
“Nah, jadi apa perananmu dalam kasus ini, Tuan Kim? Mengapa kau tak bisa menjelaskan kemana perginya dana milyaran won yang menguap entah kemana itu, padahal seharusnya kau lah yang bertanggung jawab atas hal ini?”
“Demi Tuhan! Harus berapa kali ku katakan? Aku tak tahu.”
“Kau yang memegang andil dalam proyek cabang di Jepang itu, tapi kau tidak tahu? Lalu dari mana aliran dana yang baru masuk ke rekeningmu itu? Bukankah jumlahnya berkali-kali lipat dari gajimu untuk satu bulan? Sebaiknya kau mengatakan yang sejujurnya, Tuan Kim. Rekanmu yang lain sudah mengakui kesalahan mereka, dan kau tak bisa mengelak lagi. Sangat besar akibatnya jika membawa-bawa nama Tuhan saat kau sedang berbohong.”
Kim Jongmin duduk dengan tegang, dan dia mulai berkeringat dingin. Tapi seolah aktor yang ulung dalam berperan, dia membuat dirinya setenang mungkin. “Harus berapa kali ku bilang? Aku tidak tahu apa-apa soal itu. Kau jangan menuduh sembarangan ya! Aku bisa saja menuntutmu atas pencemaran nama baik.”
Jaksa Park tersenyum mengejek, “Tuan Kim Jongmin, manager keuangan perusahaan Namsoong Group, dan terlibat beberapa skandal penggelapan dana namun selalu berhasil lolos dari hukum.” Jaksa muda itu membuka lembaran-lembaran kertas di tangannya, kemudian menatap pria berumur sekitar lima puluhan yang sedang duduk di hadapannya itu, “Apa kau telah menyuap beberapa aparat hukum untuk menutupi kejahatanmu selama ini? Aku masih punya beberapa daftar hitam tentangmu, kalau kau mau aku akan menyebutkannya. Semua ini baru sebagian dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh timku.”
“Kau baru saja mencari perkara dengan orang yang salah, tuan Jaksa. Aku ini orang terhormat. Aku tak mungkin melakukan hal rendahan semacam itu. Lagipula Namsoong Group adalah perusahaan yang dirintis orang tuaku sendiri, aku tak mungkin berbuat sesuatu yang bisa merugikan perusahaan itu.” Kim Jongmin tertawa, mencoba menutupi ketakutannya saat ini. Semua lembar hitamnya telah terkuak, harus bagaimana lagi dia berusaha menutupinya? Terus-terusan berbohong pun, sepertinya hukum tak bisa dianggap remeh. Apalagi berhadapan dengan Jaksa di hadapannya ini, membuat otak liciknya harus terus berputar mencari kebohongan-kebohongan yang lebih berkelas lagi untuk menutupi kejahatannya.
“Kau masih belum mau mengaku juga? Baiklah.” Jaksa Park mengangkat telepon di mejanya, menekan beberapa tombol nomor. Kim Jongmin bertanya-tanya dalam hati, kira-kira siapa yang sedang dihubunginya. Jaksa Park kemudian bicara pada orang di seberang setelah panggilannya tersambung. “Tolong bawa saksi itu ke ruanganku.”
Beberapa menit kemudian pintu ruang penyelidikan itu terbuka, seorang jaksa wanita masuk dengan seorang wanita lain di sampingnya. Kim Jongmin menoleh ke arah pintu, dan saat itu juga jantungnya serasa berhenti berdetak.
“Silakan duduk, nona Hwang.”
__ADS_1
*
*
Pria itu tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Raut kegembiraan terpancar sangat jelas dari wajah yang sudah tidak lagi muda itu. Ia senang dapat kembali menghirup udara bebas, merasakan dunia luar yang begitu dirindukannya.
“Ayo, Appa.” Siwon membukakan pintu mobil, mempersilakan ayahnya untuk masuk ke kursi penumpang.
“Bisakah kita langsung ke rumah sakit? Aku ingin bertemu Eomma-mu.”
“Ya, tentu.”
Semua orang yang terlibat dalam kasus penggelapan dana itu sudah tertangkap, dan siap di adili. Meski awalnya proses hukum sedikit berbelit karena otak dari kasus ini, Kim Jongmin berhasil melarikan diri ke Eropa―aparat hukum Korea Selatan bahkan butuh waktu beberapa hari untuk membawanya kembali ke Seoul. Tapi Siwon kini bersyukur, ayahnya sudah dibebaskan karena tidak terbukti bersalah, dan nama baiknya akan dibersihkan kembali. Satu persatu kebahagiaan mulai kembali ke tengah-tengah mereka.
“Kau pengacara yang hebat, nak. Aku bersyukur tak berpikir untuk menyewa pengacara yang lebih mahal darimu.” Choi Minhwa tertawa atas gurauannya sendiri. Siwon ikut tertawa disebelahnya.
“Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik, tapi sebenarnya itu semua berkat nona Hwang.”
__ADS_1
Choi Minhwa terdiam sesaat, “Ah, ya. Kau benar. Tapi aku masih belum percaya dia pernah membuat pengakuan palsu sebelumnya.”
Siwon mengangguk mengiyakan. “Tapi yang terpenting dia sudah mengakui hal yang sebenarnya, dan mencabut kesaksian palsunya waktu itu. Aku dengar dia melakukannya karena butuh biaya untuk pengobatan adiknya, dan Tuan Kim memberikannya tawaran itu. Aku percaya dia melakukan itu karena terpaksa.”
“Licik sekali Kim Jongmin itu. Lalu bagaimana dengan nona Hwang sekarang?”
Siwon terlihat berpikir sejenak, “Dia masih akan ditahan di kantor kejaksaan, demi proses penyelidikan lebih lanjut untuk kasus ini.”
“Ditahan? Maksudmu, dia akan dipenjara, begitu?”
“Tentu saja, appa. Dia kan telah memberikan kesaksian palsu, dan itu melanggar hukum.”
Wajah Choi Minhwa terlihat tidak tenang. Biar bagaimanapun Hwang Miyoung pernah menjadi orang kepercayaannya, dan ia tahu gadis itu adalah orang baik.
“Ah, Siwon, bisakah kau mengantar Appa ke tempatnya sebelum menjenguk Eomma-mu?”
“Ngg.. Baiklah.”
__ADS_1
*