Bukan Dia

Bukan Dia
49


__ADS_3

Hujan tak sederas sebelumnya, kini hanya menyisakan gerimis kecil yang terus berjatuhan. Entah sudah berapa lama Kyuhyun berada di tempat itu, duduk bersimpuh dan membiarkan tubuhnya basah terkena rintik-rintik hujan. Ia memandang putus asa pada salah satu pusara di area pemakaman tersebut. Namja itu berceloteh, berbicara banyak seolah seseorang disana dapat mendengarkannya. Ia tak tahu harus menceritakan kepada siapa lagi semua keluh kesahnya. Semua hal yang membebaninya, membuat Kyuhyun patah arang.


Dulu, disaat semua anak selalu berkumpul dengan kedua orang tuanya yang lengkap, hanya sang ibu lah yang selalu ada di sisi Kyuhyun. Ia seolah tak mengenal ayahnya. Ayahnya selalu bepergian dengan alasan pekerjaan.


“Abonim bekerja keras demi membahagiakan kau dan ibumu.” Begitulah jawaban yang terlontar tiap kali Kyuhyun kecil bertanya, mengapa ayahnya selalu pergi meninggalkan mereka.


Saat itu ia tak pernah keberatan―selama masih ada ibunya. Tapi takdir memang tak pernah berpihak padanya, takdir telah merebut paksa sang ibu dari sisinya. Wanita itu meninggalkannya untuk selama-lamanya saat ia masih berumur 15 tahun. Disaat Kyuhyun butuh seseorang untuk mendukung langkahnya, satu-satunya orang itu justru pergi meninggalkannya. Ia tak punya siapa-siapa lagi untuk ada dipihaknya, membelanya atas semua keputusannya, membuatnya kuat untuk bertahan.


Lalu, saat Kyuhyun berhasil menemukan cahaya hidupnya kembali, ia harus rela melepaskannya. Lagi-lagi takdir lah yang dipersalahkannya atas semua itu. Kyuhyun seakan sudah tak punya nyawa lagi untuk bertahan di dunia ini. Mengapa sesuatu yang diinginkannya tak bisa ia peroleh? Sesuatu yang sudah ia raih dengan susah payah pun harus rela dilepaskannya begitu saja. Hidup seolah tak pernah adil padanya.


Bahu Kyuhyun bergetar di tiap kalimatnya, terisak menumpahkan segala emosi batinnya. Kyuhyun tak perlu berlagak kuat lagi sekarang. Ia sedang sendirian, disini tak ada orang lain selain dirinya. Ia bebas menumpahkan seluruh perasaannya. Perasaan marah, sedih, kesal, semuanya ia tumpahkan menjadi satu tindakan yang tak terduga―menangis.


Seorang Cho Kyuhyun menangis? Dunia pasti akan tertawa melihatnya. Ini seperti bukan dirinya saja. Ia bukan orang yang semudah itu menujukkan perasaannya. Ia bukan namja yang mudah menangis, ia tak pernah seperti ini di depan orang lain. Ia hanya pernah menangis seperti itu di saat ibunya pergi, dan saat ia harus kehilangan Hyunjin. Di tinggalkan dua orang yang dicintainya secara bergantian, benar-benar membuatnya menderita.


___


“Oemma.. Lihatlah Minho. Dia tidak mau makan, tidak mau ke sekolah, juga tidak cukup tidur. Dia hanya mau disini terus bersamamu. Anak bodoh ini selalu saja merepotkan. Bagaimana kalau dia juga ikut sakit? Aku tidak akan mau repot-repot merawatnya.” Lapor Hyunjin pada ibunya saat mereka berkumpul di ruang perawatan sang ibu sore itu.


Minho tak bisa terima begitu saja, dengan segera ia melontarkan protesnya, “Aku tidak apa-apa, Noona. Jangan selalu jadi pengadu!”


“Makanya turuti apa kataku. Kau selalu saja membantah.”

__ADS_1


“Sudah ku bilang, aku bukan anak kecil. Kau kan bukan babby sitter-ku.”


Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya, dua adiknya itu sudah bisa dikatakan dewasa, tapi sikap mereka masih saja seperti anak-anak sekolah dasar. Sedangkan ibu Hyunjin hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah anak-anaknya. Ia tak bisa bicara ataupun bergerak terlalu banyak. Tapi kehadiran mereka di tengah-tengahnya setidaknya bisa memberi kekuatan lebih agar ia bisa segera sembuh.


Ponsel Hyunjin berbunyi, segera ia minta izin untuk mengangkatnya di luar ruangan.


Tangan Hyunjin bergetar saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya―


―Kyuhyun.


Untuk apa lagi dia menelponku?


“Yo—yobosseyo.”


“Aku ingin mengambil mantelku kembali.”


“A—apa?” Hyunjin bertanya bingung. Mantel? Oh— jangan-jangan yang itu.


“Aku pernah meminjamkannya padamu dulu. Ingat kan saat di halte bus?”


“Ah—iya. Baiklah, kau mau kapan aku mengembalikannya? Beritahukan saja tempatnya.”

__ADS_1


“Di tempat yang sama saat aku meminjamkannya. Aku tunggu jam tujuh malam nanti.”


“Oke.”


Telepon terputus. Napas Hyunjin sesak.


Dia meneleponku? Astaga..


Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Demi Tuhan! Aku merindukanmu.


Ada sedikit—bohong, sebenarnya lebih dari itu—rasa bahagia yang membuncah saat tahu namja itu menghubunginya. Oh—tapi Kyuhyun hanya menanyakan mantel? Bukan bertanya bagaimana kabar Hyunjin tanpa dirinya? Apakah gadis itu masih bisa hidup atau tidak setelah mencampakkannya? Ah, tapi itu tak penting. Yang penting Hyunjin bisa mendengar suaranya biar sebentar saja, baginya itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindu yang bisa membuatnya mati pelan-pelan itu.


___


Udara yang dingin tak menyurutkan keinginan Hyunjin untuk tetap menunggu. Ia duduk di halte bus yang selalu sepi itu, namun kali ini bukan sedang menunggu bus, melainkan menunggu seorang namja yang telah membuat hidupnya jungkir balik selama beberapa waktu terakhir ini.


Angin bertiup cukup kencang, berkali-kali Hyunjin mengeratkan jaket yang dikenakannya. Jika yang sedang ditunggunya adalah orang lain—bukan Cho Kyuhyun—pasti ia sudah pergi sejak tadi. Menunggu adalah kegiatan paling membosankan, mungkin semua orang akan sependapat dengannya?


Gadis itu melihat ponselnya, sekarang sudah pukul delapan malam. Namja itu sudah terlambat satu jam. Mungkin jika mereka sedang dalam situasi normal, Hyunjin akan mendamprat Kyuhyun begitu ia datang, memarahinya karena membuatnya menunggu selama itu. Tapi kali ini situasinya berbeda. Mungkin ini benar-benar yang terakhir kalinya Hyunjin menemui namja itu. Setelah ini ia akan mencoba untuk melupakan Kyuhyun, menghapus sosoknya dari memori otaknya. Ia sudah bertekad demikian. Jika tidak di paksakan, ia tak akan pernah bisa.


Mata Hyunjin terus mendesak ingin terpejam, tapi gadis itu berusaha untuk tidak tertidur. Rasanya absurd sekali kalau ia tertidur di tempat seperti ini. Siapa pula orang bodoh yang bisa tertidur saat menunggu di halte bus?

__ADS_1


__ADS_2