Bukan Dia

Bukan Dia
10


__ADS_3

Aku tadi meninggalkan banyak piring kotor. Pasti sekarang sudah bertambah banyak lagi. ah, padahal moodku sekarang sedang tidak enak untuk bekerja. Bisa-bisa karena kekesalanku ini aku malah membanting piring-piring di dapur. Aku kan kalau sedang kalap tak bisa memikirkan apapun.


Begitu sampai di dapur, betapa terkejutnya aku. Kyuhyun dengan asiknya sedang mencuci piring. Eh, aku tak salah lihat kah? Ku kira ia akan membiarkan piring-piring kotor itu menumpuk sehingga menambah pekerjaanku. Tapi ini? mungkin ia sudah salah makan sesuatu.


“kau mencuci piring?” tanyaku tak percaya. Kini piring-piring kotor yang menumpuk itu tinggal sedikit karena sudah di cuci olehnya.


“kau pikir aku sedang apa? memakan piring?” jawabnya sewot. Aku juga tak mengharapkan jawaban ramah yang akan keluar dari bibirnya.


Aku berdiri di sebelahnya, ikut membantu menyelesaikan pekerjaan ini. “gomawo.” Ucapku di sela-sela mencuci piring.


“untuk apa?” ia bertanya bingung.


“kau sudah meringankan pekerjaanku.” Aku tersenyum padanya. Dan seperti yang kuduga, ia sama sekali tak membalas senyumku. Dia itu sangat pelit senyum. Memangnya setiap senyum dia harus bayar ya?


“aku sama sekali tak berniat membantumu. Ini kan memang pekerjaanku. Lagipula kalau Manager tahu banyak piring kotor di dapur dan hanya aku yang tak ada kerjaan, aku bisa dipecatnya.” Cukup logis juga alasannya. Tapi tak ku sangka ia punya kesadaran diri seperti ini. “baiklah, sudah selesai.” Ucapnya senang. Pekerjaan sebanyak apapun akan terasa ringan jika di kerjakan bersama-sama.


Setelah pekerjaan di dapur beres, kami melanjutkan mengepel lantai. Ya, kami –aku dan Kyuhyun. Ia bilang tak akan menyuruh-nyuruhku selagi ada Lee sajangnim disini. Benar-benar egois dia itu. Aku jadi berharap Lee sajangnim bisa setiap hari kesini sehingga aku terlepas dari siksaan Kyuhyun lagi. Tapi katanya Lee sajangnim hanya datang meninjau cafe setiap sebulan sekali.


“pel yang benar. Kainnya itu harus kau peras sampai tak terlalu banyak air. Bisa-bisa nanti ada yang terpleset.” Aku kira dia akan benar-benar tak akan menyiksaku hari ini. Tapi sejak tadi telingaku sudah panas mendengarnya bicara panjang lebar. Memangnya aku tak tahu cara mengepel lantai? Dia ini senang sekali sih mengguruiku.

__ADS_1


“baiklah, sekarang kau pel lantai di dekat kasir.” suruhnya padaku. Bagus, jauh-jauh darinya akan jauh lebih tenang. aku segera menuju tempat itu.


Namun baru sebentar aku bekerja tanpa ada Kyuhyun yang cerewet itu, sesuatu sudah mengusik ketenanganku lagi.


“cih! Gadis sepertimu untuk apa memaksakan diri melakukan pekerjaan seperti ini? hanya menyiksa diri sendiri.” dapat ku rasakan atmosfer sekitar jadi tidak enak. Benar saja, si Tuan muda Lee itu datang dan menggangguku. Mau apa lagi dia? Tak cukupkah ia merendahkanku tadi?


“bukan urusanmu! Ku rasa aku tak pernah mengganggumu, jadi berhentilah mengganggu hidupku.” Aku berkata ketus sambil tetap mengepel lantai.


“aku mengganggu hidupmu? Bukankah sebaliknya? Kau itu yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan hidupku.” Jawabnya tak kalah ketus.


“hah.. apa katamu?” aku memandangnya sengit. Ingin ku tinju saja wajah tampannya itu. Tapi tak mungkin ku lakukan disini karena ia cucu pemilik cafe. Bisa runyam masalahnya nanti.


“kau sukses melakukannya. Waktu itu orang tuaku, dan sekarang kakekku.”


“kau pintar sekali merebut hati orang. Sekarang kakekku terus mendesakku agar menerima perjodohan ini. Kau puas?” ia berkata dengan kesal. Kenapa aku yang disalahkan? Yang memaksanya kan kakeknya, bukan aku. Kini bertambah lagi satu orang pengetes kesabaranku. Kenapa hidupku harus di kelilingi orang-orang menyebalkan seperti mereka?


“terserah kau saja mau apa. Aku lelah menghadapi orang sepertimu.” Aku melanjutkan pekerjaanku yang tadi sempat tertunda karenanya.


“kau gadis pengganggu. Sudah ku bilang kan, aku punya orang yang ku cintai. Dan kau mengacaukan semua itu.” ia kembali marah-marah. Aku sama sekali tak menghiraukannya, menganggapnya tak ada. Biar saja dia marah-marah pada angin. Nanti juga dia akan lelah dan pergi dengan sendirinya.

__ADS_1


“kau mengacuhkanku?” sekarang ia berdiri tepat di hadapanku. Aku menghentakkan dengan kasar alat pel yang ku pegang ini, membuatnya sedikit berjengit karena kaget.


“kau menghambat pekerjaanku. Pergilah dari sini!” secara tidak sopan aku mengusirnya. Tapi berusaha ku kontrol suaraku agar tak terlalu keras. Aku tak mau ada yang mendengarnya. Untunglah di meja kasir tak ada orang. Ku rasa Kibum sedang ke toilet atau semacamnya.


“tidak sopan sekali kau berkata seperti itu. Aku bisa saja memecatmu.” Dia mencoba mengancamku. Dia pikir aku akan takut?


“silakan saja kalau kau mau. Aku tidak keberatan.” Aku justru senang kalau dia memecatku. Bukankah itu malah bagus?


“maaf tuan, tapi tugasnya masih banyak.” Kyuhyun tiba-tiba datang dan menarikku ke sisinya. Ku rasa dia tidak rela jika aku di pecat Donghae, kontrak penyiksaanku kan masih lama. Dia pasti tak akan melepasku begitu saja. “pergilah ke dapur, bantu Ryeowook memasak. Ia sedang kewalahan disana. Dapur sedang sangat sibuk.”


“baiklah.” Kali ini dengan senang hati aku mengikuti perintahnya. Percaya atau tidak, dia sudah menyelamatkanku dari Donghae.


Aku lelah harus mengatakan berulang kali hal yang seharusnya ia sendiri sudah tahu. Aku bingung padanya, kalau mau menolak yang tolak saja. kenapa harus heboh seperti itu sih? Aku saja tak sampai seperti itu menolak perjodohan ini. kalau kami sama-sama tak ingin di jodohkan, tinggal bilang ‘kami menolak’ beitu saja sudah cukup kan? apa perlu aku mengajaknya berdemo di depan rumah kakeknya agar suara kami di dengar? Ada-ada saja.


“siapa yang meyuruhmu pergi? kembali kesini!” Donghae berteriak lagi. Aku langsung menghentikan langkahku. Jangan mentang-mentang dia cucu pemilik cafe ini lalu dia bisa seenaknya. dia pikir semua orang harus melakukan apa yang diinginkannya? Aku tak peduli dan tetap berjalan menuju dapur. Kalau mau pecat ya pecat saja.


_


“Ryeowook-ssi, kata Kyuhyun kau sedang kewalahan di dapur. Perlu bantuan?” dengan senang hati aku menawarkan bantuan. Tapi jangan berpikir aku akan membantunya memasak. Jangankan memasak untuk pelanggan, memasak untuk diriku sendiri saja aku tak berani. Aku tak mau sampai meracuni orang. Bisa-bisa nanti aku di penjara karena membuat orang mati setelah memakan makanan buatanku.

__ADS_1


“aku tak sedang sibuk kok. Ini, hanya membuat minuman saja. kau kerjakan saja yang lainnya” Ujar Ryeowook yang sedang membuat minuman dengan santai. Ku rasa ia sama sekali tak sibuk sekarang. Berarti Kyuhyun bohong padaku.


Aku keluar dapur dan mencari Kyuhyun. Bisa-bisanya ia mengerjaiku seperti itu. Ya! dimana dia?


__ADS_2