Bukan Dia

Bukan Dia
44


__ADS_3

Hyunjin mencari ruangan tempat ibunya di rawat, dan ia bisa dengan mudah menemukannya setelah sebelumnya bertanya kepada seorang perawat. Di dalam sedang ada Minho dan Siwon, juga dua orang lainnya.


“ah, kau sudah datang Hyunjin?” wanita yang berada di sebelah ranjang ibunya menengok, tersenyum ramah pada gadis itu.


Hyunjin mengangguk kikuk, wanita itu adalah Nyonya Lee, ibu Donghae. Dan orang yang satu lagi, ternyata adalah Donghae.


Hyunjin menoleh ke arah ranjang, tempat dimana ibunya masih terbaring tak sadarkan diri―atau mungkin beliau sedang tertidur? Ia tak tahu pasti.


“ada apa dengan oemma? Mengapa tiba-tiba bisa sakit?” Hyunjin bertanya, berharap seseorang dapat memberitahunya. Wajahnya berpaling ke arah Minho, sepertinya adiknya itu yang paling tahu tentang hal ini.


“eomma kena serangan jantung mendadak, setelah appa..” Minho tak bisa melanjutkannya lagi. Bukan tak bisa, tapi tak mau.


“bisa kita bicara sebentar, oppa?” Hyunjin berbisik pelan pada kakak laki-lakinya. Siwon mengangguk, kemudian mengikuti Hyunjin keluar ruangan.


“apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kalian tak memberitahukan kepadaku saat di rumah tadi?” Hyunjin bertanya penuh penuntutan, Siwon hanya diam.


“oppa, apa benar appa.. di tahan?”


Siwon mengangguk, tapi Hyunjin tak puas dengan jawaban itu, ia ingin penjelasan yang lebih lengkap lagi. Bagaimana bisa ia tahu masalah yang menimpa ayahnya justru dari temannya sendiri?


“karena apa? memangnya appa salah apa?”


“ayo ikut.” Siwon berjalan, lalu mengisyaratkan pada Hyunjin untuk mengikutinya.


“mau kemana?”


“kau akan tahu nanti.”


“tapi oemma..”


“ada Minho disana. Lagipula ada Lee ahjumma yang menjaga oemma.”


Tanpa banyak bicara lagi Hyunjin segera mengikutinya. Mereka naik ke mobil dan pergi ke suatu tempat, tapi Hyunjin tak tahu kakaknya itu akan membawanya kemana.


___


“appa tenang saja, aku sedang berusaha mengumpulkan bukti-bukti kalau appa tidak bersalah. Kebenaran pasti akan terungkap pada akhirnya, semuanya tinggal menunggu waktu.” Choi Siwon berusaha meyakinkan ayahnya, setidaknya mungkin itu bisa membuat pria tersebut merasa lebih tenang. Tuan Choi Minhwa hanya mengangguk, lalu tersenyum seakan tak ada beban berat yang sedang di pikulnya kini. Pria itu masih saja bersikap tenang dengan semua kejadian buruk yang menimpanya. Ia dituduh menggelapkan dana perusahaan untuk proyek yang sedang di kerjakannya, padahal ia tak mengurus langsung masalah keuangan untuk proyek itu, ia dijebak―begitulah dugaan Siwon, sebagai pengacara ayahnya.


“aku percaya appa tidak bersalah. Semuanya pasti akan terbukti, dan appa akan segera dibebaskan.” Hyunjin berusaha menghibur ayahnya, tapi justru ia yang menangis. Sang ayah langsung menarik putri satu-satunya itu ke dalam pelukan hangatnya, membuat Hyunjin makin terisak hebat. Bahunya bergetar dan bahu ayahnya mulai basah oleh air mata gadis itu.


“berjanjilah, appa harus segera keluar dari sini.”

__ADS_1


___


Hyunjin dan Siwon baru saja turun dari mobil, saat tiba-tiba Hyunjin merasakan getaran di sakunya. Gadis itu segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sebelumnya, ia memberi isyarat pada Siwon agar masuk lebih dulu ke dalam rumah sakit.


“yobosseyo..” sapa Hyunjin begitu menekan tombol answer. Ia sedikit ragu, karena yang menghubunginya ini adalah nomor baru yang tidak dikenalnya.


“Hyunjin-sshi.. sekarang datanglah ke cafe tempatmu dulu pernah bekerja!” perintah orang di seberang. Hyunjin tentu kaget.


“memangnya ada apa? maaf, dengan siapa aku bicara?”


“Ini Cho Jino. Maaf membuatmu kaget. Cepatlah datang kesana, hyung sedang menunggumu. Kalian tidak punya banyak waktu.”


Pip! Sambungan terputus. Jino jelas sekali sedang terburu-buru. Ada apa ini? Hyunjin sama sekali tidak mengerti.


___


Hyunjin melangkah masuk ke cafe itu, cafe yang menyimpan banyak kenangannya dengan Kyuhyun. Semakin lama, Hyunjin merasa jarak di antara mereka semakin jauh. Kyuhyun jadi begitu sulit di gapai. Terlebih setelah dia mengetahui kenyataan itu. Apakah ini berarti hubungan mereka tak bisa berlanjut lebih jauh lagi?


Gadis itu sudah tahu siapa yang menjebloskan ayahnya ke tahanan. Orang yang ia tidak kenal, tapi ternyata adalah seseorang yang merupakan bagian hidup dari orang yang dicintainya, orang itu adalah ayah Kyuhyun. Hyunjin tak menyangka, kata-kata ayahnya waktu itu benar-benar serius. Ia jadi merasa bersalah pada ayahnya, karena sudah terlalu sering menentang pria itu.


Langkahnya sampai di sebuah meja, tepat di tempat seorang pria bertopi sedang duduk sambil menunduk. Wajahnya tidak terlalu terlihat, tapi dari jauh pun Hyunjin bisa mengenali kalau itu Kyuhyun. Kyuhyun tampak berbeda, terlihat lebih kurus dan pucat. Hyunjin jadi khawatir padanya. Ingin sekali ia memarahi pria itu, karena tidak bisa menjaga dirinya dan membuatnya terlihat menyedihkan. Tapi bagaimana bisa? Hyunjin kini sedang menahan perasaan bahagianya, perasaan harunya saat bertemu lagi dengan Kyuhyun setelah beberapa waktu tak bisa menemukannya dimanapun. Ia sedang mencoba menekan rasa rindunya, semua ini harus diakhiri.


“kau sudah datang?” Kyuhyun tersenyum senang begitu mendapati Hyunjin di hadapannya. Gadis itu segera duduk di kursi depan Kyuhyun.


“sebenarnya tidak.” Kyuhyun tersenyum hambar, tapi sebisa mungkin ia berusaha untuk terlihat kuat di hadapan gadis itu. Hyunjin ingin berteriak, memarahi Kyuhyun yang sudah membuatnya cemas beberapa hari ini. Bahkan menelpon saja tidak, gadis itu benar-benar khawatir. Tapi ia tak bisa, suara Hyunjin seakan tercekat di tenggorokkannya.


“kau mencintaiku?” Kyuhyun bertanya, memandang lembut pada gadisnya.


Hyunjin mengangguk, mengekspresikan jawabannya. Tapi dalam hati ia berteriak, ‘tentu saja aku mencintaimu, bodoh! mengapa kau terus menanyakan hal itu?’


“aku hanya ingin memastikan, setidaknya kau akan tetap bersamaku apapun yang terjadi ‘kan?”


Hyunjin tersenyum miris, seharusnya ia senang Kyuhyun mengatakan hal itu. Bukankah itu berarti Kyuhyun benar-benar menginginkan Hyunjin tetap disisinya? Tapi Hyunjin punya pilihan, setidaknya pilihan yang bisa menyelamatkan pihak lain, bukan hanya dirinya. Bukankah dalam sebuah percintaan harus ada pengorbanan? Ia sadar, hubungannya dengan Kyuhyun sudah tidak bisa berjalan baik sejak awal. Seharusnya mereka tidak melangkah lebih jauh, kini terlalu sulit untuk melepas apa yang sudah mereka raih. Tapi sekarang belum terlambat. Sebisa mungkin Hyunjin ingin merelakan semuanya, sebelum hatinya benar-benar membatu dan hanya memikirkan perasaannya saja.


“sebaiknya kita putus saja.” kalimat itu terlontar dengan suara parau dari bibir gadis 21 tahun tersebut.


“Mwo? Jangan bercanda!” Kyuhyun memekik panik. Apa gadis didepannya ini gila? baru tadi ia menanyakan perasaannya, dan jawaban yang Hyunjin lontarkan sangat bertolak belakang dengan kalimat yang lolos dari bibirnya barusan.


“aku tak bercanda.”


“mengapa kau bicara seperti itu?”

__ADS_1


“tak perlu merahasiakannya lagi, aku sudah tahu semuanya.”


#Flashback#


“Ini Cho Jino. Maaf membuatmu kaget. Cepatlah datang kesana, hyung sedang menunggumu.”


Pip! Sambungan terputus. Jino jelas sekali sedang terburu-buru. Ada apa ini? Hyunjin sama sekali tidak mengerti.


Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi, kali ini karena ada sms yang masuk.


***Maaf lagi. Bisakah sebelum ke sana, kau datang ke taman dekat cafe? Aku ingin bicara sebentar saja.***


Tanpa berpikir apa-apa lagi Hyunjin segera pergi. Apa yang dikatakan Jino membuatnya bingung, karena itu lah ia harus meminta penjelasan pada namja itu nanti.


Di taman, sudah ada Jino yang sedang menunggunya. Hyunjin segera mendatangi adik dari kekasihnya itu.


“Jino-sshi..” panggil Hyunjin, seketika Jino langsung menoleh dan tersenyum padanya.


Hyunjin ikut duduk disebelah Jino, sambil bertanya, “kau mau bicara tentang apa?”


Jino diam sebentar, masih terlihat ragu untuk menyampaikan apa yang sudah mengganjal di hatinya sejak kemarin. Tapi Jino sudah memikirkannya, Hyunjin harus tahu yang sebenarnya. Kyuhyun tak boleh lebih lama lagi menyembunyikan hal ini dari kekasihnya. Hyunjin berhak tahu.


“Jika kau di beri pilihan―” ucap Jino akhirnya. Hyunjin menyimaknya serius, begitu penasaran akan hal penting apa yang ingin dikatakan Jino di telepon tadi.


Jino melanjutkan, “mana yang akan kau pilih? Mempertahankan orang yang kau cintai tetap disisimu, atau melepaskannya jika itu bisa membuatnya lebih bahagia?”


Hyunjin bingung, tak mengerti sama sekali akan maksud pertanyaan Jino.


Tak ingin membuat gadis itu semakin bingung, Jino langsung pada intinya, “kau berhak tahu hal ini. Sebenarnya hubungan Kyuhyun hyung dan ayahnya tidak terlalu baik. Mereka selalu bersitegang selama ini.”


Hyunjin terkejut, Kyuhyun tak pernah bercerita soal ini padanya. Namja itu terlalu banyak menyimpan rahasia kehidupannya dari Hyunjin. Tapi Hyunjin belum menemukan maksud utama dari semua ini.


“karena apa?”


“perbedaaan prinsip. Kyuhyun hyung ingin menjadi dokter, sedangkan abonim sangat ingin ia meneruskan perusahaan kakeknya, yang memang sudah diwariskan padanya sejak dulu. Awalnya memang hyung belajar bisnis sesuai keinginan abonim. Tapi tanpa diketahui ayahku, dia diam-diam mengikuti kuliah kedokteran. Dan saat tahu itu, ayahku benar-benar marah luar biasa. Dan puncaknya adalah tiga tahun lalu, Kyuhyun hyung meninggalkan rumah dan hidup menyendiri, sembunyi dari kami.”


“dan kau tahu? Ayahku itu tak pernah menyerah, dia terus berusaha membawa Kyuhyun hyung kembali dan mengikuti keinginannya.”


“aku tak pernah tahu itu.” Hyunjin berkata lirih. Mengapa Kyuhyun tak pernah membagi kisah pahitnya ini? ia jadi merasa dianggap tak penting bagi Kyuhyun.


“itu bukanlah hal utama yang ingin ku sampaikan padamu. Sebenarnya ayahku sudah memberikan pilihan padanya. Kyuhyun hyung bisa tetap menjadi dokter, asalkan ia mau menikah dengan Yeoram, putri relasinya.”

__ADS_1


#Flashback end#


__ADS_2