Bukan Dia

Bukan Dia
48


__ADS_3

Kyuhyun terdiam memandang sosok di hadapannya. Wajah tampan, tubuh tinggi tegap, berkulit putih―oh, betapa nyaris sempurnanya dia. Kyuhyun tersenyum miris, sosok itu adalah pantulan bayangan dirinya. Tak ada yang pernah tahu jika didalam ia begitu menderita, tanpa sedikitpun kebahagiaan yang tersirat dari pancaran matanya.


Choi Hyunjin. Choi Hyunjin. Choi Hyunjin―


Kyuhyun terus menggumamkan nama itu, tak mau sedetik pun berusaha untuk mngenyahkan bayangan gadis itu dari kepalanya. Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang tertawa bahagia? Atau terpuruk sama sepertinya?


Ia bisa gila. Gadis itu sudah mencuri segalanya, dan sekarang kabur begitu saja? Disaat Kyuhyun sudah bergantung sepenuhnya padanya, ia justru mematahkan semua harapan Kyuhyun. Tidak bertanggung jawab!


Kyuhyun terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, membiarkan setelan tuxedo hitam yang menunggu segera ia kenakan teronggok begitu saja di atas tempat tidurnya. Sebentar lagi keluarga Cho dan Jung akan bertemu, duduk-duduk tak penting sambil membahas tentang rencana masa depan anak-anak mereka―yang pastinya akan berujung dengan pernikahan. Kyuhyun masih muda, usianya baru 23 tahun, tapi ia tak bodoh untuk mengerti akan arti sakral sebuah pernikahan. Ia tak siap dengan ini―tidak jika pendamping hidupnya hanyalah orang yang akan menjadi tameng untuk nama baik keluarganya. Ia tahu seberapa berat kehidupan ibunya dulu, yang menikah atas nama perjodohan.


“Hyung, kau sudah bersiap-siap?”


Suara itu membuat Kyuhyun berbalik ke belakang, mengalihkan pandangannya dari cermin besar yang terus dipandanginya sejak tadi.


“Belum, sebentar lagi.”


“Abonim menunggumu. Keluarga Jung juga sudah datang.”


“Baiklah, sebentar lagi.” Kyuhyun tersenyum tipis, namun Jino bisa melihat ada kegetiran disana. Senyum palsu!


Jino berjalan mendekat. Tanpa bicara banyak ia duduk di tepi ranjang, memandang Kyuhyun yang sedang menyibukkan diri memakai tuxedo-nya.


“Apa sudah kau pikirkan baik-baik keputusanmu ini, hyung?”

__ADS_1


“Uhm.”


“Yakin, kau tidak akan menyesal nantinya?”


“Mungkin.”


“Bagaimana dengan Hyunjin?”


“Dia sudah menendangku dari kehidupannya. Katanya ini jalan terbaik bagi kami.” Kyuhyun kini sibuk memakai dasinya. Mengingat hal itu, seperti menabur garam di atas luka sayatan di hatinya―membuatnya semakin terasa perih.


Jino tersentak, merasa kaget atas jawaban itu. Dia tahu dua orang bodoh itu saling mencintai, jauh lebih besar dari yang mereka tunjukkan. Tapi bagaimana bisa ini terjadi? Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran mereka berdua. Sama-sama saling cinta, tapi lebih memilih untuk menyiksa diri dengan pilihan yang bisa menjerat mereka dalam jurang kepedihan. Jalan terbaik, eh?


“Hyung, ini pernikahan. Bukan sesuatu yang bisa kau anggap main-main. Kau bisa saja berpura-pura menerimanya. Tapi apa kau tak memikirkan perasaan Yeoram? Dia mencintaimu, dan kau akan memberikannya sebuah keterpaksaan dalam pernikahan kalian?”


“Hyung, dia itu bodoh. Dia terlalu buta untuk membedakan antara cinta dan obsesi.”


Kyuhyun tertawa, mencemooh omongan Jino. “Kau yang terlalu bodoh. Buta akan cinta hah? Bukankah kau mencintainya? Lalu kenapa kau diam saja padahal kakak tirimu ini sebentar lagi akan menikah dengannya?”


“Hyung―” napas Jino tercekat. Omong kosong apa yang diucapkan Kyuhyun barusan?


“Jangan berlagak bodoh! Aku tidak selugu itu untuk tidak menyadari perasaanmu padanya.”


Jino diam, tak berani meyangkal. Apakah sejelas itu ia memperlihatkan perasaannya? Atau karena Kyuhyun yang punya kemampuan menembus kedalam hatinya? Kyuhyun berhasil membuka kartu mati adik tirinya itu. Bertahun-tahun mereka tumbuh bersama, tentu bukan perkara sulit bagi Kyuhyun untuk menerka perasaan Jino pada gadis itu. Perasaan suka―atau mungkin cinta―yang sudah tumbuh sejak dulu. Jino tak pernah mengungkapkannya, tapi Kyuhyun tahu hal itu.

__ADS_1


Jino menghela napasnya berat, kalau sudah seperti ini dia tak punya kekuatan untuk mengelaknya lagi. Ia putuskan untuk membiarkan begitu saja Kyuhyun mengetahuinya. Biarlah takdir yang akan menyelesaikan segalanya. Ia yakin hanya waktu yang bisa menjawab semua hal abstrak ini.


“Semua keputusan ada di tanganmu. Kau yang berhak menentukan.” dengan pandangan mata yang terlalu sulit di artikan, Jino memandang Kyuhyun, kemudian melangkah keluar dari kamar itu.


Kyuhyun memikirkan lagi ucapan Jino. Jino benar, semua keputusan ada di tangannya. Ini kehidupannya, ia yang akan menjalaninya nanti. Jadi, dialah satu-satunya orang yang berhak menjadi penentu jalan hidupnya sendiri.


___


Ball room di kediaman keluarga Cho di dekor semewah mungkin. Hanya pertemuan kecil dua keluarga, tapi benar-benar terlihat sangat berkelas. Hujan deras yang mengguyur di luar sana sedikit pun tak menyurutkan kebahagiaan mereka. Semua tampak larut dalam kegembiraan, menyambut rencana pernikahan kedua putra-putri mereka―Kyuhyun dan Yeoram. Sudah diputuskan kalau mereka akan menikah dalam waktu dekat ini.


Kyuhyun berdiri di dekat jendela, memandang ke luar dengan tatapan kosong. Tetesan air hujan mengalir di permukaan kaca, membuat akses pandangnya ke luar rumah jadi sedikit buram. Namja itu menghela napasnya pelan.


Takdir―


Mungkin hanya sang takdir yang patut dipersalahkan atas semua hal yang menimpanya kini. Takdirlah yang bertanggung jawab atas kehidupannya yang semakin tidak menentu. Dua kali ia merasa hidupnya begitu bermakna, dan dua kali pula takdir merenggut itu semua. Hanya dalam sekejap mata semuanya langsung menghilang―lenyap tak berbekas.


“Kita akan menikah, Oppa. Kau percaya itu? Setelah sekian lama ―akhirnya..”


Kyuhyun begitu terkejut saat tiba-tiba seseorang menarik lengannya, memeluknya erat.


Kyuhyun tidak meresponnya, tak menyahut ataupun menolak―ia diam saja seolah gadis itu sedang bicara dengan patung. Tapi Yeoram tak keberatan, sikap Kyuhyun memang seperti itu sejak pertemuan kembali mereka setelah beberapa tahun. Sikapnya berubah, ia jadi dingin dan tidak terlalu mempedulikan gadis itu lagi, tak seperti dulu―Kyuhyun sangat menyayangi Yeoram layaknya adiknya. Tapi sekali lagi, Yeoram tak keberatan. Ia tak akan menuntut apa-apa. Yang terpenting adalah Kyuhyun akan segera menjadi miliknya, hanya miliknya, selamanya.


Tanpa berkata-apa-apa, Kyuhyun melepas tangan Yeoram yang membelenggunya. Ia berjalan, menjauh. Yeoram sempat kaget, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Kyuhyun. Ia membiarkan Kyuhyun pergi, meninggalkannya di ruangan itu. Semua orang terlalu hanyut dengan kebahagiaan mereka masing-masing, tak menyadari sang calon mempelai pria telah hengkang dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2