Bukan Dia

Bukan Dia
41


__ADS_3

Kyuhyun sudah berdiri di depan apartemennya, hendak masuk ke dalam. Tapi ia sedikit terkejut saat mendapati pintu apartemennya yang tidak terkunci. Sedikit was-was, ia tetap masuk ke dalam.


“Oh, aku kedatangan tamu rupanya.” Kyuhyun memandang sinis pada seorang pria yang sudah duduk manis di sofanya. “apa anda tak tahu yang namanya tata krama di rumah orang lain?”


“Tuan muda Cho, lama tak bertemu. Lihatlah dirimu sekarang, kau sedikit berubah dari terakhir kali aku melihatmu.” Pria itu tersenyum lebar sambil berkata ramah, mengacuhkan ucapan Kyuhyun tadi.


“aku tahu maksudmu ada di tempat ini, tuan Kang. Tapi maaf, sepertinya kau harus segera pergi dari sini, karena aku sedang tak ingin menemui tamu.” Kyuhyun masih memandang sinis pada pria itu. Pria itu adalah Kang Taejun, kaki tangan ayahnya. Tak berhasil dengan Hangeng, sekarang ayahnya mengirim orang ini? benar-benar pantang menyerah, Kyuhyun menggumam kesal dalam hati.


“santailah sedikit, tuan Cho. Apa kau tak ingin sedikit berbasa-basi denganku?” pria itu masih saja tersenyum, berbanding terbalik dengan Kyuhyun yang menampakkan raut ketidaksukaannya. Apalagi pria itu tak sendiri, ada sekitar lima orang pria berbaju hitam lainnya. Kyuhyun sadar mereka akan lebih serius kali ini. Ia bisa saja langsung kabur tadi, tapi ia tak mau, ia bukan seorang pengecut yang hanya bisa lari dari keadaan.


“kau bisa pergi sekarang, atau aku akan melapor pada petugas keamanan karena kalian menerobos masuk ke rumahku tanpa izin.” Ucap Kyuhyun dengan nada mengancam. Bukannya takut, Kang Taejun malah tersenyum meremehkan. “kau mencoba mengancamku eh?”


“apa kalian tak bisa mengerti maksudku? Bukankah sudah kukatakan lewat Hangeng hyung untuk tidak mengganggu kehidupanku lagi?”


“oh, Tan Hangeng, pria bodoh itu. Pantas saja kau tak pernah berhasil di bawa kembali. Aku heran mengapa ayahmu mau mempekerjakan orang sepertinya. Aku bisa dengan sopan mengantarmu sampai rumah, atau kau mau pilih ku seret dengan tidak sopan, tuan Cho?”


“sekali lagi, aku mohon keluar!” ucap Kyuhyun dengan nada suara yang lebih tegas, sambil menunjuk ke arah pintu apartemennya yang masih sedikit terbuka.


“itu sudah cukup memberikan jawaban.” Kang Taejun mengangguk paham, kemudian memberi isyarat pada anak buahnya. Orang-orang itu segera meringkus Kyuhyun, melumpuhkannya yang mencoba untuk melawan. Kyuhyun terus memberontak, tapi pertahanannya tak cukup kuat. Dia sendiri, sedangkan mereka ada banyak, perlawanan yang sama sekali tak seimbang.


“lepaskan aku brengs*k!” Kyuhyun mengumpat marah, mengeluarkan semua sumpah serapahnya. Tapi percuma, itu tak akan membuatnya lepas dari mereka. Salah satu dari orang-orang itu mulai memukulinya tanpa ampun, membuat Kyuhyun babak belur dan kesakitan. Pada akhirnya Kyuhyun sudah tak sanggup lagi mempertahankan dirinya, seketika tubuhnya ambruk pingsan.


“bawa dia!” Kang Taejun menunjuk Kyuhyun dengan tampang puasnya. Anak buahnya segera mengangkat Kyuhyun dan membawanya menuju mobil mereka.


___


Hyunjin berdiri di depan rumah Jiyoo yang hanya berjarak sekitar tiga ratus meter dari letak apartemen Kyuhyun. Gadis itu terus menekan bel rumah tersebut, namun belum ada respon sama sekali dari orang di dalam.


“aish, kemana sih dia?” Hyunjin bergumam kesal sambil terus menekan bel. Sudah beberapa kali ia menelepon Jiyoo, tapi tak juga di angkat. Pesan yang dikirimnya pun tidak kunjung di balas.


Lelah terlalu lama menunggu, akhirnya Hyunjin memutuskan untuk pergi saja. Mungkin Jiyoo sedang sibuk di tempat lain jadi tidak mengangkat telepon darinya. Hyunjin memutuskan untuk mampir lagi ke apartemen Kyuhyun. Sekarang masih belum terlalu sore, orang tuanya baru akan pulang malam nanti jadi ia masih punya beberapa jam untuk bebas keluar rumah.


Hyunjin sampai di depan apartemen Kyuhyun. Gadis itu bersiap hendak menekan bel saat melihat pintu sedikit terbuka. Ia heran, mengapa Kyuhyun tidak menutup pintunya? Tepat ketika tangannya hampir meraih handel pintu, ia mendengar suara beberapa orang bicara di dalam. Akhirnya Hyunjin mengurungkan niatnya untuk masuk, dan tetap berdiri di situ sampai ia yakin situasi memungkinkannya untuk masuk. Mungkin sedang ada tamu, pikirnya.


“sekali lagi, aku mohon keluar!” itu suara Kyuhyun, terdengar sangat marah. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam? Hyunjin ingin sekali masuk, tapi ia masih belum berani. Ia tak punya hak untuk ikut campur hal yang sama sekali bukan urusannya.


“itu sudah cukup memberikan jawaban.” Suara pria asing, ia tak tahu itu suara siapa. Tak lama kemudian terdengar suara pukulan dan teriakan. Dengan gugup Hyunjin memberanikan diri mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Betapa terkejutnya ia saat melihat Kyuhyun di pukuli oleh salah satu dari mereka. Kyuhyun terus memberontak, tapi tenaganya tidak cukup kuat karena tangannya di tahan di belakang tubuhnya.


“lepaskan aku brengs*k!”


Hyunjin menutup mulutnya sendiri agar tak menimbulkan suara. Ia begitu terperanjat melihat Kyuhyun di perlakukan seperti itu. Mengapa orang-orang itu memukuli Kyuhyun? apa mereka tidak kasihan melihat keadaannya yang sudah terluka parah?

__ADS_1


“bawa dia!” salah satu dari pria itu memberi perintah. Hyunjin segera pergi untuk bersembunyi. Bisa gawat kalau ia sampai ketahuan.


Mereka keluar dari apartemen, dengan membawa Kyuhyun serta. Tapi Kyuhyun sepertinya pingsan, ia tak bergerak sama sekali. Pria yang Hyunjin yakin adalah bos mereka melepaskan jasnya, kemudian menutupi wajah Kyuhyun. Mungkin ia tidak mau kalau sampai ada orang yang melihatnya.


Dengan perasaan takut luar biasa, Hyunjin mengikuti mereka sampai ke parkiran. Gadis itu mencoba menghafal nomor polisi mobil yang membawa Kyuhyun. Ia segera mencari kontak di ponselnya, menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantunya saat ini.


“yobosseyo.. Donghae oppa..”


___


Cho Taewoo sedang sibuk di meja kerjanya. Bahkan saat berada di rumahnya pun, pekerjaan tetap menjadi prioritas utamanya.


Tok! tok! tok!


Ketukan pintu membuat pandangannya teralih sementara dari kesibukannya itu. “siapa?” pria itu bertanya dengan volume suara lebih tinggi.


“ini saya, Kang Taejun, sajangnim.”


Cho Taewoo melepaskan kacamatanya, kemudian meletakkan benda tersebut di atas meja. “masuklah!”


Pintu ruangan itu terbuka, dan Kang Taejun masuk dengan wajah yang terlihat riang. “selamat sore sajangnim, saya sudah berhasil membawa tuan muda Cho kembali.”


Taejun mengangguk, “nde, hanya butuh sedikit trik.”


“dimana dia sekarang?”


“ada di kamarnya. Dia masih belum sadarkan diri.”


Cho Taewoo kembali terkejut mendengarnya, “apa maksudmu? Terjadi sesuatu dengannya?”


Taejun jadi sedikit gelagapan, “anda bisa menemuinya sekarang.” pria itu mempersilakan tuannya. Ia mengikuti langkah Cho Taewoo dari belakang.


Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan. Itu adalah kamar Kyuhyun, yang sudah tiga tahun ini tak pernah di tempati sejak kepergian Kyuhyun dari rumah itu.


Cho Taewoo menatap tak percaya pada sosok yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Ia mendekat, menyentuh wajah puteranya yang sudah kebiru-biruan akibat di hajar tadi. Dengan penuh amarah pria itu berbalik, menatap murka pada pria di belakangnya. Ia mencengkeram kerah baju Taejoon, menatapnya penuh amarah, “apa yang sudah kau lakukan? Apa aku bilang kau boleh melukai putraku?”


“jweisonghamnida sajangnim, tapi hanya ini cara satu-satunya agar ia mau ikut. Saya benar-benar minta maaf.”


Bugh!


Satu pukulan berhasil mendarat di wajah pria itu, menyebabkan sudut bibirnya sedikit berdarah.

__ADS_1


“aku mengizinkanmu membawa bodyguard bukan berarti kau bisa menghajarnya seperti ini. Kau tahu? Dia itu sangat berharga.”


“jweisonghamnida.” Taejun tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf, ia tak punya keberanian untuk melawan Cho Taewoo.


“untuk kali ini aku maafkan. Pergilah!”


“saya permisi, sajangnim.”


Taejun keluar, meninggalkan Taewoo dan anak sulungnya hanya berdua di ruangan itu. Pria itu memandang sayu pada anaknya, “jika kau tak pernah jadi anak pembangkang, abonim tak akan bersikap keras padamu. Kau anak kebanggaanku, mengapa tak bisa sekali saja kau mendengarkan perkataanku? Apa yang aku lakukan semua demi kebaikanmu, demi kebahagiaanmu, Kyu.”


Jino hanya diam, berdiri mematung di ambang pintu setelah ia melihat apa yang terjadi di dalam. Ia tak berani masuk dan mengacaukan suasana. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jino melihat sang ayah bersedih seperti itu. Yang ia tahu selama ini ayahnya itu selalu tegas, bagaimanapun masalah yang sedang dihadapinya. Tapi kali ini dia baru benar-benar melihat sosok seorang ayah dalam diri pria itu, saat melihatnya putus asa pada Kyuhyun.


“Abonim..” akhirnya Jino memutuskan untuk memanggil ayahnya.


“oh, kau. Ada apa?” tanya pria itu, memasang kembali sikapnya yang seperti biasa.


“di luar ada polisi.”


“Mwo? Untuk apa polisi datang ke rumah kita?” untuk kesekian kalinya Cho Taewoo kembali dibuat terkejut dengan hal-hal yang terjadi hari ini.


“Molla.. mereka bilang ingin bertemu pemilik rumah ini.”


“baiklah, abonim akan ke sana. Tolong kau bilang pada bibi Jang untuk mengobati luka hyungmu.”


“geurae..” Jino mengangguk mengerti.


___


“Penculikan anda bilang? Yang benar saja!” Cho Taewoo tertawa keras setelah mendengar penuturan dua orang polisi yang bertandang ke rumahnya. Katanya mereka datang karena menerima laporan bahwa Kyuhyun di bawa paksa oleh orang-orang tak dikenal. Polisi langsung ke rumah itu begitu berhasil melacak tempat tujuan mobil yang membawa Kyuhyun.


“Jadi, dimana korban?” polisi itu berusaha mengacuhkan sikap Taewoo.


“maaf bapak-bapak, yang anda sebut ‘korban’ itu adalah anak saya sendiri. Saya tidak pernah menculiknya. Dia sudah lama tidak pulang ke rumah ini, tidak salah bukan jika saya membawanya kembali ke rumah?”


“menurut laporan saksi, dia dibawa paksa dengan kekerasan.”


“mengenai hal itu, hanya sedikit kesalahpahaman saja. Anak itu memang pembangkang, wajar jika harus sedikit ‘dipaksa’. Dia ada di kamarnya, dan keadaannya baik-baik saja. Anda bisa melihatnya jika mau.” Taewoo mencoba berkilah. Nada bicaranya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau kekhawatiran akan tetap disalahkan, meskipun kenyataannya para bodyguardnya memang telah melukai Kyuhyun –walau itu atas perintah orang lain.


“baiklah kalau memang seperti itu. Kami rasa ini memang hanya kesalahpahaman saja. Maaf karena telah mengganggu waktu anda. Kami permisi.” Para polisi itu membungkuk minta maaf, kemudian pergi.


___

__ADS_1


__ADS_2