
“kau benar tak apa-apa? kurasa sebaiknya kau istirahat saja di rumah, lihatlah wajahmu pucat sekali.” Jiyoo tak henti-hentinya menasehati Hyunjin. Namun gadis itu hanya menggeleng pelan, mengisyaratkan dirinya tak apa-apa.
“tapi kau benar-benar terlihat tidak sehat Hyunjin-ah.” Jiyo mengamati Hyunjin baik-baik. Matanya sembab, dan ada lingkaran hitam disekitarnya.
“aku tak apa-apa Jiyoo, sungguh.” Ucap Hyunjin sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja. Saat ini mereka sedang berada di perpustakaan kampus. Hyunjin menemani Jiyoo yang sedang mencari materi tugasnya. Padahal Jiyoo sudah bilang ia bisa pergi sendiri, tapi Hyunjin bersikeras ingin menemaninya.
Hyunjin tak pergi ke cafe. Ia memang merasa sedang tidak enak badan hari ini. Ia ingin sekali pergi dan bertemu dengan Kyuhyun, tapi mengingat kejadian kemarin rasanya ia jadi sedikit ragu.
Donghae masuk ke dalam perpustakaan, tak menyangka jika Hyunjin juga ada di sana. Ia sempat melihat ke arah Hyunjin tapi langsung berpaling kembali. Syukurlah gadis itu tak melihatnya. Rasanya sakit, setelah apa yang dilakukan Hyunjin padanya. Ia ditolak, Choi Hyunjin adalah satu-satunya gadis yang berani menolak Lee Donghae.
Tapi Donghae sadar, itu semua juga karena kesalahannya sendiri. Coba saja kalau sejak awal ia tak berlaku buruk pada Hyunjin, pasti tak akan seperti ini jadinya.
Setelah pengakuan Hyunjin semalam, mereka jadi saling diam. Tak sekalipun Hyunjin berani menatap Donghae hingga ia dan keluarganya pulang. Jujur Donghae merasa berat melepaskan gadis itu begitu saja. Ia sudah jatuh cinta padanya, bagaimana bisa ia melupakannya dalam sekejap? Biar bagaimanapun Donghae pasti akan berusaha menarik gadis itu kembali, walau sepertinya akan butuh usaha keras.
Donghae menghampiri meja dimana Hyunjin dan Jiyoo sedang duduk. “Annyeong.. boleh aku duduk disini?” tanya Donghae pada dua gadis itu. Hyunjin langsung mendongak dan menampakkan raut terkejut di wajahnya.
Jiyoo melirik sekilas pada Hyunjin, tapi melihat gadis itu hanya diam saja, ia akhirnya mengangguk ragu. “silakan.”
Donghae duduk tepat di hadapan Hyunjin, membuat gadis itu mati-matian berusaha menyembunyikan wajahnya. Ia membaca buku –yang sebenarnya tak benar-benar ia baca-di depan wajahnya, membuat Donghae jadi tak bisa melihat wajah gadis itu.
Menit demi menit berlalu, mereka hanya diam satu sama lain. Sebenarnya banyak yang ingin Donghae bicarakan dengan Hyunjin, tapi terpaksa ia mengurungkan niatnya -apalagi mengingat mereka sedang berada di perpustakaan sekarang.
_
__ADS_1
Hyunjin berdiri di seberang cafe, matanya menatap lurus ke dalam cafe yang hanya tertutupi kaca transparan itu. Ia ingin masuk ke dalam sana, tapi kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Disana ia bisa bertemu Kyuhyun dan meminta penjelasan dari namja itu, tapi apa yang dilakukannya? Ia malah hanya diam tak berbuat apa-apa. Ia terlalu takut untuk menemui Kyuhyun.
Tak terlalu lama gadis itu berdiri disana, cepat-cepat ia segera memacu langkahnya pergi. Sebelumnya ia tak pernah merasakan rumitnya kisah cinta seperti ini. Ia bahkan sering mengejek teman-temannya yang menangis karena putus cinta, ataupun mereka yang seolah terbang ke awang-awang saat jatuh cinta dengan seseorang. Tapi apa yang terjadi padanya kini? Ini bahkan lebih menyakitkan dari sekedar berpisah dengan kekasih, lebih dari itu. Disaat ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit, tapi ia harus mengorbankan satu di antaranya. Ia tak bisa lari dari semua ini.
_
Kyuhyun diam terpaku di tempatnya, diam-diam ia sedang mengawasi seseorang di seberang jalan sana. Seorang gadis yang sejak tadi terus melihat ke arah cafe ini.
Kyuhyun mendenguskan nafas kecewa saat gadis itu berjalan menjauh, tak jadi masuk ke cafe ini. Ia pikir ia bisa bertemu Hyunjin hari ini, tapi nyatanya gadis itu tak datang ke cafe. Apa karena Hyunjin tak mau bertemu dengannya? Apa gadis itu sekarang sudah membencinya? Dalam pikiran terburuknya sekalipun ia tak mau jika hal itu sampai terjadi.
“dia tak datang ya hari ini?” suara seseorang langsung membuatnya terkejut. Rupanya itu Jongwoon, seperti biasa selalu muncul tiba-tiba.
“siapa yang kau maksud hyung?” Kyuhyun bertanya pura-pura tak tahu orang yang dimaksud Jongwoon.
“dia mau datang atau tidak, aku sama sekali tak peduli. Apa urusannya denganku?” Kyuhyun berkata dingin sambil mengedikkan bahunya tak peduli.
Jongwoon menyeringai melihatnya, “jangan berpura-pura di balik topengmu itu Kyuhyun, atau kau akan lebih terluka lagi nantinya.”
“aku tak mengerti ucapanmu hyung.” Kyuhyun berlalu begitu saja. Namun ucapan Jongwoon tadi masih terngiang jelas di benaknya, diam-diam ia masih memikirkan ucapannya itu.
Topeng.
Ya, benar memang, selama ini sikap Kyuhyun hanyalah topeng semata. Berpura-pura bersikap kejam dan angkuh pada gadis itu, tapi perasaannya malah berbanding terbalik. Apa ia munafik?
__ADS_1
Kyuhyun tak dapat berkonsentrasi bekerja. Tak ada Hyunjin di tempat itu rasanya sepi sekali. Tak ada yang menemaninya bercanda, tak ada yang selalu membuatnya merasa kesal, tak ada orang yang akan ia kerjai, dan yang terpenting tak ada yang membuatnya lebih bersemangat untuk datang bekerja.
Sekuat hatinya Kyuhyun berusaha mengenyahkan Hyunjin dari pikirannya. Ia pikir toh sebelum gadis itu muncul kehidupannya tetap baik-baik saja bukan? Setelah tak ada Hyunjin pun ia masih tetap hidup, dunianya tak akan berhenti begitu saja.
Tapi, semua itu terasa berbeda. Rasanya datar, tak ada warna dalam hidupnya. Mau tidak mau ia mengakui dalam hatinya, kehadiran Hyunjin selama beberapa hari ini telah membawa perubahan padanya.
_
Kyuhyun berjalan tenang hendak pulang. Hari ini semuanya berjalan lancar, tak ada hambatan sama sekali. See? Tanpa Hyunjin pun ia masih bisa tetap bertahan. Apa artinya gadis itu baginya? Mainan? Tidak, ia tak pernah berpikir seperti itu.
Langkah Kyuhyun mulai melambat, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya di belakang. Apa itu Hankyung? Tapi tak mungkin. Lagipula untuk apa Hankyung mengulangi hal bodoh itu lagi? Ia yakin benar bukan Hankyung yang ada di belakangnya.
Karena penasaran Kyuhyun berbalik ke belakang, tapi tak ada siapapun disana. Dirasakannya hembusan angin bertiup cukup kencang, membuatnya semakin merapatkan jaketnya. Ia sungguh kedinginan.
Kyuhyun mengedikkan bahu kemudian kembali berjalan. Masih merasa was-was, ia mencoba tetap tenang. Ia memang merasa sedang di awasi akhir-akhir ini, dan ia tahu pasti ayahnya tidak akan tinggal diam setelah mengetahui keberadaannya sekarang. Tapi ia tak mempedulikan itu selama ia tak di “usik”.
Lagi-lagi suara kangkah kaki di belakang semakin membayanginya. Kyuhyun jadi kesal setengah mati. Tak bisakah orang-orang itu membiarkan hidupnya tenang?
Krekk.. terdengar suara aneh dari balik pohon tidak jauh darinya. Suara itu seperti ranting yang terinjak.
Kyuhyun berbalik, namun ia langsung tertawa keras saat itu juga.
“jangan main petak umpet denganku, Choi Hyunjin.”
__ADS_1
_