidak lucu.”
“maaf.. maaf.. habisnya aku sedang kesal.”
“aku tahu kau sedang ada masalah dengan Donghae sunbae, tapi jangan mempermainkanku begitu.” Ia menekuk wajahnya marah.
“Bukan itu! masalah yang ini beda lagi.” ujarku agak keras. Ia memandangku seolah bertanya –apa lagi sekarang?-
“tadi aku bertemu seorang pria-”
“mwo? Baguslah, tampaknya kau sudah menemukan pengganti Donghae.” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, gadis itu sudah menyelanya duluan.
__ADS_1
“apanya? Kau tahu? Aku kan tidak sengaja menabraknya. Dan dia menyuruhku kerja disini selama seminggu.” Ceritaku dengan kesal. Masih terbayang dengan jelas wajah namja menyebalkan itu.
“MWO? Hahaha.. kau ini ada-ada saja.” Bukannya ikut prihatin, Jiyoo malah tertawa keras.
“Ya! kenapa malah tertawa? Aku kan sedang kena musibah.”
“jadi kau akan bekerja disini?” tanyanya setelah mampu meredakan tawa menyebalkannya itu.
“aku tak punya pilihan.”
“ah, aku mau pesan hot chocolate.” Aku langsung memandang Jiyoo takjub. Dia sudah pesan dua vanilla late tadi, sekarang mau hot chocolate lagi?
“pelayan!” Jiyoo memanggil pelayan untuk memesan. Seorang pria bertubuh kurus tinggi menghampiri meja kami. Dan saat itu juga bisa ku rasakan kekesalanku semakin memuncak.
“ada yang bisa saya bantu?” tanya pria itu bersiap akan mencatat pesanan Jiyoo, sedangkan yang di tanya malah diam terpaku. Aku menyenggol lengannya dan membuatnya langsung tersadar.
“ah, i.. iya. Apa katamu?” tanyanya gelagapan. Aigo.. gadis ini bikin malu saja. pria itu sempat melirikku sinis, aku langsung memalingkan wajahku ke arah jendela –tak mau menatap pria itu. pemandangan di luar jauh lebih indah daripada dia.
“anda mau pesan lagi?” tanyanya ulang.
“baiklah, tunggu sebentar.” Pria itu langsung pergi. Aku memandang jengah ke arah Jiyoo yang wajahnya tampak berseri-seri.
“aku melihat malaikat.” Ujarnya berbinar-binar.
“Mwo?”
“namja tadi tampan sekali. Kya..” ujarnya heboh. Kurasa minusnya sudah parah. Malaikat katanya? Namja itu bahkan terlihat seperti iblis penjaga neraka. (Jangan tanya aku tahu darimana, aku sendiri juga tidak tahu iblis penjaga neraka itu seperti apa rupanya. Aku kan belum pernah lihat .__.)
“dia namja yang tadi ku ceritakan.” Ucapku setengah berbisik.
“benarkah?” tanyanya kaget. Aku langsung mengangguk.
“kau beruntung sekali.” Ucapnya dengan nada iri. Eh? Kurasa otaknya sedang bergeser sedikit. Terlalu lama berpacaran dengan Kim Heechul membuatnya jadi linglung.
“aku sama sekali tak merasa beruntung.”
“aku mau menggantikanmu kalau kau mau..” Jiyoo memandangku penuh harap. Apa dia serius? Aku rasa otaknya sedang konslet.
__ADS_1
“permisi.. ini pesanan anda.” Entah dari mana datangnya manusia ini, tiba-tiba saja dia sudah ada di hadapan kami.
“terimakasih.” Jiyoo tersenyum lebar padanya. namja itu tak sama sekali tak membalasnya, ia hanya membungkuk singkat dan pergi begitu saja.
“kau lihat? Dia bahkan tak membalas senyummu.” Aku mencoba menyadarkan Jiyoo agar tak tersesat lebih jauh untuk menyukainya. Ah, tapi itu sepertinya tak mungkin. Jiyoo itu tipe wanita setia. Dia bahkan dua kali lebih mencintai Heechul daripada Hyunbin –Hyunbin yang ku maksud disini bukan Hyunbin yang aktor itu, Hyunbin adalah kucing jantan milik Jiyoo.
“justru itulah yang membuatnya terlihat sangat keren.” bela Jiyoo. Alasan macam apa itu? itu sih namanya tak punya tata krama.
“hah.. baiklah. Terserah kau saja. Aku mau pulang.” aku berdiri dan mengambil tasku. “kau yang bayar ya Jiyoo..” secepat mungkin aku langsung kabur dari hadapannya. Dapat ku dengar Jiyoo yang mengomel kesal di belakangku.
_
Dengan tidak bersemangat, pulang dari kampus aku langsung menuju cafe itu. Untunglah letaknya tak terlalu jauh dari kampusku, jadi jalan kaki saja bisa cepat sampai.
Baru saja menginjakkan kaki di dalam, aku langsung di sambut omelan namja mengerikan itu. “hari pertama bekerja saja kau sudah terlambat. Huh..” dapat ku dengar ia mendengus kesal.
“maaf..” aku tersenyu ke arahnya. Jangan berharap ia akan membalas senyumku. Ouhh.. tanpa sungkan sedikitpun ia bahkan berani-beraninya menggetok kepalaku. Kurang ajar!
“ya! beraninya kau!” geramku tak terima. Aku tak suka jika ada yang menyentuh kepalaku.
“jangan cengengesan saja. Cepatlah bekerja!” perintahnya sambil melemparkan seragam khusus pelayan cafe ini tepat ke arahku.
Aku masuk ke ruang ganti, dan ia menungguku di depan pintu.
“jangan mengintip!” teriakku dari dalam. Awas saja kalau dia mencuri kesempatan dan mengintipku. Akan ku doakan matanya disengat lebah.
“cih! Mengintipmu? Tidak sudi.”
“kau akan menyesal berkata seperti itu.”
“hanya dalam mimpimu nona.”
Astaga.. bahkan di pisahkan pintu ini pun kami masih bisa bertengkar. Sepertinya hari-hariku akan sulit disini. Aku pasti akan banyak perang mulut dengannya. Aku harus menyiapkan mental dan fisikku baik-baik untuk menghadapinya.
Aku kira tak ada orang paling menyebalkan dan bermulut pedas selain Kim Heechul di dunia ini, ternyata aku salah. Bahkan mungkin dia lebih menyebalkan dari Heechul. Satu Heechul saja sudah membuatku harus uji kesabaran setiap bertemu, sekarang ditambah dengannya lagi? aku tak dapat membayangkan bagaimana kelangsungan hidupku satu minggu ke depan. Baiklah Choi Hyunjin, nerakamu akan dimulai dari detik ini.
_
__ADS_1