
Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya di sepanjang jalan yang tergenang air―sisa-sisa hujan besar tadi, menyebabkan sepatunya basah terciprat air. Kepalanya menunduk, menatap kakinya yang tidak bisa diam ingin menendang sesuatu di sepanjang perjalanan pulangnya. Ingin rasanya ia berlari di jalanan dan berteriak, meluapkan semua kepenatan dalam dirinya. Tapi itu tak mungkin, dia akan langsung di angkut ke rumah sakit jiwa jika melakukan hal bodoh seperti itu.
Hujan yang semula reda kini tiba-tiba kembali mengguyur, perlahan tapi pasti mulai turun semakin deras. Orang-orang segera mencari tempat untuk berteduh, mereka tidak ingin kebasahan. Namun lain halnya dengan Hyunjin, gadis itu seakan tak peduli jika tubuhnya akan basah kehujanan, ia tak menghiraukannya sama sekali. Hyunjin terus berjalan, mengabaikan rintik air yang terus menghujamnya. Untuk sejenak saja ia ingin tak memikirkan apapun. Terlalu banyak hal yang membuat hatinya sakit, bahkan hanya untuk sekedar menghirup udara ke paru-paru rasanya sangat sulit.
Hujan. Mungkin akan menyenangkan rasanya bila ia bisa menari di bawah hujan. Pemikiran gila, gadis itu hanya berpikir tentang sesuatu yang mungkin bisa menyenangkannya. Ia berhenti lalu menengadahkan wajah ke langit, menutup matanya, membiarkan tetesan hujan menyentuh permukaan wajahnya.
Dingin―
Hanya itu yang bisa dirasakannya sekarang. Ia membayangkan sosok pria itu, sedang berdiri di hadapannya dan tersenyum hangat. Meraih tangannya, kemudian berkata, “Hiduplah bersamaku selamanya.”
Entah mengapa bayangan bodoh itu bisa terlintas di benaknya. Hyunjin tertawa―menertawai dirinya sendiri. Apa yang sudah dilakukan Cho Kyuhyun hingga membuatnya seperti ini? Mengapa ia tak bisa melupakan pria itu sedikitpun? Hyunjin bukannya tak mencoba, ia bahkan sudah terlalu keras mencoba mengenyahkan Kyuhyun dari kepalanya. Tapi setiap ia ingin melupakannya, sosok itu semakin sulit disingkirkan. Ia seperti merasakan ketergantungan pada pria itu.
(Menghilanglah dari pikiranku! Aku tidak ingin mengingatmu lagi.)
Hyunjin selalu mensugestikan dirinya sendiri, tapi tetap saja otak sialannya tak pernah bisa menghapus bayangan Kyuhyun dari memorinya. Itu terlalu sulit. Ia tak bisa―meski ia mau.
“Berapa usiamu? Lihatlah, kau seperti anak rumahan yang waktu kecil tak pernah main hujan.”
Hyunjin membuka mata ketika mendengar suara berat itu.
Suaranya tercekat. Dia―
*
__ADS_1
*
Kyuhyun keluar dari cafe setelah menyelesaikan keperluannya disana. Ia sempat dihalang-halangi pergi oleh Jongwoon yang terus bertanya. Tapi Kyuhyun hanya tersenyum dan berkata, “Tak ada yang terjadi.” Senyuman pahit. Jongwoon tahu Kyuhyun berusaha keras menyembunyikannya.
Kyuhyun berjalan di trotoar, melewati pertokoan ramai yang berderet di sepanjang jalan. Ia ingin pulang jalan kaki, mungkin bisa sekalian mampir ke sebuah toko untuk membeli makanan kecil. Tapi hujan tiba-tiba mengguyur, Kyuhyun segera berlari ke teras toko terdekat untuk mencari tempat berteduh. Orang-orang di sepanjang jalan juga mulai berlari, mencari tempat berteduh sama sepertinya.
Kyuhyun menepis-nepiskan tangan ke hoodie-nya yang sedikit basah. Ia kemudian memasukkan tangan ke saku, berharap bisa sedikit merasa hangat dengan cara itu. Hujan yang turun deras sejak pagi tadi memang sempat berhenti sebentar, tapi langit masih tetap mendung. Maka Kyuhyun tak heran jika hujan tiba-tiba turun seperti ini. Jika Kyuhyun adalah seorang ibu-ibu rumah tangga, mungkin ia akan mengomel sepanjang hari ini karena jemurannya tak bisa kering. Tak bisakah hari segera cerah?
“Lihat gadis itu! Kekanakan sekali dia, bermain hujan seperti anak kecil.” Kyuhyun mendengar percakapan dua anak sekolah―yang juga sedang berteduh―yang berdiri disebelahnya.
“Mana? Mana?” teman satunya memutar-mutar kepala ke sekeliling mencari apa yang dimaksudkan temannya. Kyuhyun juga penasaran, ia ikut menggerakkan kepalanya diam-diam.
“Itu, yang disana.” salah satu anak sekolah itu menunjuk dengan jarinya. Kyuhyun ikut melihat. Dalam hati ia juga menertawakannya. Gadis macam apa yang bermain air di jalanan seperti itu? Apa waktu kecil tak pernah main hujan? Kasihan sekali dia.
Tiba-tiba kaki Kyuhyun bergerak tanpa perintah otaknya, berjalan mendekat menuju gadis hujan itu―gadis yang sudah sangat ia rindukan.
*
*
“Berapa usiamu? Lihatlah, kau seperti anak rumahan yang waktu kecil tak pernah main hujan.” tepat di depan gadis itu ia berkata. Kyuhyun mengutuki dirinya sendiri, dari sekian banyak kalimat indah untuk menyapanya, mengapa malah kata-kata seperti itu yang terucap?
Gadis itu membuka mata, mengerjap. Lalu sepasang bola mata itu membulat sempurna, memandang terkejut ke arah Kyuhyun. Menatapnya seolah Kyuhyun adalah hantu tembus pandang yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
__ADS_1
Hyunjin menggeleng-gelengkan kepalanya, meragukan kesadaran dirinya sendiri.
Bagaimana bisa dia muncul disini? Aku pasti sudah gila. Ini tidak nyata!
Hyunjin melangkah mundur, memperbesar jarak antara dirinya dan pria itu. Bersamaan dengan itu Kyuhyun maju, tak mau gadis itu menjauhinya.
Hyunjin mundur lagi, kali ini langsung berbalik dan melangkah lebih cepat. Lama-kelamaan ia semakin cepat, dan akhirnya berlari. Kyuhyun mengejarnya, tak ingin melepasnya begitu saja. Hyunjin pernah berpesan untuk mengabaikannya jika mereka bertemu suatu saat nanti. Tapi, hei! Apa Kyuhyun semenyedihkan itu untuk menuruti permintaan Hyunjin? Ia merindukannya, sangat merindukannya. Tak mungkin bisa melepasnya begitu saja.
“Berhenti!” Kyuhyun berteriak keras, berusaha agar suaranya tetap terdengar di bawah deru hujan. “Choi Hyunjin, berhenti kataku!”
Hyunjin mendengarnya, tapi ia terlalu takut untuk berbalik dan menatap pria itu. Lebih baik ia lari dan menghindar. Lari sejauh mungkin.
Hyunjin berlari ke halte bus, orang-orang sedang ramai menanti kedatangan bus disana. Ia berdiri di antara mereka, memastikan dirinya tersembunyi dari pengawasan Kyuhyun saat ini. Tapi Kyuhyun tetap bisa melihatnya.
Tepat ketika bus datang, beberapa orang mulai tergesa-gesa masuk ke dalam kendaraan itu, begitupun dnegan gadis itu. Kyuhyun berlari secepat mungkin, tak ingin tertinggal bus dan kembali kehilangan gadis itu. Usahanya tak sia-sia, Kyuhyun berhasil masuk beberapa detik sebelum bus itu kembali bergerak.
Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari sosok Hyunjin di antara para penumpang yang ada. Tapi ia tak menemukannya, gadis itu tak ada dimanapun. Kyuhyun berbalik, lalu melihat melalui kaca bus di bagian belakang. Ia terpaku. Gadis itu ada disana―masih di halte bus―dan sedang berdiri menatap bus yang semakin lama semakin melaju kencang menjauhinya. Gadis itu pasti langsung turun saat Kyuhyun naik tadi.
Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat.
(Pintar sekali, mencoba main petak umpet denganku?)
Ia kehilangan lagi. Apakah sudah tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk mengembalikan gadis itu ke sisinya? Sebelum terlambat, sebelum semuanya menjadi sia-sia.
__ADS_1
***