
Hari sudah mulai gelap, para pengunjung sudah pulang semua. Sekarang di cafѐ ini hanya tinggal para karyawan. Seorang pria yang menjabat sebagai manager dan ku tahu bernama Park Jungsoo menyuruh kami berkumpul sebelum pulang. syukurlah aku akan segera terbebas dari neraka ini dan iblis bernama Cho Kyuhyun.
“kau pegawai baru?” manager itu menunjukku, aku jadi was-was. Jangan-jangan dia akan memarahiku karena memecahkan gelas kemarin itu. apa dia akan menendangku keluar seperti yang di katakan Kyuhyun waktu itu?
“n..ne sajangnim.”
“apa kau betah kerja disini?” tanyanya sambil tersenyum. eh, dia tak marah? Kok malah begini sih?
“oh. Ne, tentu saja.” ku paksakan diri untuk tersenyum. sebenarnya aku mau bilang kalau aku sangat sangat tidak betah, tapi Kyuhyun sudah melirikku dengan pandangan yang kejam. Bisa-bisa besok dia “menyiksaku” lebih kejam lagi.
“baiklah, cukup untuk hari ini. kalian semua sudah bekerja keras.” Manager mengucapkan kata-kata terakhir untuk mengakhiri pekerjaan hari ini. ia tersenyum pada kami semua. Ku rasa ia pria yang baik. si bodoh Kyuhyun pasti membohongiku soal bosnya yang galak. Awas saja dia.
“oh ya, aku sampai lupa. Besok Lee sajangnim akan datang untuk meninjau cafe ini. kita harus bekerja lebih giat lagi besok.”
Aku sedikit menyikut lengan Kyuhyun dan berbisik di telinganya, “Lee sajangnim itu siapa?”
“dia pemilik cafe ini.”
“oh..”
“pekerjaan selesai, aku pamit duluan. Annyeong!” pamit manajer Park kemudian pergi keluar. Satu per satu karyawan mulai berpamitan dan meninggalkan cafѐ ini. tinggal aku dan Cho Kyuhyun yang masih disini. dia sama sekali tidak menahanku untuk pulang, hanya saja aku ingin menunggunya selesai mengunci semua pintu. Aku kasihan kalau ia ku tinggal sendiri. kasihan? Aku sudah gila kasihan padanya.
Setelah memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci, ia bersiap akan pulang. ia mengambil tas dan mantelnya di loker.
“mengapa kau masih disini?” tanyanya saat melihatku berdiri menunggunya di depan pintu masuk. Kyuhyun mulai mengunci pintu. Ku rasa ia yang bertanggung jawab memegang kunci, jadi harus datang paling awal dan pulang paling akhir.
“aku.. menunggumu.”
“menungguku? Ah, kau pasti takut pulang sendirian.”
“bukan karena itu! aku hanya kasihan melihatmu sendirian.” Aku memang orang yang tak tega. Jadi bersyukurlah kau Cho Kyuhyun.
“kau pikir aku takut sendirian? Selama ini juga aku selalu pulang paling terakhir. Atau jangan-jangan kau ingin pulang bersama dan mencari tahu rumahku?” tuduhnya asal. Aku langsung melotot tajam padanya. dia adalah makhluk ternarsis kedua setelah Heechul yang pernah ku temui di dunia ini.
“terserah kau saja mau beranggapan seperti apa.” Ucapku menyerah.
“setelah ini kau mau kemana?” tanyanya melembut. Tumben nada bicaranya tidak kasar seperti biasa.
“aku mau ke halte bus.”
“ayo! Akan ku antar sampai sana.” Ia menarik tanganku tiba-tiba. Tangannya dingin sekali.
_
“hei.. tunggu!” aku memanggil-manggil Kyuhyun yang sudah jauh di depan sana. Ia sama sekali tak menghiraukanku. Katanya mau mengantar, tapi kenapa malah jalan duluan? Ish, dia itu.
“ya! Cho Kyuhyun!” panggilku agak keras. Berhasil! Dia langsung menoleh ke belakang. “apa?” tanyanya datar.
“tak bisakah kau berjalan lebih pelan?” aku segera berlari menyusulnya.
“salah sendiri kau jalannya lama.”
__ADS_1
“kakimu kan panjang.” Protesku sambil berusaha mengatur nafas akibat berlari tadi.
“bukan salahku. Kakimu yang pendek.”
“Mwo? Beraninya kau.. iya sih, memang benar kakiku pendek.” Aku memandang kakiku yang tak seberapa tingginya ini. sangat jauh jika di bandingkan dengan Kyuhyun yang seperti tiang listik berjalan. Mungkin tinggiku hanya sebahunya saja.
“baiklah, sudah sampai.” Kami berhenti tepat di halte bus. Tak ada orang lain disini selain kami berdua. Suasanya sepi, gelap pula. Aku jadi takut jika harus menunggu sendirian disini. Aku kan tidak pernah pergi sendirian malam-malam seperti ini. Bisa saja nanti ada hantu yang lewat, dan lagi tak akan ada orang yang mendengar suaraku jika aku berteriak minta tolong saat ada orang jahat yang mau merampokku.
“perlu ku temani? Akan ku tunggu sampai kau dapat bus” ucapan Kyuhyun langsung membuyarkan semua pikiranku.
“boleh saja. tapi aku tak memaksamu loh.” Padahal sebenarnya aku mau ia menungguku. Aku pasti akan bosan menunggu sendirian.
“baiklah.” Kyuhyun mengambil tempat di ujung kursi. Aku juga ikut duduk.
“kenapa kau duduk disana?” tanya Kyuhyun sambil menoleh ke arahku. Aku juga duduk di ujung bangku, tapi di sisi lainnya. kami sekarang terpaut jarak sekitar tiga meter.
“tak apa-apa. Aku tak terbiasa duduk dekat orang asing.” Ucapku sesopan mungkin.
“tapi tak perlu sejauh itu juga kan? kau pikir aku mau macam-macam padamu?” ucapnya kesal. Bisa saja kan? kejahatan terjadi bukan hanya karena ada kesempatan, tapi juga karena ada niat pelakunya. Waspadalah.. waspadalah.. Begitulah pesan yang selalu disampaikan Bang Napi di berita kriminal. #abaikan yang ini
Dapat ku dengar ia mendengus kesal. “Terserah kau saja. tapi aku sama sekali tak berniat padamu.”
“berniat apa?” tanyaku tak mengerti. Wajahnya langsung berubah kesal. Sungguh sangat tak enak di pandang.
_
“setelah ini kau akan kemana?” tanyaku pada Kyuhyun. Tak mungkin kan kalau dia akan keluyuran malam-malam? Tapi kalau mau pulang ke rumah, kenapa tidak sekalian saja naik bus denganku?
“kuliah.”
Ia mengangguk, “hanya itu waktu yang ku punya”
“tapi shiftmu di cafe kan hanya siang sampai malam..” tanyaku bingung. Lalu kalau pagi dia kemana? Pasti dia keluyuran pagi-pagi.
“paginya aku kerja lain.” ucapnya yang langsung menepis semua prasangka burukku.
“mengapa kau bekerja sampai sekeras itu? apa kau tidak lelah? Berarti seharian kau hanya punya sedikit waktu untuk istirahat.” Tanyaku penasaran. Aku saja yang tak terlalu sibuk kadang merasa sangat lelah, apalagi dia yang siang malam selalu ada kesibukan?
“kalau tidak kerja aku mau makan apa? Aku juga harus bayar uang kuliahku.” Ia berbicara tanpa melihat ke arahku, daritadi ia hanya melihat ke depan.
Aku tak menyangka orang semenyebalkan Kyuhyun ternyata seorang pekerja keras. Aku salut padanya. di usia semuda itu dia bisa bekerja mencari uang sendiri, bahkan untuk biaya kuliahnya. Aku jadi merasa bersalah sudah megira yang jelek-jelek padanya.
Tiba-tiba matanya menyipit, dan ia melirik ke arahku, “tapi untuk apa kau tanya semua itu? kau mau tahu kehidupan pribadiku ya?”
“sama sekali tidak. Aku kan hanya penasaran saja.”Cepat-cepat ku sanggah semua itu. untuk apa aku ingin tahu kehidupan pribadinya? Sama sekali tidak penting bagiku.
“hah.. aku jadi curiga. Kau itu selalu muncul tiba-tiba di hadapanku. Pertama di rumah sakit, kemudian di cafe. Sepertinya kau sengaja ingin mendekatiku.”
“MWORAGO??” aku berjengit kaget. Saking shocknya dengan kata-katanya itu.
“kenapa wajahmu seperti itu?” tanyanya tak berdosa.
__ADS_1
“yang benar saja. itu tidak mungkin. kau kira aku senang seperti ini? Kalau bisa memilih aku juga tak akan mau bertemu denganmu.” Aku melipat kedua tangan di depan dada dan membuang muka ke arah lain.
“ya! kenapa kau jadi semarah itu? aku kan hanya bertanya. Kau ini sensitif sekali. Ckckck..”
“ucapanmu lebih terdengar seperti menuduh. Ah, atau jangan-jangan kau yang sengaja ingin mendekatiku? Waktu itu kau pura-pura akan bunuh diri, lalu saat di cafe kau sengaja menabrakku. Jujur saja.” aku balas menuduhnya.
Ia menatapku dari atas sampai bawah, kemudian berdecak meremehkan, “sudah kubilang aku sama sekali tak berminat padamu. kau itu bukan tipe wanita idealku. Tak ada bagus-bagusnya sama sekali.” Ucapnya tanpa sungkan. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Kalau orang lain yang mengatakannya mungkin aku akan langsung meninju wajah orang itu. tapi entah kenapa padanya aku masih bisa sabar. Apa karena aku sudah mulai terbiasa dengan mulut pedasnya itu?
Baiklah, tak apa. Ambil saja hikmahnya. Mungkin beberapa hari dekat dengannya aku bisa jadi orang yang lebih sabar lagi. ini seharusnya bagus buatku. Tapi seumur hidup belum pernah ada orang yang bicara blak-blakan seperti itu padaku. Heechul pun kalau mengejekku masih dalam batas yang bisa kumaafkan. Kyuhyun itu sepertinya tidak punya perasaan.
“hei!” ia memanggilku tiba-tiba. Ku rasa dia tak punya sopan santun. Dia tak pernah memanggilku dengan namaku walaupun ia sudah tahu namaku.
“apa?” aku menjawabnya ketus. Masih marah karena ia menghinaku tadi.
“kita hanya berdua disini.”
“ne, lalu kenapa?”
“kau tak takut padaku? Bisa saja kan aku berbuat jahat padamu. kau kan baru sebentar mengenalku.”
Aku menatapnya sambil tertawa. “apa yang bisa kutakutkan darimu? Wajahmu sama sekali tak pantas untuk di takuti.”
“maksudmu aku terlihat seperti orang baik, begitu?”
“bukan begitu. Kau terlihat kejam, tapi kurasa kau tak jahat.”
“maksudmu?” ia bertanya bingung. Jangankan dia, aku sendiri tidak mengerti apa yang barusan ku katakan.
“hatchii..” tiba-tiba aku bersin. Sepertinya aku akan kena flu besok. Udaranya memang sangat dingin.
“kau kedinginan?” tanya Kyuhyun dan hanya ku jawab dengan anggukkan. “sudah tahu cuaca sedingin ini, kenapa kau tak bawa jaket?”
“aku tak menyangka kalau akan sedingin ini.”ucapku sambil menggosok-gosok hidungku dengan tangan.
“Ini, pakai saja mantelku.” Kyuhyun melemparkan mantelnya padaku. Dia ikhlas tidak sih? Kenapa caranya tidak sopan sekali?
“tak apa-apa? bagaimana kalau nanti kau yang kedinginan?” aku melemparkan mantel itu lagi padanya.
“tidak usah mengkhawatirkanku.” Ia balik melemparkannya lagi. kenapa kami jadi main lempar-lemparan seperti ini?
“baiklah, terserah kau saja. tapi jangan salahkan aku kalau kau sakit nantinya.”
“cerewet. Pakai saja!” ujarnya tak sabar. yang cerewet aku atau dia? Kenapa dia jadi seperti memaksaku begini?
Kenapa busnya lama sekali sih? Waktu jadi terasa begitu lambat. Kami kembali terdiam. Aku seperti duduk di dekat sebongkah es. Kyuhyun sedari tadi hanya diam dan memandang ke depan. Sekali-kali ia menengadah ke atas langit. Padahal malam ini tak ada bintang, lalu apa yang sedang ia pandangi?
Suara gemuruh dari bus yang baru saja datang langsung menyadarkanku. Aku langsung bangkit dari dudukku. “busnya sudah datang. Aku duluan ya Kyuhyun-sshi.” Ia tak menjawab, hanya mengangguk sekali.
“oh ya, mantelmu..” aku bersiap akan membukanya saat Kyuhyun menyelaku, “pakai saja. kapan-kapan saja kembalikannya.”
“oh, baiklah. Sampai jumpa!” aku melambai ke arahnya dan segera masuk ke dalam bus. Ia tak balas melambai padaku, tapi hanya mengangkat tangannya sedikit.
__ADS_1
Aku duduk di bangku paling belakang. Aku terus memperhatikan Kyuhyun dari sini. Saat sudah agak jauh, kulihat ia tersenyum. kurasa mataku perlu di periksa. Mana mungkin ia tersenyum?
To Be Continue..