Bukan Dia

Bukan Dia
61


__ADS_3

Yeoram terus mondar-mandir di ruangan itu, terlihat sangat gelisah. Sebentar lagi dia akan menikah, bukankah seharusnya dia merasa senang? Ya, dia memang senang―tapi juga cemas disaat yang bersamaan. Calon suaminya adalah Cho Kyuhyun, dia masih tidak percaya hal ini benar-benar akan terjadi.


Kyuhyun terlihat tidak begitu peduli dengan pernikahan ini. Pria itu hanya mengatakan “Terserah,“ atau “Ya, kurasa itu bagus,” saat Yeoram meminta pendapatnya tentang segala sesuatu mengenai persiapan pernikahan mereka. Dia bahkan harus ditemani Jino saat memilih gaun pengantin. Kyuhyun sepertinya tidak menginginkan pernikahan ini, tapi dia terpaksa menerimanya―dan Yeoram tidak bodoh untuk menyadari hal itu.


Jika menikah dengan Kyuhyun, apakah dia akan bahagia kelak? Apakah kehidupan rumah tangganya akan sesuai dengan apa yang dia idam-idamkan?


Oh tidak! Dia mulai bimbang kini. Tapi membatalkan semua ini rasanya sudah tidak mungkin lagi. Apa aku harus lari saja dari pernikahan ini? Kabur, begitu? Pikirnya.


Hah! Apa kau sudah gila, Jung Yeoram? Dia mengutuki dirinya sendiri atas ide gila yang sempat terbesit itu. Bertahun-tahun dia menginginkan Kyuhyun menjadi miliknya. Mengapa sekarang tiba-tiba berpikiran seperti itu? Dia sudah menunggu saat-saat ini begitu lama. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pengantin Kyuhyun disaat dia telah dewasa. Ya, sekaranglah waktunya. Dia belum terlalu yakin dengan pernikahan ini, tapi dia percaya hanya dengan pria itulah hidupnya bisa benar-benar bahagia.


Jadi, apa yang kau kuatirkan lagi, Jung Yeoram? Tak ada! Kau tak boleh goyah. Ini yang kau inginkan sejak dulu, bukan? Dia terus meyakinkan dirinya sendiri.


Yeoram sedikit terkejut ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Dia menoleh ke belakang, dan melihat sepupunya masuk sambil tersenyum lebar.


“Yeoram-ah, mempelai prianya sudah tiba. Kau bisa bersiap-siap sekarang,” kata gadis itu mengabarkan. Dia membantu Yeoram untuk memeriksa penampilannya sekali lagi. Memastikan gadis itu sudah tampil sempurna di acara sempurnanya.


*


Semua mata memandangnya kagum, dan beberapa wanita muda melihat penuh rasa iri ke arahnya. Mungkin, semua yang diinginkan para gadis telah ada padanya. Dia cantik, memiliki fisik yang sempurna, lahir dari keluarga kaya dan terpandang. Dan sekarang, dia akan menikah dengan pria yang tampan dan dari keluarga kaya raya pula. Benar-benar hidup yang sempurna, mungkin begitulah yang dipikirkan orang-orang disekitarnya.


Langkah gadis itu mulai membawanya semakin dekat ke altar. Dia akan menikah dengan pria yang dicintainya sejak dulu, mimpinya akan segera terwujud. Dia ingin menangis karena bahagia. Tapi dia tak boleh melakukannya, riasannya akan luntur jika terkena air mata, dan itu akan merusak hari bahagia ini.


Dia harus melangkah pelan, gaunnya terlalu panjang dan berat untuk bergegas cepat. Tapi dia sudah tak sabar untuk segera mencapai altar. Mengikat janji suci dengan pria itu. Sebentar lagi. Sebentar lagi semuanya akan terwujud.


“Aku gugup, Appa,” Gadis itu meremas erat telapak tangan sang ayah yang mendampingi disampingnya, membagi sedikit rasa gugupnya pada pria itu.


“Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja, sayang,” Sang ayah tersenyum lembut padanya. Setidaknya itu mampu untuk sedikit meredam debaran jantungnya yang sudah tidak terkontrol lagi.


Dia hampir sampai, dari jaraknya kini dia bisa melihat pria yang sangat dicintainya itu tersenyum ke arahnya. Dia sedikit terkejut melihat senyuman itu, dia menyangka pria itu masih akan mengabaikannya hingga hari pernikahan mereka.


Pasti karena di depan banyak orang, pikirnya. Tapi dia tak peduli. Toh biar bagaimanapun juga, pria itu akan segera menjadi suaminya.

__ADS_1


Dia sudah ada di depannya, hanya terpaut jarak sekitar tiga meter. Pria itu tersenyum lembut sekali, sampai gadis itu tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Apakah dia tersenyum padaku?


Tapi sesaat kemudian pria itu mundur. Seorang pria lain di sebelah calon suaminya maju, kemudian berjalan mendekat ke arahnya. Yeoram terkejut, bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang akan dilakukan pria itu.


“Menikahlah denganku!”


*


Jino berdiri dengan tegang. Dia terus berbisik pada Kyuhyun agar membatalkan rencana ini, tapi Kyuhyun sama sekali tidak peduli.


“Hyung, apa kau gila?” dia berbisik lagi. Kyuhyun hanya memamerkan senyumnya. Jino tahu, otak kakaknya sedang terganggu saat ini. Dia sekarang benar-benar percaya bahwa cinta bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat. Cinta Kyuhyun pada Hyunjin begitu besar, Kyuhyun pasti akan tetap mempertahankannya, apapun yang terjadi―termasuk dengan menyuruhnya melakukan hal gila ini, agar tak jadi menikah dengan Yeoram.


Gadis itu muncul dari arah pintu, bersama dengan sang ayah di sampingnya. Dengan anggun dia melangkah, membuatnya menjadi pusat perhatian semua mata di ruangan itu.


Cantik. Sangat cantik, Jino bergumam pelan.


Apakah itu seorang bidadari?


Tapi dia sudah memantapkan hatinya, dia tidak bisa kabur sekarang. Dia sudah ada di garis depan, dan dia tidak bisa menghindar dari peperangan ini. Ya, peperangan melawan batinnya sendiri.


Gadis itu tersenyum, cantik sekali. Jino tahu senyum itu bukan untuknya, tapi dia bersumpah senyum itu akan segera menjadi miliknya. Hanya miliknya seorang.


Yeoram dan ayahnya semakin dekat, dia makin berdebar-debar ketika sudah jelas dilihatnya bidadari itu. Kyuhyun mundur selangkah, dan Jino tahu kalau itu adalah tanda yang diberikan Kyuhyun agar ia bisa memulainya. Jino maju, membuat Yeoram dan ayahnya berhenti di tempat, mungkin karena mereka heran dengan apa yang dilakukannya ini.


Jino melangkah semakin dekat, dan akhirnya dia berdiri tepat dihadapan Yeoram. Dengan kegugupan yang berusaha ditekannya, Jino menyodorkan sesuatu didepan gadis itu.


“Menikahlah denganku!”


Suara-suara mulai terdengar. Beberapa tamu undangan berbisik-bisik melihat hal ini. Para keluarga masing-masing mempelai bahkan memekik histeris dari tempat duduk mereka. Apa yang dilakukan putra kedua Cho Taewoo ini? Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa dia melamar calon istri kakaknya di hari pernikahan mereka? Dia benar-benar sinting!


Ayah Kyuhyun yang berada di kursi paling depan hendak berdiri, tapi Kyuhyun langsung mencegahnya, “Biarkan dia, Abonim.” Tidak disangka, pria itu kembali duduk.

__ADS_1


Mereka masih menjadi pusat perhatian. Semua orang tetap menatap terkejut pada Jino yang masih berdiri tegak mempersembahkan kotak berisi cincin―yang seharusnya menjadi cincin pernikahan Kyuhyun dan Yeoram nanti―tersebut, menanti jawaban dari gadis itu. Yeoram mematung. Entah apakah ia harus kaget, terkejut, atau marah? Dia tak tahu pasti bagaimana perasaannya saat ini.


“Cho Jino―kenapa?” gadis itu hanya dapat berkata lirih.


“Entah bagaimana mengatakannya. Aku tak pandai mengungkapkan perasaan. Tapi yang ku tahu, aku mencintaimu sejak dulu, setiap saat, hingga sekarang pun masih sama.”


Yeoram semakin terkejut dibuatnya. Bukankah dia tak suka padaku? Sikapnya selalu menyebalkan, mengapa dia bisa tiba-tiba mengutarakan perasaan cinta seperti ini?


“Aku mungkin bukan yang terbaik, tapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik padamu. Aku mencintaimu, Jung Yeoram. Maukah kau menikah denganku?” dia bertanya sekali lagi.


Yeoram belum menjawab. Dia masih tak percaya dengan kejadian ini. Sedangkan Jino sudah hampir putus asa. Dia tahu hasilnya akan seperti ini. Dia hanya mempermalukan dirinya dan keluarganya saja.


Tapi gadis itu tiba-tiba menganggukkan kepalanya, “Ya.”


“Ya?” Jino malah bertanya bingung, memasang tampang bodoh.


Gadis itu tersenyum, “Aku bersedia menikah denganmu, Cho Jino.”


Kata-kata itu mampu membuat Jino mematung untuk beberapa saat, sampai tiba-tiba sebuah suara di depan memecahkan suasana kaku ini, “Bisa kita lanjutkan pernikahannya?”


Jino berbalik, tersenyum penuh terima kasih pada Kyuhyun. Dia segera menutup kotak cincin itu, meraih tangan Yeoram dari sang ayah, kemudian menariknya bersama ke altar.


“Aku mencintaimu,” Katanya sekali lagi, sukses membuat gadis itu tak bisa berkedip.


Mereka mengucapkan janji pernikahan, saling mengikat cinta satu sama lain. Mereka menikah. Ya, benar-benar menikah. Jino masih tidak percaya ini. Dia pikir Yeoram akan langsung menolaknya begitu saja―mungkin dengan bonus sedikit tamparan di wajah? Tapi ternyata gadis itu mengangguk mengiyakan, menerima lamaran mendadaknya.


Jino berjanji, Kyuhyun adalah orang yang pertama kali harus menerima ucapan terima kasihnya. Ternyata Kyuhyun benar, mereka tak akan tahu sebelum mencoba.


“Aku mencintaimu,” Lagi. Jino menggumamkan kata-kata itu untuk kesekian kalinya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2