Bukan Dia

Bukan Dia
3


__ADS_3

“Mwo??” pekikku dan Minho bersamaan, setelah oemma dan appa memberitahu soal perjodohan yang tadi mereka bicarakan bersama Lee ahjumma dan ahjussi.


“Nde, kakekmu dan ayah tuan Lee dulu adalah sahabat dekat. Appa dan tuan Lee pun sudah bersahabat sejak kami kecil. Mereka –kakek dan appa tuan Lee- sudah berjanji akan menjodohkan anak-anaknya kelak. Tapi ternyata anak mereka semuanya laki-laki. Jadi mereka meneruskannya pada appa dan Lee ahjussi. Jika anak Lee ahjussi perempuan, dan anak appa laki-laki, maka kami akan menjodohkan mereka.” Cerita appa menerawang ke masa lalunya.


“tapi appa… Minho kan masih kecil.” Minho lantas melemparkan tatapan –apa maksud noona mengatakan aku masih kecil?-nya padaku.


“Benar kan? Dia bahkan belum lulus SMU.” Belaku lagi. aku tak dapat membayangkan bila si bocah ingusan ini menikah secepat itu. aku bahkan belum memiliki kekasih. Masa dia mau menikah duluan? Andwe!


“memangnya siapa yang mau menjodohkan Minho?” tanya appa santai.


“maksudnya? Tadi kan appa bilang ingin menjodohkan anak laki-laki appa dengan anak perempuan Lee ahjussi?” tanyaku bingung.


“Tapi tadi itu kan hanya perumpamaan. Lagipula tuan Lee hanya memiliki seorang anak laki-laki. Tidak mungkin kan kalau appa menjodohkannya dengan Minho?”


“jadi?” tanyaku masih bingung.


“Kau yang akan dijodohkan dengan putranya.” Ujar appa telak membuatku langsung jantungan –untungnya aku tak punya penyakit jantung.


“Mwo?? Aku tidak mau! sekarang kan sudah jaman modern. Masa appa masih main jodoh-jodohan seperti ini sih?” tolakku mentah-mentah. Membayangkannya saja aku tak mau.


“kau kan belum bertemu anak mereka, cobalah dulu. siapa tahu kau akan suka padanya.” Bujuk oemma yang sepertinya semangat sekali ingin menjodohkanku.


“tapi..” aku tak tahu harus berkata apa lagi untuk menolaknya.


“besok malam kita akan makan malam bersama, dan kau akan bertemu dengan anak tuan Lee.”


À


“dijodohkan??” seru Jiyoo heboh ketika aku menceritakan masalah perjodohan itu padanya. Aku langsung melotot tajam ke arahnya, “pelankan suaramu! Kau mau semua orang mendengarnya?” kami sedang berada di kantin kampus saat ini.


“mian, mian.” Ia hanya cengengesan. “Jadi.. bagaimana selanjutnya? Apakah kau akan menerima perjodohan itu?”


“Molla.. aku saja belum bertemu dengan pria itu.” aku menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi? setidaknya aku hanya bisa berharap kalau namja yang akan di jodohkan denganku adalah pria baik-baik. tapi tetap saja aku tidak mau. aku kan sudah menyukai orang lain.


“siapa tahu dia tampan.” Seringainya padaku.


“Tapi kan aku tidak tahu apakah dia baik atau tidak. Uh.. andaikan yang di jodohkan denganku adalah Donghae sunbae, pasti aku akan jadi orang paling bahagia di dunia ini.”


“dasar! Kau ini benar-benar menyukainya ya?”


Aku mengangguk semangat, “tentu saja!.”


Tidak berapa lama kemudian, Donghae sunbae masuk ke kantin. Ia masuk bersama dua sahabatnya, Lee Sungmin dan Lee Hyukjae. Mataku tak lepas memandangnya. Tiba-tiba pandangan kami bertemu. ia tersenyum padaku, senyuman yang sangat indah.

__ADS_1


Deg!


Dapat ku rasakan jantungku berpacu sangat cepat. Apa ini?


Tiba-tiba dia berjalan dan mendekat ke arahku. Omo! Mau apa dia? Apa dia akan menghampiriku?


Dia mengambil tisu di meja kemudian mendekatkannya ke bibirku. “hei, ada saus di bibirmu.”


Apa? Jadi.. akh! Malunya aku >__<


“Gomawo sunbae..” jawabku sambil tersenyum garing. Betapa malunya aku sekarang. Jiyoo hanya cekikikan mengejekku.


“Cheonmaneyo! Kau ini selalu saja mengucapkan terima kasih” ia terkekeh pelan, kemudian kembali ke tempat dua sahabatnya. Banyak yeoja yang menatap aneh ke arahku. Sepertinya mereka iri padaku. Aku harus bersyukur atau malah sebaliknya? Fans Donghae kan banyak sekali.


À


Hatiku benar-benar tidak tenang sedari tadi. Malam ini aku akan bertemu dengannya –namja yang dijodohkan denganku. Aku sudah siap dengan gaun warna ungu yang menurut oemma sangat indah. Sebenarnya aku tidak terlalu percaya diri, memakai gaun ini sungguh tidak nyaman. Ditambah lagi dengan highheels, benar-benar menyiksaku. Tapi terpaksa aku harus menuruti oemma. Katanya kan tidak mungkin aku datang ke acara makan malam itu dengan penampilan seadanya. Oemma bahkan bilang, “kita ini mau makan malam, bukan mau ke pasar.” Dasar ibu-ibu cerewet -__-


“oemma, bolehkah aku ikut?” tanya Minho merengek pada oemma.


“tidak! Kau tinggal saja dan jaga rumah dengan baik!”


“Curang, masa noona saja yang di ajak.” Minho mulai mengeluarkan jurus puppy eyesnya. Huh.. tidak sadar apa dia kalau sudah sebesar itu? seperti anak kecil saja.


“kalau kau mau menggantikanku silakan. Aku akan mengijinkan dengan senang hati.”


“hahaha.. habis kau merengek terus sih.”


Setelah semuanya siap, kami segera menuju ke sebuah restoran yang sudah di tentukan oleh mereka. Selama perjalanan aku terus berdoa semoga ada badai petir malam ini agar acara perjodohan bodoh ini di batalkan.


À


“kemana sih anak itu? lama sekali dia.” Lee ahjussi sudah sangat gusar menunggu kehadiran putranya. Entah mengapa aku berharap lebih baik namja itu tak usah datang saja, rasanya aku sangat gugup. Ku genggam erat-erat telapak tanganku yang sudah bekeringat. Omo.. aku gugup sekali.


“Tenanglah, mungkin dia sedang dalam perjalanan kemari.” Kata Lee ahjumma mencoba menenangkan suaminya.


“maafkan anak kami karena membuat kita menunggu lama seperti ini.”


“Tak apa-apa. Baru juga tiga puluh menit. Santailah sedikit, kita kan sudah lama tidak berkumpul seperti ini. anggap saja ini sebagai reuni.” Ucap appa mencoba mencairkan suasana.


“benar juga.” Lee ahjussi mengangguk setuju.


“ah, itu dia!” Lee ahjumma menunjuk ke arah seseorang. Aku pun langsung ikut menoleh, dan.. OMONA! Aku tak salah lihat kan?

__ADS_1


Seorang namja denga kemeja hitam berjalan ke meja kami. “annyeong! maaf menunggu lama.” ucapnya sambil duduk di salah satu kursi. Tak lupa ia menampilkan senyumannya. Membuatku tak sanggup berkata-kata lagi. Tuhan, apakah ada yang salah dengan mataku?


“kau lama sekali Donghae. tidak sopan membuat orang menunggu.” Ucap Lee ahjumma pada anaknya.


“mianhae, tadi lalulintas sangat macet.”


“ya sudah, sekarang semuanya sudah berkumpul. Bisakah kita mulai saja?”


“Kau?” Donghae melihatku dengan wajah bingung. Mungkin dia bingung kenapa aku bisa ada disini.


“annyeong sunbae..” sapaku gugup.


“kalian sudah saling kenal?” tanya appaku.


“tidak juga ahjussi, dia juniorku di universitas.” Jelasnya yang ku tanggapi dengan sebuah anggukan. Memang kami sudah beberapa kali bertemu walaupun di saat yang tidak kondusif dan memalukan –bagiku-, tapi dia tidak mungkin mengenalku kan?


Mengetahui kebingungan Donghae, Lee ahjussi segera angkat bicara, “Hyunjin adalah putri Choi ahjussi. Kau ingat kan sahabat appa yang pernah appa ceritakan dulu?”


“Nde, aku ingat.”


“kalian harus lebih saling mengenal lagi, agar perjodohan ini berjalan dengan lancar.”


“perjodohan? Tapi appa tak bilang apa-apa sebelumnya!” wajah Donghae tampak kaget. Sepertinya ia terkejut dengan hal ini.


“kau masih ingat cerita appa waktu itu kan? Appa sudah bilang padamu.”


“tapi appa.. itu kan hanya perjanjian kakek. Itu sudah lama sekali, buat apa masih diteruskan? Aku tak mau! aku bahkan tak terlalu mengenal gadis ini!”


“Donghae! jaga sikapmu!” bentak ayah Donghae.


“masa bodoh dengan perjodohan ini! aku tak akan menerimanya!” Donghae langsung berdiri dari duduknya dan keluar dari restoran. Sepertinya dia marah sekali.


“aku mohon maaf. Maafkan puteraku yang seperti itu.” Lee ahjussi memandang tak enak pada appa.


“sudahlah Dongjin-sshi, tak apa-apa. Anak-anak memang seperti itu, mereka tak pernah mau di kekang.” Appa berusaha setenang mungkin, ia bahkan masih bisa tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.


“tapi kelakuan Donghae tadi benar-benar sudah keterlaluan.” Lee ahjussi masih meledak-ledak.


“kami sungguh merasa tidak enak padamu, Hyunjin.” Sekarang Lee ahjumma yang memandangku tak tega.


“ah, tidak apa-apa kok ahjussi, ahjumma. Aku mengerti perasannya. Mungkin aku juga akan bersikap seperti itu tadi.” Ucapku tak sadar yang langsung mendapat lirikan tajam dari kedua orang tuaku.


Benarkah? Jika saja yang akan di jodohkan denganku bukanlah Donghae sunbae, apa aku akan bersikap seperti Donghae juga tadi? Mana berani aku? Bisa-bisa besok aku sudah di pecat jadi anak mereka, lalu di tendang dari rumah dan jadi gelandangan yang tak punya tempat tinggal. Haduh.. lagi-lagi imajinasiku berlebihan. Orang tuaku tidak sekejam itu kok.

__ADS_1


Akhirnya acara perjodohan ini berakhir dengan sia-sia. Doaku terkabul, tapi aku jadi menyesal. Aku kan tak tahu namja yang akan di jodohkan denganku adalah Donghae. kalau aku tahu aku akan berdoa sebaliknya. Mungkin kami akan langsung menikah dan bahagia selamanya. Tapi itu hanya mimpi kosongku saja.


Masih ada sedikit harapan, Lee ahjussi berkata bahwa ia akan membujuk dan meyakinkan Donghae lagi. katanya Donghae hanya kaget saja dengan hal ini. Beliau bilang kalau Donghae itu anak yang penurut pada orang tua, apalagi perjodohan ini adalah permintaan kakeknya, jadi dia pasti akan mau. Tapi aku tak terlalu yakin dengan hal itu. Ahjussi pasti hanya ingin menghiburku saja. Lagipula aku tak mau jika ia terpaksa setuju di jodohkan denganku. Itu namanya kawin paksa. Bagaimana kehidupan rumah tangga kami ke depannya nanti? Bisa-bisa baru beberapa bulan menikah kami sudah bercerai. Aigo.. aku berpikiran terlalu jauh.


__ADS_2