
Terkadang ada hal-hal tertentu yang akan jauh lebih baik jika kita tidak mengetahuinya sama sekali. Masa lalu yang kelam lebih baik disimpan dan tidak diungkap lagi.
*
Hyunjin menghembuskan napasnya perlahan, entah ini sudah yang keberapa kalinya dalam beberapa menit terakhir. Pandangannya terpaku ke arah jendela, memerhatikan linangan air hujan yang mengalir lambat di permukaan kaca. Gadis itu duduk di samping tempat tidurnya sambil merengkuh lutut, menahan hawa dingin yang merebak akibat hujan deras di luar sana. Tak ada hal yang bisa ia kerjakan, itu membuatnya merasa bosan. Jika sudah begini, Hyunjin pasti akan memikirkan lagi masalah-masalah yang sedang melandanya, membuat ia kembali terpuruk.
Sebelumnya, entah sudah seberapa banyak air mata yang diteteskannya untuk menangisi pria itu, membuatnya terjebak dalam lingkaran penyesalan yang terus-terusan menjeratnya. Tapi kini bahkan menangis pun ia sudah tak sanggup, terlalu banyak air mata yang terbuang percuma untuk hal itu. Kenyataan tetaplah kenyataan, semua itu tak akan merubah fakta bahwa ia sudah tak bisa kembali pada Kyuhyun―mendapatkan kembali cinta pria itu. Ia tak ingin berpisah dengan Kyuhyun, tapi dirinya sendirilah yang telah memutuskan hal itu. Hyunjin merasa dirinya adalah orang paling tolol yang pernah hidup di dunia ini. Ia terus-terusan berada di posisi yang sulit, rasanya sudah tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan yang salah. Semuanya terlihat samar, tak jelas lagi.
Kriett..
Terdengar suara derik pintu yang dibuka, Hyunjin segera menoleh ke asal suara.
“Kau mau ikut denganku menjenguk Appa?”
Gadis itu berpikir sebentar untuk memutuskan. Tak lama kemudian ia sudah menganggukkan kepalanya.
“Aku tunggu. Jangan lama-lama ya!” Siwon tersenyum, lalu menghilang di balik pintu.
Sekali lagi Hyunjin menatap ke arah jendela. Hujan belum reda, malah terlihat semakin deras. Kapankah hari segera cerah dan mendung ini akan berlalu?
***
“Bagaimana dengan yang ini, nona? Ku rasa ini sangat cocok untuk anda.” wanita itu menyodorkan sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan ujung gaunnya yang menjuntai sampai ke lantai pada gadis di hadapannya. Gadis itu menyipitkan matanya, meneliti gaun yang terlihat cantik tersebut dengan seksama.
“Biar kucoba dulu.” ia mengambil alih gaun tersebut dari tangan wanita tadi, kemudian berjalan menuju ruang ganti.
Tak lama kemudian gadis itu sudah keluar, kali ini telah berganti busana dengan gaun tadi. “Ini bagus.” komentarnya singkat, sambil memutar tubuh di depan sebuah cermin besar. Namun sejenak kemudian ia menatap tak yakin, “Tapi sepertinya masih kurang cocok denganku. Aku mau melihat yang lainnya lagi.” ujarnya sambil menoleh pada wanita yang merupakan pegawai butik tempat ia sedang fitting baju pengantin saat ini.
Pria yang duduk di sudut ruangan itu mendengus kesal. Ia membanting kasar majalah lama yang sejak tadi dibolak-baliknya tanpa makna, lalu berjalan mendekat ke arah si gadis.
“Jung Yeoram! Kau ini maunya apa sih? Bisa tidak kau memutuskan satu gaun lalu kita pergi dari sini? Aku lelah melihatmu bolak-balik ruang ganti dan terus minta gaun yang lain. Apa dari sekian banyak yang sudah kau coba, tak ada satu pun yang cocok? Untuk apa sih pilih-pilih? Yang penting gaun pengantin dan pas di badan, beres kan?” pria itu meledak, habis sudah kesabarannya menunggu berjam-jam demi menemani gadis itu. Apa susahnya sih mencari satu gaun saja?
“Whoa! Seenaknya saja kau bicara. Dengar ya, ini untuk pernikahanku. Sekali seumur hidup. Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu? Kau kira ini semudah membeli pakaian dalam, eh?” gadis itu melotot lebar, sangat tidak terima dengan pendapat seenaknya pria itu. “Lagipula aku tidak memintamu untuk menemaniku.” Yeoram mencibir.
Memangnya siapa yang menyuruhnya ikut? Aku malah senang kalau dia tidak ada disini dan terus menghancurkan momen bahagiaku. Yeoram mengomel dalam hati.
Pria itu, Cho Jino, menggertakkan rahangnya menahan emosi, “Kalau bukan karena Kyuhyun hyung yang meminta, aku juga tak akan mau menemanimu.”
“Oh. Ya ampun! Untuk apa juga oppa menyuruhmu? Aku lebih senang pergi sendiri daripada bersamamu. Kau menyebalkan, tidak seperti Kyuhyun oppa.”
Lagi-lagi hati Jino panas. Tak bisakah sekali saja gadis itu melihat sisi baik dalam dirinya? Kyuhyun oppa, Kyuhyun oppa. Selalu saja nama itu yang terus disanjungnya. Jino menghela napas berat, mencoba mempertahankan kesabarannya demi menghadapi gadis ini, “Ku pilihkan satu gaun, ambil atau ku tinggalkan kau disini.”
__ADS_1
“Apa? Seenaknya saja. Ya! Cho Jino!” Yeoram meneriaki pria itu, tapi Jino sudah terlihat sibuk memilih-milih gaun pengantin di ujung sana.
Dasar pria menyebalkan!
***
“Bagaimana?”
“Hei!”
“Cho Jino, kenapa diam saja?”
“Ah, ya. Apa?” Jino tersentak kaget, cepat-cepat tersadar dari lamunannya. Yeoram mendengus melihatnya. Pria itu hanya diam saja saat ditanya, malah melihatnya seperti alien yang baru turun ke bumi.
“Bagaimana menurutmu?”
“Cantik.”
“Benarkah? Aku tahu aku memang cantik.” Yeoram mengangguk, lalu tersenyum bangga. Jarang sekali pria cerewet itu mau memujinya seperti ini.
“Bukan kau, tapi gaunnya.”
Jino bodoh. Tak bisakah sekali saja melihatku sebagaimana mestinya wanita? Aku tahudia pasti kagum melihatku memakai gaun ini.
Yeoram tak butuh beribu kata pujian dari pria itu―ia tahu, itu hal yang sangat mustahil terjadi. Tapi gadis itu sudah merasa puas dengan gaun pengantin pilihan Jino. Terlihat anggun dan mewah, begitu menggambarkan dirinya.
“Pilihanmu bagus juga.” ucap Yeoram pada Jino, seolah menggantikan kalimat “Terima kasih” yang mungkin agak mustahil terucap dari bibirnya untuk pria itu.
“Aku ambil yang ini.”
***
“Appa sehat-sehat saja kan disini?” tanya Hyunjin pada ayahnya siang itu, saat ia dan Siwon datang menjenguk beliau di rumah tahanan.
Sang ayah mengangguk sambil tersenyum, memaksakan terlihat baik-baik saja di depan anak-anaknya. Walau sebenarnya mereka tahu, sang ayah sedang menanggung beban berat akibat kasus ini. Nama baik Choi Minhwa tercemar, posisinya di kantor terancam jika nasib baik tak mendukungnya untuk membuktikan kalau ia tak bersalah.
Siwon memandang ayahnya penuh penyesalan. Sejauh ini ia selalu berhasil dalam pekerjaannya, sangat miris jika kali ini ia gagal dalam membela ayahnya sendiri. Ia bukannya tak mampu dan tak becus dalam melakukan pekerjaan ini, tapi pengakuan dari seorang saksi sudah cukup kuat untuk menjerat ayahnya. Siwon hanya bisa berusaha semampu yang ia bisa.
Ponsel Siwon berdering, ia minta waktu sebentar untuk mengangkatnya. Tak lebih dari satu menit, pembicaraannya di telepon pun selesai. “Aku ada urusan mendadak, harus pergi sekarang.” Siwon menatap tak enak pada ayahnya.
“Kita pergi sekarang?” Siwon meminta persetujuan adiknya. Hyunjin menggeleng, ia masih ingin lebih lama lagi bersama ayahnya.
__ADS_1
“Kau pergi saja, oppa. Aku akan pulang naik taxi,” ucapnya.
Siwon mengangguk paham. Ia pamit dan segera pergi. Ada sesuatu yang harus diurus, dan ini menyangkut perkembangan masalah hukum yang sedang ditanganinya.
“Bagaimana keadaan ibumu, nak?” ayah Hyunjin bertanya tiba-tiba, sepeninggal Siwon di antara mereka. Gadis itu cukup tertegun dengan pertanyaan tersebut, tak tahu mau menjawab apa. Hyunjin menggeleng lemah―tak perlu kalimat panjang bagi ayahnya untuk tahu apa maksud putrinya itu.
“Eomma masih belum pulih. Kondisinya semakin parah saja.” Hyunjin tahu hal ini akan menambah beban pikiran ayahnya, tapi ia tak berhak untuk menyembunyikannya sama sekali. Ayahnya perlu tahu keadaan ibunya.
“Maafkan appa. Karena membuat kalian menderita dengan semua ini.”
Hyunjin menggeleng lagi, namun kali ini untuk isyarat lain. Seolah berkata, ‘ini bukan salah Appa. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri.’
“Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Appa?” seru Hyunjin dengan penuh keraguan. Ia tak yakin apakah pertanyaannya ini sepantasnya ia tanyakan kepada pria itu atau tidak. Tapi ia harus tahu kebenarannya. Ia bisa gila jika terus memikirkan ini sendirian.
“Tentang apa?”
Hyunjin tak langsung menjawab. Ia masih diam, masih ragu. Tak tahu harus mulai dari mana, ia sendiri bingung bagaimana menyampaikannya. “Hanya sebuah hal kecil, sama sekali tak penting.” Ucapnya kemudian.
“Apapun itu, tanyakan saja. Akan Appa jawab jika memang bisa.” Choi Minhwa tersenyum tulus, seakan bisa menebak keragu-raguan yang sedang menguasai Hyunjin.
Gadis itu menatap ayahnya―masih ragu. Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar, ia sangat ingin mengetahuinya. “Apa hubungan Appa dengan Tuan Cho Taewoo?”
Bagai ada aliran listrik yang menyengatnya, pria itu membeku setelah mendengar pertanyaan Hyunjin. Untuk apa putrinya menanyakan hal itu? Ini kembali mengingatkannya pada masa lalu. Ia tak ingin membuka lagi luka lama itu.
“Apa ini penting bagimu?” Choi Minhwa menatap Hyunjin lekat-lekat, mencoba menebak seberapa besar keingintahuan gadis itu. Dari matanya ia tahu, Hyunjin menginginkan jawaban darinya―sangat menginginkannya.
“Appa tak perlu menjawabnya jika memang―”
“Apakah ini berhubungan dengan Cho Kyuhyun?” potong pria itu cepat. Hyunjin tertegun. Memang, itulah alasan satu-satunya ia bertanya. Hal itu yang selalu ia pikirkan belakangan ini. Salah satu alasan baginya untuk melupakan Kyuhyun adalah karena ayahnya, karena hubungan kedua pria itu―ayahnya dan ayah Kyuhyun―yang sepertinya tidak berlangsung baik. Tapi sampai detik ini pun ia masih belum tahu apa yang terjadi di antara mereka. Hubungan seperti apa yang menyebabkan kedua orang itu bermusuhan. Ia tak pernah tahu itu.
“Ada hal yang pernah terjadi di antara kami. Itu sudah berlangsung lama sekali.”
“Aku tak akan bertanya lagi. Appa tak perlu menjawabnya.” Sahut Hyunjin setengah hati. Ia terpaksa mengurungkan niatnya, ia tak akan memaksa jika ayahnya keberatan.
Gadis itu melanjutkan, “Lagipula aku dan Kyuhyun sudah tak bersama, tahu pun sudah tak ada gunanya lagi.” Hyunjin memaksakan tertawa. Ia ingin menenangkan ayahnya, tapi justru itu membuat Choi Minhwa semakin merasa bersalah.
“Terkadang ada hal-hal tertentu yang akan jauh lebih baik jika kita tidak mengetahuinya sama sekali. Masa lalu yang kelam lebih baik disimpan dan tidak diungkap lagi.”
Hyunjin mencerna baik-baik kalimat ayahnya barusan. Ya, pria itu benar. Untuk apa membuka kembali lembaran lama yang sudah ditutup, kalau itu tak bisa merubah keadaan? Percuma, tak ada gunanya. Malah akan membuat luka yang masih membekas semakin terasa pedih.
***
__ADS_1