Bukan Dia

Bukan Dia
30


__ADS_3

-Kyuhyun’s POV-


Pandanganku tak henti-hentinya terpaku pada gadis itu. Suaranya, gerak-geriknya, tanpa sadar membuatku terus tersenyum memperhatikannya. Entah sudah berapa lama aku tidak melihatnya seperti ini. Kurasa baru kemarin kami bertemu, tapi rasanya sudah lama sekali. Harus ku akui, aku.. merindukannya.


Saat bertemu dengannya kemarin, sebenarnya perasaanku sungguh bahagia. Tentu saja, aku tak dapat membohongi hatiku sendiri. Bagaimanapun aku mencintainya. Tapi keadaannya terlalu sulit. Terpaksa aku harus menutupinya, aku tak boleh terlihat bahagia melihatnya. Aku bahkan sudah berusaha sekeras mungkin untuk melupakannya, menjauhinya. Tapi apa yang ia lakukan? Ia malah datang ke hadapanku, memberikan harapan yang entah itu memang ada atau tidak. Katanya ia muncul disini untuk menemuiku. Apa itu tidak membuatku jadi melambung? Sebenarnya apakah ia juga punya perasaan yang sama sepertiku? Semua itu terus membuatku bertanya-tanya.


Aku menyesal pernah mengatakan perasaanku padanya. Jika hal itu tak pernah ku lakukan, tentu keadaannya akan lebih baik. Kami tak akan saling menjauh seperti ini. Mungkin aku akan bisa bersikap seperti biasa padanya.


Mungkin baginya, aku hanyalah namja menyebalkan yang bisanya hanya mengerjainya saja. Tapi bukankah itu akan jauh lebih baik? Daripada seperti ini, membuatku tersiksa luar biasa. Aku lebih suka memendam perasaanku, itu akan membuatku tetap merasa nyaman didekatnya, walau ku akui itu mungkin akan terasa menyakitkan -apalagi mengetahui ia akan bertunangan. Tsk.. sungguh menyebalkan.


Aku selalu ingin tertawa mengingat hal ini, bagaimanapun ini terlalu aneh. Gadis asing yang tiba-tiba muncul dalam hidupku kini telah membuat hidupku jadi selalu tak tenang. Apakah ia seorang penyihir?


“ehmm..”


Aku menoleh, dan cukup terkejut saat melihat gadis itu sudah berdiri tak jauh dariku. “ada apa?” tanyaku cuek, berpura-pura sibuk dengan meja yang sejak tadi terus saja ku lap –walaupun meja ini sudah sangat mengkilap.


“aku lihat kau sedang sibuk.” Jawab Hyunjin sambil berjalan mendekat ke arahku.


“memang. Lalu?” tukasku dingin, masih tak mempedulikannya.


“kau tak ingin menyuruhku menggantikan pekerjaanmu? Bukankah untuk itu gunanya aku ada disini?” tanyanya lagi. Gadis ini sepertinya berharap sekali. Ada apa dengannya? Mengapa ia jadi semakin rajin saja? apa kepalanya habis terbentur sesuatu sebelum datang ke cafe ini? sejak tadi ia bekerja tanpa ku suruh. Dan sekarang, ia malah minta di beri pekerjaan tambahan. Baiklah, kurasa otaknya memang sedang terganggu.


“apa kau sedang demam? Dahimu panas.” ucapku sambil menyentuh dahinya.


“maksudmu apa? aku baik-baik saja.” ia menepis tanganku dengan cepat.


“bukankah selama ini kau selalu keberatan jika ku suruh-suruh? lalu kenapa sekarang kau malah bekerja dengan senang hati?” ku lipat kedua tanganku di depan dada. Cukup jengah juga dengannya. Bagaimana aku bisa cepat melupakannya jika ia muncul terus di hadapanku?


Hyunjin menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian menatapku kesal. “kau tak dengar apa yang kukatakan sebelumnya? Aku disini sekarang agar bisa bertemu denganmu. Selain di tempat ini, kau pasti akan selalu menghindariku.”


“Demi itu? memangnya untuk apa?” hal ini lah yang membuatku bingung. Mana mungkin karena ia merindukan omelanku. Hah, yang benar saja?


“bodoh!” desisnya mencibir. Aku langsung melotot ke arahnya. “mengapa kau tak pernah bisa mengerti?”


“mengerti apa?” tanyaku tak mengerti. Aku semakin bingung saja dengannya.


Lagi-lagi ia menghembuskan nafas, tapi kali ini lebih berat. Ia kembali menatapku tajam. “aku bisa gila berhadapan denganmu, Cho Kyuhyun.”


“aku lebih gila lagi bicara denganmu, kalau bicara yang jelas.”

__ADS_1


“bukankah kau yang memulai ini duluan? Apa kau amnesia?”


“ya! kalian berdua! Kembali bekerja!” suara manager Park menyeruak ditengah-tengah perdebatan kami. Mau tidak mau aku langsung berbalik membelakanginya, kembali mengelap meja –yang padahal sudah sangat mengkilap- itu kembali.


“kita selesaikan nanti.” Ucapnya dan langsung berlalu ke dapur. Aku tak terlalu mempedulikan kata-kata terakhirnya tadi. Apa yang perlu diselesaikan? Kurasa tak ada masalah apapun di antara kami.


___


Hari sudah malam, dan cafe telah tutup. Aku berjalan memeriksa semua sudut cafe, memastikan semua jendela sudah terkunci dengan benar. Baiklah, dengan begini aku bisa segera pulang. Karyawan lain sudah pulang, hanya tinggal aku sendiri yang memang bertugas mengunci pintu. Dan.. oh ya, aku lupa. Gadis itu –Choi Hyunjin- masih berdiri dengan setia menungguku. Ku rasa ia mulai kembali pada kebiasaan awalnya dulu, memaksaku untuk menemaninya menunggu bus di halte. Tapi maaf saja, aku tak akan terpengaruh bujukannya kali ini. Bukankah aku sedang menghindarinya? Seharusnya aku tak bicara apapun padanya tadi siang.


Aku berjalan keluar dan melewatinya begitu saja setelah mengunci pintu. Sesuai dugaanku, gadis itu mengikutiku dari belakang.


“oppa!”


Langkahku terhenti, siapa yang memanggilku? Apakah Hyunjin? Ah, tidak mungkin. sejak kapan ia memanggilku dengan panggilan itu? sepertinya aku salah dengar saja. Atau mungkin itu orang lain yang memanggil orang lain (?).


Aku kembali berjalan, berusaha untuk tak berbalik ke belakang. Aku tahu gadis itu masih ada di belakangku.


“Kyuhyun oppa!”


Baiklah, kini aku yakin panggilan itu memang ditujukan untukku. Apa itu benar-benar Hyunjin yang memanggilku? Mungkinkah memang dia sengaja memanggilku seperti itu agar aku berbalik? Hah, usaha yang bagus. Tapi aku tak akan terkecoh.


Hanya ada Hyunjin –satu-satunya gadis yang ku kenal- yang ada di sana, tak mungkin orang yang tak ku kenal bisa memanggil namaku. Ataukah tadi aku hanya salah dengar saja? Tapi aku yakin betul pendengaranku tak salah. Aku menatapnya tajam, seolah bertanya ‘ada apa?’. Tapi ia hanya diam dan tetap berjalan lurus.


“hei kau!” aku menudingnya kesal. “kau memanggilku tadi? Dan oh, sebutan macam apa itu?”


Ia hanya menggeleng bingung, “memangnya aku menyebutmu apa?” Kenapa malah ia yang balik bertanya?


“kau tadi memanggilku-“


“OPPA!”


Kami berdua sama-sama menoleh ke arah jalan. Terlihat seorang gadis sedang melambai-lambaikan tangannya ke arah kami –mungkin hanya ke arahku- sambil berlari meyeberangi zebra cross. Aku sempat kaget saat melihatnya. Aish, kenapa dia ada disini?


“Ya! aku memanggil-manggilmu sejak tadi. Kenapa kau tak berbalik, oppa?”


“jadi kau?” aku menatapnya terkejut –sekaligus kecewa, rupanya aku salah mengira. Ku lihat Hyunjin tertawa kecil. Aku rasa ia sedang menertawaiku. Bagus, bayangkan betapa malunya diriku sekarang.


“sedang apa kau disini?” pandanganku beralih pada gadis itu, Yeoram.

__ADS_1


“tentu saja untuk menemuimu. Memangnya mau apa lagi?” ia segera mendekat ke arahku, dan seperti biasanya, bergelayut manja di lenganku. Ini membuatku sedikit risih. Biar bagaimanapun ada Hyunjin dihadapan kami.


Ah, kau bodoh Kyuhyun. Memangnya kenapa kalau ada Hyunjin?


“ini sudah malam. Apa kau kesini sendirian?” tanyaku pada Yeoram.


Ia menggeleng dan kemudian menunjuk ke arah ia datang tadi. Dari sini aku dapat melihat seorang pemuda sedang berjalan santai ke arah kami. Dia adik angkatku, Cho Jino.


“Hyung!” sapanya begitu sampai di hadapanku. Aku hanya mengangguk membalas sapaannya.


Aku memandang dua orang itu bergantian, “mengapa kalian berdua bisa ada disini?”


“sudah ku bilang aku ingin menemuimu. Tapi entah kenapa dia memaksa ingin ikut.” Yeoram memandang Jino tak suka.


“aku tak mungkin bisa membiarkan gadis sepertimu berkeliaran di tengah kota di malam hari seperti ini.” Jino mengedikkan bahunya sambil menatap Yeoram, membuat gadis itu berdesis sebal. Aku tahu hubungan mereka tak pernah baik sejak kami kecil. Ya, kami bertiga sudah tumbuh bersama sejak kecil.


“aku ingin mengajak oppa jalan-jalan. Aku rindu sekali padamu.” Seru Yeoram sambil memandang penuh harap padaku. Ia tahu aku pasti akan menolak, makanya ia pasang wajah aegyo-nya itu. Huh, dia seperti anak kucing yang di buang pemiliknya. Aku jadi tak tega.


Jino tiba-tiba mendekati Yeoram dan menarik tangan gadis itu dariku. “baiklah, bagaimana kalau kita makan malam bersama saja? aku yang akan traktir.” Ucapnya yang langsung membuat Yeoram semakin memandang tak suka ke arahnya.


Yeoram menghentakkan tangan Jino dengan kasar, “ini sudah terlalu malam untuk makan malam. Apa kau ingin membuatku menjadi gemuk?”


“kalau begitu kita minum saja.”


“aku tak mau. Aku ingin pergi berdua saja dengan Kyu oppa. Pergi sana kau!”


“tidak bisa. Aku yang mengantarmu kesini, jadi kau juga harus pulang bersamaku nanti.”


“ish, terserah kau saja lah.”


Aku hanya diam membiarkan kedua bocah ini bedebat. Apa mereka tidak malu? Ini kan di jalanan umum, banyak orang yang melihat mereka. Dasar kekanakan!


“oh, bukankah kau..?” Jino tiba-tiba saja sudah mendekati Hyunjin. Aku sampai lupa ia masih disini. Aku sempat kaget, apa Jino mengenal Hyunjin?


“kau-” Hyunjin terlihat sedang berpikir, sepertinya ia berusaha mengingat-ingat. “- kau cucu nenek yang tertabrak waktu itu kan?”


“benar. Dan kau gadis yang menolongnya?”


___

__ADS_1


__ADS_2