Bukan Dia

Bukan Dia
26


__ADS_3

Hyunjin duduk termenung di halte tempat ia biasanya menunggu bus bersama Kyuhyun beberapa hari lalu. Airmatanya tak berhenti menetes sejak kepergian Kyuhyun tadi. Ia menangis, menangisi Cho Kyuhyun yang begitu saja mengabaikannya setelah mengatakan bahwa namja itu mencintainya.


Hatinya sakit, semudah itukah Kyuhyun merubah hatinya? Membuangnya begitu saja. Seandainya Hyunjin tak punya perasaan apa-apa pada Kyuhyun dan masih menyukai Donghae, tentu keadaannya tak akan seperti ini. Ia pasti akan menerima Donghae dan semuanya akan berjalan lancar. Pertunangannya dengan Donghae pun seharusnya tak perlu ada hambatan. Tapi kini? Semua yang terjadi sejak awal seolah berbalik 180 derajat dengan saat ini. Semuanya berubah. Perasaannya -yang sebelumnya ragu- sudah ia tetapkan, bahwa ia juga mencintai Kyuhyun. Tapi apa balasan dari namja itu? ia menghindar begitu saja.


Hyunjin terus saja merutuki betapa bodoh dirinya. Setelah ini apa yang harus ia lakukan? Apa ia akan datang pada Donghae dan bilang jika ia juga mencintai namja itu? Tidak, itu tak bisa. Perasaannya tak mungkin berubah secepat itu, secepat ia merubah perasaannya dari Donghae dan berpaling ke hati Kyuhyun. Ini jauh lebih berat.


“kau bisa sakit jika duduk disini terlalu lama.” sibuk dengan pikirannya sendiri, Hyunjin tak menyadari ada seseorang yang datang. Orang itu berlutut di depan Hyunjin, kemudian memasangkan sarung tangan pada gadis itu.


“Donghae?” pekik Hyunjin terkejut atas kemunculan Donghae yang tiba-tiba.


“sedang apa kau disini?” Donghae duduk di samping Hyunjin, mengabaikan pertanyaan gadis itu.


Hyunjin menggelengkan kepalanya pelan, “tak sedang apa-apa.”


“disini dingin sekali. Apa kau tidak merasa kedinginan juga?” Donghae memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menahan dingin walau ia sudah memakai pakaian tebal sekalipun.


Hyunjin tak benar-benar mempedulikan keberadaan Donghae. Ia masih saja menangis. “kenapa semuanya jadi begini? Bukankah ia bilang kalau ia mencintaiku? Kenapa sekarang dia memperlakukanku seperti ini?” Hyunjin bergumam sendiri, namun keadaan yang sunyi membuat Donghae masih bisa mendengarnya.


Donghae menghela nafas berat, kemudian menggenggam tangan Hyunjin yang terbalut sarung tangan darinya tadi, “masih ada aku disini.”


Hyunjin menoleh, wajahnya menyiratkan kebingungan yang dalam. Hal yang membuatnya bertanya-tanya masih sama seperti beberapa waktu lalu, “mengapa kau berubah secepat ini? bukankah kau sendiri yang bilang tak suka padaku? Kau juga yang menolak untuk dijodohkan. Kalau ini hanya bagian dari permainan kita, sebaiknya kau hentikan saja. Aku sudah memutuskan, kita tak bisa menjalani sebuah hubungan palsu. Itu malah akan menyakiti diri kita sendiri nantinya. Lagipula aku tak ingin membohongi keluarga kita. Itu-“ belum sempat Hyunjin melanjutkan kalimatnya, Donghae langsung meletakkan telunjuknya di bibir Hyunjin, mengisyaratkan pada gadis itu untuk tak bicara lebih jauh lagi. Apa ia tak bisa melihat ketulusan di hatinya?


“jangan bicara lagi. Aku benar-benar mencintaimu. Ini sama sekali bukan pura-pura. Jangan ragukan perasaanku.”


“mengapa bisa secepat itu kau berubah?” tanya Hyunjin masih sambil menangis.


“bukankah kau juga seperti itu? kau merubah perasaanmu padaku dalam sekejap.” Kata-kata Donghae telak langsung membuat bibir Hyunjin terkatup rapat. Apa yang dikatakannya tepat sasaran, itu semua memang benar adanya. Hyunjin sendiri juga tidak tahu mengapa bisa jadi begini. Sedalam itu kah cintanya pada Kyuhyun? padahal Kyuhyun hanyalah seorang namja yang belum lama dikenalnya.

__ADS_1


“jika kau mau, kita bisa mulai lagi dari awal. Aku akan menunggumu untuk belajar mencintaiku sekali lagi.” Donghae menatapnya tulus.


“aku bahkan tak pernah belajar saat mencintaimu sebelumnya.” Decak Hyunjin sambil melepaskan tangannya dari genggaman Donghae. “perasaan tak bisa di paksakan. Kau sendiri kan yang mengatakan hal itu?”


“memang, tapi cinta bisa tumbuh seiring waktu berjalan. Paling tidak masih ada sedikit celah di hatimu untukku kan? aku akan berusaha untuk merebut tempatku kembali.”Donghae tersenyum manis, membuat Hyunjin semakin tak kuasa menahan tangisnya.


Hatinya sudah dikunci sepenuhnya oleh Kyuhyun, dan mungkin hanya namja itu yang bisa membukanya. Akan sulit baginya untuk kembali mencoba memaksakan perasaannya pada Donghae. Ia tak mau menyakiti Donghae. Tidak, ia tak sanggup melakukan itu.


“sekarang sudah malam, sebaiknya ku antar kau pulang.” Donghae bangkit dari duduknya, kemudian meraih tangan Hyunjin yang masih diam tak bergeming. “ayo!”


Mau tidak mau Hyunjin menyambut uluran tangan Donghae dan mengikuti kemana Donghae menariknya. Kali ini rasanya berbeda, dia tak lagi berdebar-debar saat bersama Donghae. Beda sekali ketika dulu, jantungnya bahkan hampir melompat keluar setiap melihat senyuman Donghae. Tapi perlakuan lembut Donghae padanya kini menciptakan perasaan hangat dan nyaman, ia merasa tenang berada di dekat namja itu.


Donghae membuka pintu mobilnya untuk Hyunjin, lalu ia berputar dan masuk ke pintu satunya di kursi pengemudi.


“setelah ini, lupakanlah Kyuhyun. Bukalah hatimu sekali lagi untukku.” Ucap Donghae sebelum mobilnya melaju membelah malam sunyi itu. Hyunjin tak menjawab, tetap terdiam membisu. Ia merasa miris dengan dirinya sendiri. Akankah ia menyakiti hati Donghae? Namja itu kini begitu baik padanya.


_


Tangan Donghae bergerak menepiskan rambut panjang Hyunjin yang menghalangi matanya. “andai saja sejak awal aku bisa menerimamu, mungkin kita sudah bersama sekarang.” Donghae tersenyum miris, mengingat kebodohannya saat itu.


Donghae ingin membangunkan Hyunjin, tapi ia merasa tak tega. Gadis itu terlihat sangat nyenyak tidurnya. Apalagi saat ia menyentuh kening Hyunjin, keningnya terasa panas. Hyunjin memang telihat sedang tidak sehat sejak ia menemuinya di halte tadi. Akhirnya Donghae keluar dari mobil dan memencet bel rumah di depannya.


Sudah beberapa kali ia memencet bel, namun belum ada yang kunjung membukakan pintu. Donghae maklum, ini sudah sangat larut. Pasti semua orang sudah tertidur, pikirnya.


Krieeett..


Pintu di buka, tampak sesosok namja tinggi berdiri di ambang pintu sambil mengucek-ngucek matanya, terlihat masih mengantuk. “Nuguseyo?” tanya namja itu sambil memperhatikan Donghae dari atas hingga bawah.

__ADS_1


“Kau pasti adiknya Hyunjin kan? namamu Choi Minho?” tanya Donghae mencoba memastikan. Ia tak ingin salah alamat. Memang ia belum pernah ke rumah ini sebelumnya. Alamat ini pun ia tahu dari ibunya.


Minho mengangguk membenarkan perkataan Donghae. “hyung siapa?”


“aku Lee Donghae. Aku mengantarkan kakakmu, tapi ia sedang tertidur sekarang.”


“MWO? Dia tidur.. denganmu?” tanya Minho yang langsung membulatkan matanya besar, seolah kantuknya lenyap begitu saja.


Donghae menggeleng panik, “Bukan seperti itu! aku mengantarnya pulang, dan ia tertidur di tengah perjalanan.”


“oh, lalu dimana Hyunjin noona sekarang?” Minho celingukkan mencari keberadaan Hyunjin tapi ia tak melihatnya sama sekali.


“dia ada di mobilku.”


“kau sudah membangunkannya?” tanya Minho lagi.


“tidak, aku tak tega membangunkannya. Apa kau bisa membangunkannya?”


“ah, tapi Hyunjin noona akan sangat sulit dibangunkan saat ia sedang tidur nyenyak. Biar ada gempa sekalipun ia tak akan bangun.”


Donghae terkekeh pelan mendengar penuturan Minho yang kelewat jujur itu, “lalu bagaimana?”


“bisakah kau menggendongnya ke dalam?”


Donghae sedikit kaget mendengarnya, tapi akhirnya ia mengangguk juga.


_

__ADS_1


__ADS_2