Bukan Dia

Bukan Dia
22


__ADS_3

Hyunjin terus mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, tangannya yang bebas asyik menggigiti kukunya sendiri. Tak hanya itu, ia bahkan sesekali bergumam tak jelas dan duduk dengan gelisah. Matanya memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong.


Jiyoo menatap sahabat baiknya itu dengan kening yang berkerut. Ada apa dengannya sampai seperti ini? Batin Jiyoo bingung. Sikap Hyunjin terlihat sangat aneh sejak mereka duduk di coffee shop tempat mereka berada sekarang. Setelah dari apartemen Kyuhyun tadi, Hyunjin tak langsung kembali ke cafe. Ia meminta Jiyoo untuk datang dan menemaninya ke tempat ini. Hyunjin bilang ia ingin menceritakan sesuatu pada Jiyoo, tapi sudah dua puluh menit mereka disini, keduanya hanya duduk dalam diam. Hyunjin tak mengeluarkan sepatah kata pun, membuat Jiyoo berpikir mungkin saja Hyunjin sedang dalam masalah yang cukup serius. Tapi apa? itulah yang membuatnya bingung setengah mati.


“jadi apa yang mau kau bicarakan? Aku sudah cukup bersabar menunggu sejak tadi.” Jiyoo menggeram kesal, lelah dengan sikap gadis di depannya itu.


“Jiyoo-ya..” gumam Hyunjin pelan. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang benar-benar dalam masalah besar. Apa Hyunjin sedang terlibat hutang sehingga ia dikejar-kejar penagih hutang? Batin Jiyoo mencoba menebak. Ah, tapi itu sepertinya tidak mungkin. Hyunjin bukan orang yang suka berhutang. Dan lagi, keluarganya terbilang cukup mampu. Gadis itu tak mungkin berhutang karena kekurangan uang saku.


Atau jangan-jangan.. Hyunjin hamil, dan pria itu tak mau bertanggung jawab. Lalu karena takut di usir dari rumah makanya sekarang ia jadi frustasi seperti ini?


Tidak!


Jiyoo menggeleng keras. Bagaimana Hyunjin bisa hamil? Pacar saja ia tak punya. Mustahil.


“kau kenapa?” tanya Jiyoo mencoba menghilangkan semua pemikiran buruk di kepalanya.


Hyunjin menggenggam tangan Jiyoo yang berada di atas meja. Keadaannya benar-benar memprihatinkan, ia terlihat berantakan. “aku..” ucapannya terhenti. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa ragu apakah akan mengatakan hal itu atau tidak. Tapi jika dibiarkan, otaknya pasti akan meledak. Semua ini membuatnya hampir gila.


“ada apa denganmu? Katakanlah.” Jiyoo mencoba bersabar. Sebenarnya ia sudah tak tahan lagi, ingin rasanya ia menggigit meja saking jengkelnya. Tapi apa yang ia dapat? Hyunjin hanya menggeleng dan kemudian asyik kembali dengan kegiatan awalnya tadi -menggigiti kukunya sambil menatap ke luar jendela.


“Ya! katakan sekarang juga atau aku akan pergi!” Jiyoo berdiri sambil menggebrak meja di depannya, kesabarannya sudah mencapai batas. Sebentar lagi ia akan pergi kencan dengan Heechul, tapi ia malah terjebak disini bersama sahabatnya yang tidak jelas keadaannya.

__ADS_1


Hyunjin terlonjak kaget atas aksi Jiyoo barusan, membuat pandangannya langsung teralihkan kepada orang yang tengah menatap kesal ke arahnya sekarang. Shin Jiyoo benar-benar terlihat murka.


Beberapa orang juga menoleh ke arah mereka karena suara Jiyoo tadi. Sadar sudah membuat keributan, gadis itu tersenyum kikuk menahan malu dan langsung duduk kembali.


“aku tak punya banyak waktu, Choi Hyunjin. Kalau memang ada yang penting katakan saja sekarang.” ucap Jiyoo mencoba kembali bersabar –meskipun itu rasanya sulit sekali- karena ia tak mau menjadi pusat perhatian akibat berteriak-teriak pada Hyunjin lagi.


“aku benar-benar hampir gila, Jiyoo-ya.” Hyunjin menarik rambutnya sendiri sambil menumpu kedua tangannya di atas meja.


Jiyoo mendengus sebal. Hyunjin memang selalu mendramatisir suatu keadaan. Kali ini apa lagi? tentang Kyuhyun yang selalu menindasnya? Ataukah sikap Donghae yang menyebalkan?


“Kali ini dengan siapa lagi kau bermasalah?” tanya Jiyoo mulai melembut. Ia tahu Hyunjin benar-benar sedang dalam keadaan yang tidak cukup baik. Bisanya ia tidak pernah sampai frustasi seperti ini dalam menghadapi masalah apapun.


“aku bingung..” lagi-lagi Hyunjin menggantungkan ucapannya, membuat Jiyoo memandangnya penasaran.


Jiyoo mengangguk, kabar terakhir yang di dengarnya adalah Donghae dengan egoisnya menyuruh Hyunjin untuk berpura-pura menerima perjodohan mereka.


“Lalu?” tanyanya semakin penasaran.


“tiba-tiba saja sikapnya mendadak jadi baik padaku. Ia selalu tersenyum dan ramah jika bicara padaku. Persis seperti dulu, saat kami belum dijodohkan.”


“lalu apa masalahnya? Bukankah itu malah bagus? kau bisa benar-benar bertunangan dengannya jika kalian sama-sama saling cinta.” Jiyoo menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Hyunjin. Hal baik itu mengapa malah jadi masalah baginya?

__ADS_1


“itulah masalahnya..” ucap Hyunjin penuh penekanan. Bukannya langsung pada masalah utama, ia malah menggantungkan lagi ucapannya. Jiyoo kembali harus menahan sabar. Ia bersyukur tidak mempunyai penyakit darah tinggu, atau ia akan cepat mati karena sikap sahabatnya ini.


Hyunjin memandang Jiyoo tajam, air mukanya tampak begitu serius. Tak pernah Jiyoo melihatnya seserius ini sebelumnya.


“tadi Kyuhyun bilang kalau dia suka padaku. Tidakkah kau berpikir ini sungguh gila? dua orang yang awalnya bersikap kejam padaku kini malah berbalik 180 derajat? Ah, aku benar-benar bingung dengan semua ini.” Hyunjin semakin keras menjambak rambutnya. Sementara Jiyoo membulatkan mulutnya tak percaya.


“Benarkah? lalu apa yang akan kau lakukan? Kau menerima Kyuhyun?” tanya Jiyoo bersemangat. Dia mencium ada hawa gosip yang mulai menyebar. Pasti akan seru membicarakannya dengan Heechul nanti, pikir gadis itu sambil tersenyum setan.


Hyunjin menggeleng lemah, “Aku belum mengatakan apa-apa padanya.”


“apakah kau menyukainya juga?”


“aku tak tahu. Aku benar-benar bingung. Lalu menurutmu aku harus bagaimana? sedangkan oemma mengatakan bahwa kami –aku dan Donghae- akan bertunangan minggu depan.” Hyunjin menatap Jiyoo sendu, berharap ia akan memberikan solusi yang terbaik. Biasanya ia tak akan mau menerima pendapat dari Jiyoo karena menurutnya pemikiran gadis itu selalu aneh. Tapi kali ini ia benar-benar putus asa, hanya Jiyoo yang bisa membantunya –itu pun jika sarannya masuk akal- ia tak mungkin menceritakan hal ini pada orang lain. Sebenarnya ia lebih suka memendam masalahnya sendirian, tapi jika dibiarkan terus ini bisa membunuhnya pelan-pelan. Baiklah, pemikiran gadis itu memang terlalu berlebihan, tapi begitulah yang di rasakannya.


Menerima pernyataan cinta dari seorang Cho Kyuhyun. Tidakkah itu sungguh hal yang ajaib? Namja yang selalu bersikap dingin padanya kini mengatakan kalau ia menyukai gadis itu? Bahkan Hyunjin berpikir jika ia sedang berada di alam mimpi sekarang, semua ini hanya mimpi yang tak nyata. Ia akan segera bangun dan melupakan semua kejadian itu.


Tapi sekuat apapun ia berusaha, ia tak kunjung terbangun dari ‘mimpi’ anehnya itu. Tentu saja, karena itu semua bukanlah mimpi.


“apa yang harus ku lakukan Jiyoo-ya?”


Jiyoo memegangi dagunya sambil berpikir. Masalah Hyunjin kali ini memang cukup rumit. Jika ia ada di posisi Hyunjin, mungkin ia juga akan bingung sama sepertinya sekarang.

__ADS_1


Jiyoo menggeleng lemah, menyerah karena tak mendapatkan solusi yang terbaik. “saranku, kau harus mengikuti kata hatimu.”


__ADS_2